LUQMAN

Saturday, January 14, 2006

KEMALASAN

Betapa sering rasa malas hinggap dalam jiwa kita. Perasaan enggan untuk melakukan sesuatu karena suatu sebab. Perasaan ini sering menggoyahkan kita dalam proses pengambilan keputusan yang kita lakukan. Keputusan secara logika ‘Ya’ atau ‘tidak’ sering diintervensi oleh kemalasan kita. Intervensi ini menghasilkan keputusan yang mengakomodir kemalasan tersebut.

Bagaimanapun, kemalasan adalah mentalitas pecundang. Ketika banyak calon juara lainnya bertarung dengan kerasnya kehidupan, kita dengan selimut kelamasan malah meringkuk di balik ruangan. Kemalasan yang kita pertuhankan mengakibatkan kita hanya mampu berteriak pada anak-anak tanpa mampu melawan penindasan orang sebaya dan dewasa.

Kita dapat melihat kemalasan yang terjadi pada generasi muda kontemporer. Betapa kemalasan generasi muda ini banyak tumbuh ketika media hiburan telah membius mereka. Beragam tayangan hiburan di televisi, salah satunya, yakni sinetron, sepakbola, infotainment, film, dan lainnya, membuat generasi muda lebih suka menghabiskan waktu untuk nongkrong di depan televisi daripada menghabiskan waktu untuk belajar ataupun bekerja. Ini merupakan bentuk kemalasan yang terselubung, sering tidak disadari oleh pelakunya sendiri.

Kemalasan yang ditawarkan pada seseorang akan membuatnya terlena pada kesenangan sesaat. Seringkali memberikan alokasi yang cukup banyak untuk kemalasan ini akan membuatnya menyesal di kemudian hari.

Kemalasan merupakan salah satu bentuk kemanjaan yang membanggakan kebodohan diri sendiri. Ya, bodoh karena tidak mau berbuat sendiri bahkan sekadar untuk dirinya sendiri. Kebodohan karena menghilangkan kesempatan untuk meraih kesuksesan.

Siapa yang menanam, dia akan menuai hasilnya.

Pemalas pun akan menuai apa yang ditanamnya, yakni air mata penyesalan dan kesempatan gemilang yang terbuang sia-sia.


14 Januari 2006

KEKUATAN JARINGAN

Jaringan sering dimaknai sebagai salah satu kelebihan yang dimiliki oleh seseorang maupun organisasi. Kemampuannya membangun jaringan dimana terjalin hubungan konunikasi bahkan kerja sama dengan individu atau organisasi lain dalam suatu tujuan tertentu. Kekuatan jaringan yang dimilikinya menentukan pula efektifitas kompetensi internal yang telah dimiliki oleh individu/ organisasi tersebut.

Dalam kaitannya dengan individu, jaringan merupakan kemampuan menjalin silaturahim dengan banyak orang. Kedewasaan seseorang juga diukur manakala individu tersebut mampu membuat jaringan dengan rentang usia dan profesi relatif beragam. Di sini akan tampak kemampuan dalam berkomunikasi dengan berbagai jenis manusia tersebut. Tujuan individu akan lebih mudah tercapai dengan usaha yang tidak melelahkan , dalam hal ini efektifitas dan efisiensi kerja seseorang akan tercapai.

Jikalau hendak mengambil contoh, maka beberapa waktu lalu, ada novel fiksi yang cukup menuai sukses di pasar. Sang penulis merupakan karyawan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang cukup mapan. Dalam arti, karya tulis ini dikerjakan oleh orang yang telah mapan hidupnya dan hidup dalam rutinitas kerja. Isi dari novel tersebut memang menggugah semangat perlawanan terhadap logika umum dan kapitalisme secara global dalam wujud konkret dan konteks lokal. Yang menarik, dari tinjauan kaidah linguistik masih ditemukan banyak cacat pada karya ini. Namun, karya tulis ini tetap laris di pasaran. Ternyata, kekuatan daya jual karya ini adalah kemampuan penulis untuk menerjemahkan idealisme yang dimilikinya dalam bentuk bahasa populer.

Di samping itu, sang penulis berhasil untuk memanfaatkan jaringan yang dimiliki untuk melakukan promosi dan distribusi karyanya. Perspektif luas yang digunakan oleh penulis ini pun menempatkan sejumlah tokoh ternama independen untuk turut memberikan setoreh catatan sebagai media pemikat buku di halaman belakang sampul, seperti layaknya sejumlah buku lainnya. Kelemahan dari segi linguistik yang dipastikan menuai sejumlah kritik mampu ditutupi oleh kekuatan jaringan yang dimiliki, di samping profesionalitas kerja yang dibawa dari pekerjaannya sebagai karyawan BUMN tersebut.

Dalam konteks organisasi, maka ketika organisasi mampu menjalin hubungan dengan sejumlah alumni, tokoh, organisasi lain, pemerintah, maka organisasi tersebut mempunyai nilai tambah bagi perjalanannya. Hubungan dengan sejumlah alumni organisasi tersebut akan memudahkan organisasi dalam keberlangungan hidupnya apalagi terkait dengan masalah finansial. Dukungan lainnya yakni berupa jaringan dari alumni yang akan turut memperkuat jaringan yang telah dimiliki organisasi.

Jaringan dengan sejumlah tokoh baik itu di masyarakat, media, dan nasional akan memperluas cakrawala dan pola pikir anggota organisasi. Sejumlah tokoh akan memberikan dukungan finansial, yang bila dibandingkan biasanya tidak seberapa besar bila dibandingkan dukungan finansial dari alumni.

Hubungan dengan organisasi lain dan pemerintah juga perlu dibangun dalam rangka melakukan konsolidasi dan mempermudah pencapaian tujuan organisasi. Tujuan antar organisasi satu dengan yang lainnya biasanya tidak jauh berbeda, namun hanya karena sekat organisasilah yang kerap menjadikan komunikasi antar organisasi tidak berjalan lancar. Seakan sudah menjadi hal yang umum, bahwa organisasi berjalan sendiri-sendiri dengan arah dan tujuannya masing-masing.

Dari sejumlah penjabaran di atas, kita jadi mengetahui sedikit manfaat yang dapat diperoleh dari kekuatan jaringan yang dapat kita bangun. Yang jelas, kita tidak dapat berjuang dan bergerak sendiri, karena hanya akan menimbulkan kekonyolan pada kerja yang kita lakukan.


14 Januari 2006

TEMAN LAMA, JANGAN DILUPAKAN!

Kalau tidak salah, ada salah satu lagu anak-anak dengan lirik berbunyi kalau dapat teman baru, teman lama jangan dilupakan. Seringkali seorang terlena dengan kehidupan baru yang dia jalani, menjalani kehidupan yang tidak mengenal pribadinya sama sekali sebelumnya. Sehingga yang ada seakan dia memakai bedak yang cukup tebal untuk menutupi wajah aslinya.

Hal ini terlintas pula ketika salah satu teman, yang cukup dekat sebelumnya, tiba-tiba memutuskan hubungan pertemanan begitu saja. Memang dengan paras yang menawan dia bisa merekrut jutaan kawan baru lainnya. Namun, apalah artinya jikalau dia tidak mampu menjaga hubungan yang telah dia miliki dengan kawan sebelumnya. Hubungan pertemanan memang bisa meningkat ke arah persahabatan, bahkan jikalau keduanya berlainan jenis dan ada kecocokan bisa berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun, hubungan pertemanan juga memiliki potensi permusuhan.

Hubungan pertemanan yang tidak dibangun secara arif, karena alasan letak geografis misalnya, menjadi tidak logis. Dengan era dunia maya yang ada sekarang ini, pertemanan sudah bisa terjalin lewat intenet. Ketika kita mengakses komputer yang terhubung dengan internet, maka kita bisa mencari teman baru maupun teman lama lewat mesin pencari dan sejumlah situs komunitas.

Alasan lain yang menyebabkan pertemanan tidak bisa langgeng adalah tidak sinambungnya alam pemikiran yang dimiliki oleh hubungan pertemanan tersebut. Lalu, kedua pihak ini berpisah dengan alasan ketidak cocokan tersebut. Ketidak dewasaan sikap yang ditunjukkan oleh pribadi seperti ini makin tampak mengental manakala seharusnya dengan adanya perbedaan tersebut maka antar individu bisa saling mengisi.

Betapa banyaknya teman yang kita miliki, mulai dari teman masa kecil, sekolah, kuliah, organisasi, kenal di jalan, dan banyak lagi. Jikalau kita hendak menginventaris kesemuanya, maka buku alamat yang kita miliki tidak akan cukup untuk menampungnya. Namun, masihkah hubungan pertemanan itu bertahan sampai kini?

Karena perbedaan dunia yang dijalani begitu kontrasnya antar teman tersebut, maka seseorang mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan. Sebegitu teganya seseorang memutus tali silaturahmi. Kecocokan antara kedua teman adalah masalah kedewasaan dan kebijaksanaan. Menerima kelemahan dan menghargai kelebihan seseorang, merupakan salah satu prinsipnya. Saling memberi dan menerima antara keduanya, tanpa dilandasi pamrih dan kepentingan tertentu, merupakan prinsip yang lain.

Teman baru memang menawarkan hal-hal, pengalaman dan wawasan baru. Namun, teman lama bukanlah untuk dimuseumkan. Teman lama penting untuk melepas kepenatan dan kejenuhan bergaul dengan teman baru yang berpola pikir serupa. Ibarat mesin, pikiran dan pergaulan juga butuh penyegaran. Penyegaran oleh teman lama memang berbuah romantisme nostalgia perjalanan yang dilakoni bersama. Memang, terlalu lama terjebak dalam romantisme teman lama bisa menyeret seseorang pada stagnasi dan kejumudan kehidupan. Maka dari itu, kita harus pandai meletakkan proporsi yang wajar dalam kehidupan interaksi antar manusia yang kita miliki.


13 Januari 2006

HARUSKAH BER-TOEFL TINGGI ?

Hari ini, ada seorang teman lama dari kampung halaman yang bertandang ke kota pelajar tempat saya melaksanakan studi di perguruan tinggi. Dia ada keperluan untuk mengikuti tes bahasa inggris TOEFL di salah satu lembaga bahasa inggris di kota ini. Kita sudah tidak pernah bersua cukup lama, hampir 4 tahun. Dia masih pendek, imut, dan sekarang merokok (setahuku dulu tidak). Sedangkan darinya kutahu bahwa tidak banyak yang berubah padaku, tetap dengan kacamata dan motor cowok lawas ini.

Segera setelah bertemu di salah satu terminal transit yang ada di kota ini, aku antar dia menuju ke tempat tujuan. Di perjalanan, kami mengobrol banyak dan menanyakan tentang kabar rekan-rekan. Banyak juga yang sudah lulus kuliah dan kerja, bahkan ada pula yang hendak menikah. Sapaan lama terhadap kawan-kawan lama makin mengajak aku bernostalgia pada waktu remaja dulu.

Dia hendak mengikuti lowongan kerja di Dinas Pekerjaan Umum, yang waktu itu sedang membuka lowongan untuk 217 orang sarjana lulusan perguruan tinggi ternama. Dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,75 dan nilai TOEFL 475, seorang lulusan perguruan tinggi sudah bisa untuk mengikuti seleksi tersebut. Kebetulan, lembaga bahasa inggris di kota asal tidak menyediakan fasilitas tes TOEFL, sehingga dia harus bertandang ke kota ini untuk mengikutinya.

Nilai IPK merupakan nilai kumulatif yang kita peroleh selama masa studi di perguruan tinggi. Dalam beberapa perguruan tinggi dan fakultas tertentu, nilai IPK minimal 2,75 masih termasuk wajar (rata-rata) bahkan termasuk rendah untuk kategori penilaian beberapa jurusan. Namun, seleksi pastilah berusaha memperbesar peluang untuk memperoleh calon pekerja yang tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga punya keahlian di bidang lain.

Nilai TOEFL adalah nilai yang kita peroleh ketika kita mengikuti ujian standar bahasa inggris di sebuah institusi. Nilai ini akan menggambarkan tingkat penguasaan kita terhadap bahasa inggris lewat reading, writing, and listening (membaca, menulis, dan mendengarkan). Seseorang yang memiliki nilai TOEFL tinggi akan mudah memperoleh pekerjaan karena jaminan penguasaan bahasa inggris secara pasif yang dia miliki. Begitu pula bila seseorang yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri, maka nilai TOEFL yang tinggi merupakan sebuah keharusan mengingat persaingan untuk meraih pendidikan berkualitas di luar negeri juga begitu tinggi.

Namun, nilai TOEFL yang menunjukkan tingkat penguasaan bahasa Inggris merupakan setting peradaban global yang dibawa oleh Inggris dan Amerika Serikat sebagai penguasa dunia saat ini. Jikalau kelak Cina mengambil alih kendali dunia ini dari mereka, maka mau tidak mau kita pun akan dipaksa untuk menelan ribuan huruf Cina dan memahami bahasa Mandarin tersebut.

Memang, bahasa inggris memang diakui sebagai bahasa internasional saat ini, bahasa yang dipakai oleh banyak negara. Bahkan, dipakai pula oleh sejumlah negara di dunia untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Kekuatan peradaban yang ditopang oleh imperialisme Inggris pada masa lalu dan kejayaan negara persemakmurannya. Amerika Serikat, neo-imperialisme dan penguasa dunia kontemporer, yang merupakan bangsa turunan dari Inggris pun menggunakan bahasa yang tidak jauh berbeda, hanya berbeda sedikit pada gaya pengucapan dan tata bahasa.

