LUQMAN

Wednesday, January 11, 2006

AKTIVIS MAHASISWA: DEMONSTRASI DAN MENCARI ILMU

Tokoh-tokoh besar yang kita kenal merupakan seorang
pencari ilmu. Kebesaran yang mereka raih dan masih
diingat hingga masa sekarang merupakan buah dari kerja
kerasnya mencari ilmu. Dengan hanya tidur beberapa jam
saja di malam hari, Harun Yahya menekuni ratusan buku
dalam eksplorasinya mencari ilmu untuk meraih
keridhaan-Nya. Ibnu Qoyyim Az-Jauziyah, bahkan sampai
mengasingkan diri di masa akhir hidupnya dalam
berkonsentrasi mencari ilmu dari sang guru, Ibnu
Taimmiyah. Pelajaran besar tentang kegigihan
orang-orang besar dalam menekuni ilmu baik itu ilmu
dunia maupun ilmu syar’i.
Kondisi ini tidak jauh beda (dalam hal menghabiskan
waktu malam hari) di kalangan masyarakat kita.
Tayangan televisi yang beberapa waktu lalu sempat 24
jam non-stop, menempatkan masyarakat pada budaya
nongkrong di depan TV. Hal ini pun tidak berubah
manakala ada kebijakan Pemerintah untuk mengurangi jam
tayang televisi yang dibatasi hingga jam 12 malam
dengan alasan penghematan energi listrik. Tidak
berubahnya kondisi ini karena kebijakan yang
diterapkan tidak solutif karena masyarakat tetap
mengalihkannya pada menonton VCD (Video Compact Disc)
player, sebuah barang pemutar piringan video
elektronik yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat
kita, bahkan di pedesaan.
Mahasiswa, sebagai bagian dari masyarakat, tak
sepenuhnya berbeda. Mereka juga turut menghabiskan
waktu di malam hari untuk kegiatan-kegiatan yang hanya
berujung manakala kantuk sudah menyerang. Bercanda
dengan rekan-rekan sepondokan, nonton film (bahkan,
maaf, film .... ), main game di komputer, entah itu di
game center on-line ataupun di komputer pribadi di
rumah, chatting dan ber-surfing ria di internet dengan
tarif murah karena terkena happy hours, ataupun
berasyik-masyuk dengan sang pujaan hati.
Ya, bangsa ini memang sedang sakit. Sakit parah.
Manakala realitas sosial menggambarkan keadaan yang
seperti itu dan pribadi yang menjadi tumpuan sebagai
agen perubahan (dalam hal ini mahasiswa) tidak
menunjukkan hal yang berbeda, maka saya tidak habis
pikir bangsa kita ini akan berjalan ke arah yang
kabur. Kalau mahasiswanya, dalam hal ini sebagai
orang-orang terpilih dari masyarakat (dalam angka
statistik hanya 1 % dari warga Indonesia yang bisa
mengenyam bangku pendidikan tinggi), tidak menunjukkan
pola-pola kehidupan yang radikal dan revolusioner.
Saya memandang bahwa seorang aktivis mahasiswa, yang
di-cap sebagai agent of change, juga mengalami hal
yang serupa, namun dalam paradigma, ruang dan waktu
yang berbeda. Betapa sekarang demonstrasi bisa
dijadikan sebagai ajang aktualisasi diri, mencari
duit, bahkan profesi. Dengan alasan sebuah keniscayaan
keprihatinan akan kondisi bangsa yang carut marut,
demonstrasi menjadi jalan bagi aktivis baik sebagai
pribadi maupun organisasi bahkan ideologi yang
diusungnya masih tetap eksis. Namun, hal ini tidaklah
bisa menjadi alasan ketika demonstrasi sudah menjadi
ikon budaya massa yang tidak jauh beda dengan dugem
(dunia gemerlap), nonton TV, panen raya, dalam hal
menghabiskan waktu yang ada. Memang dari segi tujuan
jelaslah berbeda, dan ada tujuan (yang sekiranya
