KULIT PUTIH: SEBUAH KEHARUSAN?
Ketika melihat tayangan media elektronik (dalam hal ini televisi) akhir-akhir ini, maka ada sebuah fenomena. Fenomena ini tampak manakala individu yang tampil di layar kaca ini bisa dikatakan serupa atau identik. Dari mulai bintang iklan, sinetron, sampai tayangan infotainment, hampir seluruhnya menunjukkan tipikal manusia Indonesia yang identik. Di sana ditampakkan bahwa manusia Indonesia adalah cakep/ cantik, berkulit putih, dan bertampang bule (indo).
Saya jadi tidak habis pikir dengan tidak adanya peluang bagi (mungkin) mbok-mbok yang jualan di pasar untuk dapat ditampilkan di televisi. Atau remaja Indonesia yang hidup di pedesaan dengan kulit sawo matang dan kesederhanannya, bisa tampil di televisi pula.
Sepengetahuan saya, orang-orang bule itu bahkan menyempatkan waktu dan menghabiskan banyak biaya untuk membuat coklat pada kulit putihnya. Entah kenapa, kulit putih mereka akan tampak buruk ketika bila tersengat matahari tanpa pelembab. Hal ini tampak pada bercak-bercak merah pada kulitnya dan bisa jadi menimbulkan rasa gatal. Bahkan, seorang bintang bule yang tenar pun menghabiskan ribuan dolar hanya untuk membuat coklat kulit putihnya. Memang, di kalangan orang kulit putih (bule), kulit putih yang kecoklatan akan meningkatkan gengsi dan status mereka di lingkungan asalnya. Hal ini karena orang kulit putih yang berubah kulitnya menjadi putih kecoklatan menandakan ia mampu dalam hal finansial untuk berlibur ke pantai, atau bahkan ke daerah tropis, Bali misalnya.
Nah, dari sini saya malah tambah tidak mengerti, banyak orang Indonesia ingin kulitnya lebih putih. Bisa jadi ini karena pengaruh iklan yang begitu gencarnya mengiklankan produk pemutih kulit tubuh maupun wajah. Belum ditambah lagi pencitraan artis-artis dunia entertainment (iklan, sinetron, dan lain sebagainya) yang notabene memang berkulit putih. Hal ini pun dimaklumi oleh model agency dan rumah produksi, bahwa memang saat ini pasar (televisi dan iklan) memang membutuhkan model ataupun calon artis yang memiliki kulit putih. Klop, kan!
Memang, putih hampir bisa disamakan dengan bersih. Namun, kebersihan itu sendiri tidak harus putih. Hal ini menyebabkan penggiringan persepsi orang ke satu titik, bahwa hanya satu warna yang mendominasi bersih itu, yakni putih. Pengaruh pencitraan yang luar biasa lewat media televisi (sampai memilih presiden yang akan menang pun bisa ditentukan lewat banyaknya iklan kampanye yang muncul di televisi) akan menunjukkan kepada khalayak realita yang diakui secara umum. Padahal realita itu sendiri bukanlah kebenaran, namun pengaruh media televisi telah menyebabkannya menjadi kebenaran yang dianggap umum.
Masyarakat penonton televisi kita akan terdidik untuk menilai sesuatu bahkan seseorang dengan materi, dalam hal ini cakep/ cantik dan kulit putih bersih, di samping materi dalam wujud harta kekayaan. Betapa kasihan orang Indonesia yang memang natural asli produk Indonesia dengan kulit sawo matangnya, bisa jadi stress, karena tidak bisa memenuhi kriteria tersebut.
Hal ini bisa jadi menunjukkan mentalitas inlander bangsa kita yang sudah tidak bangga lagi, salah satunya dengan kulit sawo matangnya. Ternyata penjajahan terselubung yang kita terima tidak lagi menjadi masalah secara umum, bahkan dinikmati sebagai kemajuan, karena identik dengan orang Barat (yang dicirikan dengan masyarakat maju dan modern). Bangsa Indonesia akan tercerabut dari nilai-nilai kearifan lokalnya, karena secara penampakan fisik tidak bisa lagi dibedakan seorang warga negara Indonesia atau warga negara asing.
Suatu saat, kita tidak akan melihat lagi ciri bangsa Asia dalam lambang Olimpiade, yang identik dengan kuning. Hal ini karena kulit bangsa Asia tidak lagi kuning, kecoklatan, atau sawo matang, melainkan tidak jauh berbeda dengan orang Eropa yang berkulit Eropa.
28 November 2005

0 Comments:
Post a Comment
<< Home