Skenario global ini didukung pula oleh kekuatan korporasi multinasional, bahkan sekarang diikuti oleh lembaga pendidikan dan korporasi (perusahaan) tingkat nasional. Karyawan maupun calon terdidik di sebuah institusi dipersyaratkan harus memiliki tingkat penguasaan bahasa inggris yang tinggi, hal ini ditunjukkan oleh nilai tes TOEFL yang tinggi.

Penguasaan bahasa inggris untuk memenuhi syarat TOEFL itu bukanlah perkara yang mudah, kita masih dituntut untuk belajar dari buku-buku tebal yang menyajikan kumpulan soal tes TOEFL lengkap dengan pembahasannya. Mendapatkan nilai TOEFL merupakan buah jerih payah perjuangan kita menekuni bahasa inggris beserta soal-soal TOEFL selama berhari-hari. Namun, kita mesti sadar, bahwa TOEFL telah dipergunakan untuk mengukuhkan kaki-kaki penjajahan model baru di tanah Indonesia. Bahkan, hal ini melanggengkan peradaban Eropa-Amerika yang maju dalam iptek namun bobrok dalam moralitas dan agama.

Kita semestinya bisa menempatkan tes TOEFL ini pada posisi yang wajar, bukannya menyerah tunduk oleh kebutuhan sesaat untuk kepentingan kerja semata. Bagaimanapun, jikalau seseorang hendak memperoleh pekerjaan maupun pendidikan yang lebih layak, persyaratan nilai TOEFL tinggi tidaklah mutlak. Yang terpenting adalah tingkat penguasaan kita terhadap bahasa, terutama bahasa inggris itu sendiri. Tidak menjadi jaminan bahwa orang yang memiliki nilai TOEFL tinggi juga mempunyai penguasaan bahasa inggris yang mumpuni. Begitu pula, tidaklah selalu orang yang memiliki penguasaan bahasa inggris yang layak akan mempunyai nilai TOEFL yang tinggi pula. Bagaimanapun, kita harus bisa mendudukkan kembali tes TOEFL dan nilainya sebagai standardisasi tingkat penguasaan seseorang terhadap soal tes TOEFL yang diberikan. Tidak lebih.

Dengan berprinsip seperti itu, kita tidak akan terkekang harus memiliki nilai ini dan nilai itu. Sehingga, kita kerap terjebak kepada hal-hal yang hanya bersifat materi-formalistik ketimbang mengutamakan kemampuan pikiran-hakikat yang kita miliki. Memang keduanya sama-sama penting, namun di tengah tuntutan jaman modern saat ini, hal-hal materi-formalistik kerap kali menindas kebutuhan pikiran-hakikat kita. Kalau mau menegaskan lagi, bukan nilai TOEFL kita yang akan dikenang ketika kita meninggal, namun pikiran yang kita utarakan dan pengaruhnya terhadap perubahan di lingkungan sekitar kita. Apa yang mampu kita lakukan untuk sekitar kita merupakan peninggalan yang lebih berharga daripada sekadar nilai tes TOEFL.


13 Januari 2006

BEBAN HIDUP

Betapa kerasnya orang hidup di kota, apalagi kota besar, seperti Jakarta. Aktivitas pergi ke tempat kerja dan pulang ke rumah nyaris tak berjumpa dengan hangatnya sinar matahari. Orang kota telah disibukkan dengan padatnya jadwal sekolah dan kerja, hal ini dilengkapi dengan kemacetan yang harus dihadapi selama berjam-jam. Pola hidup yang membuat orang yang mudah putus asa bakal stress hingga depresi. Kehidupan sehari-hari yang begitu menekan menjadikannya beban hidup yang seakan terus-menerus harus dipikul selama bergulat dalam kehidupan di kota.

Hal ini cukup kontras dengan kehidupan di desa. Di desa akan kita ketemukan kenyamanan, rutinitas yang menyenangkan, bahkan kemapanan. Orang desa bisa ke ladang untuk mengurus lahan semaunya, dengan jadwal yang diatur oleh jam biologis pribadinya dan alam. Orang desa dapat berangkat ke ‘tempat kerja’ setelah hujan reda maupun sebelum makan, tidur, atau aktivitas rumah lainnya. Beban hidup yang begitu menekan di kota hampir tidak terasa di desa.

Lalu, bagaimana dengan beban hidup itu sendiri ?

Ada seorang guru, dalam sebuah kelas, sedang berdiskusi dengan muridnya. Dia menunjukkan sebuah gelas yang berisi air.

Di depan kelas, dengan salah satu tangannya, si guru mengangkat gelas itu sejajar dengan pundaknya. Dia lalu menanyakan kepada muridnya tentang hal yang sedang dilakukannnya. Tentu saja si murid menjawab dengan jawaban sedang mengangkat gelas.

Lalu, beliau menanyakan tentang berat gelas berisi air tersebut. Beberapa murid menyebutkan sejumlah angka dan satuan. Sedangkan dia menimpali bahwa dia pun belum tahu sebelum menimbangnya dengan alat ukur yang akurat.

Kalau sang guru mengangkat gelas tersebut selama beberapa saat, maka belum akan terasa apa-apa.

Jikalau sang guru mengangkat gelas tersebut selama lima menit, tentunya tangan sang guru akan pegal-pegal.

Jika sang guru mengangkat gelas tersebut selama satu jam, maka tangannya akan layuh dan kemungkinan terburuk akan lumpuh.

Mengapa bisa terjadi seperti itu?

Padahal berat gelas berisi air yang diangkat tidaklah bertambah.

Lalu, bagaimana solusinya?

Salah seorang murid berujar untuk meletakkan saja gelas tersebut.


Tepat!

Begitu pula dengan sikap kita ketika mengalami problema hidup. Adakalanya kita perlu mencari waktu untuk beristirahat sejenak dalam setiap kesempatan. Beban hidup tidak akan terasa bila dipikirkan dalam beberapa detik. Namun beranjak ke menit, bahkan beban yang dipikirkan selama berhari-hari, akan membuat siklus hidup kita tidak normal. Ada waktunya bagi kita untuk meletakkan sejenak beban hidup yang menghimpit tersebut. Hal ini bukannya kita melarikan diri dari masalah. Namun, kita berusaha untuk beristirahat terlebih sehingga dapat lebih segar dan jernih untuk mencari jalan keluarnya.

13 Januari 2006

ANAK PERTAMA, ANAK TERAKHIR

Kowe anak mbarep? (artinya: Kamu anak pertama?)

Kowe mesti anak ragil? (artinya: Kamu pasti anak paling terakhir?)


Pertanyaan seperti itu mesti terlontar ketika kita telah lama berkenalan dengan seseorang. Ketika dari perkenalan masing-masing dari kita telah mengenal sifat dan pribadi masing-masing, maka satu sama lain biasanya coba menebak status ini, jika belum diutarakan di awal. Memang, pada sebuah perkenalan awal, jarang sekali orang akan menanyakan urutan kelahiran dalam keluarga. Karena pertanyaan klasik yang sering muncul adalah nama, usia, asal, sekolah, alamat rumah. Pertanyaan standart yang bisa jadi dijawab biasa-biasa saja oleh seseorang yang kurang kreatif.

Dalam sebuah perkawanan, masing-masing individu telah mengenal satu sama lainnya. Sikap, kebiasaan, rasionalitas, dan emosi yang dimiliki, sudah menjadi hal yang lumrah untuk diketahui oleh seorang teman. Bahkan kawan terdekat, yakni sahabat, dari lama dan dekatnya persahabatan yang telah dijalin bisa memberikan banyak advice seputar kehidupan kita, baik saat ini maupun di masa yang akan datang. Advice ini amat berguna tatkala kita mengalami kebuntuan pikiran dalam menghadapi peliknya permasalahan hidup. Dengan mengatakan saja apa yang sebenarnya permasalahan yang sedang kita hadapi, maka kawan yang baik akan senantiasa terbuka akan masalah temannya tersebut, hal ini tidaklah mudah terbangun, karena dilandasi rasa kepercayaan semata.

Ketika telah mengenal lebih dekat, maka seseorang akan mengenal lebih jauh kawannya baik itu bertandang ke rumah, berkenalan dengan kedua orang tuanya, dan mengetahui status temannya itu dalam keluarganya. Urutan dalam keluarga ini memang lebih berdasarkan urutan kelahiran dari rahim sang ibu, namun ada beberapa hal unik yang bisa kita ambil dari sifat masing-masing anak dalam urutan keluarga tersebut, meskipun hal ini tidaklah berlaku absolut.

Anak pertama, identik dengan ‘ayah kedua’ dalam sebuah keluarga. Secara sifat dan pembawaan lebih mirip dengan ayah daripada ibu. Anak pertama juga lebih cepat dewasa karena sebagai anak pertama, ia seperti sedang mengisi kekosongan jiwanya. Karena dalam struktur keluarga, bila ia telah memiliki adik baik laki-laki maupun perempuan, maka ia akan mencari teman yang lebih dewasa secara umur darinya. Hal ini menyebabkan anak pertama sarat pengalaman dan wawasan oleh orang yang dikenalnya. Anak pertama inipun memiliki mentalitas leadership dan tanggung jawab yang terlahir karena memiliki adik, meskipun hal ini juga perlu proses untuk perkembangannya.

Anak terakhir, cenderung manja karena merasa paling diperhatikan dalam struktur keluarga. Biasanya anak terakhir ini paling dekat dengan sang ibu. Ketergantungan yang tinggi terhadap kakak membuat dia secara tidak sadar meniru dan mengikuti apa yang dilakukan oleh kakaknya, tentunya dengan intensitas interaksi yang cukup tinggi.

Sedangkan, anak yang berada di tengah, cenderung kurang bisa ditebak sifat dan pembawaannya. Yang jelas, perkawanan anak tengah terhadap sesamanya (peer group) lebih banyak dan lebih intens dibandingkan dengan kakak ataupun adiknya. Di samping karena kelengkapan yang dimilikinya, yakni kakak maupun adik, maka dasar ‘referensi hidup’nya telah cukup dari keduanya, selama menjalani hidup.

Yang jelas, saya tidak hendak membeda-bedakan dalam urutan kelahiran ini. Saya hanya mencoba melakukan analisis atas perkenalan dengan sejumlah orang yang cukup dekat terkait pula dengan struktur keluarganya, dan banyak pula yang cocok. Bisa juga dijadikan alasan bahwa kita ingin memilih ingin berkawan dengan teman baru dengan kriteria modelnya, meskipun dalam bergaul kita tidak pantas untuk memilah-milah, kecuali atas dasar moralitas baik-buruk. Mungkin, ilmu psikologi dengan analisis dan research yang lebih tajam bisa membantu untuk pemahaman yang lebih mendalam.


13 Januari 2006

JUARA SEJATI

Keadaan yang menghimpit, cita-cita hidup yang tak kunjung diraih, membuat banyak manusia yang tak sabar bersegera putus asa. Ketika kekalahan demi kekalahan dalam berbagai bidang kehidupannya datang menerpa, lahir pandangan bahwa dunia ini memang bukan tercipta untuknya. Dunia telah mengasingkan dirinya menjadi seseorang yang kalah, seorang pengecut, bahkan menjadi seorang pecundang. Keterasingan yang membuat diri terlena oleh kedangkalan pemahaman agama yang melegitimasi keterasingan sebagai pengorbanan untuk kehidupan akhirat yang serba indah.

Kekalahan, kegagalan, merupakan hal yang wajar dalam kehidupan dunia ini. Kekalahan ini bukanlah dimaknai sebagai akhir dari perjuangan hidup yang dilakukan, melainkan sebagai peringatan dan batu loncatan akan peningkatan prestasi hidup selanjutnya. Memang, takdir seseorang telah ditentukan oleh Tuhan, namun orang yang menyerah pada kekalahan yang dialaminya bukanlah menyerah pada takdir. Karena Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum atau seseorang sebelum seseorang atau kaum tersebut berusaha mengubah nasibnya tersebut.

Ketika takdir itu ada dan kita memang tidak mengetahui takdir kita, karena kewajiban kita hanya mengimaninya sebagai salah satu yang ghaib. Seandainya kita hanya bergulat pada realitas yang nyata, maka kita akan dihadapkan pada keterpurukan jiwa karena tidak mempercayai hal yang bersifat ghaib.

Kematian memang harus menjadi dasar perjuangan hidup bagi setiap manusia. Meyakini bahwa suatu saat kita akan mati dan di hari yang sakral nanti akan ada pertanggung jawaban yang harus dilakukan oleh seorang manusia, akan membentuk mentalitas kita dalam menghadapi hidup ini. Bukannya lalu apatis dan senantiasa berorientasi pada kehidupan akhirat kelak, karena belum jaminan bahwa kemenangan di akhirat kelak akan hadir ketika kekalahan demi kekalahan sebagai manusia terus diterima ketika hidup di dunia.

Kesadaran akan kematian ini akan membuat kita mempersembahkan yang terbaik untuk kehidupan dunia ini. Kematian tidak hanya dimaknai sebagai ketakutan simbolis akan siksa kubur dan hari akhir, namun sebagai batu loncatan untuk berbuat yang terbaik untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati besok, begitu sabda Nabi. Kita hidup untuk mempersembahkan yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk diri dan lingkungan kita. Berbuat yang terbaik untuk orang-orang terdekat dan menjadi rahmat bagi seluruh alam akan menjadikan kita bisa mengukir diri sebagai pribadi bermental pemenang.

Setiap insan dilahirkan untuk menjadi pemenang, bukan untuk menjadi pengecut bahkan pecundang. Tentunya, konsep kemenangan tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan pribadi maupun kelompok, alangkah lebih baiknya bila kemenangan ini dimaknai sebagai kemenangan bersama, win-win solution. Kemenangan bersama yang dimaknai ini akan melahirkan semangat bahwa dalam setiap kompetisi kehidupan tidaklah harus kemenangan satu pihak itu berbuah pada kekalahan pihak lain. Survival of the fittest tidak berlaku secara absolut.