mulia) yang coba diusung oleh rekan-rekan demonstran,
saya tidak memungkiri hal tersebut.
Saya mencoba melihat angkatan mahasiswa terdahulu
bisa jadi adalah para demonstran penentang rezim Orde
Lama juga. Namun yang terjadi sekarang ketika para
aktivis tersebut menerima tongkat estafet kepemimpinan
malah menghasilkan kebobrokan birokrasi pemerintahan.
Hal ini tidak jauh beda dengan kondisi yang dahulu
ditentangnya, bahkan kini jauh lebih parah. Yang saya
khawatirkan adalah kemunafikan yang terjadi di dalam
tubuh para aktivis mahasiswa manakala kelak calon
elit-elit ini menerapkan kebijakan-kebijakan yang juga
menindas rakyat dan menimbulkan perlawanan aktivis
mahasiswa yang (lebih) baru.
Aktivitas demonstrasi ini tentunya bukan aktivitas
kosong, karena di dalamnya ada pertarungan gagasan,
pengumpulan data (bahkan pencurian), konsolidasi bawah
tanah, dan manajemen aksi itu sendiri. Aktivitas yang
jelas membutuhkan pemikiran yang runtut dan
sistematis, bukan serampangan dalam mengerjakannya.
Aktivitas ini pun memerlukan ketekunan dalam mendalami
ilmu yang dijadikan dasar analisis bagi aktivis ini
untuk mengkritik realitas sosial maupun tema yang
diangkat. Di samping itu aktivis menghabiskan waktu
berhari-hari untuk sekadar teriak-teriak di kamar
mandi, di depan cermin bahkan di tengah laut untuk
latihan retorika di depan umum. Aktivitas yang
membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk membaca,
menganalisis, merenung, menulis, dan berdialektika
untuk menemukan pemahaman yang integral dan
komperensif.
Dari sini saya coba melihat bahwa aktivitas mencari
ilmu (tentunya tidak sekedar menghabiskan waktu) juga
mempunyai peran yang tidak main-main. Tentunya orang
mencari ilmu adalah aktivitasnya dalam mengetahui
sesuatu yang belum dia ketahui dan orang lain yang dia
asumsikan belum mengetahuinya (pula) .
“Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui
dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar:
9)
Jelas di sini ditegaskan perbedaan antara orang yang
mengetahui dan yang tidak mengetahui. Aktivis
mahasiswa yang turun berdemonstrasi (biasanya disebut
demonstran) bisa dikatakan pada taraf mengetahui
tentang sesuatu hal yang tidak diketahui oleh pihak
yang dikritiknya, misal pejabat struktural. Derajat
ketidaktahuan ini yang kadangkala menjadi
kesalahpahaman yang terjadi antara keduanya. Namun,
kondisi serupa bisa terjadi sebaliknya untuk hal-hal
tertentu terhadap sebuah permasalahan.
Karena dalam hal tersebut ada perbedaan paradigma
dalam melihat masalah. Bila masalah di sini kita
ibaratkan wilayah, maka paradigma adalah sebuah peta.
Peta yang merupakan penggambaran dari sebuah wilayah
akan tergantung tingkat pengetahuan penggambar peta
dan peta seperti apa yang ingin dihasilkan.
Kelengkapan data, informasi yang dimiliki, dan
ketelitian peta tersebut menjadi penting dalam hal
ini. Peta yang berbeda bisa saja terjadi untuk
sebuah wilayah yang sama. Derajat keilmuan yang
berbeda juga bisa menghasilkan paradigma yang berbeda.
Dengan begitu, aktivitas keilmuan memegang peranan
penting.
“Allah memberikan hikmah (ilmu) kepada siapa yang Dia
kehendaki dan barangsiapa dianugerahi hikmah (ilmu)
tersebut maka ia benar-benar telah dianugerahi karunia
