LUQMAN

Saturday, January 14, 2006

ATAS NAMA AGAMA

Indonesia memang tengah dilanda krisis, krisis ekonomi yang berujung pada krisis multi dimensi. Segenap sendi kehidupan yang semula ditutup-tutupi perlahan dibongkar. Manusia Indonesia ditelanjangi karena seakan tidak ada lagi yang dapat mengangkat harga diri dan martabatnya. Di saat seperti ini, begitu mudahnya seseorang mengambil jalan pintas dengan mengatasnamakan agama untuk kepentingannya.

Tidak usah jauh-jauh, pengemis yang ada di jalan maupun di terminal memang terdesak secara ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Namun, mereka tidak mau mengakui dan menyadari kelemahannya ini. Dengan mudahnya mulut mereka berkata dengan menyuguhkan ucapan dan doa berlandaskan agama. Begitu murahnya agama dijual dengan balas jasa uang receh dari orang yang iba. Perilaku meminta-minta sendiri saja dilarang dalam agama, apalagi ditambah dengan menjual agama seperti ini.

Fenomena lain yang tampak pada panitia pembangunan sarana ibadah yang berada di jalan-jalan. Sepintas memang wujud konkret pelaksanaan pembangunan sarana tersebut memang ada, namun tentunya bermasalah dengan cara yang digunakan. Bagaimanapun jalan adalah fasilitas umum dimana setiap pengguna jalan memiliki kewajiban dan hak yang sama. Tindakan merampas hak jalan dan mengganggu kelancaran berlalu lintas seperti itu sama saja dengan melanggar hak orang lain. Ajaran agama digunakan untuk mengangkangi hak orang lain.

Di daerah Bintaro, Jakarta, pemandangan peminta sumbangan adalah hal yang lazim. Peminta sumbangan ini berkeliling sambil meminta sumbangan ke penikmat kudapan yang singgah kala itu. Konon, pendapatan sumbangan bisa mencapai 50 ribu rupiah per harinya. Pendapatan yang cukup menggiurkan dan belum tentu didapatkan dengan bekerja di sektor lainnya. Sepintas, surat penugasan yang ditunjukkan memang asli, memang benar keberadaannya. Ternyata, peminta sumbangan sendiri tidak tahu menahu bahkan belum pernah berkunjung ke sana. Mereka mengaku hanya sebagai petugas dan akan menyetorkan sejumlah tertentu ke koordinator. Ketika dikonfirmasikan ke pihak yang dimanfaatkan namanya untuk dimintai sumbangan, mereka mengaku bekerja sama dengan sejumlah orang untuk menggali sumbangan. Namun, setelah beberapa bulan setoran sumbangan terhenti dari koordinator, mereka pun membatalkan kerja sama tersebut. Ternyata, sumbangan pun bisa dijadikan lahan bisnis dengan mengatas namakan agama dan orang yang tidak menahu akan niat busuk si pelaku.

Di lain pihak, kita melihat pertikaian antara dua kelompok yang mengatas namakan agama. Agama yang menduduki posisi yang agung diatas namakan sebagai penyulut pertikaian dan legitimasi pembantaian yang dilakukan. Pemuka agama pun tidak mampu untuk merelai keberingasan pengikut agamanya. Ayat-ayat suci Tuhan telah dijual murah untuk kepentingan sesaat dan mengatasnamakan pembelaan agama.

Sebegitu mudahnya kita mengatasnamakan agama untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Baik ketidak pahaman maupun pengusaan tinggi kita atas agama seakan menjadikan kita gelap mata. Buta terhadap realitas dan menyodorkan agama sebagai solusi kebuntuan otak untuk menyelesaikan problema kehidupan yang semakin menjepit. Mentalitas yang mengeruhkan citra diri sehingga tak layak memiliki harga diri lagi.

12 Januari 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home