LUQMAN

Saturday, January 14, 2006

BEBAN HIDUP

Betapa kerasnya orang hidup di kota, apalagi kota besar, seperti Jakarta. Aktivitas pergi ke tempat kerja dan pulang ke rumah nyaris tak berjumpa dengan hangatnya sinar matahari. Orang kota telah disibukkan dengan padatnya jadwal sekolah dan kerja, hal ini dilengkapi dengan kemacetan yang harus dihadapi selama berjam-jam. Pola hidup yang membuat orang yang mudah putus asa bakal stress hingga depresi. Kehidupan sehari-hari yang begitu menekan menjadikannya beban hidup yang seakan terus-menerus harus dipikul selama bergulat dalam kehidupan di kota.

Hal ini cukup kontras dengan kehidupan di desa. Di desa akan kita ketemukan kenyamanan, rutinitas yang menyenangkan, bahkan kemapanan. Orang desa bisa ke ladang untuk mengurus lahan semaunya, dengan jadwal yang diatur oleh jam biologis pribadinya dan alam. Orang desa dapat berangkat ke ‘tempat kerja’ setelah hujan reda maupun sebelum makan, tidur, atau aktivitas rumah lainnya. Beban hidup yang begitu menekan di kota hampir tidak terasa di desa.

Lalu, bagaimana dengan beban hidup itu sendiri ?

Ada seorang guru, dalam sebuah kelas, sedang berdiskusi dengan muridnya. Dia menunjukkan sebuah gelas yang berisi air.

Di depan kelas, dengan salah satu tangannya, si guru mengangkat gelas itu sejajar dengan pundaknya. Dia lalu menanyakan kepada muridnya tentang hal yang sedang dilakukannnya. Tentu saja si murid menjawab dengan jawaban sedang mengangkat gelas.

Lalu, beliau menanyakan tentang berat gelas berisi air tersebut. Beberapa murid menyebutkan sejumlah angka dan satuan. Sedangkan dia menimpali bahwa dia pun belum tahu sebelum menimbangnya dengan alat ukur yang akurat.

Kalau sang guru mengangkat gelas tersebut selama beberapa saat, maka belum akan terasa apa-apa.

Jikalau sang guru mengangkat gelas tersebut selama lima menit, tentunya tangan sang guru akan pegal-pegal.

Jika sang guru mengangkat gelas tersebut selama satu jam, maka tangannya akan layuh dan kemungkinan terburuk akan lumpuh.

Mengapa bisa terjadi seperti itu?

Padahal berat gelas berisi air yang diangkat tidaklah bertambah.

Lalu, bagaimana solusinya?

Salah seorang murid berujar untuk meletakkan saja gelas tersebut.


Tepat!

Begitu pula dengan sikap kita ketika mengalami problema hidup. Adakalanya kita perlu mencari waktu untuk beristirahat sejenak dalam setiap kesempatan. Beban hidup tidak akan terasa bila dipikirkan dalam beberapa detik. Namun beranjak ke menit, bahkan beban yang dipikirkan selama berhari-hari, akan membuat siklus hidup kita tidak normal. Ada waktunya bagi kita untuk meletakkan sejenak beban hidup yang menghimpit tersebut. Hal ini bukannya kita melarikan diri dari masalah. Namun, kita berusaha untuk beristirahat terlebih sehingga dapat lebih segar dan jernih untuk mencari jalan keluarnya.

13 Januari 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home