yang banyak.” (Al-Baqarah: 269)
Ilmu merupakan karunia yang banyak dari Allah SWT,
ilmu di sini tentunya tidak sekedar menyerap dalam
arti mentah. Namun harus diikuti dengan amal yang
shalih karena pada dasarnya keduanya (ilmu dan amal
yang shalih) adalah satu kesatuan yang tidak lengkap
bila saling dipisahkan.
Seorang mahasiswa, baik aktivis maupun tidak,
tentunya hampir tiap hari bergelut dengan ilmu.
Mengikuti kuliah dengan agenda utama mendengarkan
celotehan dosen, dan tidak mampu untuk melakukan
kritik karena tidak ada proses dialektika di dalam
ruang kuliah tersebut. Hal ini dihasilkan oleh
pemahaman bahwa kuliah adalah proses “Sebaiknya Anda
Tahu” bukan “Sebaiknya Anda Paham dan Amalkan”,
sehingga kuliah hanya berjalan monoton dan kurang
interaktif. Dialektika yang coba dibangun oleh
mahasiswa kritis (biasanya mahasiswa aktivis) hanya
ditanggapi sebagai angin lalu saja karena kemungkinan
besar tidak akan keluar dalam ujian. Proses dialektika
ini dimaknai secara apatis oleh mahasiswa kebanyakan.
Pergulatan mahasiswa dalam mencari ilmu tidak lepas
dari amal yang dilakukan terkait dengan ilmu yang
telah dia dapatkan, Praktek (Praktikum sebagai
simulasinya) kalau dalam istilah perkuliahan. Kalangan
sosial harus mengaplikasikan teori bangku kuliahnya
sendiri dengan aktif berdiskusi, giat di LSM, ekstra
kampus, pemerintahan mahasiswa dengan menjadi
mahasiswa aktivis. Lain halnya, kalangan eksakta
mendapatkan praktikum sebagai ajang simulasi
mempraktekkan teori yang dipraktekkannya, tidak jarang
pula yang terjun ke dunia yang bereda seperti di
kalangan sosial namun tidak sedikit yang mengalami
split personality karena ketidakmampuan
mengaplikasikan teori kuliahnya dengan laboratotium
sosial yang dimilikinya. Tidak sedikit yang acuh
terhadap perkuliahan eksak yang serba pasti dan
dibatasi oleh dinding-dinding intelektualitas,
kemudian lari ke wilayah ilmu sosial.
Dunia intelektual mahasiswa, khususnya di wilayah
pergerakan kampus, berusaha mengakomodir dua hal vital
dalam eksistensinya yakni: demonstrasi dan pencarian
ilmu. Beberapa pergerakan mahasiswa mengalami
pergeseran orientasi kemahasiswaan pasca-reformasi
dengan merujuk pada ide-ide profesionalitas keilmuan
dikarenakan pemahaman bahwa demonstrasi yang diusung
angkatan 98 kurang relevan lagi untuk diangkat sebagai
aksi sentral. Bisa jadi tantangan generasi
pasca-reformasi ini berbeda dengan kalangan mahasiswa
angkatan reformasi terdahulu. Karena paradigma
terhadap serangan kapitalisme dan globalisasi yang
sudah sedemikian tinggi, maka profesionalitas keilmuan
menjadi salah satu solusi untuk mampu bersaing dalam
persaingan internasional kelak. Meski dalam pandangan
pesimis bahwa secepat apapun kita mengejar kita akan
tetap jauh tertinggal, tertinggal di landasan pacu
(bahasa slogan Orde Baru). Namun sebagai manusia
postivistik, saya setidaknya melihat secercah harapan
bahwa bangsa ini, melalui kebersamaan warganya dengan
dipelopori oleh mahasiswa (terutama aktivis), dapat
bangkit, baik itu melalui aktivitas pencarian ilmu
maupun dalam wilayah pengamalannya (salah satunya
melalui demonstrasi?).

Monumen Jogja Kembali, 30 Sep. 05

0 Comments:

Post a Comment

<< Home