<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220</id><updated>2009-02-21T04:41:37.810-08:00</updated><title type='text'>LUQMAN</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113726014957031784</id><published>2006-01-14T09:35:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T09:35:50.123-08:00</updated><title type='text'>KEMALASAN</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Betapa sering rasa malas hinggap dalam jiwa kita. Perasaan enggan untuk melakukan sesuatu karena suatu sebab. Perasaan ini sering menggoyahkan kita dalam proses pengambilan keputusan yang kita lakukan. Keputusan secara logika ‘Ya’ atau ‘tidak’ sering diintervensi oleh kemalasan kita. Intervensi ini menghasilkan keputusan yang mengakomodir kemalasan tersebut. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Bagaimanapun, kemalasan adalah mentalitas pecundang. Ketika banyak calon juara lainnya bertarung dengan kerasnya kehidupan, kita dengan selimut kelamasan malah meringkuk di balik ruangan. Kemalasan yang kita pertuhankan mengakibatkan kita hanya mampu berteriak pada anak-anak tanpa mampu melawan penindasan orang sebaya dan dewasa.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Kita dapat melihat kemalasan yang terjadi pada generasi muda kontemporer. Betapa kemalasan generasi muda ini banyak tumbuh ketika media hiburan telah membius mereka. Beragam tayangan hiburan di televisi, salah satunya, yakni sinetron, sepakbola, infotainment, film, dan lainnya, membuat generasi muda lebih suka menghabiskan waktu untuk nongkrong di depan televisi daripada menghabiskan waktu untuk belajar ataupun bekerja. Ini merupakan bentuk kemalasan yang terselubung, sering tidak disadari oleh pelakunya sendiri.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Kemalasan yang ditawarkan pada seseorang akan membuatnya terlena pada kesenangan sesaat. Seringkali memberikan alokasi yang cukup banyak untuk kemalasan ini akan membuatnya menyesal di kemudian hari.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Kemalasan merupakan salah satu bentuk kemanjaan yang membanggakan kebodohan diri sendiri. Ya, bodoh karena tidak mau berbuat sendiri bahkan sekadar untuk dirinya sendiri. Kebodohan karena menghilangkan kesempatan untuk meraih kesuksesan.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Siapa yang menanam, dia akan menuai hasilnya.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Pemalas pun akan menuai apa yang ditanamnya, yakni air mata penyesalan dan kesempatan gemilang yang terbuang sia-sia.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt;14 Januari 2006  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113726014957031784?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113726014957031784/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113726014957031784' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113726014957031784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113726014957031784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/kemalasan.html' title='KEMALASAN'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113725997305717173</id><published>2006-01-14T09:31:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T09:32:53.136-08:00</updated><title type='text'>KEKUATAN JARINGAN</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: webdings;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Jaringan sering dimaknai sebagai salah satu kelebihan yang dimiliki oleh seseorang maupun organisasi. Kemampuannya membangun jaringan dimana terjalin hubungan konunikasi bahkan kerja sama dengan individu atau organisasi lain dalam suatu tujuan tertentu. Kekuatan jaringan yang dimilikinya menentukan pula efektifitas kompetensi internal yang telah dimiliki oleh individu/ organisasi tersebut. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: webdings;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Dalam kaitannya dengan individu, jaringan merupakan kemampuan menjalin silaturahim dengan banyak orang. Kedewasaan seseorang juga diukur manakala individu tersebut mampu membuat jaringan dengan rentang usia dan profesi relatif beragam. Di sini akan tampak kemampuan dalam berkomunikasi dengan berbagai jenis manusia tersebut. Tujuan individu akan lebih mudah tercapai dengan usaha yang tidak melelahkan , dalam hal ini efektifitas dan efisiensi kerja seseorang akan tercapai. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: webdings;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Jikalau hendak mengambil contoh, maka beberapa waktu lalu, ada novel fiksi yang cukup menuai sukses di pasar. Sang penulis merupakan karyawan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang cukup mapan. Dalam arti, karya tulis ini dikerjakan oleh orang yang telah mapan hidupnya dan hidup dalam rutinitas kerja. Isi dari novel tersebut memang menggugah semangat perlawanan terhadap logika umum dan kapitalisme secara global dalam wujud konkret dan konteks lokal.  Yang menarik, dari tinjauan kaidah linguistik masih ditemukan banyak cacat pada karya ini. Namun, karya tulis ini tetap laris di pasaran. Ternyata, kekuatan daya jual karya ini adalah kemampuan penulis untuk menerjemahkan idealisme yang dimilikinya dalam bentuk bahasa populer. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: webdings;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Di samping itu, sang penulis berhasil untuk memanfaatkan jaringan yang dimiliki untuk melakukan promosi dan distribusi karyanya. Perspektif luas yang digunakan oleh penulis ini pun menempatkan sejumlah tokoh ternama independen untuk turut memberikan setoreh catatan sebagai media pemikat buku di halaman belakang sampul, seperti layaknya sejumlah buku lainnya. Kelemahan dari segi linguistik yang dipastikan menuai sejumlah kritik mampu ditutupi oleh kekuatan jaringan yang dimiliki, di samping profesionalitas kerja yang dibawa dari pekerjaannya sebagai karyawan BUMN tersebut. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: webdings;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dalam konteks organisasi, maka ketika organisasi mampu menjalin hubungan dengan sejumlah alumni, tokoh, organisasi lain, pemerintah, maka organisasi tersebut mempunyai nilai tambah bagi perjalanannya. Hubungan dengan sejumlah alumni organisasi tersebut akan memudahkan organisasi dalam keberlangungan hidupnya apalagi terkait dengan masalah finansial. Dukungan lainnya yakni berupa jaringan dari alumni  yang akan turut memperkuat jaringan yang telah dimiliki organisasi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Jaringan dengan sejumlah tokoh baik itu di masyarakat, media, dan nasional akan memperluas cakrawala dan pola pikir anggota organisasi. Sejumlah tokoh akan memberikan dukungan finansial, yang bila dibandingkan biasanya tidak seberapa besar bila dibandingkan dukungan finansial dari alumni.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Hubungan dengan organisasi lain dan pemerintah juga perlu dibangun dalam rangka melakukan konsolidasi dan mempermudah pencapaian tujuan organisasi. Tujuan antar organisasi satu dengan yang lainnya biasanya tidak jauh berbeda, namun hanya karena sekat organisasilah yang kerap menjadikan komunikasi antar organisasi tidak berjalan lancar. Seakan sudah menjadi hal yang umum, bahwa organisasi berjalan sendiri-sendiri dengan arah dan tujuannya masing-masing.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Dari sejumlah penjabaran di atas, kita jadi mengetahui sedikit manfaat yang dapat diperoleh dari kekuatan jaringan yang dapat kita bangun. Yang jelas, kita tidak dapat berjuang dan bergerak sendiri, karena hanya akan menimbulkan kekonyolan pada kerja yang kita lakukan.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; 14 Januari 2006&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113725997305717173?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113725997305717173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113725997305717173' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725997305717173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725997305717173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/kekuatan-jaringan.html' title='KEKUATAN JARINGAN'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113725982536968785</id><published>2006-01-14T09:28:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T09:30:25.723-08:00</updated><title type='text'>TEMAN LAMA, JANGAN DILUPAKAN!</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kalau tidak salah, ada salah satu lagu anak-anak dengan lirik berbunyi kalau dapat teman baru, teman lama jangan dilupakan. Seringkali seorang terlena dengan kehidupan baru yang dia jalani, menjalani kehidupan yang tidak mengenal pribadinya sama sekali sebelumnya. Sehingga yang ada seakan dia memakai bedak yang cukup tebal untuk menutupi wajah aslinya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Hal ini terlintas pula ketika salah satu teman, yang cukup dekat sebelumnya, tiba-tiba memutuskan hubungan pertemanan  begitu saja. Memang dengan paras yang menawan dia bisa merekrut jutaan kawan baru lainnya. Namun, apalah artinya jikalau dia tidak mampu menjaga hubungan yang telah dia miliki dengan kawan sebelumnya. Hubungan pertemanan memang bisa meningkat ke arah persahabatan, bahkan jikalau keduanya berlainan jenis dan ada kecocokan bisa berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun, hubungan pertemanan juga memiliki potensi permusuhan.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Hubungan pertemanan yang tidak dibangun secara arif, karena alasan letak geografis misalnya, menjadi tidak logis. Dengan era dunia maya yang ada sekarang ini, pertemanan sudah bisa terjalin lewat intenet. Ketika kita mengakses komputer yang terhubung dengan internet, maka kita bisa mencari teman baru maupun teman lama lewat mesin pencari dan sejumlah situs komunitas.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Alasan lain yang menyebabkan pertemanan tidak bisa langgeng adalah tidak sinambungnya alam pemikiran yang dimiliki oleh hubungan pertemanan tersebut. Lalu, kedua pihak ini berpisah dengan alasan ketidak cocokan tersebut. Ketidak dewasaan sikap yang ditunjukkan oleh pribadi seperti ini makin tampak mengental manakala seharusnya dengan adanya perbedaan tersebut maka antar individu bisa saling mengisi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Betapa banyaknya teman yang kita miliki, mulai dari teman masa kecil, sekolah, kuliah, organisasi, kenal di jalan, dan banyak lagi. Jikalau kita hendak menginventaris kesemuanya, maka buku alamat yang kita miliki tidak akan cukup untuk menampungnya. Namun, masihkah hubungan pertemanan itu bertahan sampai kini?&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Karena perbedaan dunia yang dijalani begitu kontrasnya antar teman tersebut, maka seseorang mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan. Sebegitu teganya seseorang memutus tali silaturahmi.  Kecocokan antara kedua teman adalah masalah kedewasaan dan kebijaksanaan. Menerima kelemahan dan menghargai kelebihan seseorang, merupakan salah satu prinsipnya. Saling memberi dan menerima antara keduanya, tanpa dilandasi pamrih dan kepentingan tertentu, merupakan prinsip yang lain. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Teman baru memang menawarkan hal-hal, pengalaman dan wawasan baru. Namun, teman lama bukanlah untuk dimuseumkan. Teman lama penting untuk melepas kepenatan dan kejenuhan bergaul dengan teman baru yang berpola pikir serupa. Ibarat mesin, pikiran dan pergaulan juga butuh penyegaran. Penyegaran oleh teman lama memang berbuah romantisme nostalgia perjalanan yang dilakoni bersama. Memang, terlalu lama terjebak dalam romantisme teman lama bisa menyeret seseorang pada stagnasi dan kejumudan kehidupan. Maka dari itu, kita harus pandai meletakkan proporsi yang wajar dalam kehidupan interaksi antar manusia yang kita miliki. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;13 Januari 2006&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113725982536968785?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113725982536968785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113725982536968785' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725982536968785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725982536968785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/teman-lama-jangan-dilupakan.html' title='TEMAN LAMA, JANGAN DILUPAKAN!'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113725970399544427</id><published>2006-01-14T09:26:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T09:28:24.090-08:00</updated><title type='text'>HARUSKAH BER-TOEFL TINGGI ?</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Hari ini, ada seorang teman lama dari kampung halaman yang bertandang ke kota pelajar tempat saya melaksanakan studi di perguruan tinggi. Dia ada keperluan untuk mengikuti tes bahasa inggris TOEFL di salah satu lembaga bahasa inggris di kota ini. Kita sudah tidak pernah bersua cukup lama, hampir 4 tahun. Dia masih pendek, imut, dan sekarang merokok (setahuku dulu tidak). Sedangkan darinya kutahu bahwa tidak banyak yang berubah padaku, tetap dengan kacamata dan motor cowok lawas ini. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Segera setelah bertemu di salah satu terminal transit yang ada di kota ini, aku antar dia menuju ke tempat tujuan. Di perjalanan, kami mengobrol banyak dan menanyakan tentang kabar rekan-rekan. Banyak juga yang sudah lulus kuliah dan kerja, bahkan ada pula yang hendak menikah. Sapaan lama terhadap kawan-kawan lama makin mengajak aku bernostalgia pada waktu remaja dulu.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Dia hendak mengikuti lowongan kerja di Dinas Pekerjaan Umum, yang waktu itu sedang membuka lowongan untuk 217 orang sarjana lulusan perguruan tinggi ternama. Dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,75 dan nilai TOEFL 475, seorang lulusan perguruan tinggi sudah bisa untuk mengikuti seleksi tersebut. Kebetulan, lembaga bahasa inggris di kota asal tidak menyediakan fasilitas tes TOEFL, sehingga dia harus bertandang ke kota ini untuk mengikutinya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Nilai IPK merupakan nilai kumulatif yang kita peroleh selama masa studi di perguruan tinggi. Dalam beberapa perguruan tinggi dan fakultas tertentu, nilai IPK minimal 2,75 masih termasuk wajar (rata-rata) bahkan termasuk rendah untuk kategori penilaian beberapa jurusan. Namun, seleksi pastilah berusaha memperbesar peluang untuk memperoleh calon pekerja yang tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga punya keahlian di bidang lain. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Nilai TOEFL adalah nilai yang kita peroleh ketika kita mengikuti ujian standar bahasa inggris di sebuah institusi. Nilai ini akan menggambarkan tingkat penguasaan kita terhadap bahasa inggris lewat &lt;i&gt;reading, writing, and listenin&lt;/i&gt;g (membaca, menulis, dan mendengarkan). Seseorang yang memiliki nilai TOEFL tinggi akan mudah memperoleh pekerjaan karena jaminan penguasaan bahasa inggris secara pasif yang dia miliki. Begitu pula bila seseorang yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri, maka nilai TOEFL yang tinggi merupakan sebuah keharusan mengingat persaingan untuk meraih pendidikan berkualitas di luar negeri juga begitu tinggi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Namun, nilai TOEFL yang menunjukkan tingkat penguasaan bahasa Inggris merupakan setting peradaban global yang dibawa oleh Inggris dan Amerika Serikat sebagai penguasa dunia saat ini. Jikalau kelak Cina mengambil alih kendali dunia ini dari mereka, maka mau tidak mau kita pun akan dipaksa untuk menelan ribuan huruf Cina dan memahami bahasa Mandarin tersebut.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Memang, bahasa inggris memang diakui sebagai bahasa internasional saat ini, bahasa yang dipakai oleh banyak negara. Bahkan, dipakai pula oleh sejumlah negara di dunia untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Kekuatan peradaban yang ditopang oleh imperialisme Inggris pada masa lalu dan kejayaan negara persemakmurannya. Amerika Serikat, neo-imperialisme dan penguasa dunia kontemporer,  yang merupakan bangsa turunan dari Inggris pun menggunakan bahasa yang tidak jauh berbeda, hanya berbeda sedikit pada gaya pengucapan dan tata bahasa. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Skenario global ini  didukung pula oleh kekuatan korporasi multinasional, bahkan sekarang diikuti oleh lembaga pendidikan dan korporasi (perusahaan) tingkat nasional. Karyawan maupun calon terdidik di sebuah institusi dipersyaratkan harus memiliki tingkat penguasaan bahasa inggris yang tinggi, hal ini ditunjukkan oleh nilai tes TOEFL yang tinggi.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Penguasaan bahasa inggris untuk memenuhi syarat TOEFL itu bukanlah perkara yang mudah, kita masih dituntut untuk belajar dari buku-buku tebal yang menyajikan kumpulan soal tes TOEFL lengkap dengan pembahasannya. Mendapatkan nilai TOEFL merupakan buah jerih payah perjuangan kita menekuni bahasa inggris beserta soal-soal TOEFL selama berhari-hari. Namun, kita mesti sadar, bahwa TOEFL telah dipergunakan untuk mengukuhkan kaki-kaki penjajahan model baru di tanah Indonesia. Bahkan, hal ini melanggengkan peradaban Eropa-Amerika yang maju dalam iptek namun bobrok dalam moralitas dan agama. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Kita semestinya bisa menempatkan tes TOEFL ini pada posisi yang wajar, bukannya menyerah tunduk oleh kebutuhan sesaat untuk kepentingan kerja semata. Bagaimanapun, jikalau seseorang hendak memperoleh pekerjaan maupun pendidikan yang lebih layak, persyaratan nilai TOEFL tinggi tidaklah mutlak. Yang terpenting adalah tingkat penguasaan kita terhadap bahasa, terutama bahasa inggris itu sendiri. Tidak menjadi jaminan bahwa orang yang memiliki nilai TOEFL tinggi juga mempunyai penguasaan bahasa inggris yang mumpuni. Begitu pula, tidaklah selalu orang yang memiliki penguasaan bahasa inggris yang layak akan mempunyai nilai TOEFL yang tinggi pula. Bagaimanapun, kita harus bisa mendudukkan kembali tes TOEFL dan nilainya sebagai standardisasi tingkat penguasaan seseorang terhadap soal tes TOEFL yang diberikan. Tidak lebih.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dengan berprinsip seperti itu, kita tidak akan terkekang harus memiliki nilai ini dan nilai itu. Sehingga, kita kerap terjebak kepada hal-hal yang hanya bersifat materi-formalistik ketimbang mengutamakan kemampuan pikiran-hakikat yang kita miliki. Memang keduanya sama-sama penting, namun di tengah tuntutan jaman modern saat ini, hal-hal materi-formalistik kerap kali menindas kebutuhan pikiran-hakikat kita. Kalau mau menegaskan lagi, bukan nilai TOEFL kita yang akan dikenang ketika kita meninggal, namun pikiran yang kita utarakan dan pengaruhnya terhadap perubahan di lingkungan sekitar kita. Apa yang mampu kita lakukan untuk sekitar kita merupakan peninggalan yang  lebih berharga daripada sekadar nilai tes TOEFL. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="id-ID"&gt; 13 Januari 2006&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113725970399544427?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113725970399544427/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113725970399544427' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725970399544427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725970399544427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/haruskah-ber-toefl-tinggi.html' title='HARUSKAH BER-TOEFL TINGGI ?'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113725951843654228</id><published>2006-01-14T09:23:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T09:25:18.510-08:00</updated><title type='text'>BEBAN HIDUP</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Betapa kerasnya orang hidup di kota, apalagi kota besar, seperti Jakarta. Aktivitas pergi ke tempat kerja dan pulang ke rumah nyaris tak berjumpa dengan hangatnya sinar matahari. Orang kota telah disibukkan dengan padatnya jadwal sekolah dan kerja, hal ini dilengkapi dengan kemacetan yang harus dihadapi selama berjam-jam. Pola hidup yang membuat orang yang mudah putus asa bakal stress hingga depresi. Kehidupan sehari-hari yang begitu menekan menjadikannya beban hidup yang seakan terus-menerus harus dipikul selama bergulat dalam kehidupan di kota. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Hal ini cukup kontras dengan kehidupan di desa. Di desa akan kita ketemukan kenyamanan, rutinitas yang menyenangkan, bahkan kemapanan. Orang desa bisa ke ladang untuk mengurus lahan semaunya, dengan jadwal yang diatur oleh jam biologis pribadinya dan alam. Orang desa dapat berangkat ke ‘tempat kerja’ setelah hujan reda maupun sebelum makan, tidur, atau aktivitas rumah lainnya. Beban hidup yang begitu menekan di kota hampir tidak terasa di desa. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Lalu, bagaimana dengan beban hidup itu sendiri ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Ada seorang guru, dalam sebuah kelas, sedang berdiskusi dengan muridnya. Dia menunjukkan sebuah gelas yang berisi air.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Di depan kelas, dengan salah satu tangannya, si guru mengangkat gelas itu sejajar dengan pundaknya. Dia lalu menanyakan kepada muridnya tentang hal yang sedang dilakukannnya. Tentu saja si murid menjawab dengan jawaban sedang mengangkat gelas. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Lalu, beliau menanyakan tentang berat gelas berisi air tersebut. Beberapa murid menyebutkan sejumlah angka dan satuan. Sedangkan dia menimpali bahwa dia pun belum tahu sebelum menimbangnya dengan alat ukur yang akurat.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Kalau sang guru mengangkat gelas tersebut selama beberapa saat, maka belum akan terasa apa-apa.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Jikalau sang guru mengangkat gelas tersebut selama lima menit, tentunya tangan sang guru akan pegal-pegal.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Jika sang guru mengangkat gelas tersebut selama satu jam, maka tangannya akan layuh dan kemungkinan terburuk akan lumpuh.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Mengapa bisa terjadi seperti itu?  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Padahal berat gelas berisi air yang diangkat tidaklah bertambah.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Lalu, bagaimana solusinya?  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Salah seorang murid berujar untuk meletakkan saja gelas tersebut.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Tepat!&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Begitu pula dengan sikap kita ketika mengalami problema hidup. Adakalanya kita perlu mencari waktu untuk beristirahat sejenak dalam setiap kesempatan. Beban hidup tidak akan terasa bila dipikirkan dalam beberapa detik. Namun beranjak ke menit, bahkan beban yang dipikirkan selama berhari-hari, akan membuat siklus hidup kita tidak normal. Ada waktunya bagi kita untuk meletakkan sejenak beban hidup yang menghimpit tersebut. Hal ini bukannya kita melarikan diri dari masalah. Namun, kita berusaha untuk beristirahat terlebih sehingga dapat lebih segar dan jernih untuk mencari jalan keluarnya.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; 13 Januari 2006&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113725951843654228?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113725951843654228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113725951843654228' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725951843654228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725951843654228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/beban-hidup.html' title='BEBAN HIDUP'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113725933294867134</id><published>2006-01-14T09:20:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T09:22:13.023-08:00</updated><title type='text'>ANAK PERTAMA, ANAK TERAKHIR</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Kowe anak mbarep?&lt;/i&gt; (artinya: Kamu anak pertama?)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;i&gt;Kowe mesti anak ragil?&lt;/i&gt; (artinya: Kamu pasti anak paling terakhir?)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Pertanyaan seperti itu mesti terlontar ketika kita telah lama berkenalan dengan seseorang. Ketika dari perkenalan masing-masing dari kita telah mengenal sifat dan pribadi masing-masing, maka satu sama lain biasanya coba menebak status ini, jika belum diutarakan di awal. Memang, pada sebuah perkenalan awal, jarang sekali orang akan menanyakan urutan kelahiran dalam keluarga. Karena pertanyaan klasik yang sering muncul adalah nama, usia, asal, sekolah, alamat rumah. Pertanyaan standart yang bisa jadi dijawab biasa-biasa saja oleh seseorang yang kurang kreatif. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Dalam sebuah perkawanan, masing-masing individu telah mengenal satu sama lainnya. Sikap, kebiasaan, rasionalitas, dan emosi yang dimiliki, sudah menjadi hal yang lumrah untuk diketahui oleh seorang teman. Bahkan kawan terdekat, yakni sahabat, dari lama dan dekatnya persahabatan yang telah dijalin bisa memberikan banyak &lt;i&gt;advice&lt;/i&gt; seputar kehidupan kita, baik saat ini maupun di masa yang akan datang. Advice ini amat berguna tatkala kita mengalami kebuntuan pikiran dalam menghadapi peliknya permasalahan hidup. Dengan mengatakan saja apa yang sebenarnya permasalahan yang sedang kita hadapi, maka kawan yang baik akan senantiasa terbuka akan masalah temannya tersebut, hal ini tidaklah mudah terbangun, karena dilandasi rasa kepercayaan semata. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Ketika telah mengenal lebih dekat, maka seseorang akan mengenal lebih jauh kawannya baik itu bertandang ke rumah, berkenalan dengan kedua orang tuanya, dan mengetahui status temannya itu dalam keluarganya. Urutan dalam keluarga ini memang lebih berdasarkan urutan kelahiran dari rahim sang ibu, namun ada beberapa hal unik yang bisa kita ambil dari sifat masing-masing anak dalam urutan keluarga tersebut, meskipun hal ini tidaklah berlaku absolut. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Anak pertama, identik dengan ‘ayah kedua’ dalam sebuah keluarga. Secara sifat dan pembawaan lebih mirip dengan ayah daripada ibu. Anak pertama juga lebih cepat dewasa karena sebagai anak pertama, ia seperti sedang mengisi kekosongan jiwanya. Karena dalam struktur keluarga, bila ia telah memiliki adik baik laki-laki maupun perempuan, maka ia akan mencari teman yang lebih dewasa secara umur darinya. Hal ini menyebabkan anak pertama sarat pengalaman dan wawasan oleh orang yang dikenalnya. Anak pertama inipun memiliki mentalitas&lt;i&gt; leadership&lt;/i&gt; dan tanggung jawab yang terlahir karena memiliki adik,  meskipun hal ini juga perlu proses untuk perkembangannya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Anak terakhir, cenderung manja karena merasa paling diperhatikan dalam struktur keluarga. Biasanya anak terakhir ini paling dekat dengan sang ibu. Ketergantungan yang tinggi terhadap kakak membuat dia secara tidak sadar meniru dan mengikuti apa yang dilakukan oleh kakaknya, tentunya dengan intensitas interaksi yang cukup tinggi.