BELAJAR KEARIFAN DARI ORANG DESA
Judul di atas memang bernada sedikit aneh, karena jarang orang yang tahu bahkan mencari tahu apa sebenarnya yang bisa diambil pelajaran dari orang-orang desa. Orang desa identik dengan pemalas, puas dengan keadaan dan tercukupinya kebutuhan dari sekelilingnya, tetapi sebentar, itu adalah perspektif orang kota. Memang pada beberapa individu dari orang desa persepsi tersebut melekat dengan sendirinya, namun di sini kita coba ambil pelajaran dari perspektif yang sedikit berbeda.
Kalau mau membandingkan dengan orang kota, maka orang kota identik dengan kemajuan (modernitas), kerja keras, kesibukan tiada henti, akrab dengan kemacetan lalu lintas, dan sering dilanda stress. Tak heran maka kajian dan pelatihan yang berbau spritualis dan menenangkan nurani amat laris di kota. Mungkin, jika hal ini diterapkan di desa, tidak akan ada respon yang berarti. Bisa dikatakan beberapa orang desa telah mencapai kondisi spritual yang lebih matang karena jauh dari hiruk pikuk modernitas kota.
Modernitas yang diagung-agungkan orang kota memang telah banyak membius orang desa untuk hijrah ke kota. Di samping untuk pemenuhan kebutuhan hidup pokok, bius akan kemodernan ini membuat orang desa tak tahan untuk tiap hari hanya berputar-putar pada lingkup wilayah desa dan pola kehidupan yang tidak jauh berbeda. Adapun terkadang variasi pekerjaan yang bisa dilakukan di desa memang minim, sehingga menimbulkan pengangguran. Kekurang kreatifan dalam melakukan pekerjaan yang lebih variatif ini juga dipengaruhi oleh jenjang pendidikan orang desa yang rendah. Di desa, jenjang pendidikan yang rendah tidak terlalu berpengaruh kepada kemampuan bertahan hidup seseorang, karena keterjaminan hidupnya oleh alam dan tetangga sekitarnya, yang biasanya merupakan sanak saudaranya sendiri.
Orang kota memang bisa dikatakan lebih maju bila dibandingkan dengan orang desa, karena akses akan informasi, uang, dan kebutuhan lainnya yang tersistem dalam bungkus kemodernan. Namun hidup di kota bukanlah semudah membalik telapak tangan, apalagi berharap menjadi benalu untuk sanak saudara ataupun tetangga, itu hanyalah mimpi. Untuk bisa hidup di kota, dalam arti tidak sekadar dapat bertahan hidup, minimal orang desa harus mempunyai keterampilan yang bisa jadi nilai jualnya di tengah persaingan hidup di kota. Di kota, meski tak selalu benar, jenjang pendidikan yang dimiliki oleh seseorang akan menentukan status sosialnya di masyarakat, apalagi bila telah sampai pada jenjang pendidikan universitas. Hal ini tidak jauh berbeda dengan orang desa, namun di kota kebutuhan akan pendidikan ini benar-benar terasa karena persaingan dalam meraih pekerjaan lebih tajam.
Persaingan dalam hal apapun yang menjadi ciri masyarakat kota menjadikan orang kota harus bekerja keras, bahkan mungkin sampai tak kenal henti, tak kenal keluarga dan tetangga. Perilaku ini menghasilkan orang kota yang individualis dan haus mengejar prestasi individu. Tidak jarang perilaku ini menghasilkan orang kota yang mengalami split personality. Tingkat pemahaman keagamaannya (keimanan) yang tinggi (spritualis) belum bisa mencapai kesempurnaan karena keterisolasian hubungannya dengan sesama. Hal ini juga tidak bisa menumbuhkan kesadaran Tauhid Sosial orang kota, sehingga sering hanya berkutat pada tauhid individu.
Ketidak seimbangan hidup ini sering menimbulkan stress bagi orang kota. Orang kota mengalami stress karena persaingan hidup di kota begitu keras. Stress ini pada tingkatan yang lebih parah dapat menimbulkan depresi, migrain, dan sejumlah penyakit orang kota lainnya.
Begitu seriusnya orang kota memaknai kehidupan, sehingga perilaku dan dialog yang dilakukan tidak jauh dari hal yang berbau konkret materiil yang secara khusus bisa disimbolkan uang. Seakan-akan kebahagiaan seseorang dapat diukur oleh banyaknya uang (harta) yang dapat dikumpulkan. Padahal dalam konsep kesederhanaan, selama kita mampu bersyukur akan apa yang telah dikaruniakan Tuhan dalam hidup, maka kebahagiaan bukanlah hal yang musykil.
Jika orang kota lebih suka menilai pencapaian lewat hasil yang didapatkan, bisa berwujud prestasi, uang, dan lainnya, maka orang desa tidak. Orang desa lebih menghargai proses pencapaian yang dilakukan oleh seseorang, bahkan ketika orang itu telah meninggal dunia. Hal ini ditunjukkan dalam peringatan-peringatan yang sering diadakan oleh orang desa, yang masih mengakar pada kearifan lokal dan nilai-nilai yang dipelihara sejak dahulu. Hasil yang didapatkan akan dikembalikan kepada Tuhan, karena manusia berada dalam kapasitasnya berusaha. Keoptimalan berusaha memang akan tampak pada hasil usaha tersebut, namun orang desa lebih senang menghargai proses pencapaiannnya.
Di samping itu, orang desa masih memegang teguh budaya gotong royong. Di mana rasa saling tolong menolong sangat tinggi dalam masyarakat desa. Keinginan untuk saling membantu ini, disamping karena kedekatan hubungan kekerabatan, juga dalam rangka bersama-sama untuk mengatasi permasalahan hidup di desa yang dihadapi. Budaya gotong royong ini merupakan salah satu kekuatan kearifan lokal yang dimiliki oleh orang desa yang telah banyak tergerus oleh modernisasi dan globalisasi. Memang, orang kota yang cenderung individualis juga memiliki mentalitas gotong royong, semisal dalam bentuk team work. Namun, hal tersebut hanya terbatas pada pemecahan masalah pekerjaan maupun organisasi. Apabila kebutuhan akan team work berakhir karena telah tercapainya tujuan, orang kota akan kembali ke mentalitas semula.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home