LUQMAN

Wednesday, January 11, 2006

HATI – HATI, ADA TINDAK KRIMINAL BERBASIS FRIENDSTER!

Friendster merupakan jaringan komunitas berbasis dunia maya dimana dari jaringan ini kita bisa menemukan teman yang kita kenal maupun yang telah lama tidak pernah kita jumpai. Kita bahkan dapat mencari teman baru yang kita ingini. Teman yang dapat kita lacak melalui penelusuran site ini dengan menggunakan kata kunci, misal: nama, usia, hobi, organisasi, dan lain-lain. Ide yang sangat manusiawi dan telah berjasa terhadap kurang lebih 20 juta anggotanya, dimana masing-masing anggota ini bisa menjalin jejaring dengan teman-temannya.
Niat baik dan sungguh mulia dari suatu ide besar pendiri Friendster ini memang menjadi sebuah fenomena. Namun, apa mau dikata, pisau itu bermata dua, di satu sisi ada yang memanfaatkan untuk kebaikan, ada segelintir yang memanfaatkan untuk melancarkan niat jahatnya. Niat jahat yang terwujud dalam hal semisal penipuan, pencurian, dan tindak kriminal lainnya. Penulis hanya mencoba membagi pengalaman bahwa disamping memperoleh manfaat yang tak begitu terkira nilainya dari Friendster ini, di saat lain juga menjadi korban tindak kriminal yang berbasis pada Friendster.
Pertama, perkenalkan nama saya Luqman Satriya Siambodo. Saya adalah mahasiswa asal Semarang yang kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Saat ini saya masih giat di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Seperti layaknya mahasiswa perantauan lainnya, maka saya pun menempati kost-kostan sebagai ‘rumah kedua’. Saya baru saja menempati kost baru (sekitar 2,5 bulan). Kos-kostan saya ini dihuni oleh beberapa mahasiswa UGM dengan variasi disiplin ilmu yang cukup beragam, saya pun sebagai salah satu dari beberapa penghuni baru di sana bisa dikatakan paling akrab dengan penghuni lama, seakan sudah bertahun-tahun menghuni di sana. Kalau mau didefinisikan, tempat hunian saya merupakan kost yang (hampir) sangat liberal. Kebebasan ini didasari oleh tidak adanya induk semang (pemilik kost-kostan) yang tinggal di lokasi hunian kami. Aktivitas ini tampak pada bermain game (Play Station) sepuasnya, merokok, bawa teman wanita (pacar) ke kamar, mabuk, bahkan nonton film 17 tahun ke atas. Alhamdulillah sampai saat ini saya tidak terpengaruh sedikit pun akan aktivitas tersebut dengan tetap menjaga hubungan baik seraya memberitahu tanpa harus tampak sok menasehati.
Aktivitas membawa teman ke kamar kost inilah yang menjadi kunci permasalahan sampai jatuhnya saya menjadi korban tindak kriminal. Kamis, 17 November 2005, saya baru tiba di Jogja. Seorang rekan kost, sebut saja B, meminjam handphone flexi saya untuk menghubungi rekan wanitanya yang berasal dari kota P. Rekannya ini dia kenal lewat friendster, yang mengaku mau main ke Jogja dan hendak menginap di kost B. B pada mulanya menolak halus dan diminta untuk disanggupi saja oleh W, teman kost saya lainnya, dengan jaminan agar menginap di kamar W saja. Di kost kami, karena saking akrab dan percayanya, kami bebas untuk main dan tidur di kamar mana saja dan kapan saja.
Sore harinya, tibalah wanita, sebut saja L, di kost kami. Sebagai laki-laki normal, kami memang tidak tertarik secara fisik terhadap L. L mengatakan bahwa rekannya, sebut saja R, akan datang keesokan harinya. Saya sebagai pribadi memang cuek terhadap kedatangan L, tidak saling kenal dan bahkan sapa. Saya menganggap ini teman W dan B, cukuplah kalau saya butuh dengannya saya akan hubungi W dan B, begitu pikirku. Dengan begitu, saya termasuk asing baginya. W sempat menemani sambil mengobrol di kamar cukup lama, saya tidak tahu menahu apa yang dibicarakan, yang jelas percakapan orang baru kenal pada umumnya.
Jumat pagi, 18 November 2005, rekan wanita L, si R, datang. R ini juga kurang menarik secara fisik, sehingga yang banyak berinteraksi hanya W dan B. Dia datang bersama pria, sebut saja A, yang juga tidak jelas asal-usulnya, karena perkenalan yang singkat yang cuma saya dengar dari kamar. Karena saya memang tidak mau merecoki teman orang lain, apalagi sok kenal. Dua wanita ini akhirnya ‘ditempatkan’ di kamar W selama dua hari, sementara si A pulang ke kostnya. Yang sering berinteraksi dengan keduanya hanya W dan B, sedang saya dan teman lainnya menjaga jarak. Yang jelas, sepanjang pengetahuan saya, tidak ada ‘tindakan yang tidak diinginkan’ yang terjadi selama mereka menginap. Saya tahu itu karena W juga sudah punya pacar W tipikal setia, sedangkan B hanyalah seorang yang lugu dan polos.