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Sedangkan, anak yang berada di tengah, cenderung kurang bisa ditebak sifat dan pembawaannya. Yang jelas, perkawanan anak tengah terhadap sesamanya (peer group) lebih banyak dan lebih intens dibandingkan dengan kakak ataupun adiknya. Di samping karena kelengkapan yang dimilikinya, yakni kakak maupun adik, maka dasar ‘referensi hidup’nya telah cukup dari keduanya, selama menjalani hidup. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Yang jelas, saya tidak hendak membeda-bedakan dalam urutan kelahiran ini. Saya hanya mencoba melakukan analisis atas perkenalan dengan sejumlah orang yang cukup dekat terkait pula dengan struktur keluarganya, dan banyak pula yang cocok. Bisa juga dijadikan alasan bahwa kita ingin memilih ingin berkawan dengan teman baru dengan kriteria modelnya, meskipun dalam bergaul kita tidak pantas untuk memilah-milah, kecuali atas dasar moralitas baik-buruk. Mungkin, ilmu psikologi dengan analisis dan research yang lebih tajam bisa membantu untuk pemahaman yang lebih mendalam.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify" lang="id-ID"&gt;13 Januari 2006&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113725933294867134?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113725933294867134/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113725933294867134' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725933294867134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725933294867134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/anak-pertama-anak-terakhir.html' title='ANAK PERTAMA, ANAK TERAKHIR'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113725908048092681</id><published>2006-01-14T09:13:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T09:18:00.593-08:00</updated><title type='text'>JUARA SEJATI</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Keadaan yang menghimpit, cita-cita hidup yang tak kunjung diraih, membuat banyak manusia yang tak sabar bersegera putus asa.  Ketika kekalahan demi kekalahan dalam berbagai bidang kehidupannya datang menerpa, lahir pandangan bahwa dunia ini memang bukan tercipta untuknya. Dunia telah mengasingkan dirinya menjadi seseorang yang kalah, seorang pengecut, bahkan menjadi seorang pecundang. Keterasingan yang membuat diri terlena oleh kedangkalan pemahaman agama yang melegitimasi keterasingan sebagai pengorbanan untuk kehidupan akhirat yang serba indah. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Kekalahan, kegagalan, merupakan hal yang wajar dalam kehidupan dunia ini. Kekalahan ini bukanlah dimaknai sebagai akhir dari perjuangan hidup yang dilakukan, melainkan sebagai peringatan dan batu loncatan akan peningkatan prestasi hidup selanjutnya. Memang, takdir seseorang telah ditentukan oleh Tuhan, namun orang yang menyerah pada kekalahan yang dialaminya bukanlah menyerah pada takdir. Karena Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum atau seseorang sebelum seseorang atau kaum tersebut berusaha mengubah nasibnya tersebut. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Ketika takdir itu ada dan kita memang tidak mengetahui takdir kita, karena kewajiban kita hanya mengimaninya sebagai salah satu yang ghaib. Seandainya kita hanya bergulat pada realitas yang nyata, maka kita akan dihadapkan pada keterpurukan jiwa karena tidak mempercayai hal yang bersifat ghaib.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Kematian memang harus menjadi dasar perjuangan hidup bagi setiap manusia. Meyakini bahwa suatu saat kita akan mati dan di hari yang sakral nanti akan ada pertanggung jawaban yang harus dilakukan oleh seorang manusia, akan membentuk mentalitas kita dalam menghadapi hidup ini. Bukannya lalu apatis dan senantiasa berorientasi pada kehidupan akhirat kelak, karena belum jaminan bahwa kemenangan di akhirat kelak akan hadir ketika kekalahan demi kekalahan sebagai manusia terus diterima ketika hidup di dunia. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Kesadaran akan kematian ini akan membuat kita mempersembahkan yang terbaik untuk kehidupan dunia ini. Kematian tidak hanya dimaknai sebagai ketakutan simbolis akan siksa kubur dan hari akhir, namun sebagai batu loncatan untuk berbuat yang terbaik untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati besok, begitu sabda Nabi. Kita hidup untuk mempersembahkan yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk diri dan lingkungan kita. Berbuat yang terbaik untuk orang-orang terdekat dan menjadi rahmat bagi seluruh alam akan menjadikan kita bisa mengukir diri sebagai pribadi bermental pemenang. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Setiap insan dilahirkan untuk menjadi pemenang, bukan untuk menjadi pengecut bahkan pecundang. Tentunya, konsep kemenangan tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan pribadi maupun kelompok, alangkah lebih baiknya bila kemenangan ini dimaknai sebagai kemenangan bersama, &lt;i&gt;win-win solution&lt;/i&gt;. Kemenangan bersama yang dimaknai ini akan melahirkan semangat bahwa dalam setiap kompetisi kehidupan tidaklah harus kemenangan satu pihak itu berbuah pada kekalahan pihak lain. &lt;i&gt;Survival of the fittest&lt;/i&gt; tidak berlaku secara absolut. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Sejak kita belum ada, dalam hal ini ketika terjadi proses pembuahan maka sperma sang ayah akan membuahi ovum sang ibu. Dalam proses ini, jutaan sel sperma akan berlomba-lomba untuk menuju sel ovum. Di tengah jalan, banyak sel yang kandas, pincang, putus asa karena tidak mendapatkan jalan keluar. Semakin jauh perjalanan menuju ovum makin terseleksilah jutaan sel sperma. Perjuangan sel sperma dan kecepatannya menuju ke ovum menentukan menang tidaknya sel sperma tersebut untuk mendapatkan ovum. Hanya satu sel sperma yang dapat mencapai ovum sehingga terjadi pembuahan. Jutaan sel sperma lainnya tersingkirkan dan akhirnya mati. Di sini kita bisa lihat, bahwa sejak awal kehidupan manusia sendiri telah penuh perjuangan, kehadiran kita sebagai manusia di dunia ini merupakan hasil seleksi dari jutaan calon manusia, yang disortir untuk menjadi pemenang. Karena itu kehadiran kita di dunia ini merupakan kehadiran seorang pemenang, pemenang yang telah dilahirkan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Inilah takdir kita yang sejati, terlahir sebagai pemenang. Begitu pula dengan hidup kita, takdir sejati kita adalah sebagai pemenang, bukan pecundang. Pencapaian sesuatu dengan keikhlasan, sabar dan syukur yang tiada batas, adalah mental seorang pemenang. Kematian yang akan membatasi seluruh perjuangan meraih kemenangan kita, karena ketika mati kita tidak akan mampu berbuat apa-apa. Kita hanya mampu menikmati hasil jerih payah selama di dunia, siapa yang menanam dia bakal menuai. Saat itulah dimulai fase pertanggung jawaban dan penganugerahan medali penghargaan untuk pemenang kehidupan dunia dengan kebahagiaan hidup di akhirat.  Sedangkan si pecundang didepak untuk menikmati panasnya siksaan api neraka.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;12 Januari 2006&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113725908048092681?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113725908048092681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113725908048092681' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725908048092681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725908048092681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/juara-sejati.html' title='JUARA SEJATI'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113725874421656137</id><published>2006-01-14T09:05:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T09:12:24.316-08:00</updated><title type='text'>ATAS NAMA AGAMA</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Indonesia memang tengah dilanda krisis, krisis ekonomi yang berujung pada krisis multi dimensi. Segenap sendi kehidupan yang semula ditutup-tutupi perlahan dibongkar. Manusia Indonesia ditelanjangi karena seakan tidak ada lagi yang dapat mengangkat harga diri dan martabatnya. Di saat seperti ini, begitu mudahnya seseorang mengambil jalan pintas dengan mengatasnamakan agama untuk kepentingannya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Tidak usah jauh-jauh, pengemis yang ada di jalan maupun di terminal memang terdesak secara ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Namun, mereka tidak mau mengakui dan menyadari kelemahannya ini. Dengan mudahnya mulut mereka berkata dengan menyuguhkan ucapan dan doa berlandaskan agama. Begitu murahnya agama dijual dengan balas jasa uang receh dari orang yang iba. Perilaku meminta-minta sendiri saja dilarang dalam agama, apalagi ditambah dengan menjual agama seperti ini. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Fenomena lain yang tampak pada panitia pembangunan sarana ibadah yang berada di jalan-jalan. Sepintas memang wujud konkret pelaksanaan pembangunan sarana tersebut memang ada, namun tentunya bermasalah dengan cara yang digunakan. Bagaimanapun jalan adalah fasilitas umum dimana setiap pengguna jalan memiliki kewajiban dan hak yang sama. Tindakan merampas hak jalan dan mengganggu kelancaran berlalu lintas seperti itu sama saja dengan melanggar hak orang lain. Ajaran agama digunakan untuk mengangkangi hak orang lain. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Di daerah Bintaro, Jakarta, pemandangan peminta sumbangan adalah hal yang lazim. Peminta sumbangan ini berkeliling sambil meminta sumbangan ke penikmat kudapan yang singgah kala itu. Konon, pendapatan sumbangan bisa mencapai 50 ribu rupiah per harinya. Pendapatan yang cukup menggiurkan dan belum tentu didapatkan dengan bekerja di sektor lainnya. Sepintas, surat penugasan yang ditunjukkan memang asli, memang benar keberadaannya. Ternyata, peminta sumbangan sendiri tidak tahu menahu bahkan belum pernah berkunjung ke sana. Mereka mengaku hanya sebagai petugas dan akan menyetorkan sejumlah tertentu ke koordinator. Ketika dikonfirmasikan ke pihak yang dimanfaatkan namanya untuk dimintai sumbangan, mereka mengaku bekerja sama dengan sejumlah orang untuk menggali sumbangan. Namun, setelah beberapa bulan setoran sumbangan terhenti dari koordinator, mereka pun membatalkan kerja sama tersebut. Ternyata, sumbangan pun bisa dijadikan lahan bisnis dengan mengatas namakan agama dan orang yang tidak menahu akan niat busuk si pelaku.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Di lain pihak, kita melihat pertikaian antara dua kelompok yang mengatas namakan agama. Agama yang menduduki posisi yang agung diatas namakan sebagai penyulut pertikaian dan legitimasi pembantaian yang dilakukan. Pemuka agama pun tidak mampu untuk merelai keberingasan pengikut agamanya. Ayat-ayat suci Tuhan telah dijual murah untuk kepentingan sesaat dan mengatasnamakan pembelaan agama. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Sebegitu mudahnya kita mengatasnamakan agama untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Baik ketidak pahaman maupun pengusaan tinggi kita atas agama seakan menjadikan kita gelap mata. Buta terhadap realitas dan menyodorkan agama sebagai solusi kebuntuan otak untuk menyelesaikan problema kehidupan yang semakin menjepit. Mentalitas yang mengeruhkan citra diri sehingga tak layak memiliki harga diri lagi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify" lang="id-ID"&gt; 12 Januari 2006&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113725874421656137?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113725874421656137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113725874421656137' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725874421656137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725874421656137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/atas-nama-agama.html' title='ATAS NAMA AGAMA'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113725829265371692</id><published>2006-01-14T08:57:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T09:04:52.880-08:00</updated><title type='text'>ANARKISME KAUM TERPELAJAR</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Hampir tiap hari kita disuguhi dengan tayangan anarkisme di televisi. Beberapa waktu lalu, di sebuah universitas di Sulawesi terjadi pertikaian antara dua kelompok mahasiswa. Kalau tidak salah, pertikaian itu terjadi antara mahasiswa pecinta alam dengan mahasiswa sebuah jurusan. Pertikaian diawali oleh tindakan pemukulan oleh oknum salah satu pihak. Pada awalnya mereka ingin menyelesaikan hal ini dengan jalan damai. Namun entah ada setan mana yang merayu, di waktu dan tempat yang telah ditentukan, masing-masing pihak telah menyiapkan sejumlah senjata tajam, baik itu pedang, parang, tombak, pisau, dan lainnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kontan saja, ditemani iringan hujan kala itu, universitas yang seharusnnya teduh sebagai media saling belajar, menjadi ajang pertempuran. Kejar-kejaran mewarnai sekujur bangunan kampus. Di sebuah sudut kampus, lempar-lemparan batu menjadi pemandangan yang mengerikan. Teriakan makian pun makin menyulut panasnya keadaan. Dinginnya suasana yang dibawa hujan kala itu seakan tak mampu memadamkan emosi mereka. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Infrastruktur kampus yang seadanya itu tak kurang dimanfaatkan oleh kedua pihak yang sedang bertikai. Mulai dari kursi dan meja untuk berlindung dari terjangan batu dan benda tajam yang saling dilemparkan. Sementara pecahan kaca yang menjadi korban keberingasan mereka, malah semakin dimanfaatkan sebagai sarana bertempur. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aparat keamanan yang berjumlah tak seberapa itu tak mampu meredam massa (dalam hal ini mahasiswa) puluhan orang tersebut. Di halaman kampus, mereka berusaha agar suasana kembali tenang dan mencegah masyarakat untuk masuk ke wilayah kampus. Hal ini juga dilakukan dalam rangka mencegah provokator masuk ke medan pertikaian yang akan memperparah keadaan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Hujan semakin mereda, hanya tinggal rintik-rintik gerimis yang menemani. Meredanya hujan diikuti dengan berangsur surutnya pertikaian yang terjadi semenjak sejam yang lalu. Perlahan aparat keamanan masuk ke area pertikaian dan mengamankan sejumlah oknum. Ada beberapa mahasiswa yang dilarikan ke rumah sakit karena luka-luka yang dideritanya. Namun, sejauh ini, belum diketahui jumlah korban meninggal. Tampak beberapa aparat juga mengamankan sejumlah ‘perangkat perang’ yang digunakan untuk bertikai. Beberapa perangkat sempat disembunyikan agar tak dilketahui oleh media dan masyarakat. Memang, lebih mirip perangkat untuk berperang di hutan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Yang jadi menarik, karena hanya masalah sepele, pertikaian semacam itu bisa terjadi. Persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan jalan berbicara baik-baik antara kedua pihak, malah berujung pada pertikaian yang mencoreng nama mahasiswa. Mahasiswa, sebagai kaum terdidik dan terpelajar, tulang punggung harapan masyarakat, menunjukkan tabiat yang tak lebih dari zombie. Makhluk pemangsa sesamanya, bahkan tega menghabisi nyawa saudaranya sendiri. Perilaku yang tak jauh beda dengan binatang. Hal ini makin menunjukkan bahwa kemanusiaan kita makin tergerus sehingga mentalitas yang kita miliki tidak lebih dari mentalitas binatang, yang mengandalkan nafsu hewaninya dan mengangkangi rasio dan emosi yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: arial;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;12 Januari 2006  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113725829265371692?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113725829265371692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113725829265371692' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725829265371692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725829265371692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/anarkisme-kaum-terpelajar.html' title='ANARKISME KAUM TERPELAJAR'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113725765800834233</id><published>2006-01-14T08:52:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T08:54:25.160-08:00</updated><title type='text'>RESEP  EKONOMI DARI ETNIS TIONGHOA</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: webdings;" align="justify"&gt;Tionghoa, etnis yang bernenek moyangkan perantauan dari Cina daratan, banyak menguasai perekonomian suatu negara di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Mayoritas dari mereka memegang kunci perekonomian negara dari mulai kebutuhan pokok sampai kebutuhan pelengkap. Mereka memiliki tingkat perekonomian yang mapan bahkan di atas rata-rata bila dibandingkan dengan penduduk pribumi yang ada di sekitar tempat tinggalnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Yang menarik, kekeluargaan antar etnis ini demikian kentalnya, tidak jauh beda dengan nenek moyangnya di Cina daratan sana. Meskipun tidak memiliki hubungan darah, seorang keturunan etnis ini mudah dikenali melalui nama marganya. Kebijakan Pemerintah Orde Baru untuk mengharuskan mereka untuk mengubah nama aslinya ke nama Indonesia tidak berpengaruh pada kekerabatan mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Di sini penulis tidak hendak untuk menumbuhkan rasa kebencian ataupun mempertajam pemisah antar etnis. Namun, sebagai orang yang beretnis Jawa, yang identik dengan orang Pribumi pada masa penjajahan, hati saya tergerak untuk mengajukan pertanyaan kritis. Sejak jaman terjajah dulu bangsa Pribumi menjadi golongan kelas ketiga di bawah golongan kulit putih (Barat) di urutan pertama dan disusul orang Arab, Cina, dan India di urutan berikutnya. Cara pandang ini terus terbawa hingga masa sekarang sehingga menempatkan orang Pribumi pada posisi paling buncit dalam struktur kekuasaan baik ilmu pengetahuan maupun perekonomian. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Padahal jika mau ditilik dari sisi kesejarahan, kebudayaan Jawa (disamping juga kita tidak menafikan kejayaan Kerajaan Sriwijaya) merupakan salah satu kebudayaan besar di dunia. Hal ini tampak pada kejayaan Jawa yang berhasil mempersatukan Nusantara bahkan meluas sampai ke Asia Tenggara. Dalam arti ini bukan sebuah romantisme sejarah, namun jikalau ditilik dari sudut pandang biologi, yakni adanya gen, partikel yang memuat unsur-unsur kehidupan manusia, baik moral maupun intelektual. Maka, kita masih memiliki sisa-sisa gen yang turun temurun diturunkan dari nenek moyang kita, yakni orang-orang yang berhasil membawa kejayaan Nusantara.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Orang Makassar dan Bugis adalah orang yang ahli dalam perkapalan, kejayaan kapal Pinishi buatannya pun diakui oleh dunia. Orang Padang merupaknan etnis perantau dan gigih berjuang di tanah rantau, salah satunya dengan berdagang. Masih banyak lagi entis Pribumi lainnya yang menunjukkan bahwa secara mentalitas bangsa ini telah dianugerahi kekayaan mental kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi yang matang. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Sehingga mencari penyebab ketertinggalan Pribumi ditinjau salah satunya dari sisi ekonomi dari orang Barat, Arab, dan Cina merupakan hal yang menarik. Memang, orang Pribumi terjajah selama 350 tahun oleh orang Barat membuat mentalitas bangsa ini menjadi hancur lebur, apalagi penjajahan dari Jepang (perantauan Cina) yang cuma 3,5 tahun namun lebih tidak manusiawi dibandingkan orang Barat. Jadi, jikalau mau diambil kesimpulan awal bahwa jika dahulu orang Pribumi terjajah secara fisik melalui kekuatan senjata maka saat ini orang Pribumi terjajah secara mental dan pikiran lewat kekuatan yang menyeluruh, mulai dari politik, ekonomi, budaya, bahkan ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Jika kita melihat secara kasat mata etnis Tionghoa yang ada di sekitar, maka akan tampak bahwa mereka identik dengan orang kaya, pengusaha, bos yang mempekerjakan orang Pribumi sebagai bawahannya, entah itu sebagai kuli, &lt;i&gt;babu&lt;/i&gt; (pembantu), maupun penyelia. Sekat sosial semacam ini tidak usah kita cari jauh-jauh sampai ke negerinya Karl Marx, karena di sekitar kita pun sudah ada. Namun di sini kita mencoba mengambil hikmah dari ajaran mereka yang diturunkan lintas generasi. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Ajaran pertama dalam kehidupan keluarga adalah &lt;i&gt;leadership&lt;/i&gt; (kepemimpinan) melalui kekuasaan. Dalam kehidupan keluarga Tionghoa, ketika orang Pribumi menjadi &lt;i&gt;babu&lt;/i&gt; etnis Tionghoa, maka beban pekerjaan orang Pribumi ini melebihi rasio pendapatan yang dia terima. Betapa seringnya majikan menyuruh dengan membentak, dan segenap perlakuan yang bisa jadi tidak diliput oleh media, karena tertutup oleh kelihaian majikan merayu &lt;i&gt;babu&lt;/i&gt; ini.   &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Didikan di keluarga pun tidak jauh berbeda, karena si anak majikan pun dengan seenaknya main perintah si babu untuk menyuapi makan, mengambil sepatu, memandikan, dan banyak lagi. Namun jikalau majikan ini sedang butuh sesuatu dengan si babu, maka majikan ini akan berlaku baik sekali. Ketika kebutuhannya telah terpenuhi, maka mentalitas diktator itu akan muncul lagi. Anak majikan ini memang terkesan tampak manja dan tidak mandiri. Jangan salah, justru ini kunci etnis Tionghoa untuk menanamkan mentalitas penguasa (bos) kepada anaknya. Kemampuan memerintah, adalah salah satu point penting dalam kepemimpinan orang Cina. Kemampuan ini termaktub dalam kemampuan mengelola orang (bawahan), yang tentunya lebih sulit dibandingkan dengan kemampuan mengelola uang. Anak majikan sejak kecil dididik untuk memerintah orang Pribumi, mentalitas yang ditanamkan adalah bahwa ‘aku adalah bos kamu, karena orang tuaku sudah membayarmu. Melayani saya adalah sama saja dengan melayani kedua orang tua saya.’&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Kedua, dalam etnis Tionghoa seorang anak dituntut untuk tahu dengan apa yang dikerjakan orang tuanya, entah itu berdagang ataupun bekerja kantoran. Dengan melibatkan anak dalam membungkus air untuk usaha orang tuanya berdagang es, maka akan mendidik anak untuk paham bahwa mencari uang itu tidaklah mudah. Ketika menginginkan sesuatu, anak dituntut untuk menyisihkan uang jajannya untuk ditabung guna memenuhi keinginannya tersebut. Hal ini disamping mendidik sabar juga mendidik bahwa untuk memperoleh sesuatu membutuhkan proses, hasil yang didapatkan juga tidaklah &lt;i&gt;instant&lt;/i&gt;. Di samping itu, didikan di atas juga membiasakan tangan dan otak si anak untuk terampil mengolah sesuatu menjadi uang. Jika sebuah keluarga memiliki toko, maka anak akan turut dipekerjakan sedari kecil untuk ikut menjaga toko sebelum dan sesudah sekolah. Ketika anak telah tumbuh semakin besar, maka ia akan ditempatkan pada posisi pengawas (&lt;i&gt;supervisor&lt;/i&gt;) di toko (atau bentuk usaha lainnya) untuk mengawasi berjalannya usaha tersebut dan mengelola bawahan.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Dalam aturan etnis Tionghoa, Cina perantauan pada umumnya, kekayaan dan kesuksesan orang tua adalah milik orang tua, bukan milik si anak. Anak adalah entitas terpisah, sehingga yang diturunkan ke anak adalah mentalitas dan kegigihan berjuang dalam hidup, bukan kekayaan dan kekusaan orang tuanya. Di sini tampak bahwa peralihan generasi pemilik usaha pada etnis Tionghoa dapat berlangsung mulus bahkan lebih berkembang bila dibandingkan dengan peralihan generasi pemilik usaha di etnis Pribumi, Arab, maupun Barat. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Ketiga, etnis Tionghoa pandai berhemat. Jikalau pendapatan hari itu tidak cukup untuk makan, maka dia tidak akan makan hari itu. Konon, jikalau di dapur hanya ada garam, maka garam itu yang akan dia makan. Hidup &lt;i&gt;nggetih&lt;/i&gt; seperti ini dijalaninya meski telah memiliki akumulasi keuntungan ratusan juta rupiah yang disimpan di bank. Ya, di samping pandai berhemat, mereka juga gemar menabung. Rasio tabungan orang Jepang merupakan yang tertinggi di dunia. Hal ini karena mereka benar-benar pecaya akan masa depan, pandangan yang dimiliki jauh ke depan. Pikiran besar ini didukung dengan perencanaan yang sederhana dan cermat, meskipun terkadang tingkat pendidikan mereka tergolong rendah. Mereka yakin bahwa dengan menabung maka hal ini akan bermanfaat untuk anak cucu di masa depan, sedangkan untuk saat ini akan bermanfaat untuk orang sekitarnya. Dengan menabung, mereka akan memperoleh keuntungan melalui kelipatan bunga bank yang didapatkan. Di samping itu, mereka juga menggerakkan perekonomian bangsa dengan peningkatan jumlah modal usaha yang dapat diedarkan ke masyarakat. Di samping itu, menumbuhkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pertumbuhan ekonomi. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Keempat, mereka juga pandai mendidik anak. Jikalau seorang anak dikategorikan bodoh atau berprestasi biasa-biasa saja di sekolah, maka dia tidak akan menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi. Karena menyekolahkannya sama saja dengan membuang uang untuk hal yang tidak maksimal, seorang anak yang tidak berprestasi akademik tidak akan dipaksa untuk menekuni jalur pendidikan formal. Selepas sekolah, ia akan memberikan modal kepada anaknya untuk usaha. Kemudian diamati bakat si anak dalam bisnis. Apabila usahanya gagal, maka akan disuntikkan modal lagi. Dengan model &lt;i&gt;trial and error&lt;/i&gt; seperti ini, sampai kesekian kali usahanya gagal dan macet karena permodalan yang disuntikkan sudah &lt;i&gt;cekak&lt;/i&gt;, maka si anak akan direkomendasikan untuk ikut bekerja di kerabat yang memiliki usaha. Pekerjaan itu tentunya tidak dalam posisi bawahan, namun minimal dalam posisi &lt;i&gt;supervisor.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Jikalau si anak memang benar-benar berprestasi secara akademik ataupun dalam bakat yang ditunjukkan, maka orang tua tidak akan main-main untuk medukung dan mengembangkannya. Si anak akan disekolahkan ke luar negeri, baik itu Singapura, Amerika, maupun benua Eropa. Amat jarang kita menemui etnis Tionghoa yang bersekolah di sekolah negeri, sejak sekolah bahkan hingga kuliah (kita lihat jumlah mahasiswa etnis Tionghoa di kampus negeri misal ITB, UI, UGM, IPB, maka per angkatan dan per jurusan masih bisa dihitung dengan jari). Hal ini karena mereka telah berpikir untuk memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Ketekunan dan kerja keras yang ditanamkan membuahkan hasil yang jarang dicapai oleh etnis lainnya. Kita bisa pula melihat pemenang Olimpiade Sains mayoritas adalah etnis Tionghoa. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Ketika kita coba membandingkan dengan didikan etnis Tionghoa dengan Pribumi (salah satunya Jawa) maka akan ada perbedaan yang cukup signifikan. Didikan Pribumi lebih pada bagaimana si anak untuk meraih gelar pendidikan yang tinggi, yang dapat menunjang perekonomian, bukan sebaliknya. Padahal realitas menunjukkan lain, banyak orang berpendidikan kesulitan memenuhi kebutuhan ekonominya karena dalam masa kehidupan sebelumnya tidak terampil mencari uang. Sisi intelektual lebih diunggulkan dalam masyarakat pribumi karena mentalitas priyayi yang dimiliki. Priyayi dan santri dianggap memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada pedagang. Hal ini tampak ketika orang tua memilihkan jodoh untuk anaknya, maka kriteria calon yang berpendidikan bekerja sebagai karyawan bergaji tetap akan dipilih dibandingkan calon yang kurang berpendidikan namun memiliki penghasilan yang tidak menentu namun jauh lebih besar lewat berdagang.