MENJADI TERORIS: SIAPA TAKUT ?
Berita terhangat mengabarkan bahwa terjadi penggerebekan terhadap tempat persembunyian teroris yang berada di Batu, Malang, Jawa Timur. Tidak hanya itu, polisi juga melakukan penangkapan terhadap anak buah jaringan teroris tersebut salah satunya di Semarang, Jawa Tengah (beberapa lokasi penangkapan hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah penulis). Kinerja kepolisian yang cukup membanggakan, saya kira, mengingat telah lama jaringan ini melakukan gerakannya dan meresahkan masyarakat. Di sini ada sedikit harapan terhadap citra profesionalisme polisi yang perlahan mulai membaik. Namun penulis tidak hendak memperbincangkan perihal polisi sebagai pengayom masyarakat, apalagi dalam konteks ini, sebagai lawan tanding terorisme. Penulis mencoba melihat terorisme dalam sebuah perspektif riwayat pelaku dan mendasarkan kita pada keputusan untuk menjadi teroris.
Terorisme memang menjadi kata yang tidak asing dalam telinga kita karena dimulai meletusnya peristiwa 911 (tragedi 9 September 2001). Aksi bunuh diri dengan menabrakkan pesawat terbang ke gedung World Trade Center, Amerika Serikat (AS), memang melambungkan kata terorisme, meski peristiwa itu sendiri sarat pula dengan keganjilan dan kontroversi. Pasca peristiwa itu, terorisme kelas dunia dialamatkan pada organisasi tingkat dunia Jamah Islamiyah yang dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab. Adapun individu yang sampai saat ini masih terus dikejar oleh pihak AS adalah Osamah bin Laden karena dianggap turut bermain dalam peristiwa tersebut. Isu terorisme ini pun menggiatkan Amerika untuk melakukan propaganda melawan terorisme ke seluruh negara di dunia, dengan alternatif bersama dengan Amerika melawan terorisme atau dicap teroris.
Dalam konteks Indonesia, bom Bali yang mengguncangkan dunia itu menunjukkan bahwa terorisme berakar kuat di bumi pertiwi ini. Bom Bali ini memang menunjukkan bahwa teroris berhasil melakukan sensasi ‘bom jihad’ dengan menewaskan ratusan orang. Lalu, Amerika melakukan intervensi terhadap unit kepolisian dengan pelatihan anti terorisme. Di satu sisi hal ini memang baik untuk peningkatan profesionalisme polisi, namun di sisi lain peran vital Amerika tentulah punya kepentingan untuk dirinya sendiri dalam dinamika bangsa Indonesia.
Aksi terorisme di tanah air (Bom Bali tahun 2002, bom malam Natal, JW Marriot, bahkan yang terbaru Bom Bali 2) memang menyisakan tragedi dan catatan hitam bagi sejarah bangsa Indonesia. Dari peristiwa tersebut, polisi melakukan pengejaran terhadap pelaku teroris dan penyebarluasan informasi penangkapan pelaku tersebut kepada masyarakat dengan iming-iming hadiah ratusan juta rupiah. Yang cukup menarik dari penangkapan teroris ini adalah di rumah beberapa pelaku teroris ditemukan referensi buku-buku Islam, disamping referensi meracik senjata dan bom. Dari sisi penampilan, tidaklah asing bahwa pelaku teroris yang dijadikan tersangka ini ‘berwajah Islami’. Liputan terhadap beberapa riwayat pendidikan anak buah teroris ini menyatakan bahwa pribadi ini adalah orang yang prestasi akademiknya biasa-biasa saja di sekolah (rata-rata SMP dan SMA-nya), kalem, pendiam dan tidak menandakan sifat cikal bakal teroris. Individu tersebut juga jarang atau bahkan tidak aktif dalam ekstra kurikuler ataupun organisasi sekolah, kecuali diwajibkan oleh pihak sekolah, semisal Pramuka.
Memang kita bisa beralasan bahwa pasca sekolah semuanya bisa berubah, apalagi dalam kurun waktu yang cukup lama. Namun yang jadi sedikit menarik di sini adalah pribadi pendiam di sekolah ini memang memiliki potensi (bakat terpendam) untuk menjadi teroris dibandingkan rekannnya yang aktif atau bahkan hiperaktif. Atau mungkin pribadi aktif telah melampaui fase aktualisasi diri (penulis mulai mendalami teori hierarki Maslow terbalik dimana aktualisasi diri merupakan kebutuhan dasar bukannya kebutuhan biologis, sesuai pengakuan terakhir di majalah pesawat Garuda) sehingga pasca sekolah tidak lagi membutuhkan penonjolan diri lewat keaktifannya (penulis berkaca pada teman-teman sekolah dahulu yang menunjukkan hal senada). Bisa jadi metode perekrutan jaringan teroris juga melihat ‘ceruk pasar’ ini (bila dilihat dari perspektif pemasaran, perekrut melakukan segmentasi) dengan memanfaatkan potensi terpendam dari individu pendiam ini.
