RESEP EKONOMI DARI ETNIS TIONGHOA
Tionghoa, etnis yang bernenek moyangkan perantauan dari Cina daratan, banyak menguasai perekonomian suatu negara di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Mayoritas dari mereka memegang kunci perekonomian negara dari mulai kebutuhan pokok sampai kebutuhan pelengkap. Mereka memiliki tingkat perekonomian yang mapan bahkan di atas rata-rata bila dibandingkan dengan penduduk pribumi yang ada di sekitar tempat tinggalnya.
Yang menarik, kekeluargaan antar etnis ini demikian kentalnya, tidak jauh beda dengan nenek moyangnya di Cina daratan sana. Meskipun tidak memiliki hubungan darah, seorang keturunan etnis ini mudah dikenali melalui nama marganya. Kebijakan Pemerintah Orde Baru untuk mengharuskan mereka untuk mengubah nama aslinya ke nama Indonesia tidak berpengaruh pada kekerabatan mereka.
Di sini penulis tidak hendak untuk menumbuhkan rasa kebencian ataupun mempertajam pemisah antar etnis. Namun, sebagai orang yang beretnis Jawa, yang identik dengan orang Pribumi pada masa penjajahan, hati saya tergerak untuk mengajukan pertanyaan kritis. Sejak jaman terjajah dulu bangsa Pribumi menjadi golongan kelas ketiga di bawah golongan kulit putih (Barat) di urutan pertama dan disusul orang Arab, Cina, dan India di urutan berikutnya. Cara pandang ini terus terbawa hingga masa sekarang sehingga menempatkan orang Pribumi pada posisi paling buncit dalam struktur kekuasaan baik ilmu pengetahuan maupun perekonomian.
Padahal jika mau ditilik dari sisi kesejarahan, kebudayaan Jawa (disamping juga kita tidak menafikan kejayaan Kerajaan Sriwijaya) merupakan salah satu kebudayaan besar di dunia. Hal ini tampak pada kejayaan Jawa yang berhasil mempersatukan Nusantara bahkan meluas sampai ke Asia Tenggara. Dalam arti ini bukan sebuah romantisme sejarah, namun jikalau ditilik dari sudut pandang biologi, yakni adanya gen, partikel yang memuat unsur-unsur kehidupan manusia, baik moral maupun intelektual. Maka, kita masih memiliki sisa-sisa gen yang turun temurun diturunkan dari nenek moyang kita, yakni orang-orang yang berhasil membawa kejayaan Nusantara.
Orang Makassar dan Bugis adalah orang yang ahli dalam perkapalan, kejayaan kapal Pinishi buatannya pun diakui oleh dunia. Orang Padang merupaknan etnis perantau dan gigih berjuang di tanah rantau, salah satunya dengan berdagang. Masih banyak lagi entis Pribumi lainnya yang menunjukkan bahwa secara mentalitas bangsa ini telah dianugerahi kekayaan mental kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi yang matang.
Sehingga mencari penyebab ketertinggalan Pribumi ditinjau salah satunya dari sisi ekonomi dari orang Barat, Arab, dan Cina merupakan hal yang menarik. Memang, orang Pribumi terjajah selama 350 tahun oleh orang Barat membuat mentalitas bangsa ini menjadi hancur lebur, apalagi penjajahan dari Jepang (perantauan Cina) yang cuma 3,5 tahun namun lebih tidak manusiawi dibandingkan orang Barat. Jadi, jikalau mau diambil kesimpulan awal bahwa jika dahulu orang Pribumi terjajah secara fisik melalui kekuatan senjata maka saat ini orang Pribumi terjajah secara mental dan pikiran lewat kekuatan yang menyeluruh, mulai dari politik, ekonomi, budaya, bahkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Jika kita melihat secara kasat mata etnis Tionghoa yang ada di sekitar, maka akan tampak bahwa mereka identik dengan orang kaya, pengusaha, bos yang mempekerjakan orang Pribumi sebagai bawahannya, entah itu sebagai kuli, babu (pembantu), maupun penyelia. Sekat sosial semacam ini tidak usah kita cari jauh-jauh sampai ke negerinya Karl Marx, karena di sekitar kita pun sudah ada. Namun di sini kita mencoba mengambil hikmah dari ajaran mereka yang diturunkan lintas generasi.