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Pribumi terdidik pun begitu selektif untuk bekerja dalam sebuah perusahaan. Melihat terlebih dahulu pemilik usaha tersebut, Barat, pribumi, ataukah Tionghoa (Cina). Jikalau bekerja di perusahaan milik pribumi maka yang ditekankan adalah etos kerja yang perlu ditingkatkan. Bekerja dengan bos orang Barat maka akan banyak fasilitas dan perlakuan manusiawi yang diterima. Namun, bekerja dengan bos orang Tionghoa (Cina), maka bersiaplah untuk bekerja lebih dari kedua bos di atas. Di perusahaan mereka, pribumi dituntut bekerja lebih keras dan banyak bila dibandingkan dengan penghasilan yang pribumi dapatkan. Di samping itu, jenjang karir pribumi tidak akan pernah sampai puncak. Karena posisi kunci dalam perusahaan telah dipegang oleh tirani keluarga Tionghoa yang lebih dipercaya karena keuletan dan kedekatan kekerabatan. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Dari uraian di atas, sebagai orang Indonesia pribumi asli, kita hendaklah sadar akan penjajahan model baru seperti di atas. Penjajahan secara mental dan pikiran memang membuat seorang pribumi bisa terlena. Penjajahan mental dan pikiran tidak hanya globalisasi dan kapitalisme yang diidentikkan dengan Barat. Penjajahan model bangsa Cina dan perantauan justru lebih hebat. Bersiaplah! &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: webdings;" align="justify" lang="id-ID"&gt; 8 Januari 2006&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113725765800834233?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113725765800834233/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113725765800834233' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725765800834233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725765800834233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/resep-ekonomi-dari-etnis-tionghoa.html' title='RESEP  EKONOMI DARI ETNIS TIONGHOA'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113725674919745718</id><published>2006-01-14T08:36:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T08:39:09.266-08:00</updated><title type='text'>AKU DAN BUKU</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Buku adalah gudangnya ilmu. Buku merupakan jendela bagi terbukanya wawasan ilmu seseorang. Pembaca buku akan mendapatkan manfaat dari membaca buku, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Membaca buku identik dengan budaya orang kota, karena masih banyak orang desa yang buta huruf, sehingga tidak mampu membaca. Budaya membaca menjadi budayanya kaum terpelajar, karena kebutuhannya yang hampir bisa disetarakan dengan kebutuhan makan dan minum. Namun, membangun budaya membaca buku bukanlah hal mudah. Alih-alih ingin membangun masyarakat pembaca, berusaha secara individu agar minat bacanya tinggi bukanlah hal yang mudah. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Sebagai pribadi, saya coba berbagi pengalaman saya berinteraksi dengan dunia buku. Karena Jogja, tempat sementara yang saya tinggali, identik dengan kota buku, kotanya kaum terpelajar. Kekhasan Jogja inilah yang menggoda saya untuk bertransmigrasi dari kota tercinta di utara Pulau Jawa. Ada sejumlah perpustakaan besar yang ada di kota ini, baik itu milik pemerintah maupun swasta (organisasi atau perorangan). Di samping itu, jika memang memiliki rezeki yang cukup banyak, maka kita dapat memiliki sejumlah buku dengan mengunjungi pusat-pusat penjualan buku baru maupun bekas, konon pusat buku ini merupakan yang terlengkap di Indonesia. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Namun, sebelum berada di Jogja, sejak kecil saya merupakan warga pindahan, dalam arti keluarga kami sering pindah domisili karena mengikuti pekerjaan Bapak. Awal masa kecil saya dimulai di kota yang indah di selatan Pulau Sulawesi, Ujung Pandang (sekarang Makassar). Di kota ini, di keluarga saya, buku bukanlah barang yang akrab di kehidupan saya. Meskipun di sekolah, saya termasuk rangking teratas, tapi saya mengenal buku hanyalah sebatas buku tulis dan buku pelajaran sekolah. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;b&gt;Bukan buku, tapi televisi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Saat itu, tayangan televisi memang masih dihegemoni oleh pemerintah lewat TVRI. Hiburan anak-anak cuma ada jam 14.30 WITA. Memang, ada baiknya, karena anak-anak tidak akan berlama-lama di depan televisi, seperti mayoritas anak-anak zaman sekarang. Setelah acara anak-anak usai, sampai menjelang maghrib, aku biasa keluar dari rumah, untuk bermain bersama teman-teman, entah itu di kebun tebu, main game watch, atau petak umpet. Sering, karena salah paham, aku pernah berkelahi dengan salah seorang anak polisi. Waktu itu, aku hanya sendirian dan banyak teman lain di pihaknya, tapi bukan main keroyokan, jantanlah, satu lawan satu, tapi akhirnya aku kalah juga. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Setelah pulang sekolah, aku biasa menggambar di kertas-kertas bekas. Apa saja akan kugambar. Mulai dari orang, hewan, tumbuhan, superhero (He-man dan Voltron), dan lainnya. Ide menggambar ini didasarkan dari film-film kartun yang ada di televisi. Apabila dirasa kertas bekas kurang memenuhi hasrat seniku, maka dinding rumah akan menjadi tumpahan keinginan menggambarku. Jadilah budaya primitif beralih ke rumah, karena dinding rumah penuh dengan coretan-coretanku, mirip coretan di dinding gua oleh manusia purba. Repotnya lagi, di samping dimarahi, orang tua juga harus mengecat kembali dinding rumah tersebut, tentunya kalau ada kelebihan rezeki. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Malam hari hiburan di televisi yang paling bagus hanya malam jum’at yakni serial horor Friday 13th. Setelah menyimak serial itu biasanya aku langsung tidur, agar ketakutan selama menyimak serial tersebut tidak terbawa mimpi.   Anak-anak penikmat televisi pada zaman itu pasti kenal dengan Si Unyil, tokoh boneka yang akan menghibur tiap Ahad pagi. Lucunya lagi, karena waktu kecil sekolah di TK ABA, dimana ada ketentuan masuk Hari Ahad dan libur hari Jum’at, aku sudah memberlakukan lima hari sekolah untuk diriku sendiri. Dalam arti, hari Jum’at tetap libur sementara anak yang lain masuk sekolah, dan hari Ahad nekad bolos sekolah. Hal ini kulakukan hanya untuk menonton acara hiburan televisi, baik di rumah ataupun di tetangga. Jadilah ketika masa terima raport maka tulisan tidak masuk sekolah selama puluhan hari menjadi hiasan di raportku, meski akhirnya diluluskan juga karena prestasi akademikku yang lumayan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;b&gt;Bukan buku, tapi radio.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Radio menjadi mainan keduaku, bukannya buku. Jikalau teman-teman sedang malas bermain, di rumah aku biasa mendengarkan radio. Kisah Arya Kamandanu dengan Pedang Naga Puspa dalam serial Saur Sepuh kala itu menjadi stimulus imajinasiku. Serial sandiwara radio ini memang menawarkan sensasi hiburan yang lain untuk anak-anak seusiaku.  Radio 2 Band yang dipunyai waktu itu, sering kunyalakan keras-keras.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dari radio dan kaset-kaset Bapak pula aku mengenal musikus Iwan Fals (idolaku hingga saat ini). Hampir seluruh lagu-lagu Iwan Fals pernah aku dengar. Menariknya lagi, dalam usia balita tersebut, aku sudah hapal lagu Mata Indah Bola Pingpong, Surat Buat Wakil Rakyat, Potret Panen + Mimpi, dan lainnya, meski aku tak tahu makna apa yang terkandung di dalam lirik lagu tersebut. Saking sering mendengarkan lagu-lagu tersebut, ketika hendak ada persiapan menjelang sebuah acara 17-an, kalau tidak salah, aku pernah berdiri di atas meja di depan orang-orang sambil bernyanyi keras dengan lirik lagu tersebut. Tentu saja anak-anak sebayaku tidak paham, karena pada usia tersebut mereka hanya mengenal Balonku, juga lantunan Bondan Prakoso dan Enno Lerian. Belakangan aku tahu kalau lagu yang kunyanyikan tersebut digunakan sebagai pembakar semangat teriakan-teriakan perlawanan yang dikumandangkan lewat kakak-kakak mahasiswa saat reformasi tahun 1998. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;b&gt;Bukan buku, tapi bioskop. &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sejak kecil, kami sekeluarga memang penikmat film (dan kebiasaan ini terbawa sampai besar saat ini). Hampir tiap pekan, malam Minggu dihabiskan untuk piknik keliling kota. Jalan-jalan dimulai dengan makan pisang epek (pisang raja yang dibakar dan diberi saus encer dari gula merah) di Pantai Losari. Jadilah, piknik keluarga menikmati jajanan pisang epek dengan menghadap pantai yang indah sambil menikmati angin Mamiri (angin sepoi-sepoi khas Makassar). &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Setelah menikmati jajan pantai tersebut, kami lalu menuju Bioskop Benteng, yang tak cukup jauh dari sana. Bioskop ini merupakan salah satu bioskop terbesar yang ada di kotaku waktu itu. Saking seringnya kami menonton bioskop di sana, seorang pedagang kaki lima langganan kami kerap memberiku bonus permen kopi. Biar tidak cepat ngantuk, katanya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Waktu itu, anak-anak belum wajib bayar untuk menonton. Namun seiring berjalannya waktu, ada kebijakan baru yang mengenakan separuh harga untuk anak-anak. Itupun aku lebih sering dipangku ketika menonton, karena banyaknya orang yang ingin menonton. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Aku tidak ingat lagi film apa saja yang pernah kami tonton di sana. Yang jelas, film Indonesia dan Barat era 80-an sudah pernah kami tonton di bioskop tersebut. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;b&gt;Bukan buku, tapi komputer.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Komputer memang sudah menjadi mainanku sejak kecil. Komputer ini sebenarnya adalah komputer untuk kerja, karena banyak pekerjaan Bapak yang harus dilembur di rumah. Di sela-sela tidak dipakainya komputer tersebut, aku biasa menggunakannya untuk bermain game. Game yang paling kusuka waktu itu adalah Digger dan Pac-man. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Lewat komputer yang terhubung dengan video tape dan antena, waktu itu kami sudah bisa menonton tayangan televisi di layar komputer, bahkan merekamnnya. Sayang, teknologi multi media saat ini beralih ke cakram piringan sehingga teknologi video tape menjadi ketinggalan dan tak ada yang meliriknya lagi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Dengan komputer, aku berusaha memindahkan gambar-gambar yang aku corat-coret di kertas ke komputer, ternyata susah. Akhirnya, beberapa gambar yang sudah jadi bisa di-print-out dengan printer pita. Waktu itu, aku senang sekali bisa mereproduksi gambarku lewat komputer.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Jadi, bukanlah buku yang mengawali perkenalanku dengan hidup ini. Kehidupan di kota dengan segala fasilitasnya, dan ekonomi keluarga yang menuju mapan (meski aku juga mengalami masa-masa sulit ekonomi dalam fase keluarga) membentuk saya menjadi pribadi yang berinteraksi dengan beberapa fasilitas tersebut. Sebuah masa lalu, yang tentu pembaca juga mempunyai kekhasan masa lalu sendiri, yang tidak bisa sebegitu mudahnya kita lupakan, atau sengaja kita hapus. Begitu bila kita membaca buku, maka apa yang kita baca tidak akan mudah terhapus dari ingatan bila buku itu bermutu dan berkesan bagi kita.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Buku yang bermutu mulai aku kenal sewaktu SMP. Waktu itu, Bapak sering membeli Intisari secara eceran (bukan buku, lebih tepat disebut majalah). Majalah bulanan ini tidak sepopuler media lainnya, karena memiliki segmen pasar tersendiri. Majalah ini bisa dikatakan cukup lengkap, hampir mencakup segala bidang kehidupan, dan layak untuk dijadikan konsumsi keluarga. Dari sanalah aku sedikit mengenal tulisan-tulisan bermutu, meskipun membacanya hanya sambil lalu membaca bacaan sekolah. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sewaktu SMU pun aku lebih banyak bergelut dengan buku-buku pelajaran dan buku persiapan UMPTN. Hampir tidak ada buku ringan atau bidang lain yang menjadi santapan jiwaku. Aku sempat menangkap akan pentingnya membaca buku ketika salah seorang rekanku, Dewantoro (kini kuliah di Akuntansi UGM angkatan 2002) mendebat guru sejarah tentang masalah tasawuf. Baru kali itu dalam sesi pelajaran sekolah ada perdebatan cukup panjang, belakangan aku tahu ia memang memahami salah satu buku karangan Hamka tentang tasawuf.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Perkawanan dengan Dewantoro membawaku ke dunia yang lain, dari sekuler ke Islam. Ajakan untuk aktif dalam diskusi pasca shalat Jumat yang dinamakan forum Islah Kerohanian Islam SMU, mengantarkanku pelan-pelan untuk mengenal Islam. Lewat bahan-bahan diskusi ringan, aku mulai membangun konstruksi ke-Islam-anku. Ada dua kubu yang masuk ke lingkungan masjid sekolah waktu itu, yang satu forum Islah (belakangan aku tahu bahwa itu liqo model salah satu pergerakan Islam asal Mesir) dan lainnya pesantren kilat model Jamaah Tabligh. Dari yang kedua ini aku mulai mendengar kajian tentang buku Fadhilah Amal, yang bahkan belum pernah kubaca buku tersebut hingga saat ini. Aku mulai berinisiatif membeli buku alternatif, yang berbau keislaman, seingatku buku yang pertama kubeli tentang Amal-amal Sorga dan Penduduk Sorga dan Neraka terbitan Rajawali Grafindo. Buku perdana yang tak pernah tuntas kubaca hingga saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Tradisi membacaku mulai terbangun lagi sejak kuliah. Aktif di organisasi intra kampus semacam Lembaga Dakwah Kampus dan pers mahasiswa, membuatku bertemu dengan sosok-sosok intelek muda yang mempunyai kapasitas intelektual yang jauh di atasku. Mereka dengan indahnya melontarkan masalah dan merunutkan pemikirannya, bahkan dengan mengutip kata-kata orang yang tak pernah aku kenal sebelumnya (akhir-akhir ini aku tahu bahwa yang dikutip tersebut adalah perkataan tokoh-tokoh intelektual), menuangkannya dalam tulisan, dan membahasakannya secara lisan dengan sistematis. Hal yang tidak bisa terbayangkan bisa kulakukan, hingga saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Perkenalan dengan organ pergerakan mahasiswa (ekstra kampus) memaksaku untuk membaca pula buku-buku sosial, filsafat, teknologi informasi, yang belum pernah kugeluti sebelumnya. Buku-buku ringan tentang Islam yang sebelumnya jadi referensiku ternyata tidak mampu memenuhi hasrat keingintahuanku. Dengan makin banyak membaca, makin menyadarkan betapa bodohnya aku. Betapa banyak hal yang aku tidak tahu dan sebelumnya lebih suka berasumsi untuk hal yang tidak kuketahui tersebut. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dari sanalah,  aku terpacu untuk mengejar intelek-intelek muda tersebut. Kalau mereka bisa, kenapa aku tidak. Aku mulai membeli buku dari sisa uang saku, untuk memenuhi hasrat membacaku. Lama-kelamaan, uang sakuku tergerus juga untuk membeli buku. Tak habis akal, aku sering berkunjung ke perpustakaan kampus untuk sekadar membaca dan meminjam buku. Memang, tak semuanya yang aku pinjam aku baca tuntas, terkadang buku tersebut hanya pindah tempat menginap. Dari buku yang tipis dan ringan sampai buku tebal dan berat yang tak pernah habis kubaca, pernah aku pinjam. Namun, semua yang kubaca seakan berlalu begitu saja. Secara tak sadar aku hanya membuang waktu dan menganggap semua yang kulakukan itu sia-sia. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;b&gt;Sensasi Membaca Buku&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Namun, membaca buku tetap menawarkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itu dalam hal kepuasan. Kepuasan yang tidak bisa terbeli oleh kenikmatan inderawi, karena yang terpuaskan adalah segi psikis seseorang. Kelaparan perut seseorang dapat teratasi dengan makanan dan minuman, namun kelaparan batin seseorang tidak akan terpuaskan sebelum memaknai sebuah buku yang dibacanya. Membaca buku akan memajalkan akal dan memanjangkan imajinasi seseorang. Sehingga banyak karya lain (buku, lagu, dan lainnya ) yang terinspirasi dari buku, tidak bisa memuaskan penikmat karyanya, yang memaksa keingin tahuannya untuk mendalami buku yang menginspirasi tersebut. Begitu dalamnya manfaat yang diperoleh, sehingga buku menempati posisi yang cukup tinggi dalam prioritas hidup seseorang. Bukan makanan, bukan pakaian, bukan pula televisi, radio (lagu), komputer, apalagi film bioskop. Kepuasan yang tidak ternilai dari membaca karya tulis dalam bentuk buku, mengantar seseorang untuk menjadi perenung. Perenung yang asyik membaca, terlena oleh apa yang dibaca. Dan ketika terlena maka seseorang itu menjadi mabuk dan lupa sekitarnya.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Selamat menenggak ‘ecstasy’ intelektual!&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; 17 Desember 2005&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113725674919745718?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113725674919745718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113725674919745718' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725674919745718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725674919745718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/aku-dan-buku.html' title='AKU DAN BUKU'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113725650021945021</id><published>2006-01-14T08:30:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T08:35:00.470-08:00</updated><title type='text'>PECINTA SEPAKBOLA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Olahraga sudah menjadi bagian hidup manusia, karena orang yang rajin berolahraga maka ia tidak akan mudah terserang penyakit. Ada beragam jenis olahraga yang bisa dilakukan agar badannya selalu sehat. Dengan tujuan untuk menambah peminat dan memotivasi orang untuk menekuni olahraga, maka biasanya diadakan pertandingan olahraga. Jenis-jenis olahraga tersebut biasanya dipertandingakan dalam bentuk cabang olahraga. Salah satu cabang terpopuler dalam dunia olahraga adalah sepakbola. Cabang olahraga ini tercatat dengan peminat terbanyak di dunia baik itu dari segi peserta, penonton, maupun kuantitas pertandingannya, dibandingkan dengan cabang olahraga lainnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Jikalau membicarakan cabang olahraga sepakbola, maka pasti ada kutub yang menjadi pusat dari perkembangan cabang olah raga ini. Benua Eropa merupakan kiblat acuan persepakbolaan dunia. Hal ini karena di benua Eropa banyak bercokol pemain-pemain sepakbola berkelas dunia. Di benua Eropa, pemain sepakbola dapat bertanding dalam atmosfer kompetisi paling keras dan berbobot sedunia. Pemain sepakbola yang bertanding di sana adalah pemain yang berkualitas tinggi dengan skill individu, fisik, dan team work yang di atas rata-rata. Dapat merumput (bertanding) di daratan Eropa merupakan impian bagi seluruh pemain sepakbola yang ada di benua lainnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Liputan tentang pertandingan di Liga Eropa, mulai dari Liga Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, Perancis, dan lainnya hampir bisa kita saksikan setiap hari di televisi. Penayangan tersebut meliputi pertandingan secara langsung, prediksi pertandingan, ulasan pertandingan, maupun sekadar kuis. Ada banyak ajang pertandingan pula yang digelar, mulai dari liga domestik, liga Champions (antar klub antar negara), Piala Toyota (antar klub antar benua), hingga Piala Dunia (antar negara sedunia). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Media televisi pun tak segan untuk meluangkan waktu prime time acaranya untuk menayangkan pertandingan live (siaran langsung) sepakbola. Hal ini dikarenakan besarnya animo masyarakat Indonesia, selaku penonton televisi, untuk menyaksikan pertandingan sepakbola. Media televisi akan diuntungkan dengan pemasukan spot iklan yang didapat dan peningkatan jumlah rating pemirsa stasiun televisi yang dimilikinya. Kita dapat menyaksikan pertandingan sepakbola pada malam Minggu sampai dini hari, Minggu sore, Rabu dan Kamis dini hari, dan waktu-waktu lainnya. Seakan jikalau kita bisa hidup dalam sepekan dengan menonton televisi, maka tayangan pertandingan sepakbolalah yang akan menghiasi tontonan kita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Sepakbola memang telah menjadi bagian hidup publik pecinta sepakbola, baik itu cuma sebagai penonton, pelatih, pemain, atau tidak menjadi apapun. Cabang olahraga ini memang didominasi oleh kaum pria, namun jangan salah, tidak sedikit kaum perempuan yang gandrung untuk menonton pertandingan sepakbola. Laki-laki yang suka menonton pertandingan sepakbola biasanya mengidentikkan dirinya dengan salah satu pemain bintang yang ada di salah satu klub besar dunia. Identifikasi ini mulai dari pakaian, gestur tubuh, sampai tatanan rambut. Meski ada segi positifnya juga ketika laki-laki ini juga suka bermain sepakbola, maka ia dapat meniru/ belajar dari aksi-aksi individu dari sang pemain bintang idolanya. Sedangkan bagi kaum Hawa, tontonan sepakbola lebih merupakan sarana hiburan. Dan sudah menjadi rahasia umum, bahwa ketertarikan mereka untuk menonton pertandingan lebih kepada ketertarikan kepada lawan jenis. Karena disamping berbakat, sebagian besar pemain sepakbola berkelas dunia memang menarik secara fisik. Tidak heran apabila kaum Hawa pun mengenal sebagian besar pemain sepakbola, terutama yang mempunyai penampilan menarik. Ketertarikan ini juga apabila laki-laki pujaan hatinya juga suka bermain sepakbola, yang tentunya mengidentikkan diri dengan salah satu pemain sepakbola dunia yang ada. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Pecinta sepakbola memang tidak memperdulikan gender, laki-laki ataupun perempuan. Ketika telah tiba saatnya pertandingan, maka seluruh penonton baik itu yang menonton langsung di lapangan pertandingan maupun yang melalui layar televisi, akan hanyut dalam atmosfer pertandingan tersebut. Pecinta sepakbola akan melakukan segalanya untuk sepakbola. Mereka rela menghamburkan uang untuk membeli kaus tim, karcis pertandingan, hiasan dan merchandise ala klub idolanya. Yang dicari adalah kepuasan ketika bisa larut bersama dalam satu rasa menyimak pertandingan sepakbola. Kepuasan tidak selalu ada karena dalam setiap pertandingan ketika ada yang menang, maka ada pula pihak yang kalah. Pihak yang menang bisa dipastikan akan berpesta pora merayakan kemenangan. Namun lain halnya dengan pihak yang kalah, mereka akan larut dalam kesedihan bahkan bisa berujung pada ketidak dewasaan sikap dengan melakukan tindakan anarkis terhadap pihak yang merayakan kemenangan tadi. Hal ini merupakan contoh sikap emosi yang berlebihan dari pecinta sepakbola. Tidak jarang kesedihan dari pihak yang kalah tersebut sampai berhari-hari tanpa bisa terobati sebelum timnya meraih kemenangan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Di sini akan timbul masalah, manakala porsi untuk menonton pertandingan sepakbola ini menjadi berlebihan. Keinginan untuk menyimak pertandingan ini seringkali menyebabkan penonton menunda waktu untuk beribadah, bahkan kalau perlu meninggalkannya. Hal ini disebabkan karena penonton tidak mau kehilangan satu momen berharga pun. Sehingga semua hal selain tayangan pertandingan ini dinomorduakan, bahkan kebutuhan akan Tuhanpun dihilangkan. Memang pantas jikalau salah satu aliran fundamentalis di Indonesia sampai mengeluarkan fatwa yang mengharamkan umat untuk menyimak pertandingan ini, dikarenakan terjadinya pendangkalan aqidah karena mengajak penontonnya untuk malas beribadah. Fatwa yang dikeluarkan karena kondisi kontemporer telah sedemikian akut bagi permasalahan bangsa Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Dari permasalahan ini, hendaknya kita bisa lebih produktif untuk menggunakan sisa hidup kita. Kita pun dapat lebih selektif untuk memilih hiburan, khususnya pertandingan sepakbola. Kita masih bisa mempergunakan waktu kita untuk hal produktif lainnya seperti membaca, menulis, berkarya, beribadah, bekerja, dan sebagainya. Semua itu dalam rangka agar tidak terjebak pada kungkungan aktivitas keseharian yang monoton, yakni menonton pertandingan televisi. Dengan menyadari hal itu pula, perlahan kita akan terlepas dari jeratan perang pemikiran yang dilancarkan oleh kaum Barat melalui musik, olahraga, seks, dan budaya. Perang pemikiran yang menjadikan orang yang terjajah secara mental tersebut tidak sadar dan menikmati dirinya menjadi konsumen dan budak orang Barat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;12 Desember 2005&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113725650021945021?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113725650021945021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113725650021945021' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725650021945021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725650021945021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/pecinta-sepakbola.html' title='PECINTA SEPAKBOLA'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113725513843229333</id><published>2006-01-14T07:07:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T08:12:18.796-08:00</updated><title type='text'>CERDAS FINANSIAL: PENDIDIKAN YANG TERLUPA</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Krisis ekonomi telah melanda Indonesia lebih dari sewindu dan bangsa ini belum juga menunjukkan tanda-tanda kebangkitannya dari krisis. Krisis ekonomi ini berimbas pula pada bangkrutnya perusahaan-perusahaan lokal yang memaksanya melakukan pengurangan pegawai. Pengurangan pegawai ini membawa dampak bagi meningkatnya jumlah pengangguran. Hal ini menimbulkan persoalan ekonomi baru yang terkait pula dengan masalah sosial politik yang juga tak kunjung menemui jalan keluar. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Problematika ekonomi ini memaksa beberapa orang untuk memulai wirausaha dalam mengatasi kesulitannya memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Keterpaksaan ini di satu sisi menumbuhkan kesadaran pada khalayak yang lain akan pentingnya wirausaha sebagai salah satu entitas perekonomian suatu bangsa.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Kewirausahaan merupakan sikap mental yang akan mendorong seseorang secara cerdas mengelola keuangannya untuk berbisnis. Kecerdasan pengelolaan keuangan yang berguna untuk pencapaian kesejahteraan finansial ini lazim disebut &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Kecerdasan Finansial&lt;/span&gt;. Kecerdasan Finansial dibutuhkan manakala seseorang menghadapi dua permasalahan yakni: kekurangan uang dan kelebihan uang. Jika kekurangan uang, orang akan melakukan hal apa saja untuk mendapatkan uang, apalagi jika dalam keadaan terpaksa. Kelebihan uang juga tidak menjamin tiadanya masalah, karena pemilik uang ini tidak bisa bahagia karena selalu cemas akan keberadaan uangnya, sehingga pada akhirnya uangnya tidak bisa membeli kebahagiaan. Orang yang mempunyai kecerdasan finansial yang tinggi tidak akan hidup dikendalikan oleh uang, justru merekalah yang mengendalikan uang tersebut guna memenuhi kebutuhan hakikinya: yakni kebahagiaan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Kecerdasan finansial seseorang memiliki tingkatan, dimana bila digunakan skala maka akan ada range antara ketergantungan, kemandirian, sampai kesaling tergantungan. Ketika seseorang belum/ tidak memiliki kecerdasan finansial maka yang ada pada dirinya adalah ketergantungan, dimana segala kebutuhannya belum dapat dipenuhi secara mandiri. Seiring bertambahnya waktu, seseorang tersebut belajar dan memiliki banyak keterampilan. Dengan begitu ia akan menghasilkan sesuatu yang dapat mengurangi ketergantungannya kepada orang lain&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Seseorang yang menjalani kehidupan dengan wawasan dan pergaulan yang luas lalu mengembangkan kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu lewat berwirausaha, akan mencapai tingkat kemandirian. Kemandirian di sini ketika orang tersebut mampu memenuhi kebutuhan finansialnya tanpa tergantung pada orang lain. Kemudian setelah mencapai taraf kemandirian, seseorang akan menciptakan kesaling tergantungan dengan orang lain. Di sinilah orang akan mencapai tahap interdepensi, tahapan ini tidak akan mungkin diraih ketika seseorang belum mencapai tingkat kemandirian. