LUQMAN

Wednesday, January 11, 2006

WHO AM I?

Siapakah aku? Sebuah pertanyaan yang terlalu mendasar yang amat jarang dipikirkan seseorang untuk mencari jawabannya. Hal ini dikarenakan manusia seringkali tidak menemukan jawaban yang sesuai. Pertanyaan ini dianggap terlalu menyita waktu seseorang yang telah dialokasikan untuk urusan memenuhi kebutuhan hidup, menjalani rutinitas sehari-hari, dan menjalankan ibadah. Sehingga pertanyaan yang dikategorikan filosofis seperti ini hanya sebentar terngiang di pikiran tanpa adanya refleksi yang mendalam. Namun, pengabaian terhadap pertanyaan ini sama saja merupakan pengabaian terhadap eksistensi diri orang tersebut. Kesadaran terhadap eksistensi diri merupakan hal penting yang kerap kali diabaikan oleh sebagian besar manusia. Siapakah aku? Dari mana aku berasal? Di mana aku sekarang? Akan kemanakah aku pergi?
Memang, pertanyaan ini lebih sering muncul ketika manusia berada dalam kejenuhan, keterpurukan, ataupun ketidakberdayaan. Namun, bukan berarti manusia yang tidak sedang mengalami kondisi yagn demikian tidak perlu memikirkannya. Pertanyaan seperti ini, sebelum sempat ditemukan jawabannya, sudah terlebih dahulu diacuhkan karena desakan tuntutan hidup. Namun, kehidupan ini senantiasa memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Dan, jawaban seseorang terhadap sebuah pertanyaan dan caranya memecahkan pertanyaan tersebut tergantung pada pola pikirnya.
Pola pikir ini tidak semata-mata berdiri sendiri, namun juga ditentukan oleh dorongan untuk menyembah. Segala sesuatu yang manusia pikirkan adalah sesuatu yang manusia sembah. Jikalau manusia hanya memikirkan untuk mengumpulkan harta kekayaan semata, maka harta kekayaan itulah yang manusia sembah. Begitu pula dengan jabatan, anak, bahkan pikiran itu sendiri. Apapun yang manusia lakukan di dunia ini adalah merupakan wujud dari keyakinan dan dorongan manusia untuk menyembah. Perbuatan manusia adalah hasil pikirannya, baik itu dipikirkan secara matang ataupun tidak.
Memang, seseorang dapat mengatakan bahwa jawaban dari eksistensi diri yakni aku adalah seorang manusia. Namun, tentu saja persoalan tidak cukup dijawab oleh hal tersebut. Manusia pun harus menyadari keberadaannya sebagai manusia, yang tentunya tidak serta merta muncul di muka bumi, di kehidupan dunia ini. Manusia memiliki kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri, dengan begitu ia dapat mengenali asal muasalnya. Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannnya. Namun, sebagian besar manusia terlena oleh kehidupan dunia. Manusia sangat mencintai kehidupan dunia, dan takut akan kematian. Manusia seperti ini tergolong terjangkit penyakit Wahn. Penyakit ini mendorong tumbuhnya kelemahan mental dan spritual bagi penderitanya. Untuk menangkal penyakit Wahn ini, manusia harus menyadari hakikat diri yakni akan adanya kematian. Kesadaran bahwa setiap manusia akan berhadapan dengan kematian, lalu menjalani Hari Akhir dengan terlebih dahulu mempertanggung jawabkan segala perbuatannya di dunia di hadapan-Nya. Pertanggung jawaban di Hari Akhir inilah yang akan menentukan keberhasilan atau kegagalannya sebagai manusia.
Sehingga, ketika telah memiliki kesadaran tersebut, manusia akan mempersiapkan segala sesuatu yang dilakukannya di dunia untuk kehidupan setelah kematiannya. Mengumpulkan harta yang banyak bukanlah jawaban untuk persiapan kehidupan setelah kematian karena harta hanya akan menemani kehidupan manusia di dunia, begitu pula dengan jabatan dan anak. Hal ini juga menyadarkan manusia bahwa keberhasilan duniawi itu hanya menyertai manusia semasa hidupnya. Sehingga, hanya ada dua cara untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk kehidupan setelah kematian yakni berakidah yang benar dengan mengenali Tuhan (marifatullah) dan menjalankan hukum-hukum Tuhan.
