ANARKISME KAUM TERPELAJAR
Hampir tiap hari kita disuguhi dengan tayangan anarkisme di televisi. Beberapa waktu lalu, di sebuah universitas di Sulawesi terjadi pertikaian antara dua kelompok mahasiswa. Kalau tidak salah, pertikaian itu terjadi antara mahasiswa pecinta alam dengan mahasiswa sebuah jurusan. Pertikaian diawali oleh tindakan pemukulan oleh oknum salah satu pihak. Pada awalnya mereka ingin menyelesaikan hal ini dengan jalan damai. Namun entah ada setan mana yang merayu, di waktu dan tempat yang telah ditentukan, masing-masing pihak telah menyiapkan sejumlah senjata tajam, baik itu pedang, parang, tombak, pisau, dan lainnya.
Kontan saja, ditemani iringan hujan kala itu, universitas yang seharusnnya teduh sebagai media saling belajar, menjadi ajang pertempuran. Kejar-kejaran mewarnai sekujur bangunan kampus. Di sebuah sudut kampus, lempar-lemparan batu menjadi pemandangan yang mengerikan. Teriakan makian pun makin menyulut panasnya keadaan. Dinginnya suasana yang dibawa hujan kala itu seakan tak mampu memadamkan emosi mereka.
Infrastruktur kampus yang seadanya itu tak kurang dimanfaatkan oleh kedua pihak yang sedang bertikai. Mulai dari kursi dan meja untuk berlindung dari terjangan batu dan benda tajam yang saling dilemparkan. Sementara pecahan kaca yang menjadi korban keberingasan mereka, malah semakin dimanfaatkan sebagai sarana bertempur.
Aparat keamanan yang berjumlah tak seberapa itu tak mampu meredam massa (dalam hal ini mahasiswa) puluhan orang tersebut. Di halaman kampus, mereka berusaha agar suasana kembali tenang dan mencegah masyarakat untuk masuk ke wilayah kampus. Hal ini juga dilakukan dalam rangka mencegah provokator masuk ke medan pertikaian yang akan memperparah keadaan.
Hujan semakin mereda, hanya tinggal rintik-rintik gerimis yang menemani. Meredanya hujan diikuti dengan berangsur surutnya pertikaian yang terjadi semenjak sejam yang lalu. Perlahan aparat keamanan masuk ke area pertikaian dan mengamankan sejumlah oknum. Ada beberapa mahasiswa yang dilarikan ke rumah sakit karena luka-luka yang dideritanya. Namun, sejauh ini, belum diketahui jumlah korban meninggal. Tampak beberapa aparat juga mengamankan sejumlah ‘perangkat perang’ yang digunakan untuk bertikai. Beberapa perangkat sempat disembunyikan agar tak dilketahui oleh media dan masyarakat. Memang, lebih mirip perangkat untuk berperang di hutan.
Yang jadi menarik, karena hanya masalah sepele, pertikaian semacam itu bisa terjadi. Persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan jalan berbicara baik-baik antara kedua pihak, malah berujung pada pertikaian yang mencoreng nama mahasiswa. Mahasiswa, sebagai kaum terdidik dan terpelajar, tulang punggung harapan masyarakat, menunjukkan tabiat yang tak lebih dari zombie. Makhluk pemangsa sesamanya, bahkan tega menghabisi nyawa saudaranya sendiri. Perilaku yang tak jauh beda dengan binatang. Hal ini makin menunjukkan bahwa kemanusiaan kita makin tergerus sehingga mentalitas yang kita miliki tidak lebih dari mentalitas binatang, yang mengandalkan nafsu hewaninya dan mengangkangi rasio dan emosi yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.
12 Januari 2006

0 Comments:
Post a Comment
<< Home