LUQMAN

Wednesday, January 11, 2006

KADER IMM PTN: KOMUNITAS TERPINGGIRKAN ?

Memang tidaklah mengenakkan menjadi orang terpinggirkan, istilah kerennya kaum marginal. Tapi setidaknya itu salah satu alasan yang menghinggapi komunitas yang coba kita bangun lewat jaringan ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, ada kesamaan nasib dan sepenanggungan yang menjadi dasar pijakan bersama atas terbentuknya komunitas ini. Komunitas ini memang digagas oleh angkatan senior muda IMM (untuk angkatan 99 ke atas) yang kemudian diramaikan oleh rekanannya dan kader yunior untuk memperkaya wawasan serta jaringan yang hendak dirintis. Komunitas yang pada awal pendiriannya memfokuskan pada perkaderan, di IMM PTN pada khususnya, lalu meluas membahas persoalan-persoalan kontemporer dari berbagai bidang karena makin beragamnya kader yang ikut urun rembug dengan berbagai latar belakang wawasan dan disiplin ilmu. Tentunya perkembangan ini menandakan hal positif bagi perkembangan kader IMM. Betapa tidak, jaringan yang dibangun lewat dunia maya ini (dimana tidak ada interaksi secara fisik) suatu ketika dapat saling mempertemukan dalam bentuk fisik di dunia nyata (seperti halnya Syawalan Kader IMM di Kudus yang juga penulis ikuti, beberapa waktu lalu).
Jaringan ini memang masih berusia dini, keaktifan anggotanya untuk terus menguatkan wacana dan aksi juga makin mengkristal. Perkembangan cepat ini tidak lain karena kemudahan komunikasi yang didukung oleh penguasaan terhadap teknologi informasi. Meski fasilitas ini menjadi barang mewah bagi sebagian besar rakyat Indonesia, tidak terkecuali kader IMM. Namun, dari pengamatan selama beberapa bulan penulis bergabung dalam jaringan ini, intensitas dan variasi dialektika intelektual yang ditawarkan cukup beragam. Bisa jadi kemampuan dialektika kader-kader IMM PTN tidak terwadahi dalam forum dunia nyata, atau tidak percaya diri, atau forum dunia maya ini hanya pelarian.
Penulis memang tidak berusaha memandang miring atas perkembangan positif yang sudah dicapai jaringan ini, apalagi dengan kemampuannya untuk melampaui koordinasi organisasi tingkat nasional. Namun penulis coba melihat perspektif lain mengingat bahwa anggota mailist ini terlalu banyak berwacana dan berdebat dalam tataran mailing list tanpa sebuah bukti nyata berupa aksi di lapangan, begitu ujar seorang kawan. Memang ini menjadi penyakit umum kader Muhammadiyah, tidak terkecuali kader IMM PTN, karena ketidakmampuannya untuk bergerak (mengaktualisasikan diri) dalam dunia nyata, maka hanya mampu bermain-main dengan pemikiran dan ide-ide tanpa aksi.
Ironi yang tampak memang seperti itu, ataukah karena memang mindset teman-teman IMM PTN berbeda dengan kader-kader IAIN/ PTM. Jikalau bisa dikatakan ada perbedaan, maka perbedaan itu memang tampak jelas, meski tidak bisa digeneralisir, karena kader IMM cenderung lugu (salah satunya beberapa tidak doyan merokok), kalem, lebih shalih secara penampakan, dan (maaf) kurang radikal. Individualitas yang sangat tinggi (dalam arti positif, perkembangan bakat dan potensi pribadi) juga tampak pada kader IMM PTN. Kader ada pula yang sangat aktif dalam organisasi lain dengan jaringan yang luas namun kader tersebut kurang mengakar pada komunitas IMM di wilayahnya. Sehingga, yang ada tidak lebih hanyalah pengakuan bahwa beliau adalah seorang kader IMM. Pengakuan yang tidak mengakar pada ideologi yang dianut, pola pikir, dan perilaku kader tersebut. Sehingga, kader ini sering terpinggirkan dalam aksi di lapangan dan lebih dominan pada forum-forum diskusi yang digelar oleh organisasi, sehingga mau tidak mau kader ini terasing dari komunitasnya secara internal.
Dalam kasus lain, ada kader yang tidak mengalami perkembangan cepat baik secara individu maupun organisasi. Beberapa kader minim prestasi individu dan pengalaman organisasi, yang menjadikan IMM di PTN ini sebagai lahan eksperimen perdananya. Tidak jarang pula kader ini adalah mahasiswa yang ‘tersingkir’ dari kampusnya oleh karena lamanya masa studi yang telah ditempuh atau ketidakcocokan organisasi internal kampus. Keragaman kader seperti ini haruslah bisa disikapi secara bijak dalam hal memahami perbedaan pengalaman dan pola pikir kader yang terkadang melahirkan ketidaksinkronan gerakan. Perbedaan ini haruslah bisa menjadi nilai tambah bagi organisasi baik dalam hal pemikiran maupun pola gerakannya.
Yang jelas, jaringan ini tidaklah hendak memfasilitasi kader untuk selalu ‘menikmati’ kegagalannya sebagai mahasiswa, ataupun keterpinggirannya dari peradaban kampus, atau bahkan keinginan untuk mencari jodoh (meski hal ini juga tidak bisa dipungkiri). Jaringan ini juga bukanlah kumpulan komunitas orang pintar yang arogan secara intelektual, karena memang secara ‘bahan mentah’ mahasiswa di PTN adalah orang-orang terpilih, baik secara intelektual akademik maupun secara kewilayahan. Statemen ini memang timbul manakala jaringan ini tumbuh dan melakukan eksklusifitas tersendiri dalam ranah Ikatan. Alasan yang matang tentunya bisa dilontarkan untuk membantah pernyataan tersebut.
Jaringan ini hendaklah memotivasi kader-kader di IMM PTN untuk tidak bangga untuk menjadi ‘warga kelas dua’. Berusalah untuk menjadi orang dan organisasi kelas satu (meski tidak harus nomor satu), baik itu dalam wilayah kampus, masyarakat, Ikatan, Persyarikatan, nusa dan bangsa. Perjuangan untuk menjadi komunitas yang tidak terpinggirkan ini butuh kerja keras dan doa yang tidak temporer. Kita harus bangga dan percaya diri terlebih dahulu bahwa memang kita akan menjadi tumpuan harapan baik itu dalam wilayah organisasi Muhammadiyah maupun dalam peran aktif kita membangun bangsa dan negara. Semua bermula dari kesadaran bahwa ada tekad kita untuk berhenti menjadi orang pinggiran.

18 November 2005

0 Comments:

Post a Comment

<< Home