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kecerdasan finansial bukanlah semata-mata kerja teknis pengelolaan keuangan, namun ada prinsip-prinsip yang perlu dimaknai dan diamalkan. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya adalah uang bukanlah alat, tujuan mencari uang adalah kebahagiaan, bercita-citalah menjadi orang kaya, perjelas visi masa depan, bersyukur, dan memahami &lt;i&gt;opportunity cost&lt;/i&gt;.     &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Uang harus dipahami sebagai alat, bukannya tujuan. Karena dengan begitu orang akan terpacu untuk mencari cara agar dengan uang yang ada dapat mencapai tujuan dan meraih kebahagiaan. Kebahagiaan hendaknya ditumbuhkan dengan keadaan finansial yang seperti apapun. Karena bagaimanapun tujuan orang mencari uang adalah mencari kebahagiaan. Sehingga jika dalam proses mencari uang sendiri sudah membahagiakan, maka tujuan tidak akan sulit untuk dicapai. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Orang yang memiliki uang yang banyak biasa disebut orang kaya, maka bercita-citalah menjadi orang kaya. Orang kaya memiliki potensi yang lebih besar untuk melakukan amalan dibandingkan orang miskin untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Tujuan mencari uang adalah meraih kebahagiaan. Visi masa depan ini harus diperjelas bahkan secara detail agar dapat mempengaruhi alam bawah sadar dan memotivasi untuk mencapai tujuan tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Dalam mencapai tujuan tersebut, seringkali kegagalan melanda. Kegagalan itu bisa berupa hutang yang menumpuk, bisnis yang macet, dan lainnya yang akan menyeretnya pada situasi dan kondisi stress. Pada saat ini, hendaklah seseorang itu bersyukur atas apa yang telah dicapai hingga saat ini dan betap banyaknya karunia Tuhan yang telah diberikan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Memahami &lt;i style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;opportunity cost&lt;/i&gt; juga merupakan prinsip dari kecerdasan finansial. Dengan memahaminya, maka seseorang akan mempertimbangkan seluruh kemungkinan keuntungan dan risikonya dari beragam pilihan terkait dengan penggunaan uang. Di samping itu, pemahaman tentang opportunity cost akan mendorong seseorang untuk bijak dalam mengelola aset dan keuangannya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dunia pendidikan kita, baik itu sekolah, keluarga, maupun masyarakat tidak memberikan praktek berekonomi pada generasi muda. Pendidikan berekonomi berarti mendidik tentang uang. Generasi muda akan terampil untuk mengelola keuangannya dengan menyusun tidak hanya sebatas aliran kas saja (keluar-masuk), namun sampai pada laporan rugi-laba dan neraca. Di samping itu, generasi muda akan mempergunakan uang tersebut untuk hal-hal yang produktif seperti memulai usaha atau mengembangkan bisnis yang telah dimiliki. Dengan demikian, generasi muda akan belajar meningkatkan kecerdasan finansialnya dengan melibatkan pula kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, bahkan fisiknya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113725513843229333?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113725513843229333/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113725513843229333' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725513843229333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113725513843229333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/cerdas-finansial-pendidikan-yang.html' title='CERDAS FINANSIAL: PENDIDIKAN YANG TERLUPA'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113697241992372439</id><published>2006-01-11T01:39:00.000-08:00</published><updated>2006-01-11T01:40:20.020-08:00</updated><title type='text'>MENJADI TERORIS: SIAPA TAKUT ?</title><content type='html'>&lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Berita terhangat mengabarkan bahwa terjadi penggerebekan terhadap tempat persembunyian teroris yang berada di Batu, Malang, Jawa Timur. Tidak hanya itu, polisi juga melakukan penangkapan terhadap anak buah jaringan teroris tersebut salah satunya di Semarang, Jawa Tengah (beberapa lokasi penangkapan hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah penulis). Kinerja kepolisian yang cukup membanggakan, saya kira, mengingat telah lama jaringan ini melakukan gerakannya dan meresahkan masyarakat. Di sini ada sedikit harapan terhadap citra profesionalisme polisi yang perlahan mulai membaik. Namun penulis tidak hendak memperbincangkan perihal polisi sebagai pengayom masyarakat, apalagi dalam konteks ini, sebagai lawan tanding terorisme. Penulis mencoba melihat terorisme dalam sebuah perspektif riwayat pelaku dan mendasarkan kita pada keputusan untuk menjadi teroris.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Terorisme memang menjadi kata yang tidak asing dalam telinga kita karena dimulai meletusnya peristiwa 911 (tragedi 9 September 2001). Aksi bunuh diri dengan menabrakkan pesawat terbang ke gedung World Trade Center, Amerika Serikat (AS), memang melambungkan kata terorisme, meski peristiwa itu sendiri sarat pula dengan keganjilan dan kontroversi. Pasca peristiwa itu, terorisme kelas dunia dialamatkan pada organisasi tingkat dunia Jamah Islamiyah yang dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab. Adapun individu yang sampai saat ini masih terus dikejar oleh pihak AS adalah Osamah bin Laden karena dianggap turut bermain dalam peristiwa tersebut. Isu terorisme ini pun menggiatkan Amerika untuk melakukan propaganda melawan terorisme ke seluruh negara di dunia, dengan alternatif bersama dengan Amerika melawan terorisme atau dicap teroris. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Dalam konteks Indonesia, bom Bali yang mengguncangkan dunia itu menunjukkan bahwa terorisme berakar kuat di bumi pertiwi ini. Bom Bali ini memang menunjukkan bahwa teroris berhasil melakukan sensasi ‘bom jihad’ dengan menewaskan ratusan orang. Lalu, Amerika melakukan intervensi terhadap unit kepolisian dengan pelatihan anti terorisme. Di satu sisi hal ini memang baik untuk peningkatan profesionalisme polisi, namun di sisi lain peran vital Amerika tentulah punya kepentingan untuk dirinya sendiri dalam dinamika bangsa Indonesia. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Aksi terorisme di tanah air (Bom Bali tahun 2002, bom malam Natal, JW Marriot, bahkan yang terbaru Bom Bali 2) memang menyisakan tragedi dan catatan hitam bagi sejarah bangsa Indonesia. Dari peristiwa tersebut, polisi melakukan pengejaran terhadap pelaku teroris dan penyebarluasan informasi penangkapan pelaku tersebut kepada masyarakat dengan iming-iming hadiah ratusan juta rupiah. Yang cukup menarik dari penangkapan teroris ini adalah di rumah beberapa pelaku teroris ditemukan referensi buku-buku Islam, disamping referensi meracik senjata dan bom. Dari sisi penampilan, tidaklah asing bahwa pelaku teroris yang dijadikan tersangka ini ‘berwajah Islami’. Liputan terhadap beberapa riwayat pendidikan anak buah teroris ini menyatakan bahwa pribadi ini adalah orang yang prestasi akademiknya biasa-biasa saja di sekolah (rata-rata SMP dan SMA-nya), kalem, pendiam dan tidak menandakan sifat cikal bakal teroris. Individu tersebut juga jarang atau bahkan tidak aktif dalam ekstra kurikuler ataupun organisasi sekolah, kecuali diwajibkan oleh pihak sekolah, semisal Pramuka. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Memang kita bisa beralasan bahwa pasca sekolah semuanya bisa berubah, apalagi dalam kurun waktu yang cukup lama. Namun yang jadi sedikit menarik di sini adalah pribadi pendiam di sekolah ini memang memiliki potensi (bakat terpendam) untuk menjadi teroris dibandingkan rekannnya yang aktif atau bahkan hiperaktif. Atau mungkin pribadi aktif telah melampaui fase aktualisasi diri (penulis mulai mendalami teori hierarki Maslow terbalik dimana aktualisasi diri merupakan kebutuhan dasar bukannya kebutuhan biologis, sesuai pengakuan terakhir di majalah pesawat Garuda) sehingga pasca sekolah tidak lagi membutuhkan penonjolan diri lewat keaktifannya (penulis berkaca pada teman-teman sekolah dahulu yang menunjukkan hal senada). Bisa jadi metode perekrutan jaringan teroris juga melihat ‘ceruk pasar’ ini (bila dilihat dari perspektif pemasaran, perekrut melakukan segmentasi) dengan memanfaatkan potensi terpendam dari individu pendiam ini. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Nada miring lainnya timbul dari referensi yang dibaca oleh pelaku teroris ini, sangat berbau Islami. Beberapa rekan penulis yang cukup awam dalam pemahaman agama langsung men-stereotipe-kan pribadi yang suka mendalami agama sebagai calon teroris, meski dengan nada bercanda. Dalam arti ada pemahaman yang berbeda (kalau tidak bisa dikatakan salah) tentang pemaknaan ajaran Islam, yang dimaknai secara sepotong, berjihad dengan Islam namun melupakan bahwa Islam juga cinta damai. Pemahaman awam terhadap agama pun dengan mudahnya akan melakukan generalisasi terhadap individu yang terkait dengan Islam (baik buku referensi, kegiatan, dan perilaku) dengan terorisme. Sungguh menjadi sebuah tantangan untuk ber-Islam secara benar yang tidak mudah untuk dihadapi. Apalagi sebagai orang yang sedikit lebih tahu tentang agama, ada tugas dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang kita emban. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Dari sisi lain, riwayat pendidikan pelaku teroris ini biasa-biasa saja, yang cukup istimewa adalah gembong terorisnya, yakni Dr. Azahari. Beliau memang kompeten di bidangnya. Yang jadi anekdot lagi adalah pendidikan yang kita enyam tinggi sampai bertitel sederet itu hanya menyeret kita pada pilihan menjadi ateis atau teroris. Pilihan yang sama tidak bijaknya karena integrasi ilmu dan agama belum juga menemukan titik terangnya, apalagi dengan kompleksitas keilmuan yang makin meluas. Berkebalikan dengan si gembong teroris, anak buah teroris tidak menunjukkan prestasi istimewa di kelasnya, tidak pernah ikut kejuaraan, penelitian maupun organisasi. Pendek kata, pelajar biasa-biasa saja. Mungkin pembaca yang mempunyai &lt;i&gt;track record&lt;/i&gt; istimewa dalam riwayat pendidikan diantaranya pernah ikut event, penelitian, ataupun organisasi bisa bernafas lega karena peluang untuk direkrut menjadi anak buah teroris semakin kecil, namun semakin besar untuk menjadi otak teroris itu sendiri. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Yang jadi menarik dan menantang bagi aktivis dakwah Islam pada umumnya dan pegiat dakwah kampus (aktivis organisasi Islam intra dan ekstra kampus) pada khususnya adalah cap teroris yang akan melekat pada setiap aktivitas diskusi dan kegiatan keIslaman, apalagi yang bernada membakar semangat jihad. Hal ini mengingat, terlepas dari benar-salahnya, bahwa paham Islam yang beredar di Indonesia ialah paham Sunni yang lebih cinta damai dan &lt;i&gt;adem-ayem, &lt;/i&gt;berbeda dengan di Iran yang mayoritas paham Syiah sehingga bisa lahir Revolusi Islam Iran. Ataupun kita bisa belajar dari rezim Taliban di Afghanistan yang sangat otoriter menerapkan syariat Islam dengan semangat jihad yang perlu diacungi jempol. Atau dari gerilyawan muslim Palestina dengan bom syahidnya atas kesewenang-wenangan Israel. Mahasiswa muslim pada umumnya ataupun aktivis mahasiswa muslim pada khususnya akan alergi terhadap Islam oleh karena stereotipe tersebut. Tentunya dakwah Islam akan semakin berat dan perlu pendekatan yang berbeda. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Jikalau pembaca sekalian adalah orang yang biasa-biasa saja selama ini, baik itu dalam kehidupan maupun pendidikan, jadilah seorang teroris. Teroris akan menawarkan sensasi pubilisitas yang setara dengan selebritis, meski hanya temporer. Teroris mungkin menawarkan tiket masuk surga dengan mati syahid membunuh sekian ratus orang kafir, tentunya dengan perspektifnya sendiri. Teroris pun akan mencubit dari tidurnya Umat Islam ‘Sang Raksasa Tidur’ akan kebangkitan Islam yang harus segera disongsong (meski secara teori kurun waktu 7 abad kejayaan bangsa/ peradaban di dunia, maka hal itu menurut penulis masih lama sekali). Pendek kata, teroris akan menawarkan kehidupan yang berbeda daripada manusia pada umumnya, jika Anda penikmat hal-hal yang berbeda. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Yang jelas, bagi penulis, menjadi teroris adalah pilihan. Pilihan terakhir, kalau bisa, atas kefrustasian akan kesewenangan orang kafir terhadap Islam, penindasan dan eksploitasi orang kafir, dan peliknya persoalan yang dihadapi umat Islam. Namun ini merupakan jalan orang yang bisa jadi putus asa untuk menempuh jalur rasional dan mengandalkan perang emosional. Generasi yang terdidik secara baik tentunya akan berpikir seribu kali untuk menjadi teroris, karena jihad yang dipahaminya tidak harus lewat bom syahid atau dengan kekerasan. Jihad generasi terdidik bisa lewat pena, dalam hal ini karya-karya intelektualnya, yang akan melakukan budaya tanding dan perang pemikiran terhadap dominasi orang kafir. Pilihan ini tidak mengindikasikan bodoh tidaknya seseorang, namun dikembalikan kepada hati nurani masing-masing, karena hidup adalah sebuah pilihan. Dan kita tetap harus memilih. Memilih siapa atau menjadi siapa, itu menjadi keputusan kita. Sekian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113697241992372439?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113697241992372439/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113697241992372439' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697241992372439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697241992372439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/menjadi-teroris-siapa-takut.html' title='MENJADI TERORIS: SIAPA TAKUT ?'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113697234433640399</id><published>2006-01-11T01:38:00.000-08:00</published><updated>2006-01-11T01:39:05.676-08:00</updated><title type='text'>HATI – HATI, ADA TINDAK KRIMINAL BERBASIS FRIENDSTER!</title><content type='html'>&lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Friendster merupakan jaringan komunitas berbasis dunia maya dimana dari jaringan ini kita bisa menemukan teman yang kita kenal maupun yang telah lama tidak pernah kita jumpai. Kita bahkan dapat mencari teman baru yang kita ingini. Teman yang dapat kita lacak melalui penelusuran site ini dengan menggunakan kata kunci, misal: nama, usia, hobi, organisasi, dan lain-lain. Ide yang sangat manusiawi dan telah berjasa terhadap kurang lebih 20 juta anggotanya, dimana masing-masing anggota ini bisa menjalin jejaring dengan teman-temannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Niat baik dan sungguh mulia dari suatu ide besar pendiri Friendster ini memang menjadi sebuah fenomena. Namun, apa mau dikata, pisau itu bermata dua, di satu sisi ada yang memanfaatkan untuk kebaikan, ada segelintir yang memanfaatkan untuk melancarkan niat jahatnya. Niat jahat yang terwujud dalam hal semisal penipuan, pencurian, dan tindak kriminal lainnya. Penulis hanya mencoba membagi pengalaman bahwa disamping memperoleh manfaat yang tak begitu terkira nilainya dari Friendster ini, di saat lain juga menjadi korban tindak kriminal yang berbasis pada Friendster. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Pertama, perkenalkan nama saya Luqman Satriya Siambodo. Saya adalah mahasiswa asal Semarang yang kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Saat ini saya masih giat di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Seperti layaknya mahasiswa perantauan lainnya, maka saya pun menempati kost-kostan sebagai ‘rumah kedua’. Saya baru saja menempati kost baru (sekitar 2,5 bulan). Kos-kostan saya ini dihuni oleh beberapa mahasiswa UGM dengan variasi disiplin ilmu yang cukup beragam, saya pun sebagai salah satu dari beberapa penghuni baru di sana bisa dikatakan paling akrab dengan penghuni lama, seakan sudah bertahun-tahun menghuni di sana. Kalau mau didefinisikan, tempat hunian saya merupakan kost yang (hampir) sangat liberal. Kebebasan ini didasari oleh tidak adanya induk semang (pemilik kost-kostan) yang tinggal di lokasi hunian kami. Aktivitas ini tampak pada bermain game (Play Station) sepuasnya, merokok, bawa teman wanita (pacar) ke kamar, mabuk, bahkan nonton film 17 tahun ke atas. Alhamdulillah sampai saat ini saya tidak terpengaruh sedikit pun akan aktivitas tersebut dengan tetap menjaga hubungan baik seraya memberitahu tanpa harus tampak sok menasehati. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Aktivitas membawa teman ke kamar kost inilah yang menjadi kunci permasalahan sampai jatuhnya saya menjadi korban tindak kriminal. Kamis, 17 November 2005, saya baru tiba di Jogja. Seorang rekan kost, sebut saja B, meminjam &lt;i&gt;handphone flexi&lt;/i&gt; saya untuk menghubungi rekan wanitanya yang berasal dari kota P. Rekannya ini dia kenal lewat friendster, yang mengaku mau main ke Jogja dan hendak menginap di kost B. B pada mulanya menolak halus dan diminta untuk disanggupi saja oleh W, teman kost saya lainnya, dengan jaminan agar menginap di kamar W saja. Di kost kami, karena saking akrab dan percayanya, kami bebas untuk main dan tidur di kamar mana saja dan kapan saja. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Sore harinya, tibalah wanita, sebut saja L, di kost kami. Sebagai laki-laki normal, kami memang tidak tertarik secara fisik terhadap L. L mengatakan bahwa rekannya, sebut saja R, akan datang keesokan harinya. Saya sebagai pribadi memang cuek terhadap kedatangan L, tidak saling kenal dan bahkan sapa. Saya menganggap ini teman W dan B, cukuplah kalau saya butuh dengannya saya akan hubungi W dan B, begitu pikirku. Dengan begitu, saya termasuk asing baginya. W sempat menemani sambil mengobrol di kamar cukup lama, saya tidak tahu menahu apa yang dibicarakan, yang jelas percakapan orang baru kenal pada umumnya. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Jumat pagi, 18 November 2005, rekan wanita L, si R, datang. R ini juga kurang menarik secara fisik, sehingga yang banyak berinteraksi hanya W dan B. Dia datang bersama pria, sebut saja A, yang juga tidak jelas asal-usulnya, karena perkenalan yang singkat yang cuma saya dengar dari kamar. Karena saya memang tidak mau merecoki teman orang lain, apalagi sok kenal. Dua wanita ini akhirnya ‘ditempatkan’ di kamar W selama dua hari, sementara si A pulang ke kostnya. Yang sering berinteraksi dengan keduanya hanya W dan B, sedang saya dan teman lainnya menjaga jarak. Yang jelas, sepanjang pengetahuan saya, tidak ada ‘tindakan yang tidak diinginkan’ yang terjadi selama mereka menginap. Saya tahu itu karena W juga sudah punya pacar W tipikal setia, sedangkan B hanyalah seorang yang lugu dan polos. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Sabtu, 19 November 2005, B dan W mulai jengah dengan keberadaan L dan R. Di samping tidak nyaman untuk beraktivitas di kost, juga tidak nyaman dengan tetangga sekitar. B mengeluh ketika kami sedang beli sarapan nasi kuning, bahkan B hendak pergi ke kota K. Menurut B, ketika B pergi ke kota K, dan W pun akan pergi ke kota S, maka kedua wanita itu akan segera pergi. Ternyata siang harinya, B tidak jelas kabarnya dan sewaktu dihubungi sudah berada di kota K, W sudah memberitahu kedua wanita itu bahwa W akan pergi ke kota S. Kedua wanita itu malah mempersilahkan dengan beralasan bahwa mereka di kamar W saja menunggu kepulangan W hari Minggu. Namun, pacar W, yang berasal dari luar kota, hendak datang ke kost hari Minggu pagi. Maka, tertundalah niat W untuk pulang ke kota S.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Minggu, 20 November 2005, hari ini saya ada agenda dengan IMM dari mulai Syawalan IMM UNY, Pameran Buku, bertemu Bang Arief S 3 Jepang (moderator mailing list muhammadiyah society), dan bertemu Bapak Yunahar Ilyas (Ketua PP Muhammadiyah). Agenda ini pada awalnya tidak terencana dan saya berencana meninggalkan kamar kost hingga sore hari. Namun, W meminta untuk meminjam kamar saya untuk menempatkan kedua wanita itu sembari pacarnya datang. Karena telah lama mengenal W, saya percaya dan menyerahkan sepenuhnya kamar berikut kuncinya. Ketika saya tinggal beraktivitas dengan agenda saya, terjadilah semuanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Kedua  wanita itu menempati kamar  saya, bahkan sempat meminjam &lt;i&gt;handphone  &lt;/i&gt;W untuk ber-SMS ria gratisan (waktu itu ada operator seluler yang bisa berkirim SMS gratis). Entah apa yang dilakukan dalam kamar, karena rekan kost saya yang lain pun tidak pernah merecoki bila temannya memang butuh ‘privacy’. Saya baru pulang ke kost jam 9 malam, B ternyata telah tiba dari kota K, dan kedua wanita itu telah pergi. Saya pun menuju kamar untuk beristirahat sembari melihat-lihat koleksi buku saya. Ternyata uang sebesar 400 ribu rupiah yang hendak saya tabungkan Senin keesokan harinya, telah ‘berpindah tangan’. Saya telah mengecek ke lipatan-lipatan buku dan ternyata tidak ada (karena sebelum menabungkannya, saya biasa menaruhnya di dalamnya). &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Dengan  tetap tenang, saya menceritakan musibah ini kepada teman-teman kost,  W, B, dan J (ketua kost). Ternyata, &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt; W yang tadi dipinjamkan, juga telah ‘berpindah tangan’. W dan B baru saja pergi ke Wartel untuk menghubungi nomor seluler kedua wanita itu, tidak diangkat beberapa kali. Ketika &lt;i&gt;handphone &lt;/i&gt;diangkat, teman saya berkomunikasi dengan kedua wanita itu dan mereka hanya memutar-mutar jawaban. Jelaslah sudah bahwa uang saya dan &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt;  W telah ‘berpindah tangan’ ke kedua wanita tersebut. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; B sedikit emosi dan merasa bersalah atas musibah yang menimpa kami ini. B terus mencari cara untuk mengusut kedua wanita tersebut, namun kuat disinyalir bahwa data/ informasi yang diberikan kepadanya dan W, lewat Friendster maupun dialog, tidak benar. Sehingga, tidak ada gunanya terus-menerus memikirkannya. Saya sebagai pribadi ikhlas akan ‘kepindahan’ rezeki tersebut (meski dalam hati tidak rela karena ‘berpindah’ dengan cara tidak halal), dan hanya bisa menuliskan ini agar saudaraku yang lain tidak terkena nasib serupa, apalagi di tengah semangatnya aktif di Muhammadiyah. Saya tetap menghadapi musibah dengan kepala tegak, ceria (karena hidup hanya sekali, rezeki bisa dicari lagi), berpikir positif (bisa jadi Allah memberikan hikmah kepada saya untuk segera mencari maisyah/ penghasilan, karena sudah waktunya, dan tidak terus ‘mengemis’ pada orang tua). &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: lucida grande;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Semoga  pengalaman ini bisa berguna buat Saudaraku, yang beraktivitas di  dunia maya (salah satunya Friendster dan &lt;i&gt;mailing list&lt;/i&gt;), agar  pengalaman serupa tidak terjadi pada rekan yang lain, baik itu yang  aktif di dunia maya maupun yang belum aktif. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113697234433640399?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113697234433640399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113697234433640399' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697234433640399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697234433640399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/hati-hati-ada-tindak-kriminal-berbasis.html' title='HATI – HATI, ADA TINDAK KRIMINAL BERBASIS FRIENDSTER!'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113697225843400262</id><published>2006-01-11T01:37:00.000-08:00</published><updated>2006-01-11T01:37:38.530-08:00</updated><title type='text'>KADER IMM PTN: KOMUNITAS TERPINGGIRKAN ?</title><content type='html'>&lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Memang tidaklah mengenakkan menjadi orang terpinggirkan, istilah kerennya kaum marginal. Tapi setidaknya itu salah satu alasan yang menghinggapi komunitas yang coba kita bangun lewat jaringan ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, ada kesamaan nasib dan sepenanggungan yang menjadi dasar pijakan bersama atas terbentuknya komunitas ini. Komunitas ini memang digagas oleh angkatan senior muda IMM (untuk angkatan 99 ke atas) yang kemudian diramaikan oleh rekanannya dan kader yunior untuk memperkaya wawasan serta jaringan yang hendak dirintis. Komunitas yang pada awal pendiriannya memfokuskan pada perkaderan, di IMM PTN pada khususnya, lalu meluas membahas persoalan-persoalan kontemporer dari berbagai bidang karena makin beragamnya kader yang ikut &lt;i&gt;urun rembug &lt;/i&gt;dengan berbagai latar belakang wawasan dan disiplin ilmu. Tentunya perkembangan ini menandakan hal positif bagi perkembangan kader IMM. Betapa tidak, jaringan yang dibangun lewat dunia maya ini (dimana tidak ada interaksi secara fisik) suatu ketika dapat saling mempertemukan dalam bentuk fisik di dunia nyata (seperti halnya Syawalan Kader IMM di Kudus yang juga penulis ikuti, beberapa waktu lalu). &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Jaringan ini memang masih berusia dini, keaktifan anggotanya untuk terus menguatkan wacana dan aksi juga makin mengkristal. Perkembangan cepat ini tidak lain karena kemudahan komunikasi yang didukung oleh penguasaan terhadap teknologi informasi. Meski fasilitas ini menjadi barang mewah bagi sebagian besar rakyat Indonesia, tidak terkecuali kader IMM. Namun, dari pengamatan selama beberapa bulan penulis bergabung dalam jaringan ini, intensitas dan variasi dialektika intelektual yang ditawarkan cukup beragam. Bisa jadi kemampuan dialektika kader-kader IMM PTN tidak terwadahi dalam forum dunia nyata, atau tidak percaya diri, atau forum dunia maya ini hanya pelarian. