LUQMAN

Wednesday, January 11, 2006

MENGGUGAT SINETRON RELIGI

Budaya menonton televisi telah demikian mengakar pada bangsa Indonesia. Masuknya media elektronik berupa televisi dan maraknya stasiun pertelevisian swasta yang menawarkan beraneka macam hiburan, juga turut menopang lestarinya budaya tersebut. Memang, bangsa kita tengah mengalami lompatan budaya, dimana belum tercapainya reading society, maka telah didahului oleh watching society sebagai gambaran yang tidak asing lagi dalam masyarakat kita. Masyarakat kita berada dalam posisi kenyamanan dalam kebudayaan kelisanan (watching society termasuk di dalamnya), seakan tidak mengenal budaya tuisan (literer).
Ketika dalam masyarakat kita terbentuk watching society, maka content dari media pertelevisian menjadi teramat penting. Apapun yang disuguhkan oleh lebih dari 10 stasiun televisi berskala nasional, dan sejumlah besar stasiun televisi lokal sebagai media hiburan dan informasi, akan menimbulkan pengaruh pada pembentukan persepsi umum yang ada di masyarakat.
Maraknya infotainment tentang kehidupan selebritis menunjukkan besarnya pengaruh tersebut. Dari pagi hingga menjelang petang, kita sebagai penonton televisi disuguhkan beraneka rupa info tentang selebritis. Dari mulai gosip, kehidupan sehari-hari, rencana ke depan, pesta, dan banyak lagi seakan tiada pernah habisnya. Yang hampir pasti, meski dengan format dan nama acara yang berbeda-beda, bisa dipastikan content yang disuguhkan dalam satu hari penayangan tidak jauh berbeda. Hal ini tidaklah masalah bila dalam hal content saja, namun keserupaan ini juga ada pada pengambilan gambar dan kesimpulan yang dapat diambil, seakan masyarakat penonton diajak untuk melakukan replikasi terhadap informasi tersebut.
Rating penayangan sinetron religi yang cukup tinggi merupakan pengaruh dalam bentuk lain daripada pembentukan persepsi oleh media pertelevisian. Dapat kita lihat, akhir-akhir ini, sinetron religi dengan beragam variasinya, begitu marak di dunia pertelevisian. Sineron religi banyak mengungkap kisah-kisah kehidupan tentang sifat dan perilaku seseorang yang mendapat ganjarannya di kehidupan di dunia. Memang, sinetron bertema religi ini dominan bertemakan agama Islam, sebagai agama yang mayoritas dipeluk oleh masyarakat Indonesia. Namun, jangan berharap bahwa selalu tema Islam yang diangkat dalam sinetron berjenis ini, terkadang tidak ada muatan Islamnya sama sekali.
Ketika menyimak sinteron bertema religi, maka ada dua sudut pandang yang akan sama-sama kuat. Di satu sisi ada kepentingan pasar, penyadaran untuk berIslam dengan baik (meski baru sekadar simbolis). Namun di sisi lain adanya pendangkalan aqidah dan perusakan terhadap Islam itu sendiri.
Dari sudut kepentingan pasar, jelaslah media pertelevisian dan periklanan paling diuntungkan saat ini. Dengan maraknya permintaan akan sinetron bertemakan religi, bisa jadi masyarakat Indonesia memang membutuhkan ‘pencerahan’ secara agama, dan tayangan televisi menjadi solusinya. Media televisi, merupakan salah satu hiburan bagi masyarakat yang tengah dihimpit tekanan krisis ini. Hiburan maupun informasi melalui tayangan televisi dapat diperoleh secara murah dengan cukup memiliki pesawat televisi beserta antenanya, dengan tunai ataupun kredit, dan membayar rekening tagihan listrik setiap bulannya. Ironinya, masyarakat Indonesia lebih senang mempergunakan uangnya untuk mendapatkan hiburan melalui televisi daripada menggunakannya sebagai modal usaha.