Nada miring lainnya timbul dari referensi yang dibaca oleh pelaku teroris ini, sangat berbau Islami. Beberapa rekan penulis yang cukup awam dalam pemahaman agama langsung men-stereotipe-kan pribadi yang suka mendalami agama sebagai calon teroris, meski dengan nada bercanda. Dalam arti ada pemahaman yang berbeda (kalau tidak bisa dikatakan salah) tentang pemaknaan ajaran Islam, yang dimaknai secara sepotong, berjihad dengan Islam namun melupakan bahwa Islam juga cinta damai. Pemahaman awam terhadap agama pun dengan mudahnya akan melakukan generalisasi terhadap individu yang terkait dengan Islam (baik buku referensi, kegiatan, dan perilaku) dengan terorisme. Sungguh menjadi sebuah tantangan untuk ber-Islam secara benar yang tidak mudah untuk dihadapi. Apalagi sebagai orang yang sedikit lebih tahu tentang agama, ada tugas dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang kita emban.
Dari sisi lain, riwayat pendidikan pelaku teroris ini biasa-biasa saja, yang cukup istimewa adalah gembong terorisnya, yakni Dr. Azahari. Beliau memang kompeten di bidangnya. Yang jadi anekdot lagi adalah pendidikan yang kita enyam tinggi sampai bertitel sederet itu hanya menyeret kita pada pilihan menjadi ateis atau teroris. Pilihan yang sama tidak bijaknya karena integrasi ilmu dan agama belum juga menemukan titik terangnya, apalagi dengan kompleksitas keilmuan yang makin meluas. Berkebalikan dengan si gembong teroris, anak buah teroris tidak menunjukkan prestasi istimewa di kelasnya, tidak pernah ikut kejuaraan, penelitian maupun organisasi. Pendek kata, pelajar biasa-biasa saja. Mungkin pembaca yang mempunyai track record istimewa dalam riwayat pendidikan diantaranya pernah ikut event, penelitian, ataupun organisasi bisa bernafas lega karena peluang untuk direkrut menjadi anak buah teroris semakin kecil, namun semakin besar untuk menjadi otak teroris itu sendiri.
Yang jadi menarik dan menantang bagi aktivis dakwah Islam pada umumnya dan pegiat dakwah kampus (aktivis organisasi Islam intra dan ekstra kampus) pada khususnya adalah cap teroris yang akan melekat pada setiap aktivitas diskusi dan kegiatan keIslaman, apalagi yang bernada membakar semangat jihad. Hal ini mengingat, terlepas dari benar-salahnya, bahwa paham Islam yang beredar di Indonesia ialah paham Sunni yang lebih cinta damai dan adem-ayem, berbeda dengan di Iran yang mayoritas paham Syiah sehingga bisa lahir Revolusi Islam Iran. Ataupun kita bisa belajar dari rezim Taliban di Afghanistan yang sangat otoriter menerapkan syariat Islam dengan semangat jihad yang perlu diacungi jempol. Atau dari gerilyawan muslim Palestina dengan bom syahidnya atas kesewenang-wenangan Israel. Mahasiswa muslim pada umumnya ataupun aktivis mahasiswa muslim pada khususnya akan alergi terhadap Islam oleh karena stereotipe tersebut. Tentunya dakwah Islam akan semakin berat dan perlu pendekatan yang berbeda.
Jikalau pembaca sekalian adalah orang yang biasa-biasa saja selama ini, baik itu dalam kehidupan maupun pendidikan, jadilah seorang teroris. Teroris akan menawarkan sensasi pubilisitas yang setara dengan selebritis, meski hanya temporer. Teroris mungkin menawarkan tiket masuk surga dengan mati syahid membunuh sekian ratus orang kafir, tentunya dengan perspektifnya sendiri. Teroris pun akan mencubit dari tidurnya Umat Islam ‘Sang Raksasa Tidur’ akan kebangkitan Islam yang harus segera disongsong (meski secara teori kurun waktu 7 abad kejayaan bangsa/ peradaban di dunia, maka hal itu menurut penulis masih lama sekali). Pendek kata, teroris akan menawarkan kehidupan yang berbeda daripada manusia pada umumnya, jika Anda penikmat hal-hal yang berbeda.
Yang jelas, bagi penulis, menjadi teroris adalah pilihan. Pilihan terakhir, kalau bisa, atas kefrustasian akan kesewenangan orang kafir terhadap Islam, penindasan dan eksploitasi orang kafir, dan peliknya persoalan yang dihadapi umat Islam. Namun ini merupakan jalan orang yang bisa jadi putus asa untuk menempuh jalur rasional dan mengandalkan perang emosional. Generasi yang terdidik secara baik tentunya akan berpikir seribu kali untuk menjadi teroris, karena jihad yang dipahaminya tidak harus lewat bom syahid atau dengan kekerasan. Jihad generasi terdidik bisa lewat pena, dalam hal ini karya-karya intelektualnya, yang akan melakukan budaya tanding dan perang pemikiran terhadap dominasi orang kafir. Pilihan ini tidak mengindikasikan bodoh tidaknya seseorang, namun dikembalikan kepada hati nurani masing-masing, karena hidup adalah sebuah pilihan. Dan kita tetap harus memilih. Memilih siapa atau menjadi siapa, itu menjadi keputusan kita. Sekian.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home