Sabtu, 19 November 2005, B dan W mulai jengah dengan keberadaan L dan R. Di samping tidak nyaman untuk beraktivitas di kost, juga tidak nyaman dengan tetangga sekitar. B mengeluh ketika kami sedang beli sarapan nasi kuning, bahkan B hendak pergi ke kota K. Menurut B, ketika B pergi ke kota K, dan W pun akan pergi ke kota S, maka kedua wanita itu akan segera pergi. Ternyata siang harinya, B tidak jelas kabarnya dan sewaktu dihubungi sudah berada di kota K, W sudah memberitahu kedua wanita itu bahwa W akan pergi ke kota S. Kedua wanita itu malah mempersilahkan dengan beralasan bahwa mereka di kamar W saja menunggu kepulangan W hari Minggu. Namun, pacar W, yang berasal dari luar kota, hendak datang ke kost hari Minggu pagi. Maka, tertundalah niat W untuk pulang ke kota S.
Minggu, 20 November 2005, hari ini saya ada agenda dengan IMM dari mulai Syawalan IMM UNY, Pameran Buku, bertemu Bang Arief S 3 Jepang (moderator mailing list muhammadiyah society), dan bertemu Bapak Yunahar Ilyas (Ketua PP Muhammadiyah). Agenda ini pada awalnya tidak terencana dan saya berencana meninggalkan kamar kost hingga sore hari. Namun, W meminta untuk meminjam kamar saya untuk menempatkan kedua wanita itu sembari pacarnya datang. Karena telah lama mengenal W, saya percaya dan menyerahkan sepenuhnya kamar berikut kuncinya. Ketika saya tinggal beraktivitas dengan agenda saya, terjadilah semuanya.
Kedua wanita itu menempati kamar saya, bahkan sempat meminjam handphone W untuk ber-SMS ria gratisan (waktu itu ada operator seluler yang bisa berkirim SMS gratis). Entah apa yang dilakukan dalam kamar, karena rekan kost saya yang lain pun tidak pernah merecoki bila temannya memang butuh ‘privacy’. Saya baru pulang ke kost jam 9 malam, B ternyata telah tiba dari kota K, dan kedua wanita itu telah pergi. Saya pun menuju kamar untuk beristirahat sembari melihat-lihat koleksi buku saya. Ternyata uang sebesar 400 ribu rupiah yang hendak saya tabungkan Senin keesokan harinya, telah ‘berpindah tangan’. Saya telah mengecek ke lipatan-lipatan buku dan ternyata tidak ada (karena sebelum menabungkannya, saya biasa menaruhnya di dalamnya).
Dengan tetap tenang, saya menceritakan musibah ini kepada teman-teman kost, W, B, dan J (ketua kost). Ternyata, handphone W yang tadi dipinjamkan, juga telah ‘berpindah tangan’. W dan B baru saja pergi ke Wartel untuk menghubungi nomor seluler kedua wanita itu, tidak diangkat beberapa kali. Ketika handphone diangkat, teman saya berkomunikasi dengan kedua wanita itu dan mereka hanya memutar-mutar jawaban. Jelaslah sudah bahwa uang saya dan handphone W telah ‘berpindah tangan’ ke kedua wanita tersebut.
B sedikit emosi dan merasa bersalah atas musibah yang menimpa kami ini. B terus mencari cara untuk mengusut kedua wanita tersebut, namun kuat disinyalir bahwa data/ informasi yang diberikan kepadanya dan W, lewat Friendster maupun dialog, tidak benar. Sehingga, tidak ada gunanya terus-menerus memikirkannya. Saya sebagai pribadi ikhlas akan ‘kepindahan’ rezeki tersebut (meski dalam hati tidak rela karena ‘berpindah’ dengan cara tidak halal), dan hanya bisa menuliskan ini agar saudaraku yang lain tidak terkena nasib serupa, apalagi di tengah semangatnya aktif di Muhammadiyah. Saya tetap menghadapi musibah dengan kepala tegak, ceria (karena hidup hanya sekali, rezeki bisa dicari lagi), berpikir positif (bisa jadi Allah memberikan hikmah kepada saya untuk segera mencari maisyah/ penghasilan, karena sudah waktunya, dan tidak terus ‘mengemis’ pada orang tua).
Semoga pengalaman ini bisa berguna buat Saudaraku, yang beraktivitas di dunia maya (salah satunya Friendster dan mailing list), agar pengalaman serupa tidak terjadi pada rekan yang lain, baik itu yang aktif di dunia maya maupun yang belum aktif.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home