Sejak kita belum ada, dalam hal ini ketika terjadi proses pembuahan maka sperma sang ayah akan membuahi ovum sang ibu. Dalam proses ini, jutaan sel sperma akan berlomba-lomba untuk menuju sel ovum. Di tengah jalan, banyak sel yang kandas, pincang, putus asa karena tidak mendapatkan jalan keluar. Semakin jauh perjalanan menuju ovum makin terseleksilah jutaan sel sperma. Perjuangan sel sperma dan kecepatannya menuju ke ovum menentukan menang tidaknya sel sperma tersebut untuk mendapatkan ovum. Hanya satu sel sperma yang dapat mencapai ovum sehingga terjadi pembuahan. Jutaan sel sperma lainnya tersingkirkan dan akhirnya mati. Di sini kita bisa lihat, bahwa sejak awal kehidupan manusia sendiri telah penuh perjuangan, kehadiran kita sebagai manusia di dunia ini merupakan hasil seleksi dari jutaan calon manusia, yang disortir untuk menjadi pemenang. Karena itu kehadiran kita di dunia ini merupakan kehadiran seorang pemenang, pemenang yang telah dilahirkan.

Inilah takdir kita yang sejati, terlahir sebagai pemenang. Begitu pula dengan hidup kita, takdir sejati kita adalah sebagai pemenang, bukan pecundang. Pencapaian sesuatu dengan keikhlasan, sabar dan syukur yang tiada batas, adalah mental seorang pemenang. Kematian yang akan membatasi seluruh perjuangan meraih kemenangan kita, karena ketika mati kita tidak akan mampu berbuat apa-apa. Kita hanya mampu menikmati hasil jerih payah selama di dunia, siapa yang menanam dia bakal menuai. Saat itulah dimulai fase pertanggung jawaban dan penganugerahan medali penghargaan untuk pemenang kehidupan dunia dengan kebahagiaan hidup di akhirat. Sedangkan si pecundang didepak untuk menikmati panasnya siksaan api neraka.


12 Januari 2006

ATAS NAMA AGAMA

Indonesia memang tengah dilanda krisis, krisis ekonomi yang berujung pada krisis multi dimensi. Segenap sendi kehidupan yang semula ditutup-tutupi perlahan dibongkar. Manusia Indonesia ditelanjangi karena seakan tidak ada lagi yang dapat mengangkat harga diri dan martabatnya. Di saat seperti ini, begitu mudahnya seseorang mengambil jalan pintas dengan mengatasnamakan agama untuk kepentingannya.

Tidak usah jauh-jauh, pengemis yang ada di jalan maupun di terminal memang terdesak secara ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Namun, mereka tidak mau mengakui dan menyadari kelemahannya ini. Dengan mudahnya mulut mereka berkata dengan menyuguhkan ucapan dan doa berlandaskan agama. Begitu murahnya agama dijual dengan balas jasa uang receh dari orang yang iba. Perilaku meminta-minta sendiri saja dilarang dalam agama, apalagi ditambah dengan menjual agama seperti ini.

Fenomena lain yang tampak pada panitia pembangunan sarana ibadah yang berada di jalan-jalan. Sepintas memang wujud konkret pelaksanaan pembangunan sarana tersebut memang ada, namun tentunya bermasalah dengan cara yang digunakan. Bagaimanapun jalan adalah fasilitas umum dimana setiap pengguna jalan memiliki kewajiban dan hak yang sama. Tindakan merampas hak jalan dan mengganggu kelancaran berlalu lintas seperti itu sama saja dengan melanggar hak orang lain. Ajaran agama digunakan untuk mengangkangi hak orang lain.

Di daerah Bintaro, Jakarta, pemandangan peminta sumbangan adalah hal yang lazim. Peminta sumbangan ini berkeliling sambil meminta sumbangan ke penikmat kudapan yang singgah kala itu. Konon, pendapatan sumbangan bisa mencapai 50 ribu rupiah per harinya. Pendapatan yang cukup menggiurkan dan belum tentu didapatkan dengan bekerja di sektor lainnya. Sepintas, surat penugasan yang ditunjukkan memang asli, memang benar keberadaannya. Ternyata, peminta sumbangan sendiri tidak tahu menahu bahkan belum pernah berkunjung ke sana. Mereka mengaku hanya sebagai petugas dan akan menyetorkan sejumlah tertentu ke koordinator. Ketika dikonfirmasikan ke pihak yang dimanfaatkan namanya untuk dimintai sumbangan, mereka mengaku bekerja sama dengan sejumlah orang untuk menggali sumbangan. Namun, setelah beberapa bulan setoran sumbangan terhenti dari koordinator, mereka pun membatalkan kerja sama tersebut. Ternyata, sumbangan pun bisa dijadikan lahan bisnis dengan mengatas namakan agama dan orang yang tidak menahu akan niat busuk si pelaku.

Di lain pihak, kita melihat pertikaian antara dua kelompok yang mengatas namakan agama. Agama yang menduduki posisi yang agung diatas namakan sebagai penyulut pertikaian dan legitimasi pembantaian yang dilakukan. Pemuka agama pun tidak mampu untuk merelai keberingasan pengikut agamanya. Ayat-ayat suci Tuhan telah dijual murah untuk kepentingan sesaat dan mengatasnamakan pembelaan agama.

Sebegitu mudahnya kita mengatasnamakan agama untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Baik ketidak pahaman maupun pengusaan tinggi kita atas agama seakan menjadikan kita gelap mata. Buta terhadap realitas dan menyodorkan agama sebagai solusi kebuntuan otak untuk menyelesaikan problema kehidupan yang semakin menjepit. Mentalitas yang mengeruhkan citra diri sehingga tak layak memiliki harga diri lagi.

12 Januari 2006

ANARKISME KAUM TERPELAJAR

Hampir tiap hari kita disuguhi dengan tayangan anarkisme di televisi. Beberapa waktu lalu, di sebuah universitas di Sulawesi terjadi pertikaian antara dua kelompok mahasiswa. Kalau tidak salah, pertikaian itu terjadi antara mahasiswa pecinta alam dengan mahasiswa sebuah jurusan. Pertikaian diawali oleh tindakan pemukulan oleh oknum salah satu pihak. Pada awalnya mereka ingin menyelesaikan hal ini dengan jalan damai. Namun entah ada setan mana yang merayu, di waktu dan tempat yang telah ditentukan, masing-masing pihak telah menyiapkan sejumlah senjata tajam, baik itu pedang, parang, tombak, pisau, dan lainnya.

Kontan saja, ditemani iringan hujan kala itu, universitas yang seharusnnya teduh sebagai media saling belajar, menjadi ajang pertempuran. Kejar-kejaran mewarnai sekujur bangunan kampus. Di sebuah sudut kampus, lempar-lemparan batu menjadi pemandangan yang mengerikan. Teriakan makian pun makin menyulut panasnya keadaan. Dinginnya suasana yang dibawa hujan kala itu seakan tak mampu memadamkan emosi mereka.

Infrastruktur kampus yang seadanya itu tak kurang dimanfaatkan oleh kedua pihak yang sedang bertikai. Mulai dari kursi dan meja untuk berlindung dari terjangan batu dan benda tajam yang saling dilemparkan. Sementara pecahan kaca yang menjadi korban keberingasan mereka, malah semakin dimanfaatkan sebagai sarana bertempur.

Aparat keamanan yang berjumlah tak seberapa itu tak mampu meredam massa (dalam hal ini mahasiswa) puluhan orang tersebut. Di halaman kampus, mereka berusaha agar suasana kembali tenang dan mencegah masyarakat untuk masuk ke wilayah kampus. Hal ini juga dilakukan dalam rangka mencegah provokator masuk ke medan pertikaian yang akan memperparah keadaan.

Hujan semakin mereda, hanya tinggal rintik-rintik gerimis yang menemani. Meredanya hujan diikuti dengan berangsur surutnya pertikaian yang terjadi semenjak sejam yang lalu. Perlahan aparat keamanan masuk ke area pertikaian dan mengamankan sejumlah oknum. Ada beberapa mahasiswa yang dilarikan ke rumah sakit karena luka-luka yang dideritanya. Namun, sejauh ini, belum diketahui jumlah korban meninggal. Tampak beberapa aparat juga mengamankan sejumlah ‘perangkat perang’ yang digunakan untuk bertikai. Beberapa perangkat sempat disembunyikan agar tak dilketahui oleh media dan masyarakat. Memang, lebih mirip perangkat untuk berperang di hutan.

Yang jadi menarik, karena hanya masalah sepele, pertikaian semacam itu bisa terjadi. Persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan jalan berbicara baik-baik antara kedua pihak, malah berujung pada pertikaian yang mencoreng nama mahasiswa. Mahasiswa, sebagai kaum terdidik dan terpelajar, tulang punggung harapan masyarakat, menunjukkan tabiat yang tak lebih dari zombie. Makhluk pemangsa sesamanya, bahkan tega menghabisi nyawa saudaranya sendiri. Perilaku yang tak jauh beda dengan binatang. Hal ini makin menunjukkan bahwa kemanusiaan kita makin tergerus sehingga mentalitas yang kita miliki tidak lebih dari mentalitas binatang, yang mengandalkan nafsu hewaninya dan mengangkangi rasio dan emosi yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.


12 Januari 2006

RESEP EKONOMI DARI ETNIS TIONGHOA

Tionghoa, etnis yang bernenek moyangkan perantauan dari Cina daratan, banyak menguasai perekonomian suatu negara di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Mayoritas dari mereka memegang kunci perekonomian negara dari mulai kebutuhan pokok sampai kebutuhan pelengkap. Mereka memiliki tingkat perekonomian yang mapan bahkan di atas rata-rata bila dibandingkan dengan penduduk pribumi yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

Yang menarik, kekeluargaan antar etnis ini demikian kentalnya, tidak jauh beda dengan nenek moyangnya di Cina daratan sana. Meskipun tidak memiliki hubungan darah, seorang keturunan etnis ini mudah dikenali melalui nama marganya. Kebijakan Pemerintah Orde Baru untuk mengharuskan mereka untuk mengubah nama aslinya ke nama Indonesia tidak berpengaruh pada kekerabatan mereka.

Di sini penulis tidak hendak untuk menumbuhkan rasa kebencian ataupun mempertajam pemisah antar etnis. Namun, sebagai orang yang beretnis Jawa, yang identik dengan orang Pribumi pada masa penjajahan, hati saya tergerak untuk mengajukan pertanyaan kritis. Sejak jaman terjajah dulu bangsa Pribumi menjadi golongan kelas ketiga di bawah golongan kulit putih (Barat) di urutan pertama dan disusul orang Arab, Cina, dan India di urutan berikutnya. Cara pandang ini terus terbawa hingga masa sekarang sehingga menempatkan orang Pribumi pada posisi paling buncit dalam struktur kekuasaan baik ilmu pengetahuan maupun perekonomian.

Padahal jika mau ditilik dari sisi kesejarahan, kebudayaan Jawa (disamping juga kita tidak menafikan kejayaan Kerajaan Sriwijaya) merupakan salah satu kebudayaan besar di dunia. Hal ini tampak pada kejayaan Jawa yang berhasil mempersatukan Nusantara bahkan meluas sampai ke Asia Tenggara. Dalam arti ini bukan sebuah romantisme sejarah, namun jikalau ditilik dari sudut pandang biologi, yakni adanya gen, partikel yang memuat unsur-unsur kehidupan manusia, baik moral maupun intelektual. Maka, kita masih memiliki sisa-sisa gen yang turun temurun diturunkan dari nenek moyang kita, yakni orang-orang yang berhasil membawa kejayaan Nusantara.

Orang Makassar dan Bugis adalah orang yang ahli dalam perkapalan, kejayaan kapal Pinishi buatannya pun diakui oleh dunia. Orang Padang merupaknan etnis perantau dan gigih berjuang di tanah rantau, salah satunya dengan berdagang. Masih banyak lagi entis Pribumi lainnya yang menunjukkan bahwa secara mentalitas bangsa ini telah dianugerahi kekayaan mental kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi yang matang.

Sehingga mencari penyebab ketertinggalan Pribumi ditinjau salah satunya dari sisi ekonomi dari orang Barat, Arab, dan Cina merupakan hal yang menarik. Memang, orang Pribumi terjajah selama 350 tahun oleh orang Barat membuat mentalitas bangsa ini menjadi hancur lebur, apalagi penjajahan dari Jepang (perantauan Cina) yang cuma 3,5 tahun namun lebih tidak manusiawi dibandingkan orang Barat. Jadi, jikalau mau diambil kesimpulan awal bahwa jika dahulu orang Pribumi terjajah secara fisik melalui kekuatan senjata maka saat ini orang Pribumi terjajah secara mental dan pikiran lewat kekuatan yang menyeluruh, mulai dari politik, ekonomi, budaya, bahkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jika kita melihat secara kasat mata etnis Tionghoa yang ada di sekitar, maka akan tampak bahwa mereka identik dengan orang kaya, pengusaha, bos yang mempekerjakan orang Pribumi sebagai bawahannya, entah itu sebagai kuli, babu (pembantu), maupun penyelia. Sekat sosial semacam ini tidak usah kita cari jauh-jauh sampai ke negerinya Karl Marx, karena di sekitar kita pun sudah ada. Namun di sini kita mencoba mengambil hikmah dari ajaran mereka yang diturunkan lintas generasi.