Jikalau kita melihat dari citra yang ditampilkan sinetron religi ini, maka akan tampak simbol-simbol Islam di sana. Bagaimana istri yang sholehah dan kerap teraniaya itu mengenakan jilbabnya dengan anggun. Secara tidak sadar, hal ini bisa berpengaruh terhadap proses penyadaran kepada Kaum Hawa untuk mengenakan jilbab. Memang, hal ini tidaklah cukup karena penyadaran untuk mengenakan jilbab semacam itu hanya sebatas simbol dan bukan kesadaran secara internal yang konsisten. Penguatan lebih lanjut tentunya diperlukan dengan pendalaman pengetahuan agama dan giat dalam beribadah.
Nuansa Islam secara simbolis yang ditampilkan sinetron religi ini bisa menyadarkan umat Islam untuk meningkatkan kadar keberagamaannya. Semisal, yang mulanya tidak pernah sholat menjadi rajin sholat karena takut kepada Allah. Karena pencitraan orang yang mendapatkan ganjaran di sinetron tersebut memang tidak menunaikan sholat (atau memang terlewatkan), sedangkan pribadi yang teraniaya dan selamat dari peristiwa mistis tersebut adalah muslim yang taat beribadah. Hal ini juga dapat menumbuhkan semangat bagi masyarakat pada umumnya untuk mengenali dan mengkaji Islam lebih mendalam.
Yang menjadi dampak negatif dari sinetron religi ini ialah adanya mekanisme pendangkalan aqidah secara terselubung, bahwa ada siksa kubur yang bisa membuat umat Islam jera dan takut. Hal ini tentunya dapat berakibat syirik karena Islam pada prinsipnya tidak mengenal adanya hukum karma. Dalam arti, di dalam Islam tidak semua kesalahan manusia yang dilakukan semasa hidupnya akan dibalas di dunia (ditampakkan dalam peristiwa menjelang atau setelah kematian seseorang). Karena segala apa yang dilakukan manusia di dunia ini, kelak akan dipertanggung jawabkan di Hari Akhir. Peristiwa mistis yang terjadi tersebut merupakan peringatan dari Allah bagi manusia agar manusia dapat mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.
Di samping itu, sinetron religi ini bisa disinyalir sebagai tindakan perusakan terhadap Islam itu sendiri. Karena Islam, dengan ayat-ayat suci maupun simbolisasinya, menjadi komoditi barang dagangan oleh media hiburan. Kadang memang sulit untuk membedakan penggunaan Islam ini antara penggunaannya sebagai sarana dakwah dengan menjadikannya sebagai barang dagangan. Dangkalnya penggunaan Islam seperti ini, dapat merusak citra Islam itu sendiri. Apalagi dalam logika pasar, adalah karena dalam logika pasar maka pasarlah (hukum penawaran dan permintaan) yang menentukan. Memang, dalam teori ekonomi, ada yang dinamakan invisible hand, dimana proses penawaran dan permintaan ini berlangsung secara alami. Namun, di dalam pasar tetap saja ada yang mengatur dan orang-orang yang bermain di dalamnya, yang tentunya masing-masing punya kepentingan baik secara individu maupun kelompok. Semoga saja, Islam tidak menjadi layaknya komoditi yang diperjual belikan oleh media hiburan sehingga Islam tidak bergantung pada kepentingan pasar.
Memperhatikan dampak yang diberikan oleh sinetron religi tersebut, sebagai salah satu produk tayangan televisi kontemporer, maka hendaklah kita dapat secara bijak untuk selektif dalam memilih tayangan yang ditampilkan televisi. Alih-alih ingin mendapatkan hiburan dari tayangan televisi yang ada, kita malah terpengaruh dan terjebak oleh dampak negatif yang dihasilkan oleh tayangan televisi tersebut.

8 Desember 2005

0 Comments:

Post a Comment

<< Home