MENG-INTERNET-KAN KADER IMM
Ahad sore kemarin, 20 November 2005, kader IMM UGM dan UNY sejumlah 12 orang bersilaturahim dengan salah satu kader Muhammadiyah yang berada di luar negeri, yakni Bang Arief Nur Hakim. Kebetulan, beliau sedang bertandang ke Jogja dan kami pun mengajak untuk mengadakan pertemuan di Gedung PP Muhammadiyah Jl. Cik Di Tiro. Beliau adalah alumnus SMU Muhammadiyah 2 Surabaya yang saat ini tengah menyelesaikan studi S 3-nya di Jepang, dengan jurusan Aeronautika dan Antariksa konsentrasi motor bakar. Kuliah dan hidup di Jepang telah ditekuninya lebih dari sewindu merupakan hasil pembiayaan beasiswa dari Pemerintah Jepang. Sebenarnya, beliau sudah masuk ke Jurusan Teknik Informatika ITB pada saat lulus SMU namun dilepasnya karena mendapatkan beasiswa tersebut.
Bang Arief ini adalah moderator dari mailing list tetangga kita, muhammadiyah-society, yang mana telah menangani anggota lebih dari 600 orang. Cita-cita kuantitas komunitas yang cukup besar yang hendak dibangun oleh jimm_ptn ini, Amin. Diskusi waktu itu memang berkutat pada kehidupan di Jepang, umat Islam di Jepang, aktivitas mailing list, dan lainnya. Di sini ada gap yang terjadi (entah karena memang kurang berani berdialektika atau memang tidak paham) ketika membahas masalah terkait dengan internet. Bisa jadi lebih dari separuh peserta silaturahim tadi yang paham tentang internet, namun kurang begitu aktif.
Dari pembicaraan di atas, saya hendak menilik sedikit nasib kader kita. Memang teknologi informasi (dalam hal ini internet) adalah penunjang kemampuan kader, dan ada yang lebih utama yakni ilmu kader itu sendiri. Namun, coba kita lihat kelemahan dalam tataran pengungkapan ide dalam bentuk tulisan (yang menjadi kelemahan kader kita pula) dikarenakan terlalu banyak bergulat dengan kelisanan, tentunya tidaklah bijak jika dilengkapi dengan kegagapan dalam bidang teknologi informasi. Kegagapan ini memang bisa menjadi kendala bagi kader akibat masalah finansial (karena jika tidak memiliki akses fasilitas internet gratis, maka ada cost yang harus dikeluarkan) ataupun masalah ketidaktahuan itu sendiri yang berusaha dimaklumi tanpa ada usaha untuk mencari tahu.
Kader secara utama memang harus cerdas beragama, studi, wacana kontemporer karena selaku statusnya sebagai mahasiswa baik itu di lingkungan kampus maupun masyarakat maka kader akan menjadi salah satu rujukan pendapat maupun pemikiran. Namun kecerdasan ini perlu pula didukung oleh kemampuan teknis, dalam hal ini membaca dengan baik, menulis, berkarya dan akses internet.
Internet akan memudahkan perkembangan kader. Kemampuan intelektual kader akan tersalurkan melalui forum-forum diskusi lewat mailing list di dunia maya, yang cukup banyak pilihan variasinya. Sehingga, forum tidak harus dalam bentuk pertemuan rutin (formal). Dalam forum dunia maya, kader dapat menggunakan fasilitas surat elektronik (e-mail) dimana dengan e-mail ini dia dapat mengirimkan tulisan/gambar/data ke teman atau orang yang dituju, bahkan ke komunitas mailing list. Dalam komunitas mailing list, e-mail yang telah sampai ke forum maka dapat dibaca oleh anggota komunitas pada saat itu juga ataupun pada waktu dan tempat yang berbeda. Ketika telah dibaca oleh anggota lainnya, maka anggota lain ini dapat memberikan tanggapan dalam bentuk apapun, interaksi ini tidak jauh berbeda dengan diskusi yang terjadi di dunia nyata.
Namun, hal ini bukan berarti ketika telah ada forum diskusi dunia maya ini maka forum dunia nyata menjadi macet. Karena, dunia maya tetaplah belum bisa menunjukkan realitas sebenarnya. Pertemuan (interaksi) di dunia nyata akan lebih memperlihatkan aspek-aspek yang belum bisa diberikan oleh dunia maya. Aspek ini diantaranya akan dapat dipastikan penampakan fisik individu yang kita ajak diskusi, sikap dan perilakunya. Karena dalam dunia maya yang hanya menyuguhkan realitas semu, ketiga aspek ini bisa saja valid atau dapat pula dimanipulasi.
Yang menjadi ironi, meski sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan, bahwa tingkat akses kader IMM sendiri (apalagi dengan statusnya sebagai mahasiswa) terhadap internet amatlah minim. Minimnya akses ini mengakibatkan kader mengalami ‘rabun jauh’, kurang bisa melakukan pandangan jauh ke depan dan lintas batas. Kader seperti ini akan disibukkan dengan kehidupan pribadi, kuliah, dan aktivitas organisasinya dan terjebak dalam ritme kehidupan dan lingkup interaksi yang monoton. Hal ini akan menjadi masalah ketika kader di kemudian hari harus berinteraksi dengan kader PT lain. Maka dikarenakan sebelumnya tidak ada interaksi, komunikasi yang terjalin pun tidak bisa berjalan lancar.
Problematika penunjang namun juga cukup penting ini perlu dipikirkan secara matang oleh Pimpinan IMM di masing-masing wilayah, sesuai dengan wilayah tanggung jawabnya. Pimpinan, khususnya Bidang IPTEK, harus bisa menjawab dan mencarikan solusi atas permasalahan yang menimpa kader ini. Pimpinan setidaknya bisa memotivasi bahkan melatih (jika mampu) kader-kadernya untuk berinteraksi dengan internet. Tanggung jawab perkaderan non-formal tentunya tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke Bidang Kader saja, mengingat beban dan tanggung jawab Bidang ini juga berat.
Ketika kader telah banyak berinteraksi dengan internet, maka dengan sendirinya akses informasi kader (baik itu mengenai perkembangan IMM maupun lainnya) akan semakin luas. Di samping itu, kepercayaan diri kader akan bertambah karena dia menjalin silaturahim dengan rekan (termasuk di dalamnya sesama kader IMM) yang bisa jadi belum pernah bertegur sapa sebelumnya. Ketika akses informasi yang lebih baik dimiliki oleh kader maka kader akan memiliki kanalisasi pemikiran, pendapat maupun uneg-uneg (curhat) yang dengan sendirinya akan meningkatkan kapasitas intelektual dan emosional kader.
Kemanfaatan yang penting bagi kader IMM ini mendukung perlunya gerakan meng-internet-kader IMM. Dengan akrabnya kader IMM terhadap teknologi informasi (internet), diharapkan proses perkaderan secara non-formal ini bisa mendukung perkaderan lainnya.
21 November 2005

0 Comments:
Post a Comment
<< Home