PROFESIONALISME DALAM BERORGANISASI1
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah sebuah
organisasi, begitu kata orang. Namun, entah kenapa,
pemaknaan organisasi yang masih belum tersambungkan
antara apa yang ada di pikiran kader IMM dan apa yang
dalam realitas. Organisasi IMM yang bernaung di
dalamnya banyak mahasiswa yang tentunya bisa dikatakan
“berbeda” dari komunitas umum mahasiswa lainnya.
Tentunya, ‘beda’ di sini bukan dimaknai keeksklusifan
terhadap orang-orang yang berada di dalamnya, karena
ternyata sama saja, manusia biasa juga. Namun, beda
di sini ialah pada hal pemikiran, pola hidup, dan
cara-cara berorganisasi.
Kurang lebih 3 tahun sudah penulis berkecimpung dalam
organisasi ini, dan banyak hal yang penulis temui,
dapat, atau acuhkan. Perjalanan berorganisasi ini
sarat dengan dinamika, mulai dari kegigihan,
keikhlasan, intelektualitas, namun juga putus asa,
intrik, ketidak profesionalan, dan juga ketergantungan
(finansial, intelektual, mental). Masalah yang selalu
dijadikan ‘tantangan’ ini tak kunjung reda untuk
diselesaikan agar kader sebagai bagian dari sistem
organisasi segera dapat melaksanakan kerja-kerja
praksis berorganisasi. Anda bisa jadi keliru bila
langsung menggolongkan penulis yang oportunis dan
pragmatis. Mari kita bicara wilayah abstraksi dan
wacana, tapi realitas ada pada amal (aksi) juga, dan
di sana dituntut keprofesionalan, bukan dengan
manajemen kampungan (atau manajemen tukang gorengan?).
Yup ... profesionalisme juga menjadi titik point
perkaderan pada kader kita. IMM adalah organisasi
kader, begitu image yang berusaha dibentuk. Image
tersebut memang benar, sebagai organisasi kader, namun
lebih sebagai individu. Kesuksesan individu yang
diklaim sebagai kesuksesan memimpin organisasi ini
(penulis tidak memandang bahwa pemimpin hanya Ketua
Umum saja dengan berlogika ‘punya menteri’, namun
doktrin yang ada di pikiran adalah ‘Triumphirat plus
Ketua dan Sekbid” adalah pemimpin) bukanlah menjadi
pemandang yang asing dalam tubuh organisasi ini. Hal
ini terus- menerus dipelihara sebagai budaya yang
melanggengkan ketidakefektifan berjalannya organisasi.
Tuntutan akan profesionalisme kader (dengan isu
profesional kompetensi) dimaknai sebagai tuntutan
individu. Sehingga tidak jarang kita menemui
kader-kader yang profesional di eksternal organisasi
(kampus, laboratorium, LSM, Unit Kegiatan Mahasiswa),
namun tidak beres menggerakkan internal organisasi
(logika ini terbalik bila dibandingkan dengan
perjalanan klub-klub bola Indonesia, yang identik
dengan jago kandang, selalu menang bila main di
kandang sendiri).
Penulis melihat persoalan di atas sebagai tantangan
bahwa perlu ada yang dibenahi dalam organisasi ini,
organisasi ini bukan organisasi (maaf) kampungan yang
cuma ‘rame in gawe’ (penuh peminat kalau ada kerja/
proyek, terutama yang ‘basah’; berduit) tetapi sepi
berangin sepoi-sepoi ketika ada panggilan/ permintaan
kerja ikhlas organisasi. Organisasi ini pun bukan
model orang kota yang hanya terdiri individu yang
sudah sibuk mencari maisyah (penghasilan) dan mengurus
aisyah (pasangan hidup) (maaf; penulis tidak menyindir
kader yang telah memiliki penghasilan dan pasangan
hidup, malah salut dengan mereka yang telah mandiri,
namun organisasi yang cuma jadi sambilan maka hasilnya
akan sambilan juga). Organisasi ini akan punya budaya
organisasi profesional ketika berisi orang-orang yang
punya komitmen dan integritas akan amanah yang
diterimanya. Tentu juga semangat saling memotivasi
antar kader untuk meneguhkan profesionalisme
berorganisasi.
Paradigma sempit dengan sendirinya akan meruntuhkan
dinamisnya perkembangan organisasi. Organisasi yang
hanya dimaknai dalam lingkup kecil, karena dengan
alasan kedekatan emosional dan pola pikir, hanya akan
membuat kader seperti itu terperangkap dalam zona yang
belum ada kesadaran pada dirinya sendiri. Dalam
konteks IMM, perjalanan kader (terutama di PTN) dalam
berorganisasi hanya sampai pada level Komisariat,
Koordinator Komisariat, dan Cabang. Hal ini salah
satunya dikarenakan masa studi kuliah yang dipadatkan
yakni selama 4 tahun untuk waktu normal sehingga
memaksa (?) kader hanya ber-track record sejauh itu.