Ajaran pertama dalam kehidupan keluarga adalah leadership (kepemimpinan) melalui kekuasaan. Dalam kehidupan keluarga Tionghoa, ketika orang Pribumi menjadi babu etnis Tionghoa, maka beban pekerjaan orang Pribumi ini melebihi rasio pendapatan yang dia terima. Betapa seringnya majikan menyuruh dengan membentak, dan segenap perlakuan yang bisa jadi tidak diliput oleh media, karena tertutup oleh kelihaian majikan merayu babu ini.
Didikan di keluarga pun tidak jauh berbeda, karena si anak majikan pun dengan seenaknya main perintah si babu untuk menyuapi makan, mengambil sepatu, memandikan, dan banyak lagi. Namun jikalau majikan ini sedang butuh sesuatu dengan si babu, maka majikan ini akan berlaku baik sekali. Ketika kebutuhannya telah terpenuhi, maka mentalitas diktator itu akan muncul lagi. Anak majikan ini memang terkesan tampak manja dan tidak mandiri. Jangan salah, justru ini kunci etnis Tionghoa untuk menanamkan mentalitas penguasa (bos) kepada anaknya. Kemampuan memerintah, adalah salah satu point penting dalam kepemimpinan orang Cina. Kemampuan ini termaktub dalam kemampuan mengelola orang (bawahan), yang tentunya lebih sulit dibandingkan dengan kemampuan mengelola uang. Anak majikan sejak kecil dididik untuk memerintah orang Pribumi, mentalitas yang ditanamkan adalah bahwa ‘aku adalah bos kamu, karena orang tuaku sudah membayarmu. Melayani saya adalah sama saja dengan melayani kedua orang tua saya.’
Kedua, dalam etnis Tionghoa seorang anak dituntut untuk tahu dengan apa yang dikerjakan orang tuanya, entah itu berdagang ataupun bekerja kantoran. Dengan melibatkan anak dalam membungkus air untuk usaha orang tuanya berdagang es, maka akan mendidik anak untuk paham bahwa mencari uang itu tidaklah mudah. Ketika menginginkan sesuatu, anak dituntut untuk menyisihkan uang jajannya untuk ditabung guna memenuhi keinginannya tersebut. Hal ini disamping mendidik sabar juga mendidik bahwa untuk memperoleh sesuatu membutuhkan proses, hasil yang didapatkan juga tidaklah instant. Di samping itu, didikan di atas juga membiasakan tangan dan otak si anak untuk terampil mengolah sesuatu menjadi uang. Jika sebuah keluarga memiliki toko, maka anak akan turut dipekerjakan sedari kecil untuk ikut menjaga toko sebelum dan sesudah sekolah. Ketika anak telah tumbuh semakin besar, maka ia akan ditempatkan pada posisi pengawas (supervisor) di toko (atau bentuk usaha lainnya) untuk mengawasi berjalannya usaha tersebut dan mengelola bawahan.
Dalam aturan etnis Tionghoa, Cina perantauan pada umumnya, kekayaan dan kesuksesan orang tua adalah milik orang tua, bukan milik si anak. Anak adalah entitas terpisah, sehingga yang diturunkan ke anak adalah mentalitas dan kegigihan berjuang dalam hidup, bukan kekayaan dan kekusaan orang tuanya. Di sini tampak bahwa peralihan generasi pemilik usaha pada etnis Tionghoa dapat berlangsung mulus bahkan lebih berkembang bila dibandingkan dengan peralihan generasi pemilik usaha di etnis Pribumi, Arab, maupun Barat.
Ketiga, etnis Tionghoa pandai berhemat. Jikalau pendapatan hari itu tidak cukup untuk makan, maka dia tidak akan makan hari itu. Konon, jikalau di dapur hanya ada garam, maka garam itu yang akan dia makan. Hidup nggetih seperti ini dijalaninya meski telah memiliki akumulasi keuntungan ratusan juta rupiah yang disimpan di bank. Ya, di samping pandai berhemat, mereka juga gemar menabung. Rasio tabungan orang Jepang merupakan yang tertinggi di dunia. Hal ini karena mereka benar-benar pecaya akan masa depan, pandangan yang dimiliki jauh ke depan. Pikiran besar ini didukung dengan perencanaan yang sederhana dan cermat, meskipun terkadang tingkat pendidikan mereka tergolong rendah. Mereka yakin bahwa dengan menabung maka hal ini akan bermanfaat untuk anak cucu di masa depan, sedangkan untuk saat ini akan bermanfaat untuk orang sekitarnya. Dengan menabung, mereka akan memperoleh keuntungan melalui kelipatan bunga bank yang didapatkan. Di samping itu, mereka juga menggerakkan perekonomian bangsa dengan peningkatan jumlah modal usaha yang dapat diedarkan ke masyarakat. Di samping itu, menumbuhkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pertumbuhan ekonomi.