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Penulis memang tidak berusaha memandang miring atas perkembangan positif yang sudah dicapai jaringan ini, apalagi dengan kemampuannya untuk melampaui koordinasi organisasi tingkat nasional. Namun penulis coba melihat perspektif lain mengingat bahwa anggota mailist ini terlalu banyak berwacana dan berdebat dalam tataran mailing list tanpa sebuah bukti nyata berupa aksi di lapangan, begitu ujar seorang kawan. Memang ini menjadi penyakit umum kader Muhammadiyah, tidak terkecuali kader IMM PTN, karena ketidakmampuannya untuk bergerak (mengaktualisasikan diri) dalam dunia nyata, maka hanya mampu bermain-main dengan pemikiran dan ide-ide tanpa aksi. &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Ironi  yang tampak memang seperti itu, ataukah karena memang &lt;i&gt;mindset&lt;/i&gt; teman-teman IMM PTN berbeda dengan kader-kader IAIN/ PTM. Jikalau bisa dikatakan ada perbedaan, maka perbedaan itu memang tampak jelas, meski tidak bisa digeneralisir, karena kader IMM cenderung lugu (salah satunya beberapa tidak doyan merokok), kalem, lebih shalih secara penampakan, dan (maaf) kurang radikal. Individualitas yang sangat tinggi (dalam arti positif, perkembangan bakat dan potensi pribadi) juga tampak pada kader IMM PTN. Kader ada pula yang sangat aktif dalam organisasi lain dengan jaringan yang luas namun kader tersebut kurang mengakar pada komunitas IMM di wilayahnya. Sehingga, yang ada tidak lebih hanyalah pengakuan bahwa beliau adalah seorang kader IMM. Pengakuan yang tidak mengakar pada ideologi yang dianut, pola pikir, dan perilaku kader tersebut. Sehingga, kader ini sering terpinggirkan dalam aksi di lapangan dan lebih dominan pada forum-forum diskusi yang digelar oleh organisasi, sehingga mau tidak mau kader ini terasing dari komunitasnya secara internal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Dalam kasus lain, ada kader yang tidak mengalami perkembangan cepat baik secara individu maupun organisasi. Beberapa kader minim prestasi individu dan pengalaman organisasi, yang menjadikan IMM di PTN ini sebagai lahan eksperimen perdananya. Tidak jarang pula kader ini adalah mahasiswa yang ‘tersingkir’ dari kampusnya oleh karena lamanya masa studi yang telah ditempuh atau ketidakcocokan organisasi internal kampus. Keragaman kader seperti ini haruslah bisa disikapi secara bijak dalam hal memahami perbedaan pengalaman dan pola pikir kader yang terkadang melahirkan ketidaksinkronan gerakan. Perbedaan ini haruslah bisa menjadi nilai tambah bagi organisasi baik dalam hal pemikiran maupun pola gerakannya. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Yang jelas, jaringan ini tidaklah hendak memfasilitasi kader untuk selalu ‘menikmati’ kegagalannya sebagai mahasiswa, ataupun keterpinggirannya dari peradaban kampus, atau bahkan keinginan untuk mencari jodoh (meski hal ini juga tidak bisa dipungkiri). Jaringan ini juga bukanlah kumpulan komunitas orang pintar yang arogan secara intelektual, karena memang secara ‘bahan mentah’ mahasiswa di PTN adalah orang-orang terpilih, baik secara intelektual akademik maupun secara kewilayahan. Statemen ini memang timbul manakala jaringan ini tumbuh dan melakukan eksklusifitas tersendiri dalam ranah Ikatan. Alasan yang matang tentunya bisa dilontarkan untuk membantah pernyataan tersebut. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Jaringan ini hendaklah memotivasi kader-kader di IMM PTN untuk tidak bangga untuk menjadi ‘warga kelas dua’. Berusalah untuk menjadi orang dan organisasi kelas satu (meski tidak harus nomor satu), baik itu dalam wilayah kampus, masyarakat, Ikatan, Persyarikatan, nusa dan bangsa. Perjuangan untuk menjadi komunitas yang tidak terpinggirkan ini butuh kerja keras dan doa yang tidak temporer. Kita harus bangga dan percaya diri terlebih dahulu bahwa memang kita akan menjadi tumpuan harapan baik itu dalam wilayah organisasi Muhammadiyah maupun dalam peran aktif kita membangun bangsa dan negara. Semua bermula dari kesadaran bahwa ada tekad kita untuk berhenti menjadi orang pinggiran. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;18  November 2005 &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113697225843400262?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113697225843400262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113697225843400262' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697225843400262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697225843400262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/kader-imm-ptn-komunitas-terpinggirkan.html' title='KADER IMM PTN: KOMUNITAS TERPINGGIRKAN ?'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113697218059708646</id><published>2006-01-11T01:35:00.000-08:00</published><updated>2006-01-11T01:36:21.680-08:00</updated><title type='text'>SILATURAHIM NASIONAL JIMM PTN: APA DAN MAU KE MANA ?</title><content type='html'>&lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Jaringan yang terbentuk melalui dunia maya ini telah berjalan lebih dari setengah tahun, dengan keanggotaan yang bisa dikatakan lebih dari hitungan jari. Dari perkembangan yang cukup positif ini, ada inisiatif beberapa orang kader IMM aktivis mailist JIMM PTN (Jaringan IMM Perguruan Tinggi Negeri) yang bertemu di sela-sela Pengajian I’tikaf Ramadhan 1426 H lalu di Yogyakarta. Dari pertemuan itu, disamping terjalin ta’aruf dan silaturahim juga sempat membahas sedikit arahan ke depan JIMM PTN. Namun dari hasil &lt;i&gt;rembug&lt;/i&gt; tentang perkaderan dan posisi IMM PTN sendiri, muncul kebutuhan untuk mendiskusikannya dalam skala lebih besar (forum kala itu hanya diikuti 5 – 8 kader). Pertemuan itu juga menyerahkan kepada pihak IMM PTN Jogja (dalam hal ini UGM dan UNY) untuk menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan event tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Dengan tidak menafikan hal yang telah kita bahas dalam berbagai pertemuan dan diskusi baik itu di dunia maya maupun nyata, maka dalam hal ini kami (dari Pimpinan Cabang Bulaksumur Karang Malang) masih memandang bahwa masih terlalu dini untuk menyelenggarakan event tingkat nasional seperti ini. Di sini kami memandang masih banyak hal yang perlu dicermati ataupun dikerjakan bersama-sama untuk penyelenggaraan event yang tidak asal jadi. &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Pertama, masih minimnya akses kader IMM PTN terhadap teknologi informasi, tampak bahwa hanya segelintir dari yang sedikit kader yang turut serta dalam &lt;i&gt;urun rembug&lt;/i&gt; tingkat nasional ini. Potensi yang besar akan kuantitas kader yang ada, meski minim, untuk lebih di-massif-kan agar jaringan ini disamping sebagai wahana untuk pencerdasan juga sebagai perkaderan non-formal bagi kader itu sendiri. Penggiatan pengenalan terhadap teknologi informasi (khususnya pengenalan internet dan fasilitasnya) dengan pendekatan praksis teknis diperlukan. Untuk melakukan hal ini butuh kerjasama seluruh pimpinan pada masing-masing wilayah terutama Bidang Kader dan IPTEK. Kekurangan sumber daya manusia maupun jaringan bisa ditempuh dengan mempergunakan pegiat Teknologi Informasi yang sudah ada (baik itu di IMM maupun dari luar) dan dengan PTM sekitar maupun para aktivis Muhammadiyah. Bentuk pelatihan ini tidak harus formal dalam ruang kelas berfasilitas internet lengkap, namun bisa pula lewat &lt;i&gt;transfer of knowledge&lt;/i&gt; individu ke individu yang bersama-sama mengakses internet. Semoga hal ini dapat mengurangi kesenjangan yang terjadi antara kader IMM PTN yang sering mengakses internet dengan yang tidak. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kedua, jaringan ini ‘tercium’ sebagai bentuk eksklusifitas kader IMM di PTN oleh pihak eksternal karena jaringan ini dipandang politis dan sarat kepentingan, meski kadang kita menjawabnya secara lugu seraya menanyakan bentuk riil kepentingan tersebut. Bahkan kabar terakhir untuk mewadahi keinginan kader IMM PTN untuk membentuk komunitas ini, maka dalam Forum Komunikasi Korkom PTM Nasional diusulkan untuk ikut melibatkan kader IMM di PTN. Ekslusifisme ini sedapat mungkin dihindari agar tidak menimbulkan kesenjangan di masing-masing wilayah dimana PTN ini berada. Sehingga jaringan ini bukannya hendak mengangkangi struktur hierarki yang telah ada, namun diusahakan untuk bersikap sebagai tawaran perkaderan alternatif. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="id-ID"&gt; Ketiga, pendefinisian terhadap keanggotaan mailist ini juga belum jelas, anggota berstatus mahasiswa PTN atau alumni PTN, dan yang dikategorikan PTN juga memasukkan IAIN/ UIN sebagai bagian di dalamnya, atau hanya PTN sekuler saja. Ini perlu definisi jelas dan tegas dahulu dari para pendiri jaringan mailist ini (karena penulis di sini hanya berwenang ‘mengompori’). Definisi yang jelas ini nantinya akan mempermudah inventarisasi, koordinasi dan silaturahim kader. Disamping itu semakin mudahnya kita dalam melakukan gerakan maupun interaksi di dunia nyata, kelak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Keempat, pola perkaderan yang coba ditawarkan dari masing-masing wilayah IMM PTN masih dalam bentuk lisan mengakibatkan susahnya melakukan &lt;i&gt;shearing&lt;/i&gt; informasi dalam bentuk tulisan yang dapat dimanfaatkan lebih baik daripada bentuk lisan. Format perkaderan dari masing-masing IMM PTN hendaknya ditawarkan dalam bentuk konsep abstrak maupun konkret baik itu strategi dan kerja riil yang sudah terlaksana sehingga kita bisa sama-sama belajar akan perkaderan yang ada di IMM PTN. Tawaran pola perkaderan baik itu formal (DAD) maupun non-formal (diskusi, pelatihan, perekrutan) merupakan bentuk kontribusi nyata yang bisa kita &lt;i&gt;rembug&lt;/i&gt; bersama dalam mailist ataupun event-event tertentu, bisa pula dalam bentuk penafsiran dan gerakan kelima Bidang IMM tersebut. Kontribusi yang coba kita berikan, tidak hanya untuk IMM PTN, namun untuk IMM pada umumnya, dan lebih jauh lagi bagi Muhammadiyah. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Kelima, hubungan dengan Majelis Kader Muhammadiyah setempat juga perlu dibangun untuk menepis pandangan miring terhadap jaringan ini, sehingga memurnikan bahwa jaringan ini secara umum fokus pada perkaderan. Hubungan ini bisa berlanjut dalam mempermudah kinerja teknis baik secara organisasi maupun penyelenggaraan perkaderan formal itu sendiri. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Keenam, belum meratanya aktivis JIMM PTN di seluruh wilayah Indonesia, karena masih terpusat di Jawa dan Sumatera. Hal ini mendorong perlunya kerja keras dari kita untuk mencari informasi kader-kader IMM PTN yang belum teridentifikasi tersebut. Setidaknya hal ini juga mendorong pembenahan administrasi kader IMM agar proses pelacakan seperti ini dapat dilakukan dengan lebih mudah. &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Berkaca dari persoalan di atas, maka masih banyak hal yang perlu jadi Pekerjaan Rumah bagi aktivis JIMM PTN untuk lokalitasnya masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa tidak perlu terburu-buru untuk menyelenggarakan event berskala nasional, apalagi suasana politis yang cukup santer akhir-akhir ini menjelang berlangsungnya Muktamar IMM. Di samping itu, tidak serta merta IMM PTN Jogja memonopoli untuk menjadi tuan rumah karena itu masih terbuka peluang untuk IMM PTN wilayah lain. Namun kita pun tidak serta merta berdialektika akan event ini tanpa target waktu, karena hal itu akan kontra produktif terhadap perkembangan jaringan ini pada masa mendatang. Yang jelas bukan kami bermaksud untuk mengulur-ulur untuk sebuah kepentingan, namun sedikit meletupkan kesadaran bahwa masih ada hal yang perlu dipikirkan untuk kebaikan kita bersama. Perlu juga dipikirkan pasca event ini, karena akan ada tanggung jawab sosial, moral, dan intelektual yang tentunya tidak ringan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Tulisan ini merupakan perspektif penulis terhadap hasil diskusi rutin Cabang BSKM Jum’at sore (tanggal 18 November 2005), adapun pemikiran dalam bentuk lain sebagai pembanding bisa dilontarkan oleh Immawan Taufiq UGM, Defi UGM, dan Asrofi UNY. Inipun tidak menutup kemungkinan bagi rekan-rekan aktivis JIMM PTN lainnya untuk bersama melakukan pengayaan atas apa yang telah kami bahas. Semoga tulisan ini bisa menjadi secercah pemikiran yang akan mencerahkan jalan kita ke depan dalam wadah JIMM PTN ini. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;19  November 2005   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113697218059708646?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113697218059708646/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113697218059708646' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697218059708646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697218059708646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/silaturahim-nasional-jimm-ptn-apa-dan.html' title='SILATURAHIM NASIONAL JIMM PTN: APA DAN MAU KE MANA ?'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113697210445418658</id><published>2006-01-11T01:34:00.000-08:00</published><updated>2006-01-11T01:35:04.603-08:00</updated><title type='text'>BEDAH IDENTITAS IMM (Bagian 1)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;tt&gt; Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah organisasi kader&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan dan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kemahasiswaan dalam rangka mencapai tujuan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Muhammadiyah&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; &lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       Gambaran ideal tentang salah satu organisasi&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pergerakan mahasiswa tergambar dalam definisi di atas.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Definisi yang tercatat dalam salah satu butir&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Identitas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, menggambarkan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; bentuk ideal yang diharapkan pada organisasi ini.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Bentuk ideal dengan final goal pencapaian tujuan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Muhammadiyah, yakni terwujudnya masyarakat Islam yang&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; sebenar-benarnya, sebagaimana tercantum dalam Matan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah. &lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Organisasi Kader &lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       Organisasi kader adalah tipikal organisasi yang diacu&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; oleh IMM, di mana kader merupakan aset ‘Sumber Daya&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Manusia’ yang terpenting bagi organisasi ini, bahkan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; menjadi elan vital-nya.  Kader di sini bukanlah&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; dimaknai sebagai segerombolan massa, atau kumpulan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; manusia yang bergabung dalam organisasi hanya sebatas&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; memenuhi tujuannya yang tidak bisa dipenuhi secara&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pribadi. Kader adalah produk dari proses perkaderan,&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; baik secara formal melalui Darul Arqam, maupun melalui&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; perkaderan informal (penunjang) dengan variasi dan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kekhasan pada konteks lokal masing-masing.        Dari sini&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; akan tampak bahwa kader berbeda dengan orang/ individu&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pada umumnya, karena kader melalui proses transformasi&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; yang menjadikannya sebagai output dari proses&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; perkaderan formal. Kader menjalani proses&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kaderisasinya secara formal maupun informal dalam&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; interaksinya dengan organisasi ini.        Proses yang&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; menjadi bagian dalam perkaderan kader ini merupakan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; aktivitas yang memberi nafas kehidupan bagi struktur&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; organisasi. Proses ini setidaknya meliputi beberapa&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; hal, yakni komunikasi, pengambilan keputusan, evaluasi&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; prestasi kerja, sosialisasi dan pengembangan karier.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       Hal yang paling fundamental bagi kader dalam&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; interaksinya dengan Ikatan adalah komunikasi. Tentunya&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; sebagai makhluk yang hidup tidak sendiri di dunia ini,&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; maka komunikasi adalah salah satu syarat yang tidak&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; bisa ditinggalkan. Kemampuan kader  untuk&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; mengungkapkan apa yang ada di pikiran, apa yang&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; dirasakan dalam bahasa lisan juga mengambil peran yang&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; tidak sedikit dalam proses perkaderan. Ketidak cocokan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; dalam hal berkomunikasi, apalagi hanya karena beda&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pola pikir dan cara pandang, merupakan bentuk&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; ketidakdewasaan dalam menghadapi perbedaan yang ada.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Betapa sering  terhambatnya hubungan antar individu&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; maupun dalam konteks kinerja sebuah organisasi, hanya&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pada masalah kurangnya komunikasi. Keahlian seorang&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kader untuk berkomunikasi memang bukan sesuatu yang&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; ‘turun dari langit’ namun terkait pula akan pengaruh&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; latar belakangnya dan bagaimana kader tersebut&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; berproses untuk mengatasi kekurangmampuannya dalam&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; berkomunikasi tersebut. Komunikasi (yang menjadi dasar&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; interaksi) hendaklah dijalankan secara terbuka dan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; ekstensif, juga bersifat akurat dan tidak menimbulkan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; distorsi (kesalahpahaman), bukannya dilakukan secara&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; tertutup dan terbatas, apalagi dipandang dengan penuh&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; rasa curiga. &lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       Komunikasi ini penting dalam proses pengambilan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; keputusan, dimana kader bebas mendiskusikan dan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; meminta gagasan dan pendapat. Dengan begitu, hal ini&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; akan mendorong partisipasi kelompok dalam pengambilan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; keputusan. Pengambilan keputusan ini juga hendaklah&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; berlangsung di semua tingkat organisasi melalui proses&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kelompok yang terbentuk tadi. Realitas yang sering&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; terjadi, dalam kepemimpinan terdapat ketidak bebasan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; untuk mendiskusikan, tidak adanya proses meminta&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; gagasan dan pendapat, yang mengakibatkan kepemimpinan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; organisasi berjalan sendiri tanpa ada yang mengikuti.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Di lain hal, karena tidak adanya proses pelibatan ini&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; maka pengambilan keputusan hanya terjadi di tingkat&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; puncak. Hal ini menggambarkan proses pengambilan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; keputusan yang tidak berjalan efektif dalam&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; organisasi.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       Ketika keputusan yang telah diambil dilaksanakan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; dalam bentuk kerja-kerja nyata (amal/ aksi), maka&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; perlu dilakukan evaluasi prestasi kerja yang telah&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; dicapai. Evaluasi ini penting untuk melakukan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pemberian motivasi dan kendali organisasi. Yang biasa&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; terjadi, kesalahan-kesalahan yang terjadi diperhalus&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; sebagai kekeliruan dan kealpaan manusia, lebih&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; beratnya lagi bila dilegalisasi oleh doktrin agama&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; (dalam hal ini kutipan ayat-ayat Kitab Suci). Maka&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; akan cocoklah ketidakprofesionalan yang terbungkus&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; rapi dalam jubah agama. Legalisasi ini didasarkan pada&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; perasaan takut secara individu dan sanksi (baik itu&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; abstrak maupun nyata) yang dicarikan jalan keluarnya&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; melalui ‘pencerahan agama’. Proses kendali ini&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; harusnya lebih menekankan pada pemecahan masalah&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; tersebut (jika belum terselesaikan dan cenderung&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; bertambah akut) dan pengendalian diri sendiri atas&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kesalahan dan kekeliruan yang pernah dilakukan, karena&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; seorang muslim yang baik tidak akan terperosok dalam&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; lubang yang sama untuk kedua kalinya. Evaluasi ini pun&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; didukung oleh pemberian motivasi secara partisipasi&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kelompok, dengan kesalingtergantungan (yang diawali&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; dulu dengan kemandirian) antar kader.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       Ketika ada proses evaluasi ini, maka setidaknya ada&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pula proses sosialisasi dan pengembangan karier kader.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Sosialisasi dan pengembangan karier di sini dalam&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; rangka mendukung keikhlasannya berjuang dalam&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Persyarikatan (dalam ortom IMM pada khususnya), Umat&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; dan Bangsa. Sering terjadi, kader mengalami&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kebingungan dan kegamangan dalam menjalani kehidupan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pasca kuliah, pasca-IMM, yang menjadikan tidak&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; sinergis dan efektifnya amanah yang diembannya di IMM&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; karena ketidakfokusan tersebut. Sosialisasi karier ini&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; bisa dimulai dengan Ideologisasi Muhammadiyah,&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pemantapan Profil IMM, Profil Amal Usaha, pengenalan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah (baik secara historis,&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; formal, maupun secara informal), sehingga dengan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; sendirinya akan menumbuhkan semangat kader untuk&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; mengembangkan kariernya baik itu di IMM maupun di&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Persyarikatan. Karier di sini bukanlah dimaknai sempit&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; terbatas dalam dunia bisnis saja, namun bisa pula&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; diterapkan dalam organisasi non-profit seperti IMM&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; yang ditampakkan dalam keihklasan profesional dalam&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; berjuang menjaga amanah yang diberikan.      &lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       &lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Tipologi Gerakan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       Seperti halnya Muhammadiyah dan organisasi otonom&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; lainnya, secara hierarkis  vertikal IMM memiliki&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; susunan organisasi mulai dari tingkat pusat sampai&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; tingkat komisariat, yakni adanya Dewan Pimpinan Pusat&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; (DPP), Dewan Pimpinan Daerah (DPD), Pimpinan Cabang&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; (PC), dan Pimpinan Komisariat (PK).&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       Komisariat merupakan kesatuan anggota dalam suatu&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; fakultas, akademi atau tempat tertentu. Cabang ialah&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kesatuan komisariat-komisariat dalam suatu Daerah&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Tingkat II atau daerah tertentu. Daerah ialah kesatuan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; cabang-cabang dalam suatu Propinsi/ Daerah Tingkat I.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Pusat ialah kesatuan daerah-daerah dalam Negara&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Republik Indonesia.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Secara umum IMM melakukan pergerakan untuk memantapkan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; eksistensi organisasi dan demi mencapai tujuannya.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Ranah gerak IMM ini terwujud dalam tipologi geraknya,&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; yakni keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Tiga wilayah garapan (amal sholeh) ini (katanya)&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; merupakan amanat Muktamar VII IMM Purwokerto pada&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; tanggal 25-31 Desember 1992. &lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       Pendefinisian&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       Keagamaan merupakan wilayah garap kader IMM dimana&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; ada usaha kader untuk menformulasikan kehidupan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; berjiwa tauhid menurut ajaran Islam (sesuai Al-Qur’an&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; dan Sunnah) baik secara individu maupun sosial.