Ajaran pertama dalam kehidupan keluarga adalah leadership (kepemimpinan) melalui kekuasaan. Dalam kehidupan keluarga Tionghoa, ketika orang Pribumi menjadi babu etnis Tionghoa, maka beban pekerjaan orang Pribumi ini melebihi rasio pendapatan yang dia terima. Betapa seringnya majikan menyuruh dengan membentak, dan segenap perlakuan yang bisa jadi tidak diliput oleh media, karena tertutup oleh kelihaian majikan merayu babu ini.

Didikan di keluarga pun tidak jauh berbeda, karena si anak majikan pun dengan seenaknya main perintah si babu untuk menyuapi makan, mengambil sepatu, memandikan, dan banyak lagi. Namun jikalau majikan ini sedang butuh sesuatu dengan si babu, maka majikan ini akan berlaku baik sekali. Ketika kebutuhannya telah terpenuhi, maka mentalitas diktator itu akan muncul lagi. Anak majikan ini memang terkesan tampak manja dan tidak mandiri. Jangan salah, justru ini kunci etnis Tionghoa untuk menanamkan mentalitas penguasa (bos) kepada anaknya. Kemampuan memerintah, adalah salah satu point penting dalam kepemimpinan orang Cina. Kemampuan ini termaktub dalam kemampuan mengelola orang (bawahan), yang tentunya lebih sulit dibandingkan dengan kemampuan mengelola uang. Anak majikan sejak kecil dididik untuk memerintah orang Pribumi, mentalitas yang ditanamkan adalah bahwa ‘aku adalah bos kamu, karena orang tuaku sudah membayarmu. Melayani saya adalah sama saja dengan melayani kedua orang tua saya.’

Kedua, dalam etnis Tionghoa seorang anak dituntut untuk tahu dengan apa yang dikerjakan orang tuanya, entah itu berdagang ataupun bekerja kantoran. Dengan melibatkan anak dalam membungkus air untuk usaha orang tuanya berdagang es, maka akan mendidik anak untuk paham bahwa mencari uang itu tidaklah mudah. Ketika menginginkan sesuatu, anak dituntut untuk menyisihkan uang jajannya untuk ditabung guna memenuhi keinginannya tersebut. Hal ini disamping mendidik sabar juga mendidik bahwa untuk memperoleh sesuatu membutuhkan proses, hasil yang didapatkan juga tidaklah instant. Di samping itu, didikan di atas juga membiasakan tangan dan otak si anak untuk terampil mengolah sesuatu menjadi uang. Jika sebuah keluarga memiliki toko, maka anak akan turut dipekerjakan sedari kecil untuk ikut menjaga toko sebelum dan sesudah sekolah. Ketika anak telah tumbuh semakin besar, maka ia akan ditempatkan pada posisi pengawas (supervisor) di toko (atau bentuk usaha lainnya) untuk mengawasi berjalannya usaha tersebut dan mengelola bawahan.

Dalam aturan etnis Tionghoa, Cina perantauan pada umumnya, kekayaan dan kesuksesan orang tua adalah milik orang tua, bukan milik si anak. Anak adalah entitas terpisah, sehingga yang diturunkan ke anak adalah mentalitas dan kegigihan berjuang dalam hidup, bukan kekayaan dan kekusaan orang tuanya. Di sini tampak bahwa peralihan generasi pemilik usaha pada etnis Tionghoa dapat berlangsung mulus bahkan lebih berkembang bila dibandingkan dengan peralihan generasi pemilik usaha di etnis Pribumi, Arab, maupun Barat.

Ketiga, etnis Tionghoa pandai berhemat. Jikalau pendapatan hari itu tidak cukup untuk makan, maka dia tidak akan makan hari itu. Konon, jikalau di dapur hanya ada garam, maka garam itu yang akan dia makan. Hidup nggetih seperti ini dijalaninya meski telah memiliki akumulasi keuntungan ratusan juta rupiah yang disimpan di bank. Ya, di samping pandai berhemat, mereka juga gemar menabung. Rasio tabungan orang Jepang merupakan yang tertinggi di dunia. Hal ini karena mereka benar-benar pecaya akan masa depan, pandangan yang dimiliki jauh ke depan. Pikiran besar ini didukung dengan perencanaan yang sederhana dan cermat, meskipun terkadang tingkat pendidikan mereka tergolong rendah. Mereka yakin bahwa dengan menabung maka hal ini akan bermanfaat untuk anak cucu di masa depan, sedangkan untuk saat ini akan bermanfaat untuk orang sekitarnya. Dengan menabung, mereka akan memperoleh keuntungan melalui kelipatan bunga bank yang didapatkan. Di samping itu, mereka juga menggerakkan perekonomian bangsa dengan peningkatan jumlah modal usaha yang dapat diedarkan ke masyarakat. Di samping itu, menumbuhkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pertumbuhan ekonomi.

Keempat, mereka juga pandai mendidik anak. Jikalau seorang anak dikategorikan bodoh atau berprestasi biasa-biasa saja di sekolah, maka dia tidak akan menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi. Karena menyekolahkannya sama saja dengan membuang uang untuk hal yang tidak maksimal, seorang anak yang tidak berprestasi akademik tidak akan dipaksa untuk menekuni jalur pendidikan formal. Selepas sekolah, ia akan memberikan modal kepada anaknya untuk usaha. Kemudian diamati bakat si anak dalam bisnis. Apabila usahanya gagal, maka akan disuntikkan modal lagi. Dengan model trial and error seperti ini, sampai kesekian kali usahanya gagal dan macet karena permodalan yang disuntikkan sudah cekak, maka si anak akan direkomendasikan untuk ikut bekerja di kerabat yang memiliki usaha. Pekerjaan itu tentunya tidak dalam posisi bawahan, namun minimal dalam posisi supervisor.

Jikalau si anak memang benar-benar berprestasi secara akademik ataupun dalam bakat yang ditunjukkan, maka orang tua tidak akan main-main untuk medukung dan mengembangkannya. Si anak akan disekolahkan ke luar negeri, baik itu Singapura, Amerika, maupun benua Eropa. Amat jarang kita menemui etnis Tionghoa yang bersekolah di sekolah negeri, sejak sekolah bahkan hingga kuliah (kita lihat jumlah mahasiswa etnis Tionghoa di kampus negeri misal ITB, UI, UGM, IPB, maka per angkatan dan per jurusan masih bisa dihitung dengan jari). Hal ini karena mereka telah berpikir untuk memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Ketekunan dan kerja keras yang ditanamkan membuahkan hasil yang jarang dicapai oleh etnis lainnya. Kita bisa pula melihat pemenang Olimpiade Sains mayoritas adalah etnis Tionghoa.

Ketika kita coba membandingkan dengan didikan etnis Tionghoa dengan Pribumi (salah satunya Jawa) maka akan ada perbedaan yang cukup signifikan. Didikan Pribumi lebih pada bagaimana si anak untuk meraih gelar pendidikan yang tinggi, yang dapat menunjang perekonomian, bukan sebaliknya. Padahal realitas menunjukkan lain, banyak orang berpendidikan kesulitan memenuhi kebutuhan ekonominya karena dalam masa kehidupan sebelumnya tidak terampil mencari uang. Sisi intelektual lebih diunggulkan dalam masyarakat pribumi karena mentalitas priyayi yang dimiliki. Priyayi dan santri dianggap memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada pedagang. Hal ini tampak ketika orang tua memilihkan jodoh untuk anaknya, maka kriteria calon yang berpendidikan bekerja sebagai karyawan bergaji tetap akan dipilih dibandingkan calon yang kurang berpendidikan namun memiliki penghasilan yang tidak menentu namun jauh lebih besar lewat berdagang.

Pribumi terdidik pun begitu selektif untuk bekerja dalam sebuah perusahaan. Melihat terlebih dahulu pemilik usaha tersebut, Barat, pribumi, ataukah Tionghoa (Cina). Jikalau bekerja di perusahaan milik pribumi maka yang ditekankan adalah etos kerja yang perlu ditingkatkan. Bekerja dengan bos orang Barat maka akan banyak fasilitas dan perlakuan manusiawi yang diterima. Namun, bekerja dengan bos orang Tionghoa (Cina), maka bersiaplah untuk bekerja lebih dari kedua bos di atas. Di perusahaan mereka, pribumi dituntut bekerja lebih keras dan banyak bila dibandingkan dengan penghasilan yang pribumi dapatkan. Di samping itu, jenjang karir pribumi tidak akan pernah sampai puncak. Karena posisi kunci dalam perusahaan telah dipegang oleh tirani keluarga Tionghoa yang lebih dipercaya karena keuletan dan kedekatan kekerabatan.

Dari uraian di atas, sebagai orang Indonesia pribumi asli, kita hendaklah sadar akan penjajahan model baru seperti di atas. Penjajahan secara mental dan pikiran memang membuat seorang pribumi bisa terlena. Penjajahan mental dan pikiran tidak hanya globalisasi dan kapitalisme yang diidentikkan dengan Barat. Penjajahan model bangsa Cina dan perantauan justru lebih hebat. Bersiaplah!


8 Januari 2006

AKU DAN BUKU

Buku adalah gudangnya ilmu. Buku merupakan jendela bagi terbukanya wawasan ilmu seseorang. Pembaca buku akan mendapatkan manfaat dari membaca buku, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Membaca buku identik dengan budaya orang kota, karena masih banyak orang desa yang buta huruf, sehingga tidak mampu membaca. Budaya membaca menjadi budayanya kaum terpelajar, karena kebutuhannya yang hampir bisa disetarakan dengan kebutuhan makan dan minum. Namun, membangun budaya membaca buku bukanlah hal mudah. Alih-alih ingin membangun masyarakat pembaca, berusaha secara individu agar minat bacanya tinggi bukanlah hal yang mudah.

Sebagai pribadi, saya coba berbagi pengalaman saya berinteraksi dengan dunia buku. Karena Jogja, tempat sementara yang saya tinggali, identik dengan kota buku, kotanya kaum terpelajar. Kekhasan Jogja inilah yang menggoda saya untuk bertransmigrasi dari kota tercinta di utara Pulau Jawa. Ada sejumlah perpustakaan besar yang ada di kota ini, baik itu milik pemerintah maupun swasta (organisasi atau perorangan). Di samping itu, jika memang memiliki rezeki yang cukup banyak, maka kita dapat memiliki sejumlah buku dengan mengunjungi pusat-pusat penjualan buku baru maupun bekas, konon pusat buku ini merupakan yang terlengkap di Indonesia.

Namun, sebelum berada di Jogja, sejak kecil saya merupakan warga pindahan, dalam arti keluarga kami sering pindah domisili karena mengikuti pekerjaan Bapak. Awal masa kecil saya dimulai di kota yang indah di selatan Pulau Sulawesi, Ujung Pandang (sekarang Makassar). Di kota ini, di keluarga saya, buku bukanlah barang yang akrab di kehidupan saya. Meskipun di sekolah, saya termasuk rangking teratas, tapi saya mengenal buku hanyalah sebatas buku tulis dan buku pelajaran sekolah.


Bukan buku, tapi televisi

Saat itu, tayangan televisi memang masih dihegemoni oleh pemerintah lewat TVRI. Hiburan anak-anak cuma ada jam 14.30 WITA. Memang, ada baiknya, karena anak-anak tidak akan berlama-lama di depan televisi, seperti mayoritas anak-anak zaman sekarang. Setelah acara anak-anak usai, sampai menjelang maghrib, aku biasa keluar dari rumah, untuk bermain bersama teman-teman, entah itu di kebun tebu, main game watch, atau petak umpet. Sering, karena salah paham, aku pernah berkelahi dengan salah seorang anak polisi. Waktu itu, aku hanya sendirian dan banyak teman lain di pihaknya, tapi bukan main keroyokan, jantanlah, satu lawan satu, tapi akhirnya aku kalah juga.

Setelah pulang sekolah, aku biasa menggambar di kertas-kertas bekas. Apa saja akan kugambar. Mulai dari orang, hewan, tumbuhan, superhero (He-man dan Voltron), dan lainnya. Ide menggambar ini didasarkan dari film-film kartun yang ada di televisi. Apabila dirasa kertas bekas kurang memenuhi hasrat seniku, maka dinding rumah akan menjadi tumpahan keinginan menggambarku. Jadilah budaya primitif beralih ke rumah, karena dinding rumah penuh dengan coretan-coretanku, mirip coretan di dinding gua oleh manusia purba. Repotnya lagi, di samping dimarahi, orang tua juga harus mengecat kembali dinding rumah tersebut, tentunya kalau ada kelebihan rezeki.

Malam hari hiburan di televisi yang paling bagus hanya malam jum’at yakni serial horor Friday 13th. Setelah menyimak serial itu biasanya aku langsung tidur, agar ketakutan selama menyimak serial tersebut tidak terbawa mimpi. Anak-anak penikmat televisi pada zaman itu pasti kenal dengan Si Unyil, tokoh boneka yang akan menghibur tiap Ahad pagi. Lucunya lagi, karena waktu kecil sekolah di TK ABA, dimana ada ketentuan masuk Hari Ahad dan libur hari Jum’at, aku sudah memberlakukan lima hari sekolah untuk diriku sendiri. Dalam arti, hari Jum’at tetap libur sementara anak yang lain masuk sekolah, dan hari Ahad nekad bolos sekolah. Hal ini kulakukan hanya untuk menonton acara hiburan televisi, baik di rumah ataupun di tetangga. Jadilah ketika masa terima raport maka tulisan tidak masuk sekolah selama puluhan hari menjadi hiasan di raportku, meski akhirnya diluluskan juga karena prestasi akademikku yang lumayan.


Bukan buku, tapi radio.