Keempat, mereka juga pandai mendidik anak. Jikalau seorang anak dikategorikan bodoh atau berprestasi biasa-biasa saja di sekolah, maka dia tidak akan menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi. Karena menyekolahkannya sama saja dengan membuang uang untuk hal yang tidak maksimal, seorang anak yang tidak berprestasi akademik tidak akan dipaksa untuk menekuni jalur pendidikan formal. Selepas sekolah, ia akan memberikan modal kepada anaknya untuk usaha. Kemudian diamati bakat si anak dalam bisnis. Apabila usahanya gagal, maka akan disuntikkan modal lagi. Dengan model trial and error seperti ini, sampai kesekian kali usahanya gagal dan macet karena permodalan yang disuntikkan sudah cekak, maka si anak akan direkomendasikan untuk ikut bekerja di kerabat yang memiliki usaha. Pekerjaan itu tentunya tidak dalam posisi bawahan, namun minimal dalam posisi supervisor.
Jikalau si anak memang benar-benar berprestasi secara akademik ataupun dalam bakat yang ditunjukkan, maka orang tua tidak akan main-main untuk medukung dan mengembangkannya. Si anak akan disekolahkan ke luar negeri, baik itu Singapura, Amerika, maupun benua Eropa. Amat jarang kita menemui etnis Tionghoa yang bersekolah di sekolah negeri, sejak sekolah bahkan hingga kuliah (kita lihat jumlah mahasiswa etnis Tionghoa di kampus negeri misal ITB, UI, UGM, IPB, maka per angkatan dan per jurusan masih bisa dihitung dengan jari). Hal ini karena mereka telah berpikir untuk memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Ketekunan dan kerja keras yang ditanamkan membuahkan hasil yang jarang dicapai oleh etnis lainnya. Kita bisa pula melihat pemenang Olimpiade Sains mayoritas adalah etnis Tionghoa.
Ketika kita coba membandingkan dengan didikan etnis Tionghoa dengan Pribumi (salah satunya Jawa) maka akan ada perbedaan yang cukup signifikan. Didikan Pribumi lebih pada bagaimana si anak untuk meraih gelar pendidikan yang tinggi, yang dapat menunjang perekonomian, bukan sebaliknya. Padahal realitas menunjukkan lain, banyak orang berpendidikan kesulitan memenuhi kebutuhan ekonominya karena dalam masa kehidupan sebelumnya tidak terampil mencari uang. Sisi intelektual lebih diunggulkan dalam masyarakat pribumi karena mentalitas priyayi yang dimiliki. Priyayi dan santri dianggap memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada pedagang. Hal ini tampak ketika orang tua memilihkan jodoh untuk anaknya, maka kriteria calon yang berpendidikan bekerja sebagai karyawan bergaji tetap akan dipilih dibandingkan calon yang kurang berpendidikan namun memiliki penghasilan yang tidak menentu namun jauh lebih besar lewat berdagang.
Pribumi terdidik pun begitu selektif untuk bekerja dalam sebuah perusahaan. Melihat terlebih dahulu pemilik usaha tersebut, Barat, pribumi, ataukah Tionghoa (Cina). Jikalau bekerja di perusahaan milik pribumi maka yang ditekankan adalah etos kerja yang perlu ditingkatkan. Bekerja dengan bos orang Barat maka akan banyak fasilitas dan perlakuan manusiawi yang diterima. Namun, bekerja dengan bos orang Tionghoa (Cina), maka bersiaplah untuk bekerja lebih dari kedua bos di atas. Di perusahaan mereka, pribumi dituntut bekerja lebih keras dan banyak bila dibandingkan dengan penghasilan yang pribumi dapatkan. Di samping itu, jenjang karir pribumi tidak akan pernah sampai puncak. Karena posisi kunci dalam perusahaan telah dipegang oleh tirani keluarga Tionghoa yang lebih dipercaya karena keuletan dan kedekatan kekerabatan.
Dari uraian di atas, sebagai orang Indonesia pribumi asli, kita hendaklah sadar akan penjajahan model baru seperti di atas. Penjajahan secara mental dan pikiran memang membuat seorang pribumi bisa terlena. Penjajahan mental dan pikiran tidak hanya globalisasi dan kapitalisme yang diidentikkan dengan Barat. Penjajahan model bangsa Cina dan perantauan justru lebih hebat. Bersiaplah!
8 Januari 2006

0 Comments:
Post a Comment
<< Home