CERDAS FINANSIAL: PENDIDIKAN YANG TERLUPA
Krisis ekonomi telah melanda Indonesia lebih dari sewindu dan bangsa ini belum juga menunjukkan tanda-tanda kebangkitannya dari krisis. Krisis ekonomi ini berimbas pula pada bangkrutnya perusahaan-perusahaan lokal yang memaksanya melakukan pengurangan pegawai. Pengurangan pegawai ini membawa dampak bagi meningkatnya jumlah pengangguran. Hal ini menimbulkan persoalan ekonomi baru yang terkait pula dengan masalah sosial politik yang juga tak kunjung menemui jalan keluar.
Problematika ekonomi ini memaksa beberapa orang untuk memulai wirausaha dalam mengatasi kesulitannya memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Keterpaksaan ini di satu sisi menumbuhkan kesadaran pada khalayak yang lain akan pentingnya wirausaha sebagai salah satu entitas perekonomian suatu bangsa.
Kewirausahaan merupakan sikap mental yang akan mendorong seseorang secara cerdas mengelola keuangannya untuk berbisnis. Kecerdasan pengelolaan keuangan yang berguna untuk pencapaian kesejahteraan finansial ini lazim disebut Kecerdasan Finansial. Kecerdasan Finansial dibutuhkan manakala seseorang menghadapi dua permasalahan yakni: kekurangan uang dan kelebihan uang. Jika kekurangan uang, orang akan melakukan hal apa saja untuk mendapatkan uang, apalagi jika dalam keadaan terpaksa. Kelebihan uang juga tidak menjamin tiadanya masalah, karena pemilik uang ini tidak bisa bahagia karena selalu cemas akan keberadaan uangnya, sehingga pada akhirnya uangnya tidak bisa membeli kebahagiaan. Orang yang mempunyai kecerdasan finansial yang tinggi tidak akan hidup dikendalikan oleh uang, justru merekalah yang mengendalikan uang tersebut guna memenuhi kebutuhan hakikinya: yakni kebahagiaan.
Kecerdasan finansial seseorang memiliki tingkatan, dimana bila digunakan skala maka akan ada range antara ketergantungan, kemandirian, sampai kesaling tergantungan. Ketika seseorang belum/ tidak memiliki kecerdasan finansial maka yang ada pada dirinya adalah ketergantungan, dimana segala kebutuhannya belum dapat dipenuhi secara mandiri. Seiring bertambahnya waktu, seseorang tersebut belajar dan memiliki banyak keterampilan. Dengan begitu ia akan menghasilkan sesuatu yang dapat mengurangi ketergantungannya kepada orang lain
Seseorang yang menjalani kehidupan dengan wawasan dan pergaulan yang luas lalu mengembangkan kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu lewat berwirausaha, akan mencapai tingkat kemandirian. Kemandirian di sini ketika orang tersebut mampu memenuhi kebutuhan finansialnya tanpa tergantung pada orang lain. Kemudian setelah mencapai taraf kemandirian, seseorang akan menciptakan kesaling tergantungan dengan orang lain. Di sinilah orang akan mencapai tahap interdepensi, tahapan ini tidak akan mungkin diraih ketika seseorang belum mencapai tingkat kemandirian.
Kecerdasan finansial bukanlah semata-mata kerja teknis pengelolaan keuangan, namun ada prinsip-prinsip yang perlu dimaknai dan diamalkan. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya adalah uang bukanlah alat, tujuan mencari uang adalah kebahagiaan, bercita-citalah menjadi orang kaya, perjelas visi masa depan, bersyukur, dan memahami opportunity cost.
Uang harus dipahami sebagai alat, bukannya tujuan. Karena dengan begitu orang akan terpacu untuk mencari cara agar dengan uang yang ada dapat mencapai tujuan dan meraih kebahagiaan. Kebahagiaan hendaknya ditumbuhkan dengan keadaan finansial yang seperti apapun. Karena bagaimanapun tujuan orang mencari uang adalah mencari kebahagiaan. Sehingga jika dalam proses mencari uang sendiri sudah membahagiakan, maka tujuan tidak akan sulit untuk dicapai.
Orang yang memiliki uang yang banyak biasa disebut orang kaya, maka bercita-citalah menjadi orang kaya. Orang kaya memiliki potensi yang lebih besar untuk melakukan amalan dibandingkan orang miskin untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya.
Tujuan mencari uang adalah meraih kebahagiaan. Visi masa depan ini harus diperjelas bahkan secara detail agar dapat mempengaruhi alam bawah sadar dan memotivasi untuk mencapai tujuan tersebut.
Dalam mencapai tujuan tersebut, seringkali kegagalan melanda. Kegagalan itu bisa berupa hutang yang menumpuk, bisnis yang macet, dan lainnya yang akan menyeretnya pada situasi dan kondisi stress. Pada saat ini, hendaklah seseorang itu bersyukur atas apa yang telah dicapai hingga saat ini dan betap banyaknya karunia Tuhan yang telah diberikan.
Memahami opportunity cost juga merupakan prinsip dari kecerdasan finansial. Dengan memahaminya, maka seseorang akan mempertimbangkan seluruh kemungkinan keuntungan dan risikonya dari beragam pilihan terkait dengan penggunaan uang. Di samping itu, pemahaman tentang opportunity cost akan mendorong seseorang untuk bijak dalam mengelola aset dan keuangannya.
Dunia pendidikan kita, baik itu sekolah, keluarga, maupun masyarakat tidak memberikan praktek berekonomi pada generasi muda. Pendidikan berekonomi berarti mendidik tentang uang. Generasi muda akan terampil untuk mengelola keuangannya dengan menyusun tidak hanya sebatas aliran kas saja (keluar-masuk), namun sampai pada laporan rugi-laba dan neraca. Di samping itu, generasi muda akan mempergunakan uang tersebut untuk hal-hal yang produktif seperti memulai usaha atau mengembangkan bisnis yang telah dimiliki. Dengan demikian, generasi muda akan belajar meningkatkan kecerdasan finansialnya dengan melibatkan pula kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, bahkan fisiknya.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home