AKU DAN BUKU
Buku adalah gudangnya ilmu. Buku merupakan jendela bagi terbukanya wawasan ilmu seseorang. Pembaca buku akan mendapatkan manfaat dari membaca buku, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Membaca buku identik dengan budaya orang kota, karena masih banyak orang desa yang buta huruf, sehingga tidak mampu membaca. Budaya membaca menjadi budayanya kaum terpelajar, karena kebutuhannya yang hampir bisa disetarakan dengan kebutuhan makan dan minum. Namun, membangun budaya membaca buku bukanlah hal mudah. Alih-alih ingin membangun masyarakat pembaca, berusaha secara individu agar minat bacanya tinggi bukanlah hal yang mudah.
Sebagai pribadi, saya coba berbagi pengalaman saya berinteraksi dengan dunia buku. Karena Jogja, tempat sementara yang saya tinggali, identik dengan kota buku, kotanya kaum terpelajar. Kekhasan Jogja inilah yang menggoda saya untuk bertransmigrasi dari kota tercinta di utara Pulau Jawa. Ada sejumlah perpustakaan besar yang ada di kota ini, baik itu milik pemerintah maupun swasta (organisasi atau perorangan). Di samping itu, jika memang memiliki rezeki yang cukup banyak, maka kita dapat memiliki sejumlah buku dengan mengunjungi pusat-pusat penjualan buku baru maupun bekas, konon pusat buku ini merupakan yang terlengkap di Indonesia.
Namun, sebelum berada di Jogja, sejak kecil saya merupakan warga pindahan, dalam arti keluarga kami sering pindah domisili karena mengikuti pekerjaan Bapak. Awal masa kecil saya dimulai di kota yang indah di selatan Pulau Sulawesi, Ujung Pandang (sekarang Makassar). Di kota ini, di keluarga saya, buku bukanlah barang yang akrab di kehidupan saya. Meskipun di sekolah, saya termasuk rangking teratas, tapi saya mengenal buku hanyalah sebatas buku tulis dan buku pelajaran sekolah.
Bukan buku, tapi televisi
Saat itu, tayangan televisi memang masih dihegemoni oleh pemerintah lewat TVRI. Hiburan anak-anak cuma ada jam 14.30 WITA. Memang, ada baiknya, karena anak-anak tidak akan berlama-lama di depan televisi, seperti mayoritas anak-anak zaman sekarang. Setelah acara anak-anak usai, sampai menjelang maghrib, aku biasa keluar dari rumah, untuk bermain bersama teman-teman, entah itu di kebun tebu, main game watch, atau petak umpet. Sering, karena salah paham, aku pernah berkelahi dengan salah seorang anak polisi. Waktu itu, aku hanya sendirian dan banyak teman lain di pihaknya, tapi bukan main keroyokan, jantanlah, satu lawan satu, tapi akhirnya aku kalah juga.
Setelah pulang sekolah, aku biasa menggambar di kertas-kertas bekas. Apa saja akan kugambar. Mulai dari orang, hewan, tumbuhan, superhero (He-man dan Voltron), dan lainnya. Ide menggambar ini didasarkan dari film-film kartun yang ada di televisi. Apabila dirasa kertas bekas kurang memenuhi hasrat seniku, maka dinding rumah akan menjadi tumpahan keinginan menggambarku. Jadilah budaya primitif beralih ke rumah, karena dinding rumah penuh dengan coretan-coretanku, mirip coretan di dinding gua oleh manusia purba. Repotnya lagi, di samping dimarahi, orang tua juga harus mengecat kembali dinding rumah tersebut, tentunya kalau ada kelebihan rezeki.
