LUQMAN

Wednesday, January 11, 2006

MUHAMMADIYAH DALAM CENGKERAMAN GLOBALISASI

Persyarikatan yang kita cintai ini, mau tidak mau
telah tergerus pula oleh arus globalisasi.
Muhammadiyah yang dahulu didirikan sebagai sebuah
bentuk perlawanan terhadap kolonialisme dan
Kristenisasi, mengalami kemunduran dalam menyikapi
perkembangan dunia dalam konteks kekinian. Bentuk
perlawanan terhadap globalisasi yang berwujud
kolonialisme kala itu kini hanya tinggal kenangan.
Kini, Muhammadiyah tengah mengalami kegamangan dalam
penyikapannya terhadap globalisasi dikarenakan wajah
globalisasi begitu sarwa-jamak yang tidak mudah
diterjemahkan kawan atau didefinsikan untuk dilawan.
Amal usaha yang banyak dalam segi jumlah tidaklah bisa
menjadi alasan karena hal ini cuma merupakan replikasi
atau bisa disebut pengulangan dari apa yang dilakukan
oleh KH Ahmad Dahlan, bahkan bisa dikatakan menyimpang
dari tujuan semula. Penolong Kesengsaraan Oemoem,
sebagai semboyan Rumah Sakit Muhammadiyah tidak
menemukan makna filosofisnya di Persyarikatan ini.
Sekolahan yang dibangun pun tidak bisa menampung
golongan ekonomi lemah untuk menikmati pendidikan.
Seharusnya bisa dimunculkan rumah sakit maupun sekolah
alternatif yang dapat menampung ekonomi lemah
tersebut sehingga dapat menikmati fasilitas kesehatan
dan pendidikan yang sama. Adapun kelak yang menjadi
penyangga dari sistem alternatif ini adalah rumah
sakit dan sekolah yang telah ada yang memang mengejar
kualitas dan fasilitas yang lebih baik untuk golongan
ekonomi mampu agar tidak kalah bersaing dengan sekolah
negeri, Nasrani, bahkan internasional.
Sikap yang tidak jelas terhadap globalisasi malah
menempatkan kader-kader Muhammadiyah sebagai agen
proyek asing dengan maraknya proyek yang diterima
dengan funding (pembiayaan) dari luar negeri. Apologi
yang diungkapkan dari kader-kader ini adalah apabila
proyek ini tidak diambil maka Muhammadiyah hanya bisa
gigit jari karena tidak kebagian. Saya benar-benar
heran dengan pernyataan ini, bukankah Muhammadiyah itu
dihidupi/ dibiayai oleh warganya sendiri? KH Ahmad
Dahlan dahulu adalah seorang pedagang batik dalam
misinya menghidup-hidupi Muhammadiyah secara
finansial. Bahkan pernah seorang Pimpinan Pusat
Muhammadiyah hanya berprofesi sebagai penjual bensin
eceran, toh Muhammadiyah masih tetap eksis sampai
sekarang.
Memang tidak sedikit kader Muhammadiyah yang tidak
sabar terhadap perkembangan globalisasi, dan dengan
cepatnya perkembangan itu Muhammadiyah sudah diminta
untuk berlari padahal baru saja bisa berjalan. Ketidak
sabaran ini terjadi karena adanya kader-kader karbitan
yang tidak mengikuti alur perkaderan Muhammadiyah
mulai dari tingkatan paling bawah, atau proses yang
dijalani terlalu cepat bahkan tidak bernilai dalam
proses perkembangannya sebagai kader Muhammadiyah.
Kader-kader seperti ini mudah sekali tergoda oleh
cepatnya pertumbuhan yang seharusnya terjadi di
Muhammadiyah dan menekan bahkan memaksa menekan
kader-kader yang masih idealis bertahan pada
prinsip-prinsip dasar ber-Muhammadiyah.
Pertumbuhan cepat yang didanai oleh proyek asing
adalah perkembangan semu, yang tidak mengakar dan
memberdayakan warga Muhammadiyah. Pola pikir kader
Muhammadiyah yang menjadi agen proyek asing seperti