Di samping itu, dalam kehidupan dunia ini, manusia pasti memiliki tujuan hidup. Usaha pencapaian tujuan hidup ini juga didorong oleh hasratnya sebagai manusia. Namun, hasrat manusia ini tidak akan ada habisnya. Karena jikalau menuruti hasrat manusia, maka yang tampak hanyalah kebahagiaan ketika terwujudnya hasrat dan kedukaan ketika hasrat tersebut tidak terwujud. Hal ini banyak dicontohkan dalam kehidupan dunia ini, salah satunya dalam aktivitas di pusat perbelanjaan. Dalam aktivitas ini, betapa banyaknya manusia yang memuaskan hasrat-hasrat materialnya. Kebahagiaannya terukur dari terwujud atau tidaknya hasrat material. Dan ironinya lagi, manusia sibuk memuaskan hasrat materialnya sendiri. Untuk memperoleh kesenangan-kesenangan duniawi tersebut, manusia rela melakukan segala hal. Namun, hal ini akan berbeda dalam usaha manusia mempersiapkan untuk kehidupan setelah kematiannya. Pada umumnya, manusia berdalih bahwa belum waktunya untuk memikirkan hal tersebut, menganggapnya sebagai persoalan yang tidak penting, bahkan sampai tidak memikirkannya sama sekali.
Selain itu, ada juga manusia yang meragukan akan adanya kehidupan setelah kematian. Hal yang sering dipertanyakan adalah bahwa ketika seseorang meninggal, jasadnya kembali ke tanah dan seluruh anggota tubuhnya lenyap tak berbekas. Lalu, bagaimana mungkin dari jasad yang telah lenyap ini dapat dihidupkan kembali?
Yang juga sering dipertanyakan adalah manusia tidak dapat melihat secara nyata bahwa ada kehidupan setelah kematian. Kemudian, bagaimana manusia meyakini bahwa kehidupan setelah kematian itu ada?
Memang, Tuhan dengan kehendak-Nya tidak memberitahukan kepada manusia tentang rahasia setelah kematian manusia. Namun, Tuhan menunjukkannya melalui tanda-tanda-Nya yang ada di kehidupan dunia ini. Salah satu tanda-Nya adalah manusia itu sendiri. Manusia merupakan kumpulan atom-atom yang tak terhingga jumlahnya, yang tersebar di seluruh bumi dan langit. Atom-atom ini lalu berkumpul untuk menyusun sebuah pola yang memiliki makna dan manfaat. Pola inilah yang pada akhirnya berwujud manusia yang dapat berpikir, merasa, dan bertindak. Ketika manusia menghadapi kematian, maka yang terjadi adalah proses yang sama dengan urutan sebaliknya. Ketika manusia mati, maka seluruh kemampuan fisiknya tidak berfungsi lagi. Namun, hakekat manusia bukanlah semata-mata fisik jasad yang ada, namun lebih kepada jiwa yang bersemayam di dalam tubuh tersebut. Ketika manusia mati, dia tidak sedang menuju kelenyapan. Namun, manusia sedang beristirahat untuk menapaki dunia baru. Dunia baru yang mengajak manusia untuk mengarungi perjalanan panjang yang tiada akhir.
Manusia harus mengakui bahwa dirinya bukanlah apa-apa, tidak memiliki apa-apa, dan menyadari bahwa Tuhan adalah segalanya, dan memiliki segalanya. Sehingga manusia seperti ini menjadi manusia yang tercerahkan. Pikirannya dipenuhi oleh prinsip-prinsip Ke-Tuhan-an, sehingga tindakannya diarahkan hanya untuk mengharap keridhaan-Nya. Dengan menjadi manusia tercerahkan seperti itu, maka ia mendapatkan konsekuensi. Konsekuensi itu antara lain ialah ia akan memperlakukan saudara-saudaranya sebagai sesama hamba Tuhan yang beriman.
Dalam mengarungi kehidupan di dunia ini, manusia harus bisa memiliki prinsip seperti petani yang menggarap ladangnya. Sehingga di kehidupan dunia ini, manusia akan menanam dan mengelola ladang akhiratnya. Pilihan akan diserahkan sepenuhnya kepada manusia akan menanam dan mengelola ladang akhiratnya dengan bibit dan caranya tersendiri. Hari kematian merupakan masa panen bagi manusia. Kematian pula yang menjadi akhir dari masa usaha manusia. Manusia akan memanen hasil ladang yang telah ia tanam dan olah dalam kehidupan dunia.
Hai, Manusia! Kenalilah dirimu! Kenalilah apa yang sedang kamu kerjakan dan apa yang harus kamu kerjakan!

8 Desember 2005

0 Comments:

Post a Comment

<< Home