ANAK PERTAMA, ANAK TERAKHIR
Kowe anak mbarep? (artinya: Kamu anak pertama?)
Kowe mesti anak ragil? (artinya: Kamu pasti anak paling terakhir?)
Pertanyaan seperti itu mesti terlontar ketika kita telah lama berkenalan dengan seseorang. Ketika dari perkenalan masing-masing dari kita telah mengenal sifat dan pribadi masing-masing, maka satu sama lain biasanya coba menebak status ini, jika belum diutarakan di awal. Memang, pada sebuah perkenalan awal, jarang sekali orang akan menanyakan urutan kelahiran dalam keluarga. Karena pertanyaan klasik yang sering muncul adalah nama, usia, asal, sekolah, alamat rumah. Pertanyaan standart yang bisa jadi dijawab biasa-biasa saja oleh seseorang yang kurang kreatif.
Dalam sebuah perkawanan, masing-masing individu telah mengenal satu sama lainnya. Sikap, kebiasaan, rasionalitas, dan emosi yang dimiliki, sudah menjadi hal yang lumrah untuk diketahui oleh seorang teman. Bahkan kawan terdekat, yakni sahabat, dari lama dan dekatnya persahabatan yang telah dijalin bisa memberikan banyak advice seputar kehidupan kita, baik saat ini maupun di masa yang akan datang. Advice ini amat berguna tatkala kita mengalami kebuntuan pikiran dalam menghadapi peliknya permasalahan hidup. Dengan mengatakan saja apa yang sebenarnya permasalahan yang sedang kita hadapi, maka kawan yang baik akan senantiasa terbuka akan masalah temannya tersebut, hal ini tidaklah mudah terbangun, karena dilandasi rasa kepercayaan semata.
Ketika telah mengenal lebih dekat, maka seseorang akan mengenal lebih jauh kawannya baik itu bertandang ke rumah, berkenalan dengan kedua orang tuanya, dan mengetahui status temannya itu dalam keluarganya. Urutan dalam keluarga ini memang lebih berdasarkan urutan kelahiran dari rahim sang ibu, namun ada beberapa hal unik yang bisa kita ambil dari sifat masing-masing anak dalam urutan keluarga tersebut, meskipun hal ini tidaklah berlaku absolut.
Anak pertama, identik dengan ‘ayah kedua’ dalam sebuah keluarga. Secara sifat dan pembawaan lebih mirip dengan ayah daripada ibu. Anak pertama juga lebih cepat dewasa karena sebagai anak pertama, ia seperti sedang mengisi kekosongan jiwanya. Karena dalam struktur keluarga, bila ia telah memiliki adik baik laki-laki maupun perempuan, maka ia akan mencari teman yang lebih dewasa secara umur darinya. Hal ini menyebabkan anak pertama sarat pengalaman dan wawasan oleh orang yang dikenalnya. Anak pertama inipun memiliki mentalitas leadership dan tanggung jawab yang terlahir karena memiliki adik, meskipun hal ini juga perlu proses untuk perkembangannya.
Anak terakhir, cenderung manja karena merasa paling diperhatikan dalam struktur keluarga. Biasanya anak terakhir ini paling dekat dengan sang ibu. Ketergantungan yang tinggi terhadap kakak membuat dia secara tidak sadar meniru dan mengikuti apa yang dilakukan oleh kakaknya, tentunya dengan intensitas interaksi yang cukup tinggi.
Sedangkan, anak yang berada di tengah, cenderung kurang bisa ditebak sifat dan pembawaannya. Yang jelas, perkawanan anak tengah terhadap sesamanya (peer group) lebih banyak dan lebih intens dibandingkan dengan kakak ataupun adiknya. Di samping karena kelengkapan yang dimilikinya, yakni kakak maupun adik, maka dasar ‘referensi hidup’nya telah cukup dari keduanya, selama menjalani hidup.
Yang jelas, saya tidak hendak membeda-bedakan dalam urutan kelahiran ini. Saya hanya mencoba melakukan analisis atas perkenalan dengan sejumlah orang yang cukup dekat terkait pula dengan struktur keluarganya, dan banyak pula yang cocok. Bisa juga dijadikan alasan bahwa kita ingin memilih ingin berkawan dengan teman baru dengan kriteria modelnya, meskipun dalam bergaul kita tidak pantas untuk memilah-milah, kecuali atas dasar moralitas baik-buruk. Mungkin, ilmu psikologi dengan analisis dan research yang lebih tajam bisa membantu untuk pemahaman yang lebih mendalam.
13 Januari 2006

0 Comments:
Post a Comment
<< Home