Malam hari hiburan di televisi yang paling bagus hanya malam jum’at yakni serial horor Friday 13th. Setelah menyimak serial itu biasanya aku langsung tidur, agar ketakutan selama menyimak serial tersebut tidak terbawa mimpi. Anak-anak penikmat televisi pada zaman itu pasti kenal dengan Si Unyil, tokoh boneka yang akan menghibur tiap Ahad pagi. Lucunya lagi, karena waktu kecil sekolah di TK ABA, dimana ada ketentuan masuk Hari Ahad dan libur hari Jum’at, aku sudah memberlakukan lima hari sekolah untuk diriku sendiri. Dalam arti, hari Jum’at tetap libur sementara anak yang lain masuk sekolah, dan hari Ahad nekad bolos sekolah. Hal ini kulakukan hanya untuk menonton acara hiburan televisi, baik di rumah ataupun di tetangga. Jadilah ketika masa terima raport maka tulisan tidak masuk sekolah selama puluhan hari menjadi hiasan di raportku, meski akhirnya diluluskan juga karena prestasi akademikku yang lumayan.
Bukan buku, tapi radio.
Radio menjadi mainan keduaku, bukannya buku. Jikalau teman-teman sedang malas bermain, di rumah aku biasa mendengarkan radio. Kisah Arya Kamandanu dengan Pedang Naga Puspa dalam serial Saur Sepuh kala itu menjadi stimulus imajinasiku. Serial sandiwara radio ini memang menawarkan sensasi hiburan yang lain untuk anak-anak seusiaku. Radio 2 Band yang dipunyai waktu itu, sering kunyalakan keras-keras.
Dari radio dan kaset-kaset Bapak pula aku mengenal musikus Iwan Fals (idolaku hingga saat ini). Hampir seluruh lagu-lagu Iwan Fals pernah aku dengar. Menariknya lagi, dalam usia balita tersebut, aku sudah hapal lagu Mata Indah Bola Pingpong, Surat Buat Wakil Rakyat, Potret Panen + Mimpi, dan lainnya, meski aku tak tahu makna apa yang terkandung di dalam lirik lagu tersebut. Saking sering mendengarkan lagu-lagu tersebut, ketika hendak ada persiapan menjelang sebuah acara 17-an, kalau tidak salah, aku pernah berdiri di atas meja di depan orang-orang sambil bernyanyi keras dengan lirik lagu tersebut. Tentu saja anak-anak sebayaku tidak paham, karena pada usia tersebut mereka hanya mengenal Balonku, juga lantunan Bondan Prakoso dan Enno Lerian. Belakangan aku tahu kalau lagu yang kunyanyikan tersebut digunakan sebagai pembakar semangat teriakan-teriakan perlawanan yang dikumandangkan lewat kakak-kakak mahasiswa saat reformasi tahun 1998.
Bukan buku, tapi bioskop.
Sejak kecil, kami sekeluarga memang penikmat film (dan kebiasaan ini terbawa sampai besar saat ini). Hampir tiap pekan, malam Minggu dihabiskan untuk piknik keliling kota. Jalan-jalan dimulai dengan makan pisang epek (pisang raja yang dibakar dan diberi saus encer dari gula merah) di Pantai Losari. Jadilah, piknik keluarga menikmati jajanan pisang epek dengan menghadap pantai yang indah sambil menikmati angin Mamiri (angin sepoi-sepoi khas Makassar).
Setelah menikmati jajan pantai tersebut, kami lalu menuju Bioskop Benteng, yang tak cukup jauh dari sana. Bioskop ini merupakan salah satu bioskop terbesar yang ada di kotaku waktu itu. Saking seringnya kami menonton bioskop di sana, seorang pedagang kaki lima langganan kami kerap memberiku bonus permen kopi. Biar tidak cepat ngantuk, katanya.
Waktu itu, anak-anak belum wajib bayar untuk menonton. Namun seiring berjalannya waktu, ada kebijakan baru yang mengenakan separuh harga untuk anak-anak. Itupun aku lebih sering dipangku ketika menonton, karena banyaknya orang yang ingin menonton.
Aku tidak ingat lagi film apa saja yang pernah kami tonton di sana. Yang jelas, film Indonesia dan Barat era 80-an sudah pernah kami tonton di bioskop tersebut.