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Kehidupan berjiwa tauhid ini termanifestasikan dalam&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; aqidah yang diimplementasikan dalam sikap hidup,&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; tertib dalam ibadah, menggembirakan da’wah, dan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; berakhlaqul karimah. &lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Wilayah kemahasiswaan ialah wahana aktualisasi diri&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kader  dalam berfikir mandiri, integral dengan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; mengembangkan pemahaman serta amaliah profesional&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; sehingga akademisi terlibat secara kritis dengan nilai&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kehidupan yang Islami, tujuan serta cita-cita yang&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; mengatasi praktis sesuai basis ilmu pengetahuan yang&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; diserap. Hal ini dapat diindikasikan oleh beberapa&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; hal, yakni: sikap kritis terhadap diri dan lingkungan,&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; tekun dalam studi dan pengembangan ilmu pengetahuan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; dan teknologi secara profesional, mengembangkan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kemampuan manajerial, terbuka dan selektif terhadap&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pandangan baru secara ijtihadiyah, aktif dan kreatif,&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; dan memiliki tanggung jawab sosial dengan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; mengembangkan dengan kesadaran pengamalan ilmu&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pengetahuan dan tanggung jawab terhadap lingkungan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; alam dan sosial.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Ranah garap kemasyarakatan akan menguji kemampuan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kader untuk mengimplementasikan nilai-nilai dan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; ciri-ciri Muhammadiyah secara lahiriah, konsisten dan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; konsekuen dalam suatu disposisi sikap, sehingga tampak&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; memiliki identitas khusus. Kader ini senantiasa setia&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; terhadap keyakinan dan cita-citanya, mempunyai rasa&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; solidaritas sosial dengan membantu para anggota&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; khususnya dan mahasiswa umumnya dalam menyelesaikan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kepentingannya, sikap konstruktif dalam menghadapi&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; problema dan perubahan-perubahan dalam bidang sosial&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pemahaman keagamaan dan kemahasiswaan, dan kedewasaan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; sikap yang tercermin dari kedalaman dan kejauhan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; wawasan hukum, peraturan, undang-undang, dan falsafah&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Negara RI&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Pembagian peran&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       Dengan struktural organisasi dan wilayah garap&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; seperti di atas, perlu adanya pembagian peran agar&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; organisasi berlangsung secara efektif dan efisien.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Pembagian peran dalam bentuk prioritas yang coba&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; ditekankan di sini adalah DPP pada wilayah&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kemasyarakatan, DPD pada keorganisasian, PC pada&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; perkaderan, dan PK pada kemahasiswaan. Tentunya&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; prioritas ini dalam arti tidak menafikan wilayah garap&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; lain, namun memberikan prioritas pada satu wilayah dan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; proporsi yang cukup untuk wilayah garap lainnya. &lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       Dalam kaitannya dengan pembagian peran tersebut, maka&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; dalam implementasinya akan terwujud dalam beberapa hal&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; berikut:&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; &lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; 1.DPP&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Merespon berbagai hal yang terkait degnan kebijakan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; dan implementasi kebijakan pemerintah serta responsif&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; terhadap masalah-masalah Nasional&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Merumuskan dan mensosialisasikan pedoman organisasi&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; dalam upaya tertib organisasi&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Merumuskan konsep-konsep perkaderan dan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pelatihan-pelatihan lainnya dan melaksanakan pelatihan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; tingkat nasional&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Melakukan sinergitas kekuatan dengan lembaga-lembaga&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kemahasiswaan nasional dan untuk dilaksanakan oleh&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; DPD-DPD&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; 2.DPD&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Membuat program kerja serta responsif terhadap&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; persoalan kemasyarakatan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Langkah-langkah taktis dan membuat konsep terhadap&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pengembangan institusi&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Melaksanakan Darul Arqam Madya dan merumuskan (konsep)&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; bentuk perkaderan nonformal&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Melakukan kajian yang diprioritaskan pada&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; persoalan-persoalan kemasyarakatan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; 3.PC&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Merespon berbagai persoalan kemasyarakatan di wilayah&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; kabupaten/ kota&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Mengkoordinasikan berbagai aktifitas-aktifitas PK dan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; implementasi hasil-hasil rumusan Ikatan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Melaksanakan Darul Arqam Dasar dan implementasi konsep&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; hasil rumusan DPD (pelatihan-pelatihan lain)&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Melakukan kajian-kajian yang lebih mendalam pada&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; persoalan kemahasiswaan&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; 4.PK&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Merespon berbagai persoalan masyarakat (komunitas&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; mahasiswa dan kampus)&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Tertib Organisasi serta memasyarakatkan berbagai&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; atribut ikatan (simbol-simbol ikatan)&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Melaksanakan Masa Taaruf dan turut serta pada&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; pelatihan lainnya yang diselenggarakan PC&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Melakukan diskusi-diskusi yang intensif mengenai hal&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; yan terkait dengan perkuliahan dan kampus&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       &lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;                                          Monumen Jogja Kembali, 22 Oktober 2005&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; &lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Sumber :&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       Bahtiar, Asep Purnama, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; ________, Identitas IMM dan Postur Kader IMM, Buku&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Petunjuk Pelaksanaan Perkaderan Darul Arqam Dasar&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;       Nashir, Haedar. Ideologi Gerakan Muhammadiyah, Suara&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Muhammadiyah, 2001.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Nurcahyo,  Narwanto, Pengantar Diktat Workshop&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Manajemen Organisasi Modern, BEM KMFT UGM, KPTU&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Fakultas Teknik UGM, 18-19 Mei 2002.&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Suherman, Tubagus Maman, Draft Pengayaan Lokakarya&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt; Nasional Bidang Perkaderan, DPP IMM  Th. 2002 – 2003.&lt;/tt&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113697210445418658?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113697210445418658/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113697210445418658' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697210445418658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697210445418658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/bedah-identitas-imm-bagian-1.html' title='BEDAH IDENTITAS IMM (Bagian 1)'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113697203068501691</id><published>2006-01-11T01:33:00.000-08:00</published><updated>2006-01-11T01:33:50.873-08:00</updated><title type='text'>MUHAMMADIYAH DALAM CENGKERAMAN GLOBALISASI</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Persyarikatan yang kita cintai ini, mau tidak mau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; telah tergerus pula oleh arus globalisasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Muhammadiyah yang dahulu didirikan sebagai sebuah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; bentuk perlawanan terhadap kolonialisme dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Kristenisasi, mengalami kemunduran dalam menyikapi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; perkembangan dunia dalam konteks kekinian. Bentuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; perlawanan terhadap globalisasi yang berwujud&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; kolonialisme kala itu kini hanya tinggal kenangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Kini, Muhammadiyah tengah mengalami kegamangan dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; penyikapannya terhadap globalisasi dikarenakan wajah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; globalisasi begitu sarwa-jamak yang tidak mudah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; diterjemahkan kawan atau didefinsikan untuk dilawan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Amal usaha yang banyak dalam segi jumlah tidaklah bisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; menjadi alasan karena hal ini cuma merupakan replikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; atau bisa disebut pengulangan dari apa yang dilakukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; oleh KH Ahmad Dahlan, bahkan bisa dikatakan menyimpang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; dari tujuan semula. Penolong Kesengsaraan Oemoem,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; sebagai semboyan Rumah Sakit Muhammadiyah tidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; menemukan makna filosofisnya di Persyarikatan ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Sekolahan yang dibangun pun tidak bisa menampung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; golongan ekonomi lemah untuk menikmati pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Seharusnya bisa dimunculkan rumah sakit maupun sekolah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; alternatif yang dapat menampung  ekonomi lemah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; tersebut sehingga dapat menikmati fasilitas kesehatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; dan pendidikan yang sama. Adapun kelak yang menjadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; penyangga dari sistem alternatif ini adalah rumah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; sakit dan sekolah yang telah ada yang memang mengejar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; kualitas dan fasilitas yang lebih baik untuk golongan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; ekonomi mampu agar tidak kalah bersaing dengan sekolah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; negeri,  Nasrani, bahkan internasional. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Sikap yang tidak jelas terhadap globalisasi malah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; menempatkan kader-kader Muhammadiyah sebagai agen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; proyek asing dengan maraknya proyek yang diterima&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; dengan funding (pembiayaan) dari luar negeri. Apologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; yang diungkapkan dari kader-kader ini adalah apabila&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; proyek ini tidak diambil maka Muhammadiyah hanya bisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; gigit jari karena tidak kebagian. Saya benar-benar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; heran dengan pernyataan ini, bukankah Muhammadiyah itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; dihidupi/ dibiayai oleh warganya sendiri? KH Ahmad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Dahlan dahulu adalah seorang pedagang batik dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; misinya menghidup-hidupi Muhammadiyah secara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; finansial. Bahkan pernah seorang Pimpinan Pusat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Muhammadiyah hanya berprofesi sebagai penjual bensin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; eceran, toh Muhammadiyah masih tetap eksis sampai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; sekarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Memang tidak sedikit kader Muhammadiyah yang tidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; sabar terhadap perkembangan globalisasi, dan dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; cepatnya perkembangan itu Muhammadiyah sudah diminta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; untuk berlari padahal baru saja bisa berjalan. Ketidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; sabaran ini terjadi karena adanya kader-kader karbitan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; yang tidak mengikuti alur perkaderan Muhammadiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; mulai dari tingkatan paling bawah, atau proses yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; dijalani terlalu cepat bahkan tidak bernilai dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; proses perkembangannya sebagai kader Muhammadiyah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Kader-kader seperti ini mudah sekali tergoda oleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; cepatnya pertumbuhan yang seharusnya terjadi di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Muhammadiyah dan menekan bahkan memaksa menekan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; kader-kader yang masih idealis bertahan pada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; prinsip-prinsip dasar ber-Muhammadiyah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Pertumbuhan cepat yang didanai oleh proyek asing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; adalah perkembangan semu, yang tidak mengakar dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; memberdayakan warga Muhammadiyah. Pola pikir kader&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Muhammadiyah yang menjadi agen proyek asing seperti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; inilah yang menyebabkan adanya kesenjangan cukup tajam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; antara pimpinan pusat dengan warga cabang bahkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; ranting. Visi dan misi idealis dan ideologis tereduksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; oleh kepentingan pragmatis dan sesaat akan pemenuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; proyek-proyek yang mekanisme finansialnya bukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; merupakan ciri khas Persyarikatan Muhammadiyah dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; kemampuan swadayanya didanai oleh warganya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Betapa perubahan di tingkatan struktural Pusat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Muhammadiyah tidak begitu memberikan pengaruh yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; signifikan pada warga dan Pimpinan Muhammadiyah maupun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; ortom di tingkatan Ranting menunjukkan bahwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; struktural pusat memang tidak mengakar dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; asyik-masyuk dengan kepentingan sendiri. Di sini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; sering terjadi protes keras dari warga Muhammadiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; yang berada di Ranting terhadap Pusat atas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; inkonsistensi atas Putusan-putusan yang telah dibuat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Hal ini dapat dimaknai wajar dalam sebuah organisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; sebagai mekanisme otokritik, namun amatlah tidak wajar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; apabila ini berlangsung karena tidak adanya kesamaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; visi dan misi yang ideal antara pusat dan ranting.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Sehingga bisa kita lihat program kerja yang cuma jadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; mimpi dari struktural pusat Muhammadiyah mampu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; dilaksanakan dalam konteks lokal oleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Pimpinan-pimpinan Muhammadiyah di daerah, cabang,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; maupun ranting. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Amal usaha terpusat yang coba diterapkan pun tidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; mampu menyentuh struktural bawah Muhammadiyah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Pendirian amal usaha ini lebih memanfaatkan jaringan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Muhammadiyah yang telah ada namun tidak memperhatikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; potensi dan kearifan lokal di masing-masing struktural&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; bawah Muhammadiyah. Sehingga bisa kita saksikan bahwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; amal usaha Muhammadiyah terutama di luar ketiga segmen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; yakni: pendidikan, kesehatan, panti asuhan; tengah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; dalam kondisi hidup segan, matipun tak mau.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Kondisi ini diperparah dengan adanya korupsi baik di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; tingkatan struktural maupun amal usaha Muhammadiyah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Muhammadiyah yang menggembar-gemborkan anti korupsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; dengan menggalang aliansi antar umat beragama ternyata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; begitu keropos. Tidak adanya mekanisme audit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; independen terhadap struktural maupun amal usaha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Muhammadiyah membuat tidak adanya pengawasan keuangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; yang ketat terhadap Muhammadiyah. Hal ini tak ayal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; lagi meningkatkan budaya korupsi di Muhammadiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; sembari turut menyemarakkan korupsi yang terjadi di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; birokrasi Pemerintah. Hal ini amatlah bertentangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; dengan norma agama dan standart profesionalitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; organisasi, karena dalam era globalisasi, transparansi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; dan akuntabilitas merupakan syarat sehatnya sebuah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; organisasi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Muhammadiyah memang beradaptasi dengan globalisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; karena ketidakmampuannya untuk melawan hegemoni sistem&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; tersebut. Dalam proses adaptasi ini Muhammadiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; cenderung memihak yang dominan dan banyak materi,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; seperti yang saya gambarkan di atas. Dengan dalih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; adaptasi kita akomodasi konsep-konsep yang merugikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Persyarikatan. Kita harus pragmatis, realistis dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; perut harus diprioritaskan. Ini bukanlah adaptasi yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; kreatif dan autonom.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Apakah Muhammadiyah dapat tegak menghadapi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; tantangan-tantangan itu dan setia pada prinsip-prinsip&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; pokoknya seperti diamanatkan para pendirinya? Jiwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; ksatria pasti menjawab sanggup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; *Ketua Bidang IPTEK Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Muhammadiyah Bulaksumur Karangmalang tahun 2005-2006&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113697203068501691?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113697203068501691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113697203068501691' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697203068501691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697203068501691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/muhammadiyah-dalam-cengkeraman.html' title='MUHAMMADIYAH DALAM CENGKERAMAN GLOBALISASI'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113697194677181280</id><published>2006-01-11T01:31:00.000-08:00</published><updated>2006-01-11T01:32:26.926-08:00</updated><title type='text'>PROFESIONALISME DALAM BERORGANISASI1</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah sebuah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; organisasi, begitu kata orang. Namun, entah kenapa,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; pemaknaan organisasi yang masih belum tersambungkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; antara apa yang ada di pikiran kader IMM dan apa yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; dalam realitas. Organisasi IMM yang bernaung di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; dalamnya banyak mahasiswa yang tentunya bisa dikatakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; “berbeda” dari komunitas umum mahasiswa lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; Tentunya, ‘beda’ di sini bukan dimaknai keeksklusifan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; terhadap orang-orang yang berada di dalamnya, karena&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; ternyata sama saja, manusia biasa juga.  Namun, beda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; di sini ialah pada hal pemikiran, pola hidup, dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; cara-cara berorganisasi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;       Kurang lebih 3 tahun sudah penulis berkecimpung dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; organisasi ini, dan banyak hal yang penulis temui,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; dapat, atau acuhkan. Perjalanan berorganisasi ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; sarat dengan dinamika, mulai dari kegigihan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; keikhlasan, intelektualitas, namun juga putus asa,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; intrik, ketidak profesionalan, dan juga ketergantungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; (finansial, intelektual, mental). Masalah yang selalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; dijadikan ‘tantangan’ ini tak kunjung reda untuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; diselesaikan agar kader sebagai bagian dari sistem&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; organisasi segera dapat melaksanakan kerja-kerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; praksis berorganisasi. Anda bisa jadi keliru bila&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; langsung menggolongkan penulis yang oportunis dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; pragmatis. Mari kita bicara wilayah abstraksi dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; wacana, tapi realitas ada pada amal (aksi) juga, dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; di sana dituntut keprofesionalan, bukan dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; manajemen kampungan (atau manajemen tukang gorengan?).