Radio menjadi mainan keduaku, bukannya buku. Jikalau teman-teman sedang malas bermain, di rumah aku biasa mendengarkan radio. Kisah Arya Kamandanu dengan Pedang Naga Puspa dalam serial Saur Sepuh kala itu menjadi stimulus imajinasiku. Serial sandiwara radio ini memang menawarkan sensasi hiburan yang lain untuk anak-anak seusiaku. Radio 2 Band yang dipunyai waktu itu, sering kunyalakan keras-keras.

Dari radio dan kaset-kaset Bapak pula aku mengenal musikus Iwan Fals (idolaku hingga saat ini). Hampir seluruh lagu-lagu Iwan Fals pernah aku dengar. Menariknya lagi, dalam usia balita tersebut, aku sudah hapal lagu Mata Indah Bola Pingpong, Surat Buat Wakil Rakyat, Potret Panen + Mimpi, dan lainnya, meski aku tak tahu makna apa yang terkandung di dalam lirik lagu tersebut. Saking sering mendengarkan lagu-lagu tersebut, ketika hendak ada persiapan menjelang sebuah acara 17-an, kalau tidak salah, aku pernah berdiri di atas meja di depan orang-orang sambil bernyanyi keras dengan lirik lagu tersebut. Tentu saja anak-anak sebayaku tidak paham, karena pada usia tersebut mereka hanya mengenal Balonku, juga lantunan Bondan Prakoso dan Enno Lerian. Belakangan aku tahu kalau lagu yang kunyanyikan tersebut digunakan sebagai pembakar semangat teriakan-teriakan perlawanan yang dikumandangkan lewat kakak-kakak mahasiswa saat reformasi tahun 1998.


Bukan buku, tapi bioskop.

Sejak kecil, kami sekeluarga memang penikmat film (dan kebiasaan ini terbawa sampai besar saat ini). Hampir tiap pekan, malam Minggu dihabiskan untuk piknik keliling kota. Jalan-jalan dimulai dengan makan pisang epek (pisang raja yang dibakar dan diberi saus encer dari gula merah) di Pantai Losari. Jadilah, piknik keluarga menikmati jajanan pisang epek dengan menghadap pantai yang indah sambil menikmati angin Mamiri (angin sepoi-sepoi khas Makassar).

Setelah menikmati jajan pantai tersebut, kami lalu menuju Bioskop Benteng, yang tak cukup jauh dari sana. Bioskop ini merupakan salah satu bioskop terbesar yang ada di kotaku waktu itu. Saking seringnya kami menonton bioskop di sana, seorang pedagang kaki lima langganan kami kerap memberiku bonus permen kopi. Biar tidak cepat ngantuk, katanya.

Waktu itu, anak-anak belum wajib bayar untuk menonton. Namun seiring berjalannya waktu, ada kebijakan baru yang mengenakan separuh harga untuk anak-anak. Itupun aku lebih sering dipangku ketika menonton, karena banyaknya orang yang ingin menonton.

Aku tidak ingat lagi film apa saja yang pernah kami tonton di sana. Yang jelas, film Indonesia dan Barat era 80-an sudah pernah kami tonton di bioskop tersebut.


Bukan buku, tapi komputer.

Komputer memang sudah menjadi mainanku sejak kecil. Komputer ini sebenarnya adalah komputer untuk kerja, karena banyak pekerjaan Bapak yang harus dilembur di rumah. Di sela-sela tidak dipakainya komputer tersebut, aku biasa menggunakannya untuk bermain game. Game yang paling kusuka waktu itu adalah Digger dan Pac-man.

Lewat komputer yang terhubung dengan video tape dan antena, waktu itu kami sudah bisa menonton tayangan televisi di layar komputer, bahkan merekamnnya. Sayang, teknologi multi media saat ini beralih ke cakram piringan sehingga teknologi video tape menjadi ketinggalan dan tak ada yang meliriknya lagi.

Dengan komputer, aku berusaha memindahkan gambar-gambar yang aku corat-coret di kertas ke komputer, ternyata susah. Akhirnya, beberapa gambar yang sudah jadi bisa di-print-out dengan printer pita. Waktu itu, aku senang sekali bisa mereproduksi gambarku lewat komputer.


Jadi, bukanlah buku yang mengawali perkenalanku dengan hidup ini. Kehidupan di kota dengan segala fasilitasnya, dan ekonomi keluarga yang menuju mapan (meski aku juga mengalami masa-masa sulit ekonomi dalam fase keluarga) membentuk saya menjadi pribadi yang berinteraksi dengan beberapa fasilitas tersebut. Sebuah masa lalu, yang tentu pembaca juga mempunyai kekhasan masa lalu sendiri, yang tidak bisa sebegitu mudahnya kita lupakan, atau sengaja kita hapus. Begitu bila kita membaca buku, maka apa yang kita baca tidak akan mudah terhapus dari ingatan bila buku itu bermutu dan berkesan bagi kita.

Buku yang bermutu mulai aku kenal sewaktu SMP. Waktu itu, Bapak sering membeli Intisari secara eceran (bukan buku, lebih tepat disebut majalah). Majalah bulanan ini tidak sepopuler media lainnya, karena memiliki segmen pasar tersendiri. Majalah ini bisa dikatakan cukup lengkap, hampir mencakup segala bidang kehidupan, dan layak untuk dijadikan konsumsi keluarga. Dari sanalah aku sedikit mengenal tulisan-tulisan bermutu, meskipun membacanya hanya sambil lalu membaca bacaan sekolah.

Sewaktu SMU pun aku lebih banyak bergelut dengan buku-buku pelajaran dan buku persiapan UMPTN. Hampir tidak ada buku ringan atau bidang lain yang menjadi santapan jiwaku. Aku sempat menangkap akan pentingnya membaca buku ketika salah seorang rekanku, Dewantoro (kini kuliah di Akuntansi UGM angkatan 2002) mendebat guru sejarah tentang masalah tasawuf. Baru kali itu dalam sesi pelajaran sekolah ada perdebatan cukup panjang, belakangan aku tahu ia memang memahami salah satu buku karangan Hamka tentang tasawuf.

Perkawanan dengan Dewantoro membawaku ke dunia yang lain, dari sekuler ke Islam. Ajakan untuk aktif dalam diskusi pasca shalat Jumat yang dinamakan forum Islah Kerohanian Islam SMU, mengantarkanku pelan-pelan untuk mengenal Islam. Lewat bahan-bahan diskusi ringan, aku mulai membangun konstruksi ke-Islam-anku. Ada dua kubu yang masuk ke lingkungan masjid sekolah waktu itu, yang satu forum Islah (belakangan aku tahu bahwa itu liqo model salah satu pergerakan Islam asal Mesir) dan lainnya pesantren kilat model Jamaah Tabligh. Dari yang kedua ini aku mulai mendengar kajian tentang buku Fadhilah Amal, yang bahkan belum pernah kubaca buku tersebut hingga saat ini. Aku mulai berinisiatif membeli buku alternatif, yang berbau keislaman, seingatku buku yang pertama kubeli tentang Amal-amal Sorga dan Penduduk Sorga dan Neraka terbitan Rajawali Grafindo. Buku perdana yang tak pernah tuntas kubaca hingga saat ini.

Tradisi membacaku mulai terbangun lagi sejak kuliah. Aktif di organisasi intra kampus semacam Lembaga Dakwah Kampus dan pers mahasiswa, membuatku bertemu dengan sosok-sosok intelek muda yang mempunyai kapasitas intelektual yang jauh di atasku. Mereka dengan indahnya melontarkan masalah dan merunutkan pemikirannya, bahkan dengan mengutip kata-kata orang yang tak pernah aku kenal sebelumnya (akhir-akhir ini aku tahu bahwa yang dikutip tersebut adalah perkataan tokoh-tokoh intelektual), menuangkannya dalam tulisan, dan membahasakannya secara lisan dengan sistematis. Hal yang tidak bisa terbayangkan bisa kulakukan, hingga saat ini.

Perkenalan dengan organ pergerakan mahasiswa (ekstra kampus) memaksaku untuk membaca pula buku-buku sosial, filsafat, teknologi informasi, yang belum pernah kugeluti sebelumnya. Buku-buku ringan tentang Islam yang sebelumnya jadi referensiku ternyata tidak mampu memenuhi hasrat keingintahuanku. Dengan makin banyak membaca, makin menyadarkan betapa bodohnya aku. Betapa banyak hal yang aku tidak tahu dan sebelumnya lebih suka berasumsi untuk hal yang tidak kuketahui tersebut.

Dari sanalah, aku terpacu untuk mengejar intelek-intelek muda tersebut. Kalau mereka bisa, kenapa aku tidak. Aku mulai membeli buku dari sisa uang saku, untuk memenuhi hasrat membacaku. Lama-kelamaan, uang sakuku tergerus juga untuk membeli buku. Tak habis akal, aku sering berkunjung ke perpustakaan kampus untuk sekadar membaca dan meminjam buku. Memang, tak semuanya yang aku pinjam aku baca tuntas, terkadang buku tersebut hanya pindah tempat menginap. Dari buku yang tipis dan ringan sampai buku tebal dan berat yang tak pernah habis kubaca, pernah aku pinjam. Namun, semua yang kubaca seakan berlalu begitu saja. Secara tak sadar aku hanya membuang waktu dan menganggap semua yang kulakukan itu sia-sia.


Sensasi Membaca Buku

Namun, membaca buku tetap menawarkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itu dalam hal kepuasan. Kepuasan yang tidak bisa terbeli oleh kenikmatan inderawi, karena yang terpuaskan adalah segi psikis seseorang. Kelaparan perut seseorang dapat teratasi dengan makanan dan minuman, namun kelaparan batin seseorang tidak akan terpuaskan sebelum memaknai sebuah buku yang dibacanya. Membaca buku akan memajalkan akal dan memanjangkan imajinasi seseorang. Sehingga banyak karya lain (buku, lagu, dan lainnya ) yang terinspirasi dari buku, tidak bisa memuaskan penikmat karyanya, yang memaksa keingin tahuannya untuk mendalami buku yang menginspirasi tersebut. Begitu dalamnya manfaat yang diperoleh, sehingga buku menempati posisi yang cukup tinggi dalam prioritas hidup seseorang. Bukan makanan, bukan pakaian, bukan pula televisi, radio (lagu), komputer, apalagi film bioskop. Kepuasan yang tidak ternilai dari membaca karya tulis dalam bentuk buku, mengantar seseorang untuk menjadi perenung. Perenung yang asyik membaca, terlena oleh apa yang dibaca. Dan ketika terlena maka seseorang itu menjadi mabuk dan lupa sekitarnya.

Selamat menenggak ‘ecstasy’ intelektual!