Namun penulis tidak habis ketika pola pikir kader
tidak turut berubah seiring semakin beratnya amanah
yang dipikul. Kader Korkom maupun Cabang atau Daerah
(barangkali) masih sibuk saja mengutak-atik Komisariat
yang jelas berisi yunior-yunior kader yang tentu saja
selalu memilih untuk bergantung pada kader senior ini,
karena mumpung masih ada dan dipermudah, begitu
kira-kira. Ini tidaklah bermasalah ketika rekan-rekan
kerja selevel organisasi adalah orang-orang yang
berparadigma sama. Namun, hal ini akan berbenturan
ketika cara berpikir kader yang lain berbeda, semisal
berpikiran bahwa ada wilayah struktural (dimana
idealisme dan profesionalisme berorganisasi kita
tunjukkan) dan ada wilayah kultural (dimana kemampuan
bersosialisasi kita diuji). Jujur saja, penulis masih
mengakui salah satu pengalaman berorganisasi yang
terbaik adalah di Rohani Islam SMU, dengan pola
perkaderan yang tidak mendakik-dakik seperti Sistem
Perkaderan Ikatan, di samping itu profesional dalam
kerja-kerja organisasi baik itu dalam lingkup sekolah
maupun tingkat Kota, namun juga tidak melupakan
hubungan kultural yang masih terjalin hingga saat ini
tanpa adanya kiprah di organisasi itu lagi.
Kalau ada dari rekan-rekan ada yang mau menyanggah
bahwa ini adalah pola-pola organisasi nirlaba (jika
penulis mencoba menggolongkan organisasi ini sebagai
organisasi nirlaba), penulis dengan senang hati akan
merenungkannya. Keterlibatan yang cukup intens dalam
wacana-wacana organisasi modern dan interaksi
orang-orang di wilayah organisasi profit membuat
penulis secara pribadi jengah akan kondisi
ketidakprofesionalan dalam Ikatan yang dimaknai
sebagai kelumrahan. Inilah yang penulis tangkap
sebagai kelemahan organisasi yang dijalankan dengan
mekanisme kekeluargaan, bukan sistem reward and
punishment.
Dalam organisasi profit, salah satunya akan ada reward
and punishment untuk kegagalan (bahkan jika perlu
mundur dengan legawa) dan kesuksesan berorganisasi,
dan akan terdidik kedewasaan untuk mengakui kesalahan
dan terbuka menerima kritik. Dalam organisasi
nirlaba, karena hubungan interpersonal emosional yang
dibangun begitu dekat, sehingga kelemahan lainnya
tampak pada mekanisme Laporan Pertanggung Jawaban
kerja organisasi yang hanya berupa pemaparan
hasil-hasil yang ada, belum dan tidak dilaksanakan.
Karena sekali lagi, sebagai organisasi berbenderakan
agama, organisasi ini (mungkin) akan menyerahkan
pemberian reward and punishment ini dalam level
‘pengadilan’ yang lebih tinggi, yakni pahala dan dosa
di akhirat... Wah HEBAT SEKALI. Ketidak profesionalan
ini berusaha dibungkus rapi dengan dalih agama, yang
dalam hal ini cocok. Kita juga tidak hanya berbicara
akhir-akhir ini banyak ulama yang memanfaatkan agama
sebagai ‘komoditi bisnis’-nya, namun IMM sebagai
organisasi beragama juga memanfaatkan agama untuk
kepentingan internalnya.
Sistem alternatif di atas diharapkan akan mendidik
kader agar lebih giat berjuang dan memaknai ‘ikhlas
profesional’ (yang bisa jadi trade mark Muhammadiyah)
dalam pandangan dan aksi yang lebih progresif. Sistem
ini akan dibangun dalam kerangka rekayasa sistem
perkaderan dimana ada pula proyeksi pula jauh ke depan
akan posisi kader dan organisasi di Persyarikatan
maupun dalam kompetisi dunia.
Akhir kata, dunia modern memang menuntut kompetisi
dan profesionalisme dalam kemampuan individu maupun
organisasi untuk survive. Apapun alternatif dunia ke
depan, dimanapun kita berada kita tidak bisa lari dari
kompetisi (karena sudah menjadi fitrah kita sejak
masih dalam proses penciptaan) dan profesionalisme
(karena dunia ini diatur oleh Keteraturan, meskipun
Chaos namun tetap ada keteraturan di balik itu).
Meningkatkan profesionalitas berorganisasi, sebagai
bagian dari kehidupan kita, akan membuahkan wawasan
dan pengalaman yang tidak ternilai harganya. Semoga!

0 Comments:
Post a Comment
<< Home