Bukan buku, tapi komputer.
Komputer memang sudah menjadi mainanku sejak kecil. Komputer ini sebenarnya adalah komputer untuk kerja, karena banyak pekerjaan Bapak yang harus dilembur di rumah. Di sela-sela tidak dipakainya komputer tersebut, aku biasa menggunakannya untuk bermain game. Game yang paling kusuka waktu itu adalah Digger dan Pac-man.
Lewat komputer yang terhubung dengan video tape dan antena, waktu itu kami sudah bisa menonton tayangan televisi di layar komputer, bahkan merekamnnya. Sayang, teknologi multi media saat ini beralih ke cakram piringan sehingga teknologi video tape menjadi ketinggalan dan tak ada yang meliriknya lagi.
Dengan komputer, aku berusaha memindahkan gambar-gambar yang aku corat-coret di kertas ke komputer, ternyata susah. Akhirnya, beberapa gambar yang sudah jadi bisa di-print-out dengan printer pita. Waktu itu, aku senang sekali bisa mereproduksi gambarku lewat komputer.
Jadi, bukanlah buku yang mengawali perkenalanku dengan hidup ini. Kehidupan di kota dengan segala fasilitasnya, dan ekonomi keluarga yang menuju mapan (meski aku juga mengalami masa-masa sulit ekonomi dalam fase keluarga) membentuk saya menjadi pribadi yang berinteraksi dengan beberapa fasilitas tersebut. Sebuah masa lalu, yang tentu pembaca juga mempunyai kekhasan masa lalu sendiri, yang tidak bisa sebegitu mudahnya kita lupakan, atau sengaja kita hapus. Begitu bila kita membaca buku, maka apa yang kita baca tidak akan mudah terhapus dari ingatan bila buku itu bermutu dan berkesan bagi kita.
Buku yang bermutu mulai aku kenal sewaktu SMP. Waktu itu, Bapak sering membeli Intisari secara eceran (bukan buku, lebih tepat disebut majalah). Majalah bulanan ini tidak sepopuler media lainnya, karena memiliki segmen pasar tersendiri. Majalah ini bisa dikatakan cukup lengkap, hampir mencakup segala bidang kehidupan, dan layak untuk dijadikan konsumsi keluarga. Dari sanalah aku sedikit mengenal tulisan-tulisan bermutu, meskipun membacanya hanya sambil lalu membaca bacaan sekolah.
Sewaktu SMU pun aku lebih banyak bergelut dengan buku-buku pelajaran dan buku persiapan UMPTN. Hampir tidak ada buku ringan atau bidang lain yang menjadi santapan jiwaku. Aku sempat menangkap akan pentingnya membaca buku ketika salah seorang rekanku, Dewantoro (kini kuliah di Akuntansi UGM angkatan 2002) mendebat guru sejarah tentang masalah tasawuf. Baru kali itu dalam sesi pelajaran sekolah ada perdebatan cukup panjang, belakangan aku tahu ia memang memahami salah satu buku karangan Hamka tentang tasawuf.
Perkawanan dengan Dewantoro membawaku ke dunia yang lain, dari sekuler ke Islam. Ajakan untuk aktif dalam diskusi pasca shalat Jumat yang dinamakan forum Islah Kerohanian Islam SMU, mengantarkanku pelan-pelan untuk mengenal Islam. Lewat bahan-bahan diskusi ringan, aku mulai membangun konstruksi ke-Islam-anku. Ada dua kubu yang masuk ke lingkungan masjid sekolah waktu itu, yang satu forum Islah (belakangan aku tahu bahwa itu liqo model salah satu pergerakan Islam asal Mesir) dan lainnya pesantren kilat model Jamaah Tabligh. Dari yang kedua ini aku mulai mendengar kajian tentang buku Fadhilah Amal, yang bahkan belum pernah kubaca buku tersebut hingga saat ini. Aku mulai berinisiatif membeli buku alternatif, yang berbau keislaman, seingatku buku yang pertama kubeli tentang Amal-amal Sorga dan Penduduk Sorga dan Neraka terbitan Rajawali Grafindo. Buku perdana yang tak pernah tuntas kubaca hingga saat ini.