17 Desember 2005

PECINTA SEPAKBOLA

Olahraga sudah menjadi bagian hidup manusia, karena orang yang rajin berolahraga maka ia tidak akan mudah terserang penyakit. Ada beragam jenis olahraga yang bisa dilakukan agar badannya selalu sehat. Dengan tujuan untuk menambah peminat dan memotivasi orang untuk menekuni olahraga, maka biasanya diadakan pertandingan olahraga. Jenis-jenis olahraga tersebut biasanya dipertandingakan dalam bentuk cabang olahraga. Salah satu cabang terpopuler dalam dunia olahraga adalah sepakbola. Cabang olahraga ini tercatat dengan peminat terbanyak di dunia baik itu dari segi peserta, penonton, maupun kuantitas pertandingannya, dibandingkan dengan cabang olahraga lainnya.
Jikalau membicarakan cabang olahraga sepakbola, maka pasti ada kutub yang menjadi pusat dari perkembangan cabang olah raga ini. Benua Eropa merupakan kiblat acuan persepakbolaan dunia. Hal ini karena di benua Eropa banyak bercokol pemain-pemain sepakbola berkelas dunia. Di benua Eropa, pemain sepakbola dapat bertanding dalam atmosfer kompetisi paling keras dan berbobot sedunia. Pemain sepakbola yang bertanding di sana adalah pemain yang berkualitas tinggi dengan skill individu, fisik, dan team work yang di atas rata-rata. Dapat merumput (bertanding) di daratan Eropa merupakan impian bagi seluruh pemain sepakbola yang ada di benua lainnya.
Liputan tentang pertandingan di Liga Eropa, mulai dari Liga Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, Perancis, dan lainnya hampir bisa kita saksikan setiap hari di televisi. Penayangan tersebut meliputi pertandingan secara langsung, prediksi pertandingan, ulasan pertandingan, maupun sekadar kuis. Ada banyak ajang pertandingan pula yang digelar, mulai dari liga domestik, liga Champions (antar klub antar negara), Piala Toyota (antar klub antar benua), hingga Piala Dunia (antar negara sedunia).
Media televisi pun tak segan untuk meluangkan waktu prime time acaranya untuk menayangkan pertandingan live (siaran langsung) sepakbola. Hal ini dikarenakan besarnya animo masyarakat Indonesia, selaku penonton televisi, untuk menyaksikan pertandingan sepakbola. Media televisi akan diuntungkan dengan pemasukan spot iklan yang didapat dan peningkatan jumlah rating pemirsa stasiun televisi yang dimilikinya. Kita dapat menyaksikan pertandingan sepakbola pada malam Minggu sampai dini hari, Minggu sore, Rabu dan Kamis dini hari, dan waktu-waktu lainnya. Seakan jikalau kita bisa hidup dalam sepekan dengan menonton televisi, maka tayangan pertandingan sepakbolalah yang akan menghiasi tontonan kita.
Sepakbola memang telah menjadi bagian hidup publik pecinta sepakbola, baik itu cuma sebagai penonton, pelatih, pemain, atau tidak menjadi apapun. Cabang olahraga ini memang didominasi oleh kaum pria, namun jangan salah, tidak sedikit kaum perempuan yang gandrung untuk menonton pertandingan sepakbola. Laki-laki yang suka menonton pertandingan sepakbola biasanya mengidentikkan dirinya dengan salah satu pemain bintang yang ada di salah satu klub besar dunia. Identifikasi ini mulai dari pakaian, gestur tubuh, sampai tatanan rambut. Meski ada segi positifnya juga ketika laki-laki ini juga suka bermain sepakbola, maka ia dapat meniru/ belajar dari aksi-aksi individu dari sang pemain bintang idolanya. Sedangkan bagi kaum Hawa, tontonan sepakbola lebih merupakan sarana hiburan. Dan sudah menjadi rahasia umum, bahwa ketertarikan mereka untuk menonton pertandingan lebih kepada ketertarikan kepada lawan jenis. Karena disamping berbakat, sebagian besar pemain sepakbola berkelas dunia memang menarik secara fisik. Tidak heran apabila kaum Hawa pun mengenal sebagian besar pemain sepakbola, terutama yang mempunyai penampilan menarik. Ketertarikan ini juga apabila laki-laki pujaan hatinya juga suka bermain sepakbola, yang tentunya mengidentikkan diri dengan salah satu pemain sepakbola dunia yang ada.
Pecinta sepakbola memang tidak memperdulikan gender, laki-laki ataupun perempuan. Ketika telah tiba saatnya pertandingan, maka seluruh penonton baik itu yang menonton langsung di lapangan pertandingan maupun yang melalui layar televisi, akan hanyut dalam atmosfer pertandingan tersebut. Pecinta sepakbola akan melakukan segalanya untuk sepakbola. Mereka rela menghamburkan uang untuk membeli kaus tim, karcis pertandingan, hiasan dan merchandise ala klub idolanya. Yang dicari adalah kepuasan ketika bisa larut bersama dalam satu rasa menyimak pertandingan sepakbola. Kepuasan tidak selalu ada karena dalam setiap pertandingan ketika ada yang menang, maka ada pula pihak yang kalah. Pihak yang menang bisa dipastikan akan berpesta pora merayakan kemenangan. Namun lain halnya dengan pihak yang kalah, mereka akan larut dalam kesedihan bahkan bisa berujung pada ketidak dewasaan sikap dengan melakukan tindakan anarkis terhadap pihak yang merayakan kemenangan tadi. Hal ini merupakan contoh sikap emosi yang berlebihan dari pecinta sepakbola. Tidak jarang kesedihan dari pihak yang kalah tersebut sampai berhari-hari tanpa bisa terobati sebelum timnya meraih kemenangan.
Di sini akan timbul masalah, manakala porsi untuk menonton pertandingan sepakbola ini menjadi berlebihan. Keinginan untuk menyimak pertandingan ini seringkali menyebabkan penonton menunda waktu untuk beribadah, bahkan kalau perlu meninggalkannya. Hal ini disebabkan karena penonton tidak mau kehilangan satu momen berharga pun. Sehingga semua hal selain tayangan pertandingan ini dinomorduakan, bahkan kebutuhan akan Tuhanpun dihilangkan. Memang pantas jikalau salah satu aliran fundamentalis di Indonesia sampai mengeluarkan fatwa yang mengharamkan umat untuk menyimak pertandingan ini, dikarenakan terjadinya pendangkalan aqidah karena mengajak penontonnya untuk malas beribadah. Fatwa yang dikeluarkan karena kondisi kontemporer telah sedemikian akut bagi permasalahan bangsa Indonesia.
Dari permasalahan ini, hendaknya kita bisa lebih produktif untuk menggunakan sisa hidup kita. Kita pun dapat lebih selektif untuk memilih hiburan, khususnya pertandingan sepakbola. Kita masih bisa mempergunakan waktu kita untuk hal produktif lainnya seperti membaca, menulis, berkarya, beribadah, bekerja, dan sebagainya. Semua itu dalam rangka agar tidak terjebak pada kungkungan aktivitas keseharian yang monoton, yakni menonton pertandingan televisi. Dengan menyadari hal itu pula, perlahan kita akan terlepas dari jeratan perang pemikiran yang dilancarkan oleh kaum Barat melalui musik, olahraga, seks, dan budaya. Perang pemikiran yang menjadikan orang yang terjajah secara mental tersebut tidak sadar dan menikmati dirinya menjadi konsumen dan budak orang Barat.

12 Desember 2005

CERDAS FINANSIAL: PENDIDIKAN YANG TERLUPA

Krisis ekonomi telah melanda Indonesia lebih dari sewindu dan bangsa ini belum juga menunjukkan tanda-tanda kebangkitannya dari krisis. Krisis ekonomi ini berimbas pula pada bangkrutnya perusahaan-perusahaan lokal yang memaksanya melakukan pengurangan pegawai. Pengurangan pegawai ini membawa dampak bagi meningkatnya jumlah pengangguran. Hal ini menimbulkan persoalan ekonomi baru yang terkait pula dengan masalah sosial politik yang juga tak kunjung menemui jalan keluar.

Problematika ekonomi ini memaksa beberapa orang untuk memulai wirausaha dalam mengatasi kesulitannya memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Keterpaksaan ini di satu sisi menumbuhkan kesadaran pada khalayak yang lain akan pentingnya wirausaha sebagai salah satu entitas perekonomian suatu bangsa.

Kewirausahaan merupakan sikap mental yang akan mendorong seseorang secara cerdas mengelola keuangannya untuk berbisnis. Kecerdasan pengelolaan keuangan yang berguna untuk pencapaian kesejahteraan finansial ini lazim disebut Kecerdasan Finansial. Kecerdasan Finansial dibutuhkan manakala seseorang menghadapi dua permasalahan yakni: kekurangan uang dan kelebihan uang. Jika kekurangan uang, orang akan melakukan hal apa saja untuk mendapatkan uang, apalagi jika dalam keadaan terpaksa. Kelebihan uang juga tidak menjamin tiadanya masalah, karena pemilik uang ini tidak bisa bahagia karena selalu cemas akan keberadaan uangnya, sehingga pada akhirnya uangnya tidak bisa membeli kebahagiaan. Orang yang mempunyai kecerdasan finansial yang tinggi tidak akan hidup dikendalikan oleh uang, justru merekalah yang mengendalikan uang tersebut guna memenuhi kebutuhan hakikinya: yakni kebahagiaan.

Kecerdasan finansial seseorang memiliki tingkatan, dimana bila digunakan skala maka akan ada range antara ketergantungan, kemandirian, sampai kesaling tergantungan. Ketika seseorang belum/ tidak memiliki kecerdasan finansial maka yang ada pada dirinya adalah ketergantungan, dimana segala kebutuhannya belum dapat dipenuhi secara mandiri. Seiring bertambahnya waktu, seseorang tersebut belajar dan memiliki banyak keterampilan. Dengan begitu ia akan menghasilkan sesuatu yang dapat mengurangi ketergantungannya kepada orang lain

Seseorang yang menjalani kehidupan dengan wawasan dan pergaulan yang luas lalu mengembangkan kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu lewat berwirausaha, akan mencapai tingkat kemandirian. Kemandirian di sini ketika orang tersebut mampu memenuhi kebutuhan finansialnya tanpa tergantung pada orang lain. Kemudian setelah mencapai taraf kemandirian, seseorang akan menciptakan kesaling tergantungan dengan orang lain. Di sinilah orang akan mencapai tahap interdepensi, tahapan ini tidak akan mungkin diraih ketika seseorang belum mencapai tingkat kemandirian.

Kecerdasan finansial bukanlah semata-mata kerja teknis pengelolaan keuangan, namun ada prinsip-prinsip yang perlu dimaknai dan diamalkan. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya adalah uang bukanlah alat, tujuan mencari uang adalah kebahagiaan, bercita-citalah menjadi orang kaya, perjelas visi masa depan, bersyukur, dan memahami opportunity cost.

Uang harus dipahami sebagai alat, bukannya tujuan. Karena dengan begitu orang akan terpacu untuk mencari cara agar dengan uang yang ada dapat mencapai tujuan dan meraih kebahagiaan. Kebahagiaan hendaknya ditumbuhkan dengan keadaan finansial yang seperti apapun. Karena bagaimanapun tujuan orang mencari uang adalah mencari kebahagiaan. Sehingga jika dalam proses mencari uang sendiri sudah membahagiakan, maka tujuan tidak akan sulit untuk dicapai.

Orang yang memiliki uang yang banyak biasa disebut orang kaya, maka bercita-citalah menjadi orang kaya. Orang kaya memiliki potensi yang lebih besar untuk melakukan amalan dibandingkan orang miskin untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. untuk kehidupan dunia dan akhiratnya.

Tujuan mencari uang adalah meraih kebahagiaan. Visi masa depan ini harus diperjelas bahkan secara detail agar dapat mempengaruhi alam bawah sadar dan memotivasi untuk mencapai tujuan tersebut.

Dalam mencapai tujuan tersebut, seringkali kegagalan melanda. Kegagalan itu bisa berupa hutang yang menumpuk, bisnis yang macet, dan lainnya yang akan menyeretnya pada situasi dan kondisi stress. Pada saat ini, hendaklah seseorang itu bersyukur atas apa yang telah dicapai hingga saat ini dan betap banyaknya karunia Tuhan yang telah diberikan.

Memahami opportunity cost juga merupakan prinsip dari kecerdasan finansial. Dengan memahaminya, maka seseorang akan mempertimbangkan seluruh kemungkinan keuntungan dan risikonya dari beragam pilihan terkait dengan penggunaan uang. Di samping itu, pemahaman tentang opportunity cost akan mendorong seseorang untuk bijak dalam mengelola aset dan keuangannya.

Dunia pendidikan kita, baik itu sekolah, keluarga, maupun masyarakat tidak memberikan praktek berekonomi pada generasi muda. Pendidikan berekonomi berarti mendidik tentang uang. Generasi muda akan terampil untuk mengelola keuangannya dengan menyusun tidak hanya sebatas aliran kas saja (keluar-masuk), namun sampai pada laporan rugi-laba dan neraca. Di samping itu, generasi muda akan mempergunakan uang tersebut untuk hal-hal yang produktif seperti memulai usaha atau mengembangkan bisnis yang telah dimiliki. Dengan demikian, generasi muda akan belajar meningkatkan kecerdasan finansialnya dengan melibatkan pula kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, bahkan fisiknya.

Wednesday, January 11, 2006

MENJADI TERORIS: SIAPA TAKUT ?