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;       Yup ... profesionalisme juga menjadi titik point&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; perkaderan pada kader kita. IMM adalah organisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; kader, begitu image yang berusaha dibentuk. Image&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; tersebut memang benar, sebagai organisasi kader, namun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; lebih sebagai individu. Kesuksesan individu yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; diklaim sebagai kesuksesan memimpin organisasi ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; (penulis tidak memandang bahwa pemimpin hanya Ketua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; Umum saja dengan berlogika ‘punya menteri’, namun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; doktrin yang ada di pikiran adalah ‘Triumphirat plus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; Ketua dan Sekbid” adalah pemimpin) bukanlah menjadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; pemandang yang asing dalam tubuh organisasi ini. Hal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; ini terus- menerus dipelihara sebagai budaya yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; melanggengkan ketidakefektifan berjalannya organisasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; Tuntutan akan profesionalisme kader (dengan isu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; profesional kompetensi) dimaknai sebagai tuntutan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; individu. Sehingga tidak jarang kita menemui&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; kader-kader yang profesional di eksternal organisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; (kampus, laboratorium, LSM, Unit Kegiatan Mahasiswa),&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; namun tidak beres menggerakkan internal organisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; (logika ini terbalik bila dibandingkan dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; perjalanan klub-klub bola Indonesia, yang identik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; dengan jago kandang, selalu menang bila main di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; kandang sendiri).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;       Penulis melihat persoalan di atas sebagai tantangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; bahwa perlu ada yang dibenahi dalam organisasi ini,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; organisasi ini bukan organisasi (maaf) kampungan yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; cuma ‘rame in gawe’ (penuh peminat kalau ada kerja/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; proyek, terutama yang ‘basah’; berduit) tetapi sepi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; berangin sepoi-sepoi ketika ada panggilan/ permintaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; kerja ikhlas organisasi. Organisasi ini pun bukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; model orang kota yang hanya terdiri individu yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; sudah sibuk mencari maisyah (penghasilan) dan mengurus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; aisyah (pasangan hidup) (maaf; penulis tidak menyindir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; kader yang telah memiliki penghasilan dan pasangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; hidup, malah salut dengan mereka yang telah mandiri,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; namun organisasi yang cuma jadi sambilan maka hasilnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; akan sambilan juga). Organisasi ini akan punya budaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; organisasi profesional ketika berisi orang-orang yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; punya komitmen dan integritas akan amanah yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; diterimanya. Tentu juga semangat saling memotivasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; antar kader untuk meneguhkan profesionalisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; berorganisasi.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;       Paradigma sempit dengan sendirinya akan meruntuhkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; dinamisnya perkembangan organisasi. Organisasi yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; hanya dimaknai dalam lingkup kecil, karena dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; alasan kedekatan emosional dan pola pikir, hanya akan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; membuat kader seperti itu terperangkap dalam zona yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; belum ada kesadaran pada dirinya sendiri. Dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; konteks IMM, perjalanan kader (terutama di PTN) dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; berorganisasi hanya sampai pada level Komisariat,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; Koordinator Komisariat, dan Cabang. Hal ini salah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; satunya dikarenakan masa studi kuliah yang dipadatkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; yakni selama 4 tahun untuk waktu normal sehingga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; memaksa (?) kader hanya ber-track record sejauh itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; Namun penulis tidak habis ketika pola pikir kader&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; tidak turut berubah seiring semakin beratnya amanah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; yang dipikul. Kader Korkom maupun Cabang atau Daerah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; (barangkali) masih sibuk saja mengutak-atik Komisariat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; yang jelas berisi yunior-yunior kader yang tentu saja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; selalu memilih untuk bergantung pada kader senior ini,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; karena mumpung masih ada dan dipermudah, begitu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; kira-kira. Ini tidaklah bermasalah ketika rekan-rekan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; kerja selevel organisasi adalah orang-orang yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; berparadigma sama. Namun, hal ini akan berbenturan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; ketika cara berpikir kader yang lain berbeda, semisal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; berpikiran bahwa ada wilayah struktural (dimana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; idealisme dan profesionalisme berorganisasi kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; tunjukkan) dan ada wilayah kultural (dimana kemampuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; bersosialisasi kita diuji). Jujur saja, penulis masih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; mengakui salah satu pengalaman berorganisasi yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; terbaik adalah di Rohani Islam SMU, dengan pola&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; perkaderan yang tidak mendakik-dakik seperti Sistem&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; Perkaderan Ikatan, di samping itu profesional dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; kerja-kerja organisasi baik itu dalam lingkup sekolah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; maupun tingkat Kota, namun juga tidak melupakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; hubungan kultural yang masih terjalin hingga saat ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; tanpa adanya kiprah di organisasi itu lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;       Kalau ada dari rekan-rekan ada yang mau menyanggah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; bahwa ini adalah pola-pola organisasi nirlaba (jika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; penulis mencoba menggolongkan organisasi ini sebagai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; organisasi nirlaba), penulis dengan senang hati akan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; merenungkannya. Keterlibatan yang cukup intens dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; wacana-wacana organisasi modern dan interaksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; orang-orang di wilayah organisasi profit membuat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; penulis secara pribadi jengah akan kondisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; ketidakprofesionalan dalam Ikatan yang dimaknai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; sebagai kelumrahan. Inilah yang penulis tangkap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; sebagai kelemahan organisasi yang dijalankan dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; mekanisme kekeluargaan, bukan sistem reward and&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; punishment. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; Dalam organisasi profit, salah satunya akan ada reward&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; and punishment untuk kegagalan (bahkan jika perlu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; mundur dengan legawa) dan kesuksesan berorganisasi,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; dan akan terdidik kedewasaan untuk mengakui kesalahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; dan terbuka menerima kritik.  Dalam organisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; nirlaba, karena hubungan interpersonal emosional yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; dibangun begitu dekat, sehingga kelemahan lainnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; tampak pada mekanisme Laporan Pertanggung Jawaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; kerja organisasi yang hanya berupa pemaparan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; hasil-hasil yang ada, belum dan tidak dilaksanakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; Karena sekali lagi, sebagai organisasi berbenderakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; agama, organisasi ini (mungkin) akan menyerahkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; pemberian reward and punishment ini dalam level&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; ‘pengadilan’ yang lebih tinggi, yakni pahala dan dosa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; di akhirat... Wah HEBAT SEKALI. Ketidak profesionalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; ini berusaha dibungkus rapi dengan dalih agama, yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; dalam hal ini cocok. Kita juga tidak hanya berbicara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; akhir-akhir ini banyak ulama yang memanfaatkan agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; sebagai ‘komoditi bisnis’-nya, namun IMM sebagai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; organisasi beragama juga memanfaatkan agama untuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; kepentingan internalnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; Sistem alternatif di atas diharapkan akan mendidik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; kader agar lebih giat berjuang dan memaknai ‘ikhlas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; profesional’ (yang bisa jadi trade mark Muhammadiyah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; dalam pandangan dan aksi yang lebih progresif. Sistem&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; ini akan dibangun dalam kerangka rekayasa sistem&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; perkaderan dimana ada pula proyeksi pula jauh ke depan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; akan posisi kader dan organisasi di Persyarikatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; maupun dalam kompetisi dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;       Akhir kata, dunia modern memang menuntut kompetisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; dan profesionalisme dalam kemampuan individu maupun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; organisasi untuk survive. Apapun alternatif dunia ke&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; depan, dimanapun kita berada kita tidak bisa lari dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; kompetisi (karena sudah menjadi fitrah kita sejak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; masih dalam proses penciptaan) dan profesionalisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; (karena dunia ini diatur oleh Keteraturan, meskipun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; Chaos namun tetap ada keteraturan di balik itu).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; Meningkatkan profesionalitas berorganisasi, sebagai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; bagian dari kehidupan kita, akan membuahkan wawasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt; dan pengalaman yang tidak ternilai harganya. Semoga!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113697194677181280?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113697194677181280/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113697194677181280' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697194677181280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697194677181280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/profesionalisme-dalam-berorganisasi1.html' title='PROFESIONALISME DALAM BERORGANISASI1'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113697188089903693</id><published>2006-01-11T01:26:00.000-08:00</published><updated>2006-01-11T01:31:21.140-08:00</updated><title type='text'>AKTIVIS MAHASISWA: DEMONSTRASI DAN MENCARI ILMU</title><content type='html'>&lt;tt&gt; Tokoh-tokoh besar yang kita kenal merupakan seorang&lt;br /&gt;pencari ilmu. Kebesaran yang mereka raih dan masih&lt;br /&gt;diingat hingga masa sekarang merupakan buah dari kerja&lt;br /&gt;kerasnya mencari ilmu. Dengan hanya tidur beberapa jam&lt;br /&gt;saja di malam hari, Harun Yahya menekuni ratusan buku&lt;br /&gt;dalam eksplorasinya mencari ilmu untuk meraih&lt;br /&gt;keridhaan-Nya. Ibnu Qoyyim Az-Jauziyah, bahkan sampai&lt;br /&gt;mengasingkan diri di masa akhir hidupnya dalam&lt;br /&gt;berkonsentrasi mencari ilmu dari sang guru, Ibnu&lt;br /&gt;Taimmiyah. Pelajaran besar tentang kegigihan&lt;br /&gt;orang-orang besar dalam menekuni ilmu baik itu ilmu&lt;br /&gt;dunia maupun ilmu syar’i.&lt;br /&gt;      Kondisi ini tidak jauh beda (dalam hal menghabiskan&lt;br /&gt;waktu malam hari) di kalangan masyarakat kita.&lt;br /&gt;Tayangan televisi yang beberapa waktu lalu sempat 24&lt;br /&gt;jam non-stop, menempatkan masyarakat pada budaya&lt;br /&gt;nongkrong di depan TV. Hal ini pun tidak berubah&lt;br /&gt;manakala ada kebijakan Pemerintah untuk mengurangi jam&lt;br /&gt;tayang televisi yang dibatasi hingga jam 12 malam&lt;br /&gt;dengan alasan penghematan energi listrik. Tidak&lt;br /&gt;berubahnya kondisi ini karena kebijakan yang&lt;br /&gt;diterapkan tidak solutif karena masyarakat tetap&lt;br /&gt;mengalihkannya pada menonton VCD (Video Compact Disc)&lt;br /&gt;player, sebuah barang pemutar piringan video&lt;br /&gt;elektronik yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat&lt;br /&gt;kita, bahkan di pedesaan.&lt;br /&gt;      Mahasiswa, sebagai bagian dari masyarakat,  tak&lt;br /&gt;sepenuhnya berbeda. Mereka juga turut menghabiskan&lt;br /&gt;waktu di malam hari untuk kegiatan-kegiatan yang hanya&lt;br /&gt;berujung manakala kantuk sudah menyerang. Bercanda&lt;br /&gt;dengan rekan-rekan sepondokan, nonton film (bahkan,&lt;br /&gt;maaf, film .... ), main game di komputer, entah itu di&lt;br /&gt;game center on-line ataupun di komputer pribadi di&lt;br /&gt;rumah, chatting dan ber-surfing ria di internet dengan&lt;br /&gt;tarif murah karena terkena happy hours, ataupun&lt;br /&gt;berasyik-masyuk dengan sang pujaan hati.&lt;br /&gt;      Ya, bangsa ini memang sedang sakit. Sakit parah.&lt;br /&gt;Manakala realitas sosial menggambarkan keadaan yang&lt;br /&gt;seperti itu dan pribadi yang menjadi tumpuan sebagai&lt;br /&gt;agen perubahan (dalam hal ini mahasiswa) tidak&lt;br /&gt;menunjukkan hal yang berbeda, maka saya tidak habis&lt;br /&gt;pikir bangsa kita ini akan berjalan ke arah yang&lt;br /&gt;kabur. Kalau mahasiswanya, dalam hal ini sebagai&lt;br /&gt;orang-orang terpilih dari masyarakat (dalam angka&lt;br /&gt;statistik hanya 1 % dari warga Indonesia yang bisa&lt;br /&gt;mengenyam bangku pendidikan tinggi), tidak menunjukkan&lt;br /&gt;pola-pola kehidupan yang radikal dan revolusioner.&lt;br /&gt;      Saya memandang bahwa seorang aktivis mahasiswa, yang&lt;br /&gt;di-cap sebagai agent of change, juga mengalami hal&lt;br /&gt;yang serupa, namun dalam paradigma, ruang dan waktu&lt;br /&gt;yang berbeda. Betapa sekarang demonstrasi bisa&lt;br /&gt;dijadikan sebagai ajang aktualisasi diri, mencari&lt;br /&gt;duit, bahkan profesi. Dengan alasan sebuah keniscayaan&lt;br /&gt;keprihatinan akan kondisi bangsa yang carut marut,&lt;br /&gt;demonstrasi menjadi jalan bagi aktivis baik sebagai&lt;br /&gt;pribadi maupun organisasi bahkan ideologi yang&lt;br /&gt;diusungnya masih tetap eksis. Namun, hal ini tidaklah&lt;br /&gt;bisa menjadi alasan ketika demonstrasi sudah menjadi&lt;br /&gt;ikon budaya massa yang tidak jauh beda dengan dugem&lt;br /&gt;(dunia gemerlap), nonton TV, panen raya, dalam hal&lt;br /&gt;menghabiskan waktu yang ada. Memang dari segi tujuan&lt;br /&gt;jelaslah berbeda, dan ada tujuan (yang sekiranya&lt;br /&gt;mulia) yang coba diusung oleh rekan-rekan demonstran,&lt;br /&gt;saya tidak memungkiri hal tersebut.&lt;br /&gt;      Saya mencoba melihat angkatan mahasiswa terdahulu&lt;br /&gt;bisa jadi adalah para demonstran penentang rezim Orde&lt;br /&gt;Lama juga. Namun yang terjadi sekarang ketika para&lt;br /&gt;aktivis tersebut menerima tongkat estafet kepemimpinan&lt;br /&gt;malah menghasilkan kebobrokan birokrasi pemerintahan.&lt;br /&gt;Hal ini tidak jauh beda dengan kondisi yang dahulu&lt;br /&gt;ditentangnya, bahkan kini jauh lebih parah. Yang saya&lt;br /&gt;khawatirkan adalah kemunafikan yang terjadi di dalam&lt;br /&gt;tubuh para aktivis mahasiswa manakala kelak calon&lt;br /&gt;elit-elit ini menerapkan kebijakan-kebijakan yang juga&lt;br /&gt;menindas rakyat dan menimbulkan perlawanan aktivis&lt;br /&gt;mahasiswa yang (lebih) baru.&lt;br /&gt;      Aktivitas demonstrasi ini tentunya bukan aktivitas&lt;br /&gt;kosong, karena di dalamnya ada pertarungan gagasan,&lt;br /&gt;pengumpulan data (bahkan pencurian), konsolidasi bawah&lt;br /&gt;tanah, dan manajemen aksi itu sendiri. Aktivitas yang&lt;br /&gt;jelas membutuhkan pemikiran yang runtut dan&lt;br /&gt;sistematis, bukan serampangan dalam mengerjakannya.&lt;br /&gt;Aktivitas ini pun memerlukan ketekunan dalam mendalami&lt;br /&gt;ilmu yang dijadikan dasar analisis bagi aktivis ini&lt;br /&gt;untuk mengkritik realitas sosial maupun tema yang&lt;br /&gt;diangkat. Di samping itu aktivis menghabiskan waktu&lt;br /&gt;berhari-hari untuk sekadar teriak-teriak di kamar&lt;br /&gt;mandi, di depan cermin bahkan di tengah laut untuk&lt;br /&gt;latihan retorika di depan umum. Aktivitas yang&lt;br /&gt;membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk membaca,&lt;br /&gt;menganalisis, merenung, menulis, dan berdialektika&lt;br /&gt;untuk menemukan pemahaman yang integral dan&lt;br /&gt;komperensif.&lt;br /&gt;      Dari sini saya coba melihat bahwa aktivitas mencari&lt;br /&gt;ilmu (tentunya tidak sekedar menghabiskan waktu) juga&lt;br /&gt;mempunyai peran yang tidak main-main. Tentunya orang&lt;br /&gt;mencari ilmu adalah aktivitasnya dalam mengetahui&lt;br /&gt;sesuatu yang belum dia ketahui dan orang lain yang dia&lt;br /&gt;asumsikan belum mengetahuinya (pula) .&lt;br /&gt;      “Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui&lt;br /&gt;dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar:&lt;br /&gt;9)&lt;br /&gt;      Jelas di sini ditegaskan perbedaan antara orang yang&lt;br /&gt;mengetahui dan yang tidak mengetahui. Aktivis&lt;br /&gt;mahasiswa yang turun berdemonstrasi (biasanya disebut&lt;br /&gt;demonstran) bisa dikatakan pada taraf mengetahui&lt;br /&gt;tentang sesuatu hal yang tidak diketahui oleh pihak&lt;br /&gt;yang dikritiknya, misal pejabat struktural. Derajat&lt;br /&gt;ketidaktahuan ini yang kadangkala menjadi&lt;br /&gt;kesalahpahaman yang terjadi antara keduanya. Namun,&lt;br /&gt;kondisi serupa bisa terjadi sebaliknya untuk hal-hal&lt;br /&gt;tertentu terhadap sebuah permasalahan.&lt;br /&gt;      Karena dalam hal tersebut ada perbedaan paradigma&lt;br /&gt;dalam melihat masalah. Bila  masalah di sini kita&lt;br /&gt;ibaratkan wilayah, maka paradigma adalah sebuah peta.&lt;br /&gt;Peta yang merupakan penggambaran dari sebuah wilayah&lt;br /&gt;akan tergantung tingkat pengetahuan penggambar peta&lt;br /&gt;dan peta seperti apa yang ingin dihasilkan.&lt;br /&gt;Kelengkapan data, informasi yang dimiliki, dan&lt;br /&gt;ketelitian peta tersebut menjadi penting dalam hal&lt;br /&gt;ini.   Peta yang berbeda bisa saja terjadi untuk&lt;br /&gt;sebuah wilayah yang sama. Derajat keilmuan yang&lt;br /&gt;berbeda juga bisa menghasilkan paradigma yang berbeda.&lt;br /&gt;      Dengan begitu, aktivitas keilmuan memegang peranan&lt;br /&gt;penting.&lt;br /&gt;“Allah memberikan hikmah (ilmu) kepada siapa yang Dia&lt;br /&gt;kehendaki dan barangsiapa dianugerahi hikmah (ilmu)&lt;br /&gt;tersebut maka ia benar-benar telah dianugerahi karunia&lt;br /&gt;yang banyak.” (Al-Baqarah: 269)&lt;br /&gt;      Ilmu merupakan karunia yang banyak dari Allah SWT,&lt;br /&gt;ilmu di sini tentunya tidak sekedar menyerap dalam&lt;br /&gt;arti mentah. Namun harus diikuti dengan amal yang&lt;br /&gt;shalih karena pada dasarnya keduanya (ilmu dan amal&lt;br /&gt;yang shalih) adalah satu kesatuan yang tidak lengkap&lt;br /&gt;bila saling dipisahkan.&lt;br /&gt;      Seorang mahasiswa, baik aktivis maupun tidak,&lt;br /&gt;tentunya hampir tiap hari bergelut dengan ilmu.&lt;br /&gt;Mengikuti kuliah dengan agenda utama mendengarkan&lt;br /&gt;celotehan dosen, dan tidak mampu  untuk melakukan&lt;br /&gt;kritik karena tidak ada proses dialektika di dalam&lt;br /&gt;ruang kuliah tersebut. Hal ini dihasilkan oleh&lt;br /&gt;pemahaman bahwa kuliah adalah proses “Sebaiknya Anda&lt;br /&gt;Tahu” bukan “Sebaiknya Anda Paham dan Amalkan”,&lt;br /&gt;sehingga kuliah hanya berjalan monoton dan kurang&lt;br /&gt;interaktif. Dialektika yang coba dibangun oleh&lt;br /&gt;mahasiswa kritis (biasanya mahasiswa aktivis) hanya&lt;br /&gt;ditanggapi sebagai angin lalu saja karena kemungkinan&lt;br /&gt;besar tidak akan keluar dalam ujian. Proses dialektika&lt;br /&gt;ini dimaknai secara apatis oleh mahasiswa kebanyakan.&lt;br /&gt;      Pergulatan mahasiswa dalam mencari ilmu tidak lepas&lt;br /&gt;dari amal yang dilakukan terkait dengan ilmu yang&lt;br /&gt;telah dia dapatkan, Praktek (Praktikum sebagai&lt;br /&gt;simulasinya) kalau dalam istilah perkuliahan. Kalangan&lt;br /&gt;sosial harus mengaplikasikan teori bangku kuliahnya&lt;br /&gt;sendiri dengan aktif berdiskusi, giat di LSM, ekstra&lt;br /&gt;kampus, pemerintahan mahasiswa dengan menjadi&lt;br /&gt;mahasiswa aktivis. Lain halnya, kalangan eksakta&lt;br /&gt;mendapatkan praktikum sebagai ajang simulasi&lt;br /&gt;mempraktekkan teori yang dipraktekkannya, tidak jarang&lt;br /&gt;pula yang terjun ke dunia yang bereda seperti di&lt;br /&gt;kalangan sosial namun tidak sedikit yang mengalami&lt;br /&gt;split personality karena ketidakmampuan&lt;br /&gt;mengaplikasikan teori kuliahnya dengan laboratotium&lt;br /&gt;sosial yang dimilikinya. Tidak sedikit yang acuh&lt;br /&gt;terhadap perkuliahan eksak yang serba pasti dan&lt;br /&gt;dibatasi oleh dinding-dinding intelektualitas,&lt;br /&gt;kemudian lari ke wilayah ilmu sosial.&lt;br /&gt;      Dunia intelektual mahasiswa, khususnya di wilayah&lt;br /&gt;pergerakan kampus, berusaha mengakomodir dua hal vital&lt;br /&gt;dalam eksistensinya yakni: demonstrasi dan pencarian&lt;br /&gt;ilmu. Beberapa pergerakan mahasiswa mengalami&lt;br /&gt;pergeseran orientasi kemahasiswaan pasca-reformasi&lt;br /&gt;dengan merujuk pada ide-ide profesionalitas keilmuan&lt;br /&gt;dikarenakan pemahaman bahwa demonstrasi yang diusung&lt;br /&gt;angkatan 98 kurang relevan lagi untuk diangkat sebagai&lt;br /&gt;aksi sentral. Bisa jadi tantangan generasi&lt;br /&gt;pasca-reformasi ini berbeda dengan kalangan mahasiswa&lt;br /&gt;angkatan reformasi terdahulu. Karena paradigma&lt;br /&gt;terhadap serangan kapitalisme dan globalisasi yang&lt;br /&gt;sudah sedemikian tinggi, maka profesionalitas keilmuan&lt;br /&gt;menjadi salah satu solusi untuk mampu bersaing dalam&lt;br /&gt;persaingan internasional kelak. Meski dalam pandangan&lt;br /&gt;pesimis bahwa secepat apapun kita mengejar kita akan&lt;br /&gt;tetap jauh tertinggal, tertinggal di landasan pacu&lt;br /&gt;(bahasa slogan Orde Baru). Namun sebagai manusia&lt;br /&gt;postivistik, saya setidaknya melihat secercah harapan&lt;br /&gt;bahwa bangsa ini, melalui kebersamaan warganya dengan&lt;br /&gt;dipelopori oleh mahasiswa (terutama aktivis), dapat&lt;br /&gt;bangkit, baik itu melalui aktivitas pencarian ilmu&lt;br /&gt;maupun dalam wilayah pengamalannya (salah satunya&lt;br /&gt;melalui demonstrasi?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monumen Jogja Kembali, 30 Sep. 05&lt;/tt&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113697188089903693?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113697188089903693/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113697188089903693' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697188089903693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697188089903693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/aktivis-mahasiswa-demonstrasi-dan.html' title='AKTIVIS MAHASISWA: DEMONSTRASI DAN MENCARI ILMU'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113697155227851946</id><published>2006-01-11T01:25:00.000-08:00</published><updated>2006-01-11T01:25:56.396-08:00</updated><title type='text'>BELAJAR KEARIFAN DARI ORANG DESA</title><content type='html'>&lt;div class="western" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Judul di atas memang bernada sedikit aneh, karena jarang orang yang tahu bahkan mencari tahu apa sebenarnya yang bisa diambil pelajaran dari orang-orang desa. Orang desa identik dengan pemalas, puas dengan keadaan dan tercukupinya kebutuhan dari sekelilingnya, tetapi sebentar, itu adalah perspektif orang kota. Memang pada beberapa individu dari orang desa persepsi tersebut melekat dengan sendirinya, namun di sini kita coba ambil pelajaran dari perspektif yang sedikit berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div class="western" style="text-decoration: none;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;span style="text-decoration: none;"&gt;Kalau mau membandingkan dengan orang kota, maka orang kota identik dengan kemajuan (modernitas), kerja keras, kesibukan tiada henti, akrab dengan kemacetan lalu lintas, dan sering dilanda stress. Tak heran maka kajian dan pelatihan yang berbau spritualis dan menenangkan nurani amat laris di kota. Mungkin, jika hal ini diterapkan di desa, tidak akan ada respon yang berarti. Bisa dikatakan beberapa orang desa telah mencapai kondisi spritual yang lebih matang karena jauh dari hiruk pikuk modernitas kota. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div class="western" style="text-decoration: none;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt; Modernitas yang diagung-agungkan orang kota memang telah banyak membius orang desa untuk hijrah ke kota. Di samping untuk pemenuhan kebutuhan hidup pokok, bius akan kemodernan ini membuat orang desa tak tahan untuk tiap hari hanya berputar-putar pada lingkup wilayah desa dan pola kehidupan yang tidak jauh berbeda. Adapun terkadang variasi pekerjaan yang bisa dilakukan di desa memang minim, sehingga menimbulkan pengangguran. Kekurang kreatifan dalam melakukan pekerjaan yang lebih variatif ini juga dipengaruhi oleh jenjang pendidikan orang desa yang rendah. Di desa, jenjang pendidikan yang rendah tidak terlalu berpengaruh kepada kemampuan bertahan hidup seseorang, karena keterjaminan hidupnya oleh alam dan tetangga sekitarnya, yang biasanya merupakan sanak saudaranya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div class="western" style="text-decoration: none;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt; Orang kota memang bisa dikatakan lebih maju bila dibandingkan dengan orang desa, karena akses akan informasi, uang, dan kebutuhan lainnya yang tersistem dalam bungkus kemodernan. Namun hidup di kota bukanlah semudah membalik telapak tangan, apalagi berharap menjadi benalu untuk sanak saudara ataupun tetangga, itu hanyalah mimpi. Untuk bisa hidup di kota, dalam arti tidak sekadar dapat bertahan hidup, minimal orang desa harus mempunyai keterampilan yang bisa jadi nilai jualnya di tengah persaingan hidup di kota. Di kota, meski tak selalu benar, jenjang pendidikan yang dimiliki oleh seseorang akan menentukan status sosialnya di masyarakat, apalagi bila telah sampai pada jenjang pendidikan universitas. Hal ini tidak jauh berbeda dengan orang desa, namun di kota kebutuhan akan pendidikan ini benar-benar terasa karena persaingan dalam meraih pekerjaan lebih tajam. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div class="western" style="text-decoration: none;" align="justify"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Persaingan dalam hal apapun yang menjadi ciri masyarakat kota menjadikan orang kota harus bekerja keras, bahkan mungkin sampai tak kenal henti, tak kenal keluarga dan tetangga. Perilaku ini menghasilkan orang kota yang individualis dan haus mengejar prestasi individu. Tidak jarang perilaku ini menghasilkan orang kota yang mengalami &lt;i&gt;split  personality&lt;/i&gt;. Tingkat pemahaman keagamaannya (keimanan) yang tinggi (spritualis) belum bisa mencapai kesempurnaan karena keterisolasian hubungannya dengan sesama. Hal ini juga tidak bisa menumbuhkan kesadaran Tauhid Sosial orang kota, sehingga sering hanya berkutat pada tauhid individu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div class="western" style="text-decoration: none;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ketidak seimbangan hidup ini sering menimbulkan stress bagi orang kota. Orang kota mengalami stress karena persaingan hidup di kota begitu keras. Stress ini pada tingkatan yang lebih parah dapat menimbulkan depresi, migrain, dan sejumlah penyakit orang kota lainnya. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Begitu seriusnya orang kota memaknai kehidupan, sehingga perilaku dan dialog yang dilakukan tidak jauh dari hal yang berbau konkret materiil yang secara khusus bisa disimbolkan uang. Seakan-akan kebahagiaan seseorang dapat diukur oleh banyaknya uang (harta) yang dapat dikumpulkan. Padahal dalam konsep kesederhanaan, selama kita mampu bersyukur akan apa yang telah dikaruniakan Tuhan dalam hidup, maka kebahagiaan bukanlah hal yang musykil. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div class="western" style="text-decoration: none;" align="justify" lang="id-ID"&gt;   &lt;span style="font-size:100%;"&gt; Jika orang kota lebih suka menilai pencapaian lewat hasil yang didapatkan, bisa berwujud prestasi, uang, dan lainnya, maka orang desa tidak. Orang desa lebih menghargai proses pencapaian yang dilakukan oleh seseorang, bahkan ketika orang itu telah meninggal dunia. Hal ini ditunjukkan dalam peringatan-peringatan yang sering diadakan oleh orang desa, yang masih mengakar pada kearifan lokal dan nilai-nilai yang dipelihara sejak dahulu. Hasil yang didapatkan akan dikembalikan kepada Tuhan, karena manusia berada dalam kapasitasnya berusaha. Keoptimalan berusaha memang akan tampak pada hasil usaha tersebut, namun orang desa lebih senang menghargai proses pencapaiannnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div class="western" style="text-decoration: none;" align="justify"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Di samping itu, orang desa masih memegang teguh budaya gotong royong. Di mana rasa saling tolong menolong sangat tinggi dalam masyarakat desa. Keinginan untuk saling membantu ini, disamping karena kedekatan hubungan kekerabatan, juga dalam rangka bersama-sama untuk mengatasi permasalahan hidup di desa yang dihadapi. Budaya gotong royong ini merupakan salah satu kekuatan kearifan lokal yang dimiliki oleh orang desa yang telah banyak tergerus oleh modernisasi dan globalisasi. Memang, orang kota yang cenderung individualis juga memiliki mentalitas gotong royong, semisal dalam bentuk &lt;i&gt;team work&lt;/i&gt;.  Namun, hal tersebut hanya terbatas pada  pemecahan masalah pekerjaan  maupun organisasi. Apabila kebutuhan akan &lt;i&gt;team work&lt;/i&gt; berakhir  karena telah tercapainya tujuan, orang kota akan kembali ke  mentalitas semula.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113697155227851946?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113697155227851946/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113697155227851946' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697155227851946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697155227851946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/belajar-kearifan-dari-orang-desa.html' title='BELAJAR KEARIFAN DARI ORANG DESA'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113697148488086588</id><published>2006-01-11T01:24:00.000-08:00</published><updated>2006-01-11T01:24:44.956-08:00</updated><title type='text'>KATAKAN ‘TIDAK’ UNTUK MENIKAH !</title><content type='html'>&lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;   &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seperti menjadi sebuah kultur, setiap kali penulis bertandang ke kandang-kandang aktivis Islam maka akan ada pembicaraaan yang tidak jauh berbeda mengenai sebuah topik. Topik ini memang banyak dibicarakan oleh beberapa orang aktivis Islam, namun sebatas pengetahuan penulis hanya pada kaum laki-laki, apalagi mereka yang telah mencapai usia matangnya untuk melangsungkan pernikahan. Entah berselimutkan label Islami ataukah bukan, tapi perbincangannya tidak jauh berbeda dengan perbincangan manusia pada umumnya, yakni menyangkut lawan jenis. Menariknya, perbincangan ini tidak menjurus pada cara untuk nembak &lt;i&gt;si doi&lt;/i&gt;, nge-&lt;i&gt;date&lt;/i&gt;, jadian, dan akhirnya menjalani masa pacaran. Ada sebuah perspektif yang berbeda, karena berada di lingkungan komunitas yang Islami. Cara pandang yang menyatakan bahwa tidak ada yang namanya istilah pacaran dalam Islam, apalagi melegalkan masa pacaran dengan masa &lt;i&gt;taaruf &lt;/i&gt;(perkenalan). Kerangka pikir yang terbentuk adalah dalam rangka menyempurnakan keislaman seorang mukmin, karena belum sempurnanya keIslamannya bila belum menikah. Bahkan, kerangka berpikir ini didukung oleh jargon ‘membangun peradaban Islam’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun, penulis di sini mencoba melihat keinginan untuk menikah dengan sudut pandang yang berbeda, sudut pandang ‘miring’ yang bisa terlupakan oleh mereka yang tengah terbuai oleh romantisme wacana pernikahan. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Penghambat Progresifitas Perjuangan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bisa jadi, secara individu aktivis yang beralasan untuk menikah demi ‘membangun peradaban Islam’ telah menyerah dengan peliknya permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam, apalagi yang berdomisili di Indonesia. Solusi yang diambil adalah melangsungkan pernikahan dan berharap semoga generasi berikut bisa melanjutkan perjuangan pendahulunya dengan mendidiknya dalam keluarga sakinah. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Secara pribadi penulis tidak ada masalah dengan diskusi terkait dengan masalah di atas. Namun, yang saya sayangkan adalah topik ini sering hanya menjadi bahan pergunjingan/ lelucon untuk mencairkan suasana. Yang lebih parah lagi, apabila seseorang telah identik dengan keinginannya untuk menyempurnakan ke-Islam-annya itu, maka hal yang akan dibicarakan bila bertemu dengan orang tersebut tidak lebih dari hal-hal terkait persoalan pernikahan. Hal ini bisa jadi kontrapoduktif pada para aktivis muda Islam yang masih dalam masa-masa senangnya menikmati berdialektika tentang Islam, perlawanan, globalisasi, dan lainnya. Bisa jadi hal ini mengakibatkan pendangkalan intelektual dan wawasan aktivis muda secara terselubung dan tidak tersadarkan, karena wawasan pengetahuannya tidak jauh dari seputar permasalahan dirinya dan calon pasangan. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Amat disayangkan memang bila aktivis muda Islam, yang sering hanya berkutat pada masalah teknis organisasi, terjebak dalam wacana dan ‘mimpi’ untuk masa pernikahan kelak. Perbincangan mengenai masalah pernikahan ini memang harus diletakkan dalam posisi yang wajar, apalagi berkaitan dengan keinginan sesama aktivis Islam untuk menjadi generasi aktivis Islam yang intelek. Intelek dalam hal ini adalah kemampuannya memahami Islam secara mendalam, kompetensinya, teori-teori sosial, dan pemecahan masalah riil di masyarakat. Kerja psikis seperti ini tentunya tidak bisa dilakukan secara setengah-setengah, apalagi dengan pikiran yang terdominasi oleh pikiran hendak ‘membangun peradaban’. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Memang, pernikahan adalah ibadah. Sebuah proses perubahan yang bisa dikatakan cukup drastis bagi kemanusiaan seseorang. Ketika masih sendiri, maka seseorang hanya berpikir tentang dirinya sendiri, dan paling jauh tentang teman, keluarga, dan masyarakatnya. Namun ketika telah memiliki pasangan, otomatis dia akan berpikir pula tentang pasangannnya dan hal-hal terkait. Memang, secara logika beban pikiran akan bertambah, namun logika pula yang akan menjawab bahwa beban berkali lipat tersebut akan ditanggung lebih ringan, karena yang memikirkannya dua orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Melanggengkan Materialisme &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seseorang yang akan menuju jenjang pernikahan maka akan menyiapkan banyak hal, terutama materi. Memang, seorang laki-laki bila akan melangsungkan pernikahan, maka mau tidak mau telah memiliki terlebih dahulu &lt;i&gt;maisyah&lt;/i&gt; (penghasilan) dan calon ‘aisyah’  (calon pendamping hidup).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di kalangan masyarakat kita, materi memang masih jadi ukuran, seikhlas apapun orang tersebut (meskipun kategori ikhlas menjadi rancu pada pribadi seperti ini). Hal ini memang bisa jadi ironi, manakala hal-hal yang terkait dengan nilai-nilai (cinta, kejujuran, dan lainnya) direduksi oleh sejumlah nilai uang (dalam bentuk mas kawin). Namun, hal itu memang wajar karena jikalau tidak salah Rasulullah memberikan mas kawin pernikahannya berupa puluhan unta, yang berarti secara materi bukanlah jumlah yang sedikit. Materi, dalam wujud uang/ harta, memang menunjukkan kesiapan seorang laki-laki, sebagai calon pemimpin rumah tangga, kelak. Kesiapan ini ditunjukkan oleh telah mampunya dia memberikan nafkah yang riil, hal ini diwujudkan dalam mas kawin, sehingga bisa mengindikasikan bahwa secara materiil si laki-laki telah mempunyai sifat amanah dan tanggung jawab. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang lebih menarik, materi dalam wujud uang/ harta tersebut tidak jatuh dari langit layaknya hujan. Tentunya materi ini dihasilkan dari wujud usaha yang dalam bentuk apapun bisa dikategorikan sebagai kerja. Materi yang sering dinamakan pendapatan ini merupakan hasil kerja keras si laki-laki, bisa menjadi ‘modal’ untuk mendapatkan caoln pasangan hidupnya. Materi ini bukanlah hasil dari menempuh jalan yang haram atau mengemis (apalagi ‘mengemis’ kepada orang tua). &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun, pernikahan bukanlah sesuatu jenjang kehidupan yang bisa dimateriilkan secara keseluruhan. Tidak jauh berbeda dengan hidup ini, ada banyak hal yang tidak bisa dimateriilkan. Ada banyak hal yang tidak bisa dinilai dengan uang (priceless). Hal yang terkait dengan nilai-nilai, ideologi (cita-cita), kebahagiaan, tentunya merupakan salah satu bagian dari pernikahan. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari kedua alasan paparan penulis diatas, sudilah kiranya kita mengkaji kembali keinginan kita untuk menikah. Jika pernikahan dimaknai sebagai aktivitas ibadah, maka sedapat mungkin ‘virus merah jambu’ yang ditebarkan tidak mewabah. Apalagi menjangkit ke pribadi-pribadi yang hanya mampu menjadikan wacana pernikahan itu sebagai khalayan kosong pengisi pikiran. Kasihan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; text-decoration: none; font-family: verdana;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;30 November 2005&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113697148488086588?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113697148488086588/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113697148488086588' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697148488086588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697148488086588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/katakan-tidak-untuk-menikah.html' title='KATAKAN ‘TIDAK’ UNTUK MENIKAH !'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113697139854675984</id><published>2006-01-11T01:22:00.000-08:00</published><updated>2006-01-11T01:23:22.600-08:00</updated><title type='text'>KULIT PUTIH: SEBUAH KEHARUSAN?</title><content type='html'>&lt;div class="western" style="text-indent: 0.5in; text-decoration: none;" align="justify"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketika melihat tayangan media elektronik (dalam hal ini televisi) akhir-akhir ini, maka ada sebuah fenomena. Fenomena ini tampak manakala individu yang tampil di layar kaca ini bisa dikatakan serupa atau identik. Dari mulai bintang iklan, sinetron, sampai tayangan &lt;i&gt;infotainment&lt;/i&gt;, hampir seluruhnya menunjukkan tipikal manusia  Indonesia yang identik. Di sana ditampakkan bahwa  manusia Indonesia  adalah cakep/ cantik, berkulit putih, dan bertampang bule (indo). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt; Saya jadi tidak habis  pikir dengan tidak adanya peluang bagi (mungkin) &lt;i&gt;mbok-mbok&lt;/i&gt; yang jualan di pasar untuk dapat ditampilkan di televisi. Atau remaja Indonesia yang hidup di pedesaan dengan kulit sawo matang dan kesederhanannya, bisa tampil di televisi pula. &lt;/div&gt;      &lt;div class="western" style="text-decoration: none;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Sepengetahuan  saya, orang-orang &lt;i&gt;bule&lt;/i&gt; itu bahkan menyempatkan waktu dan menghabiskan banyak biaya untuk membuat coklat pada kulit putihnya. Entah kenapa, kulit putih mereka akan tampak buruk ketika bila tersengat matahari tanpa pelembab. Hal ini tampak pada bercak-bercak merah pada kulitnya dan bisa jadi menimbulkan rasa gatal. Bahkan, seorang bintang &lt;i&gt;bule&lt;/i&gt; yang  tenar pun menghabiskan ribuan dolar  hanya untuk membuat coklat kulit putihnya. Memang, di kalangan orang  kulit putih (&lt;i&gt;bule&lt;/i&gt;), kulit putih yang kecoklatan akan meningkatkan gengsi dan status mereka di lingkungan asalnya. Hal ini karena orang kulit putih yang berubah kulitnya menjadi putih kecoklatan menandakan ia mampu dalam hal finansial untuk berlibur ke pantai, atau bahkan ke daerah tropis, Bali misalnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div class="western" style="text-decoration: none;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Nah, dari sini saya malah tambah tidak mengerti, banyak orang Indonesia ingin kulitnya lebih putih. Bisa jadi ini karena pengaruh iklan yang begitu gencarnya mengiklankan produk pemutih kulit tubuh maupun wajah. Belum ditambah lagi pencitraan artis-artis dunia &lt;i&gt;entertainment&lt;/i&gt;  (iklan, sinetron, dan lain sebagainya) yang &lt;i&gt;notabene&lt;/i&gt; memang  berkulit putih. Hal ini  pun dimaklumi oleh &lt;i&gt;model agency&lt;/i&gt; dan rumah produksi, bahwa memang saat ini pasar (televisi dan iklan) memang membutuhkan model ataupun calon artis yang memiliki kulit putih. Klop, kan!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div align="justify" lang="id-ID"&gt; Memang, putih hampir bisa disamakan dengan bersih. Namun, kebersihan itu sendiri tidak harus putih. Hal ini menyebabkan penggiringan persepsi orang ke satu titik, bahwa hanya satu warna yang mendominasi bersih itu, yakni putih. Pengaruh pencitraan yang luar biasa lewat media televisi (sampai memilih presiden yang akan menang pun bisa ditentukan lewat banyaknya iklan kampanye yang muncul di televisi) akan menunjukkan kepada khalayak realita yang diakui secara umum. Padahal realita itu sendiri bukanlah kebenaran, namun pengaruh media televisi telah menyebabkannya menjadi kebenaran yang dianggap umum.&lt;/div&gt;      &lt;div class="western" style="text-decoration: none;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt; Masyarakat penonton televisi kita akan terdidik untuk menilai sesuatu bahkan seseorang dengan materi, dalam hal ini cakep/ cantik dan kulit putih bersih, di samping materi dalam wujud harta kekayaan. Betapa kasihan orang Indonesia yang memang natural asli produk Indonesia dengan kulit sawo matangnya, bisa jadi stress, karena tidak bisa memenuhi kriteria tersebut. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div class="western" style="text-decoration: none;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Hal  ini bisa jadi menunjukkan mentalitas &lt;i&gt;inlander&lt;/i&gt; bangsa kita yang sudah tidak bangga lagi, salah satunya dengan kulit sawo matangnya. Ternyata penjajahan terselubung yang kita terima tidak lagi menjadi masalah secara umum, bahkan dinikmati sebagai kemajuan, karena identik dengan orang Barat (yang dicirikan dengan masyarakat maju dan modern). Bangsa Indonesia akan tercerabut dari nilai-nilai kearifan lokalnya, karena secara penampakan fisik tidak bisa lagi dibedakan seorang warga negara Indonesia atau warga negara asing. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div class="western" style="text-decoration: none;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt; Suatu saat, kita tidak akan melihat lagi ciri bangsa Asia dalam lambang Olimpiade, yang identik dengan kuning. Hal ini karena kulit bangsa Asia tidak lagi kuning, kecoklatan, atau sawo matang, melainkan tidak jauh berbeda dengan orang Eropa yang berkulit Eropa. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div class="western" style="text-decoration: none;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;      &lt;div class="western" style="text-decoration: none;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;28 November 2005&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113697139854675984?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113697139854675984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113697139854675984' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697139854675984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697139854675984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/kulit-putih-sebuah-keharusan.html' title='KULIT PUTIH: SEBUAH KEHARUSAN?'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20811220.post-113697128809874083</id><published>2006-01-11T01:11:00.000-08:00</published><updated>2006-01-11T01:21:28.183-08:00</updated><title type='text'>MENG-INTERNET-KAN KADER IMM</title><content type='html'>&lt;div style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Ahad sore kemarin, 20 November 2005, kader IMM UGM dan UNY sejumlah 12 orang bersilaturahim dengan salah satu kader Muhammadiyah yang berada di luar negeri, yakni Bang Arief Nur Hakim. Kebetulan, beliau sedang bertandang ke Jogja dan kami pun mengajak untuk mengadakan pertemuan di Gedung PP Muhammadiyah Jl. Cik Di Tiro. Beliau adalah alumnus SMU Muhammadiyah 2 Surabaya yang saat ini tengah menyelesaikan studi S 3-nya di Jepang, dengan jurusan Aeronautika dan Antariksa konsentrasi motor bakar. Kuliah dan hidup di Jepang telah ditekuninya lebih dari sewindu merupakan hasil pembiayaan beasiswa dari Pemerintah Jepang. Sebenarnya, beliau sudah masuk ke Jurusan Teknik Informatika ITB pada saat lulus SMU namun dilepasnya karena mendapatkan beasiswa tersebut.&lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Bang  Arief ini adalah moderator dari &lt;i&gt;mailing list&lt;/i&gt; tetangga kita, muhammadiyah-society, yang mana telah menangani anggota lebih dari 600 orang. Cita-cita kuantitas komunitas yang cukup besar yang hendak dibangun oleh jimm_ptn ini, Amin. Diskusi waktu itu memang berkutat pada kehidupan di Jepang, umat Islam di Jepang, aktivitas mailing list, dan lainnya. Di sini ada&lt;i&gt; gap&lt;/i&gt; yang terjadi (entah karena memang kurang berani berdialektika atau memang tidak paham) ketika membahas masalah terkait dengan internet. Bisa jadi lebih dari separuh peserta silaturahim tadi yang paham tentang internet, namun kurang begitu aktif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Dari pembicaraan di atas, saya hendak menilik sedikit nasib kader kita. Memang teknologi informasi (dalam hal ini internet) adalah penunjang kemampuan kader, dan ada yang lebih utama yakni ilmu kader itu sendiri. Namun, coba kita lihat kelemahan dalam tataran pengungkapan ide dalam bentuk tulisan (yang menjadi kelemahan kader kita pula) dikarenakan terlalu banyak bergulat dengan kelisanan, tentunya tidaklah bijak jika dilengkapi dengan kegagapan dalam bidang teknologi informasi. Kegagapan ini memang bisa menjadi kendala bagi kader akibat masalah finansial (karena jika tidak memiliki akses fasilitas internet gratis, maka ada &lt;i&gt;cost&lt;/i&gt; yang harus dikeluarkan) ataupun masalah ketidaktahuan itu sendiri yang berusaha dimaklumi tanpa ada usaha untuk mencari tahu. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Kader secara utama memang harus cerdas beragama, studi, wacana kontemporer karena selaku statusnya sebagai mahasiswa baik itu di lingkungan kampus maupun masyarakat maka kader akan menjadi salah satu rujukan pendapat maupun pemikiran. Namun kecerdasan ini perlu pula didukung oleh kemampuan teknis, dalam hal ini membaca dengan baik, menulis, berkarya dan akses internet. &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Internet  akan memudahkan perkembangan kader. Kemampuan intelektual kader akan  tersalurkan melalui forum-forum diskusi lewat &lt;i&gt;mailing list&lt;/i&gt; di dunia maya, yang cukup banyak pilihan variasinya. Sehingga, forum tidak harus dalam bentuk pertemuan rutin (formal). Dalam forum dunia maya, kader dapat menggunakan fasilitas surat elektronik (&lt;i&gt;e-mail&lt;/i&gt;)  dimana dengan &lt;i&gt;e-mail&lt;/i&gt; ini dia dapat mengirimkan  tulisan/gambar/data ke teman atau orang yang dituju, bahkan ke  komunitas &lt;i&gt;mailing list&lt;/i&gt;. Dalam  komunitas mailing list, &lt;i&gt;e-mail&lt;/i&gt; yang telah sampai ke forum maka dapat dibaca oleh anggota komunitas pada saat itu juga ataupun pada waktu dan tempat yang berbeda. Ketika telah dibaca oleh anggota lainnya, maka anggota lain ini dapat memberikan tanggapan dalam bentuk apapun, interaksi ini tidak jauh berbeda dengan diskusi yang terjadi di dunia nyata. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Namun, hal ini bukan berarti ketika telah ada forum diskusi dunia maya ini maka forum dunia nyata menjadi macet. Karena, dunia maya tetaplah belum bisa menunjukkan realitas sebenarnya. Pertemuan (interaksi) di dunia nyata akan lebih memperlihatkan aspek-aspek yang belum bisa diberikan oleh dunia maya. Aspek ini diantaranya akan dapat dipastikan penampakan fisik individu yang kita ajak diskusi, sikap dan perilakunya. Karena dalam dunia maya yang hanya menyuguhkan realitas semu, ketiga aspek ini bisa saja valid atau dapat pula dimanipulasi. &lt;/div&gt;      &lt;div style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Yang menjadi ironi, meski sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan, bahwa tingkat akses kader IMM sendiri (apalagi dengan statusnya sebagai mahasiswa) terhadap internet amatlah minim. Minimnya akses ini mengakibatkan kader mengalami ‘rabun jauh’, kurang bisa melakukan pandangan jauh ke depan dan lintas batas. Kader seperti ini akan disibukkan dengan kehidupan pribadi, kuliah, dan aktivitas organisasinya dan terjebak dalam ritme kehidupan dan lingkup interaksi yang monoton. Hal ini akan menjadi masalah ketika kader di kemudian hari harus berinteraksi dengan kader PT lain. Maka dikarenakan sebelumnya tidak ada interaksi, komunikasi yang terjalin pun tidak bisa berjalan lancar. &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Problematika penunjang namun juga cukup penting ini perlu dipikirkan secara matang oleh Pimpinan IMM di masing-masing wilayah, sesuai dengan wilayah tanggung jawabnya. Pimpinan, khususnya Bidang IPTEK, harus bisa menjawab dan mencarikan solusi atas permasalahan yang menimpa kader ini. Pimpinan setidaknya bisa memotivasi bahkan melatih (jika mampu) kader-kadernya untuk berinteraksi dengan internet. Tanggung jawab perkaderan non-formal tentunya tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke Bidang Kader saja, mengingat beban dan tanggung jawab Bidang ini juga berat. &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Ketika kader telah banyak berinteraksi dengan internet, maka dengan sendirinya akses informasi kader (baik itu mengenai perkembangan IMM maupun lainnya) akan semakin luas. Di samping itu, kepercayaan diri kader akan bertambah karena dia menjalin silaturahim dengan rekan (termasuk di dalamnya sesama kader IMM) yang bisa jadi belum pernah bertegur sapa sebelumnya. Ketika akses informasi yang lebih baik dimiliki oleh kader maka kader akan memiliki kanalisasi pemikiran, pendapat maupun &lt;i&gt;uneg-uneg &lt;/i&gt;(curhat) yang dengan sendirinya akan  meningkatkan kapasitas intelektual dan emosional kader. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Kemanfaatan yang penting bagi kader IMM ini mendukung perlunya gerakan meng-internet-kader IMM. Dengan akrabnya kader IMM terhadap teknologi informasi (internet), diharapkan proses perkaderan secara non-formal ini bisa mendukung perkaderan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;/div&gt;      &lt;div style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt; 21 November  2005&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20811220-113697128809874083?l=luqman84.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luqman84.blogspot.com/feeds/113697128809874083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=20811220&amp;postID=113697128809874083' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697128809874083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20811220/posts/default/113697128809874083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luqman84.blogspot.com/2006/01/meng-internet-kan-kader-imm.html' title='MENG-INTERNET-KAN KADER IMM'/><author><name>YAYAK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04757618105042358798</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='09798152091465382761'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>