Tradisi membacaku mulai terbangun lagi sejak kuliah. Aktif di organisasi intra kampus semacam Lembaga Dakwah Kampus dan pers mahasiswa, membuatku bertemu dengan sosok-sosok intelek muda yang mempunyai kapasitas intelektual yang jauh di atasku. Mereka dengan indahnya melontarkan masalah dan merunutkan pemikirannya, bahkan dengan mengutip kata-kata orang yang tak pernah aku kenal sebelumnya (akhir-akhir ini aku tahu bahwa yang dikutip tersebut adalah perkataan tokoh-tokoh intelektual), menuangkannya dalam tulisan, dan membahasakannya secara lisan dengan sistematis. Hal yang tidak bisa terbayangkan bisa kulakukan, hingga saat ini.
Perkenalan dengan organ pergerakan mahasiswa (ekstra kampus) memaksaku untuk membaca pula buku-buku sosial, filsafat, teknologi informasi, yang belum pernah kugeluti sebelumnya. Buku-buku ringan tentang Islam yang sebelumnya jadi referensiku ternyata tidak mampu memenuhi hasrat keingintahuanku. Dengan makin banyak membaca, makin menyadarkan betapa bodohnya aku. Betapa banyak hal yang aku tidak tahu dan sebelumnya lebih suka berasumsi untuk hal yang tidak kuketahui tersebut.
Dari sanalah, aku terpacu untuk mengejar intelek-intelek muda tersebut. Kalau mereka bisa, kenapa aku tidak. Aku mulai membeli buku dari sisa uang saku, untuk memenuhi hasrat membacaku. Lama-kelamaan, uang sakuku tergerus juga untuk membeli buku. Tak habis akal, aku sering berkunjung ke perpustakaan kampus untuk sekadar membaca dan meminjam buku. Memang, tak semuanya yang aku pinjam aku baca tuntas, terkadang buku tersebut hanya pindah tempat menginap. Dari buku yang tipis dan ringan sampai buku tebal dan berat yang tak pernah habis kubaca, pernah aku pinjam. Namun, semua yang kubaca seakan berlalu begitu saja. Secara tak sadar aku hanya membuang waktu dan menganggap semua yang kulakukan itu sia-sia.
Sensasi Membaca Buku
Namun, membaca buku tetap menawarkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itu dalam hal kepuasan. Kepuasan yang tidak bisa terbeli oleh kenikmatan inderawi, karena yang terpuaskan adalah segi psikis seseorang. Kelaparan perut seseorang dapat teratasi dengan makanan dan minuman, namun kelaparan batin seseorang tidak akan terpuaskan sebelum memaknai sebuah buku yang dibacanya. Membaca buku akan memajalkan akal dan memanjangkan imajinasi seseorang. Sehingga banyak karya lain (buku, lagu, dan lainnya ) yang terinspirasi dari buku, tidak bisa memuaskan penikmat karyanya, yang memaksa keingin tahuannya untuk mendalami buku yang menginspirasi tersebut. Begitu dalamnya manfaat yang diperoleh, sehingga buku menempati posisi yang cukup tinggi dalam prioritas hidup seseorang. Bukan makanan, bukan pakaian, bukan pula televisi, radio (lagu), komputer, apalagi film bioskop. Kepuasan yang tidak ternilai dari membaca karya tulis dalam bentuk buku, mengantar seseorang untuk menjadi perenung. Perenung yang asyik membaca, terlena oleh apa yang dibaca. Dan ketika terlena maka seseorang itu menjadi mabuk dan lupa sekitarnya.
Selamat menenggak ‘ecstasy’ intelektual!
17 Desember 2005

0 Comments:
Post a Comment
<< Home