Berita terhangat mengabarkan bahwa terjadi penggerebekan terhadap tempat persembunyian teroris yang berada di Batu, Malang, Jawa Timur. Tidak hanya itu, polisi juga melakukan penangkapan terhadap anak buah jaringan teroris tersebut salah satunya di Semarang, Jawa Tengah (beberapa lokasi penangkapan hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah penulis). Kinerja kepolisian yang cukup membanggakan, saya kira, mengingat telah lama jaringan ini melakukan gerakannya dan meresahkan masyarakat. Di sini ada sedikit harapan terhadap citra profesionalisme polisi yang perlahan mulai membaik. Namun penulis tidak hendak memperbincangkan perihal polisi sebagai pengayom masyarakat, apalagi dalam konteks ini, sebagai lawan tanding terorisme. Penulis mencoba melihat terorisme dalam sebuah perspektif riwayat pelaku dan mendasarkan kita pada keputusan untuk menjadi teroris.
Terorisme memang menjadi kata yang tidak asing dalam telinga kita karena dimulai meletusnya peristiwa 911 (tragedi 9 September 2001). Aksi bunuh diri dengan menabrakkan pesawat terbang ke gedung World Trade Center, Amerika Serikat (AS), memang melambungkan kata terorisme, meski peristiwa itu sendiri sarat pula dengan keganjilan dan kontroversi. Pasca peristiwa itu, terorisme kelas dunia dialamatkan pada organisasi tingkat dunia Jamah Islamiyah yang dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab. Adapun individu yang sampai saat ini masih terus dikejar oleh pihak AS adalah Osamah bin Laden karena dianggap turut bermain dalam peristiwa tersebut. Isu terorisme ini pun menggiatkan Amerika untuk melakukan propaganda melawan terorisme ke seluruh negara di dunia, dengan alternatif bersama dengan Amerika melawan terorisme atau dicap teroris.
Dalam konteks Indonesia, bom Bali yang mengguncangkan dunia itu menunjukkan bahwa terorisme berakar kuat di bumi pertiwi ini. Bom Bali ini memang menunjukkan bahwa teroris berhasil melakukan sensasi ‘bom jihad’ dengan menewaskan ratusan orang. Lalu, Amerika melakukan intervensi terhadap unit kepolisian dengan pelatihan anti terorisme. Di satu sisi hal ini memang baik untuk peningkatan profesionalisme polisi, namun di sisi lain peran vital Amerika tentulah punya kepentingan untuk dirinya sendiri dalam dinamika bangsa Indonesia.
Aksi terorisme di tanah air (Bom Bali tahun 2002, bom malam Natal, JW Marriot, bahkan yang terbaru Bom Bali 2) memang menyisakan tragedi dan catatan hitam bagi sejarah bangsa Indonesia. Dari peristiwa tersebut, polisi melakukan pengejaran terhadap pelaku teroris dan penyebarluasan informasi penangkapan pelaku tersebut kepada masyarakat dengan iming-iming hadiah ratusan juta rupiah. Yang cukup menarik dari penangkapan teroris ini adalah di rumah beberapa pelaku teroris ditemukan referensi buku-buku Islam, disamping referensi meracik senjata dan bom. Dari sisi penampilan, tidaklah asing bahwa pelaku teroris yang dijadikan tersangka ini ‘berwajah Islami’. Liputan terhadap beberapa riwayat pendidikan anak buah teroris ini menyatakan bahwa pribadi ini adalah orang yang prestasi akademiknya biasa-biasa saja di sekolah (rata-rata SMP dan SMA-nya), kalem, pendiam dan tidak menandakan sifat cikal bakal teroris. Individu tersebut juga jarang atau bahkan tidak aktif dalam ekstra kurikuler ataupun organisasi sekolah, kecuali diwajibkan oleh pihak sekolah, semisal Pramuka.
Memang kita bisa beralasan bahwa pasca sekolah semuanya bisa berubah, apalagi dalam kurun waktu yang cukup lama. Namun yang jadi sedikit menarik di sini adalah pribadi pendiam di sekolah ini memang memiliki potensi (bakat terpendam) untuk menjadi teroris dibandingkan rekannnya yang aktif atau bahkan hiperaktif. Atau mungkin pribadi aktif telah melampaui fase aktualisasi diri (penulis mulai mendalami teori hierarki Maslow terbalik dimana aktualisasi diri merupakan kebutuhan dasar bukannya kebutuhan biologis, sesuai pengakuan terakhir di majalah pesawat Garuda) sehingga pasca sekolah tidak lagi membutuhkan penonjolan diri lewat keaktifannya (penulis berkaca pada teman-teman sekolah dahulu yang menunjukkan hal senada). Bisa jadi metode perekrutan jaringan teroris juga melihat ‘ceruk pasar’ ini (bila dilihat dari perspektif pemasaran, perekrut melakukan segmentasi) dengan memanfaatkan potensi terpendam dari individu pendiam ini.
Nada miring lainnya timbul dari referensi yang dibaca oleh pelaku teroris ini, sangat berbau Islami. Beberapa rekan penulis yang cukup awam dalam pemahaman agama langsung men-stereotipe-kan pribadi yang suka mendalami agama sebagai calon teroris, meski dengan nada bercanda. Dalam arti ada pemahaman yang berbeda (kalau tidak bisa dikatakan salah) tentang pemaknaan ajaran Islam, yang dimaknai secara sepotong, berjihad dengan Islam namun melupakan bahwa Islam juga cinta damai. Pemahaman awam terhadap agama pun dengan mudahnya akan melakukan generalisasi terhadap individu yang terkait dengan Islam (baik buku referensi, kegiatan, dan perilaku) dengan terorisme. Sungguh menjadi sebuah tantangan untuk ber-Islam secara benar yang tidak mudah untuk dihadapi. Apalagi sebagai orang yang sedikit lebih tahu tentang agama, ada tugas dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang kita emban.
Dari sisi lain, riwayat pendidikan pelaku teroris ini biasa-biasa saja, yang cukup istimewa adalah gembong terorisnya, yakni Dr. Azahari. Beliau memang kompeten di bidangnya. Yang jadi anekdot lagi adalah pendidikan yang kita enyam tinggi sampai bertitel sederet itu hanya menyeret kita pada pilihan menjadi ateis atau teroris. Pilihan yang sama tidak bijaknya karena integrasi ilmu dan agama belum juga menemukan titik terangnya, apalagi dengan kompleksitas keilmuan yang makin meluas. Berkebalikan dengan si gembong teroris, anak buah teroris tidak menunjukkan prestasi istimewa di kelasnya, tidak pernah ikut kejuaraan, penelitian maupun organisasi. Pendek kata, pelajar biasa-biasa saja. Mungkin pembaca yang mempunyai track record istimewa dalam riwayat pendidikan diantaranya pernah ikut event, penelitian, ataupun organisasi bisa bernafas lega karena peluang untuk direkrut menjadi anak buah teroris semakin kecil, namun semakin besar untuk menjadi otak teroris itu sendiri.
Yang jadi menarik dan menantang bagi aktivis dakwah Islam pada umumnya dan pegiat dakwah kampus (aktivis organisasi Islam intra dan ekstra kampus) pada khususnya adalah cap teroris yang akan melekat pada setiap aktivitas diskusi dan kegiatan keIslaman, apalagi yang bernada membakar semangat jihad. Hal ini mengingat, terlepas dari benar-salahnya, bahwa paham Islam yang beredar di Indonesia ialah paham Sunni yang lebih cinta damai dan adem-ayem, berbeda dengan di Iran yang mayoritas paham Syiah sehingga bisa lahir Revolusi Islam Iran. Ataupun kita bisa belajar dari rezim Taliban di Afghanistan yang sangat otoriter menerapkan syariat Islam dengan semangat jihad yang perlu diacungi jempol. Atau dari gerilyawan muslim Palestina dengan bom syahidnya atas kesewenang-wenangan Israel. Mahasiswa muslim pada umumnya ataupun aktivis mahasiswa muslim pada khususnya akan alergi terhadap Islam oleh karena stereotipe tersebut. Tentunya dakwah Islam akan semakin berat dan perlu pendekatan yang berbeda.
Jikalau pembaca sekalian adalah orang yang biasa-biasa saja selama ini, baik itu dalam kehidupan maupun pendidikan, jadilah seorang teroris. Teroris akan menawarkan sensasi pubilisitas yang setara dengan selebritis, meski hanya temporer. Teroris mungkin menawarkan tiket masuk surga dengan mati syahid membunuh sekian ratus orang kafir, tentunya dengan perspektifnya sendiri. Teroris pun akan mencubit dari tidurnya Umat Islam ‘Sang Raksasa Tidur’ akan kebangkitan Islam yang harus segera disongsong (meski secara teori kurun waktu 7 abad kejayaan bangsa/ peradaban di dunia, maka hal itu menurut penulis masih lama sekali). Pendek kata, teroris akan menawarkan kehidupan yang berbeda daripada manusia pada umumnya, jika Anda penikmat hal-hal yang berbeda.
Yang jelas, bagi penulis, menjadi teroris adalah pilihan. Pilihan terakhir, kalau bisa, atas kefrustasian akan kesewenangan orang kafir terhadap Islam, penindasan dan eksploitasi orang kafir, dan peliknya persoalan yang dihadapi umat Islam. Namun ini merupakan jalan orang yang bisa jadi putus asa untuk menempuh jalur rasional dan mengandalkan perang emosional. Generasi yang terdidik secara baik tentunya akan berpikir seribu kali untuk menjadi teroris, karena jihad yang dipahaminya tidak harus lewat bom syahid atau dengan kekerasan. Jihad generasi terdidik bisa lewat pena, dalam hal ini karya-karya intelektualnya, yang akan melakukan budaya tanding dan perang pemikiran terhadap dominasi orang kafir. Pilihan ini tidak mengindikasikan bodoh tidaknya seseorang, namun dikembalikan kepada hati nurani masing-masing, karena hidup adalah sebuah pilihan. Dan kita tetap harus memilih. Memilih siapa atau menjadi siapa, itu menjadi keputusan kita. Sekian.

HATI – HATI, ADA TINDAK KRIMINAL BERBASIS FRIENDSTER!

Friendster merupakan jaringan komunitas berbasis dunia maya dimana dari jaringan ini kita bisa menemukan teman yang kita kenal maupun yang telah lama tidak pernah kita jumpai. Kita bahkan dapat mencari teman baru yang kita ingini. Teman yang dapat kita lacak melalui penelusuran site ini dengan menggunakan kata kunci, misal: nama, usia, hobi, organisasi, dan lain-lain. Ide yang sangat manusiawi dan telah berjasa terhadap kurang lebih 20 juta anggotanya, dimana masing-masing anggota ini bisa menjalin jejaring dengan teman-temannya.
Niat baik dan sungguh mulia dari suatu ide besar pendiri Friendster ini memang menjadi sebuah fenomena. Namun, apa mau dikata, pisau itu bermata dua, di satu sisi ada yang memanfaatkan untuk kebaikan, ada segelintir yang memanfaatkan untuk melancarkan niat jahatnya. Niat jahat yang terwujud dalam hal semisal penipuan, pencurian, dan tindak kriminal lainnya. Penulis hanya mencoba membagi pengalaman bahwa disamping memperoleh manfaat yang tak begitu terkira nilainya dari Friendster ini, di saat lain juga menjadi korban tindak kriminal yang berbasis pada Friendster.
Pertama, perkenalkan nama saya Luqman Satriya Siambodo. Saya adalah mahasiswa asal Semarang yang kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Saat ini saya masih giat di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Seperti layaknya mahasiswa perantauan lainnya, maka saya pun menempati kost-kostan sebagai ‘rumah kedua’. Saya baru saja menempati kost baru (sekitar 2,5 bulan). Kos-kostan saya ini dihuni oleh beberapa mahasiswa UGM dengan variasi disiplin ilmu yang cukup beragam, saya pun sebagai salah satu dari beberapa penghuni baru di sana bisa dikatakan paling akrab dengan penghuni lama, seakan sudah bertahun-tahun menghuni di sana. Kalau mau didefinisikan, tempat hunian saya merupakan kost yang (hampir) sangat liberal. Kebebasan ini didasari oleh tidak adanya induk semang (pemilik kost-kostan) yang tinggal di lokasi hunian kami. Aktivitas ini tampak pada bermain game (Play Station) sepuasnya, merokok, bawa teman wanita (pacar) ke kamar, mabuk, bahkan nonton film 17 tahun ke atas. Alhamdulillah sampai saat ini saya tidak terpengaruh sedikit pun akan aktivitas tersebut dengan tetap menjaga hubungan baik seraya memberitahu tanpa harus tampak sok menasehati.
Aktivitas membawa teman ke kamar kost inilah yang menjadi kunci permasalahan sampai jatuhnya saya menjadi korban tindak kriminal. Kamis, 17 November 2005, saya baru tiba di Jogja. Seorang rekan kost, sebut saja B, meminjam handphone flexi saya untuk menghubungi rekan wanitanya yang berasal dari kota P. Rekannya ini dia kenal lewat friendster, yang mengaku mau main ke Jogja dan hendak menginap di kost B. B pada mulanya menolak halus dan diminta untuk disanggupi saja oleh W, teman kost saya lainnya, dengan jaminan agar menginap di kamar W saja. Di kost kami, karena saking akrab dan percayanya, kami bebas untuk main dan tidur di kamar mana saja dan kapan saja.
Sore harinya, tibalah wanita, sebut saja L, di kost kami. Sebagai laki-laki normal, kami memang tidak tertarik secara fisik terhadap L. L mengatakan bahwa rekannya, sebut saja R, akan datang keesokan harinya. Saya sebagai pribadi memang cuek terhadap kedatangan L, tidak saling kenal dan bahkan sapa. Saya menganggap ini teman W dan B, cukuplah kalau saya butuh dengannya saya akan hubungi W dan B, begitu pikirku. Dengan begitu, saya termasuk asing baginya. W sempat menemani sambil mengobrol di kamar cukup lama, saya tidak tahu menahu apa yang dibicarakan, yang jelas percakapan orang baru kenal pada umumnya.
Jumat pagi, 18 November 2005, rekan wanita L, si R, datang. R ini juga kurang menarik secara fisik, sehingga yang banyak berinteraksi hanya W dan B. Dia datang bersama pria, sebut saja A, yang juga tidak jelas asal-usulnya, karena perkenalan yang singkat yang cuma saya dengar dari kamar. Karena saya memang tidak mau merecoki teman orang lain, apalagi sok kenal. Dua wanita ini akhirnya ‘ditempatkan’ di kamar W selama dua hari, sementara si A pulang ke kostnya. Yang sering berinteraksi dengan keduanya hanya W dan B, sedang saya dan teman lainnya menjaga jarak. Yang jelas, sepanjang pengetahuan saya, tidak ada ‘tindakan yang tidak diinginkan’ yang terjadi selama mereka menginap. Saya tahu itu karena W juga sudah punya pacar W tipikal setia, sedangkan B hanyalah seorang yang lugu dan polos.
Sabtu, 19 November 2005, B dan W mulai jengah dengan keberadaan L dan R. Di samping tidak nyaman untuk beraktivitas di kost, juga tidak nyaman dengan tetangga sekitar. B mengeluh ketika kami sedang beli sarapan nasi kuning, bahkan B hendak pergi ke kota K. Menurut B, ketika B pergi ke kota K, dan W pun akan pergi ke kota S, maka kedua wanita itu akan segera pergi. Ternyata siang harinya, B tidak jelas kabarnya dan sewaktu dihubungi sudah berada di kota K, W sudah memberitahu kedua wanita itu bahwa W akan pergi ke kota S. Kedua wanita itu malah mempersilahkan dengan beralasan bahwa mereka di kamar W saja menunggu kepulangan W hari Minggu. Namun, pacar W, yang berasal dari luar kota, hendak datang ke kost hari Minggu pagi. Maka, tertundalah niat W untuk pulang ke kota S.
Minggu, 20 November 2005, hari ini saya ada agenda dengan IMM dari mulai Syawalan IMM UNY, Pameran Buku, bertemu Bang Arief S 3 Jepang (moderator mailing list muhammadiyah society), dan bertemu Bapak Yunahar Ilyas (Ketua PP Muhammadiyah). Agenda ini pada awalnya tidak terencana dan saya berencana meninggalkan kamar kost hingga sore hari. Namun, W meminta untuk meminjam kamar saya untuk menempatkan kedua wanita itu sembari pacarnya datang. Karena telah lama mengenal W, saya percaya dan menyerahkan sepenuhnya kamar berikut kuncinya. Ketika saya tinggal beraktivitas dengan agenda saya, terjadilah semuanya.
Kedua wanita itu menempati kamar saya, bahkan sempat meminjam handphone W untuk ber-SMS ria gratisan (waktu itu ada operator seluler yang bisa berkirim SMS gratis). Entah apa yang dilakukan dalam kamar, karena rekan kost saya yang lain pun tidak pernah merecoki bila temannya memang butuh ‘privacy’. Saya baru pulang ke kost jam 9 malam, B ternyata telah tiba dari kota K, dan kedua wanita itu telah pergi. Saya pun menuju kamar untuk beristirahat sembari melihat-lihat koleksi buku saya. Ternyata uang sebesar 400 ribu rupiah yang hendak saya tabungkan Senin keesokan harinya, telah ‘berpindah tangan’. Saya telah mengecek ke lipatan-lipatan buku dan ternyata tidak ada (karena sebelum menabungkannya, saya biasa menaruhnya di dalamnya).
Dengan tetap tenang, saya menceritakan musibah ini kepada teman-teman kost, W, B, dan J (ketua kost). Ternyata, handphone W yang tadi dipinjamkan, juga telah ‘berpindah tangan’. W dan B baru saja pergi ke Wartel untuk menghubungi nomor seluler kedua wanita itu, tidak diangkat beberapa kali. Ketika handphone diangkat, teman saya berkomunikasi dengan kedua wanita itu dan mereka hanya memutar-mutar jawaban. Jelaslah sudah bahwa uang saya dan handphone W telah ‘berpindah tangan’ ke kedua wanita tersebut.
B sedikit emosi dan merasa bersalah atas musibah yang menimpa kami ini. B terus mencari cara untuk mengusut kedua wanita tersebut, namun kuat disinyalir bahwa data/ informasi yang diberikan kepadanya dan W, lewat Friendster maupun dialog, tidak benar. Sehingga, tidak ada gunanya terus-menerus memikirkannya. Saya sebagai pribadi ikhlas akan ‘kepindahan’ rezeki tersebut (meski dalam hati tidak rela karena ‘berpindah’ dengan cara tidak halal), dan hanya bisa menuliskan ini agar saudaraku yang lain tidak terkena nasib serupa, apalagi di tengah semangatnya aktif di Muhammadiyah. Saya tetap menghadapi musibah dengan kepala tegak, ceria (karena hidup hanya sekali, rezeki bisa dicari lagi), berpikir positif (bisa jadi Allah memberikan hikmah kepada saya untuk segera mencari maisyah/ penghasilan, karena sudah waktunya, dan tidak terus ‘mengemis’ pada orang tua).
Semoga pengalaman ini bisa berguna buat Saudaraku, yang beraktivitas di dunia maya (salah satunya Friendster dan mailing list), agar pengalaman serupa tidak terjadi pada rekan yang lain, baik itu yang aktif di dunia maya maupun yang belum aktif.