inilah yang menyebabkan adanya kesenjangan cukup tajam
antara pimpinan pusat dengan warga cabang bahkan
ranting. Visi dan misi idealis dan ideologis tereduksi
oleh kepentingan pragmatis dan sesaat akan pemenuhan
proyek-proyek yang mekanisme finansialnya bukan
merupakan ciri khas Persyarikatan Muhammadiyah dengan
kemampuan swadayanya didanai oleh warganya sendiri.
Betapa perubahan di tingkatan struktural Pusat
Muhammadiyah tidak begitu memberikan pengaruh yang
signifikan pada warga dan Pimpinan Muhammadiyah maupun
ortom di tingkatan Ranting menunjukkan bahwa
struktural pusat memang tidak mengakar dan
asyik-masyuk dengan kepentingan sendiri. Di sini
sering terjadi protes keras dari warga Muhammadiyah
yang berada di Ranting terhadap Pusat atas
inkonsistensi atas Putusan-putusan yang telah dibuat.
Hal ini dapat dimaknai wajar dalam sebuah organisasi
sebagai mekanisme otokritik, namun amatlah tidak wajar
apabila ini berlangsung karena tidak adanya kesamaan
visi dan misi yang ideal antara pusat dan ranting.
Sehingga bisa kita lihat program kerja yang cuma jadi
mimpi dari struktural pusat Muhammadiyah mampu
dilaksanakan dalam konteks lokal oleh
Pimpinan-pimpinan Muhammadiyah di daerah, cabang,
maupun ranting.
Amal usaha terpusat yang coba diterapkan pun tidak
mampu menyentuh struktural bawah Muhammadiyah.
Pendirian amal usaha ini lebih memanfaatkan jaringan
Muhammadiyah yang telah ada namun tidak memperhatikan
potensi dan kearifan lokal di masing-masing struktural
bawah Muhammadiyah. Sehingga bisa kita saksikan bahwa
amal usaha Muhammadiyah terutama di luar ketiga segmen
yakni: pendidikan, kesehatan, panti asuhan; tengah
dalam kondisi hidup segan, matipun tak mau.
Kondisi ini diperparah dengan adanya korupsi baik di
tingkatan struktural maupun amal usaha Muhammadiyah.
Muhammadiyah yang menggembar-gemborkan anti korupsi
dengan menggalang aliansi antar umat beragama ternyata
begitu keropos. Tidak adanya mekanisme audit
independen terhadap struktural maupun amal usaha
Muhammadiyah membuat tidak adanya pengawasan keuangan
yang ketat terhadap Muhammadiyah. Hal ini tak ayal
lagi meningkatkan budaya korupsi di Muhammadiyah
sembari turut menyemarakkan korupsi yang terjadi di
birokrasi Pemerintah. Hal ini amatlah bertentangan
dengan norma agama dan standart profesionalitas
organisasi, karena dalam era globalisasi, transparansi
dan akuntabilitas merupakan syarat sehatnya sebuah
organisasi.
Muhammadiyah memang beradaptasi dengan globalisasi
karena ketidakmampuannya untuk melawan hegemoni sistem
tersebut. Dalam proses adaptasi ini Muhammadiyah
cenderung memihak yang dominan dan banyak materi,
seperti yang saya gambarkan di atas. Dengan dalih
adaptasi kita akomodasi konsep-konsep yang merugikan
Persyarikatan. Kita harus pragmatis, realistis dan
perut harus diprioritaskan. Ini bukanlah adaptasi yang
kreatif dan autonom.
Apakah Muhammadiyah dapat tegak menghadapi
tantangan-tantangan itu dan setia pada prinsip-prinsip
pokoknya seperti diamanatkan para pendirinya? Jiwa
ksatria pasti menjawab sanggup

*Ketua Bidang IPTEK Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah Bulaksumur Karangmalang tahun 2005-2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home