KADER IMM PTN: KOMUNITAS TERPINGGIRKAN ?

Memang tidaklah mengenakkan menjadi orang terpinggirkan, istilah kerennya kaum marginal. Tapi setidaknya itu salah satu alasan yang menghinggapi komunitas yang coba kita bangun lewat jaringan ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, ada kesamaan nasib dan sepenanggungan yang menjadi dasar pijakan bersama atas terbentuknya komunitas ini. Komunitas ini memang digagas oleh angkatan senior muda IMM (untuk angkatan 99 ke atas) yang kemudian diramaikan oleh rekanannya dan kader yunior untuk memperkaya wawasan serta jaringan yang hendak dirintis. Komunitas yang pada awal pendiriannya memfokuskan pada perkaderan, di IMM PTN pada khususnya, lalu meluas membahas persoalan-persoalan kontemporer dari berbagai bidang karena makin beragamnya kader yang ikut urun rembug dengan berbagai latar belakang wawasan dan disiplin ilmu. Tentunya perkembangan ini menandakan hal positif bagi perkembangan kader IMM. Betapa tidak, jaringan yang dibangun lewat dunia maya ini (dimana tidak ada interaksi secara fisik) suatu ketika dapat saling mempertemukan dalam bentuk fisik di dunia nyata (seperti halnya Syawalan Kader IMM di Kudus yang juga penulis ikuti, beberapa waktu lalu).
Jaringan ini memang masih berusia dini, keaktifan anggotanya untuk terus menguatkan wacana dan aksi juga makin mengkristal. Perkembangan cepat ini tidak lain karena kemudahan komunikasi yang didukung oleh penguasaan terhadap teknologi informasi. Meski fasilitas ini menjadi barang mewah bagi sebagian besar rakyat Indonesia, tidak terkecuali kader IMM. Namun, dari pengamatan selama beberapa bulan penulis bergabung dalam jaringan ini, intensitas dan variasi dialektika intelektual yang ditawarkan cukup beragam. Bisa jadi kemampuan dialektika kader-kader IMM PTN tidak terwadahi dalam forum dunia nyata, atau tidak percaya diri, atau forum dunia maya ini hanya pelarian.
Penulis memang tidak berusaha memandang miring atas perkembangan positif yang sudah dicapai jaringan ini, apalagi dengan kemampuannya untuk melampaui koordinasi organisasi tingkat nasional. Namun penulis coba melihat perspektif lain mengingat bahwa anggota mailist ini terlalu banyak berwacana dan berdebat dalam tataran mailing list tanpa sebuah bukti nyata berupa aksi di lapangan, begitu ujar seorang kawan. Memang ini menjadi penyakit umum kader Muhammadiyah, tidak terkecuali kader IMM PTN, karena ketidakmampuannya untuk bergerak (mengaktualisasikan diri) dalam dunia nyata, maka hanya mampu bermain-main dengan pemikiran dan ide-ide tanpa aksi.
Ironi yang tampak memang seperti itu, ataukah karena memang mindset teman-teman IMM PTN berbeda dengan kader-kader IAIN/ PTM. Jikalau bisa dikatakan ada perbedaan, maka perbedaan itu memang tampak jelas, meski tidak bisa digeneralisir, karena kader IMM cenderung lugu (salah satunya beberapa tidak doyan merokok), kalem, lebih shalih secara penampakan, dan (maaf) kurang radikal. Individualitas yang sangat tinggi (dalam arti positif, perkembangan bakat dan potensi pribadi) juga tampak pada kader IMM PTN. Kader ada pula yang sangat aktif dalam organisasi lain dengan jaringan yang luas namun kader tersebut kurang mengakar pada komunitas IMM di wilayahnya. Sehingga, yang ada tidak lebih hanyalah pengakuan bahwa beliau adalah seorang kader IMM. Pengakuan yang tidak mengakar pada ideologi yang dianut, pola pikir, dan perilaku kader tersebut. Sehingga, kader ini sering terpinggirkan dalam aksi di lapangan dan lebih dominan pada forum-forum diskusi yang digelar oleh organisasi, sehingga mau tidak mau kader ini terasing dari komunitasnya secara internal.
Dalam kasus lain, ada kader yang tidak mengalami perkembangan cepat baik secara individu maupun organisasi. Beberapa kader minim prestasi individu dan pengalaman organisasi, yang menjadikan IMM di PTN ini sebagai lahan eksperimen perdananya. Tidak jarang pula kader ini adalah mahasiswa yang ‘tersingkir’ dari kampusnya oleh karena lamanya masa studi yang telah ditempuh atau ketidakcocokan organisasi internal kampus. Keragaman kader seperti ini haruslah bisa disikapi secara bijak dalam hal memahami perbedaan pengalaman dan pola pikir kader yang terkadang melahirkan ketidaksinkronan gerakan. Perbedaan ini haruslah bisa menjadi nilai tambah bagi organisasi baik dalam hal pemikiran maupun pola gerakannya.
Yang jelas, jaringan ini tidaklah hendak memfasilitasi kader untuk selalu ‘menikmati’ kegagalannya sebagai mahasiswa, ataupun keterpinggirannya dari peradaban kampus, atau bahkan keinginan untuk mencari jodoh (meski hal ini juga tidak bisa dipungkiri). Jaringan ini juga bukanlah kumpulan komunitas orang pintar yang arogan secara intelektual, karena memang secara ‘bahan mentah’ mahasiswa di PTN adalah orang-orang terpilih, baik secara intelektual akademik maupun secara kewilayahan. Statemen ini memang timbul manakala jaringan ini tumbuh dan melakukan eksklusifitas tersendiri dalam ranah Ikatan. Alasan yang matang tentunya bisa dilontarkan untuk membantah pernyataan tersebut.
Jaringan ini hendaklah memotivasi kader-kader di IMM PTN untuk tidak bangga untuk menjadi ‘warga kelas dua’. Berusalah untuk menjadi orang dan organisasi kelas satu (meski tidak harus nomor satu), baik itu dalam wilayah kampus, masyarakat, Ikatan, Persyarikatan, nusa dan bangsa. Perjuangan untuk menjadi komunitas yang tidak terpinggirkan ini butuh kerja keras dan doa yang tidak temporer. Kita harus bangga dan percaya diri terlebih dahulu bahwa memang kita akan menjadi tumpuan harapan baik itu dalam wilayah organisasi Muhammadiyah maupun dalam peran aktif kita membangun bangsa dan negara. Semua bermula dari kesadaran bahwa ada tekad kita untuk berhenti menjadi orang pinggiran.

18 November 2005

SILATURAHIM NASIONAL JIMM PTN: APA DAN MAU KE MANA ?

Jaringan yang terbentuk melalui dunia maya ini telah berjalan lebih dari setengah tahun, dengan keanggotaan yang bisa dikatakan lebih dari hitungan jari. Dari perkembangan yang cukup positif ini, ada inisiatif beberapa orang kader IMM aktivis mailist JIMM PTN (Jaringan IMM Perguruan Tinggi Negeri) yang bertemu di sela-sela Pengajian I’tikaf Ramadhan 1426 H lalu di Yogyakarta. Dari pertemuan itu, disamping terjalin ta’aruf dan silaturahim juga sempat membahas sedikit arahan ke depan JIMM PTN. Namun dari hasil rembug tentang perkaderan dan posisi IMM PTN sendiri, muncul kebutuhan untuk mendiskusikannya dalam skala lebih besar (forum kala itu hanya diikuti 5 – 8 kader). Pertemuan itu juga menyerahkan kepada pihak IMM PTN Jogja (dalam hal ini UGM dan UNY) untuk menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan event tersebut.
Dengan tidak menafikan hal yang telah kita bahas dalam berbagai pertemuan dan diskusi baik itu di dunia maya maupun nyata, maka dalam hal ini kami (dari Pimpinan Cabang Bulaksumur Karang Malang) masih memandang bahwa masih terlalu dini untuk menyelenggarakan event tingkat nasional seperti ini. Di sini kami memandang masih banyak hal yang perlu dicermati ataupun dikerjakan bersama-sama untuk penyelenggaraan event yang tidak asal jadi.
Pertama, masih minimnya akses kader IMM PTN terhadap teknologi informasi, tampak bahwa hanya segelintir dari yang sedikit kader yang turut serta dalam urun rembug tingkat nasional ini. Potensi yang besar akan kuantitas kader yang ada, meski minim, untuk lebih di-massif-kan agar jaringan ini disamping sebagai wahana untuk pencerdasan juga sebagai perkaderan non-formal bagi kader itu sendiri. Penggiatan pengenalan terhadap teknologi informasi (khususnya pengenalan internet dan fasilitasnya) dengan pendekatan praksis teknis diperlukan. Untuk melakukan hal ini butuh kerjasama seluruh pimpinan pada masing-masing wilayah terutama Bidang Kader dan IPTEK. Kekurangan sumber daya manusia maupun jaringan bisa ditempuh dengan mempergunakan pegiat Teknologi Informasi yang sudah ada (baik itu di IMM maupun dari luar) dan dengan PTM sekitar maupun para aktivis Muhammadiyah. Bentuk pelatihan ini tidak harus formal dalam ruang kelas berfasilitas internet lengkap, namun bisa pula lewat transfer of knowledge individu ke individu yang bersama-sama mengakses internet. Semoga hal ini dapat mengurangi kesenjangan yang terjadi antara kader IMM PTN yang sering mengakses internet dengan yang tidak.
Kedua, jaringan ini ‘tercium’ sebagai bentuk eksklusifitas kader IMM di PTN oleh pihak eksternal karena jaringan ini dipandang politis dan sarat kepentingan, meski kadang kita menjawabnya secara lugu seraya menanyakan bentuk riil kepentingan tersebut. Bahkan kabar terakhir untuk mewadahi keinginan kader IMM PTN untuk membentuk komunitas ini, maka dalam Forum Komunikasi Korkom PTM Nasional diusulkan untuk ikut melibatkan kader IMM di PTN. Ekslusifisme ini sedapat mungkin dihindari agar tidak menimbulkan kesenjangan di masing-masing wilayah dimana PTN ini berada. Sehingga jaringan ini bukannya hendak mengangkangi struktur hierarki yang telah ada, namun diusahakan untuk bersikap sebagai tawaran perkaderan alternatif.
Ketiga, pendefinisian terhadap keanggotaan mailist ini juga belum jelas, anggota berstatus mahasiswa PTN atau alumni PTN, dan yang dikategorikan PTN juga memasukkan IAIN/ UIN sebagai bagian di dalamnya, atau hanya PTN sekuler saja. Ini perlu definisi jelas dan tegas dahulu dari para pendiri jaringan mailist ini (karena penulis di sini hanya berwenang ‘mengompori’). Definisi yang jelas ini nantinya akan mempermudah inventarisasi, koordinasi dan silaturahim kader. Disamping itu semakin mudahnya kita dalam melakukan gerakan maupun interaksi di dunia nyata, kelak.
Keempat, pola perkaderan yang coba ditawarkan dari masing-masing wilayah IMM PTN masih dalam bentuk lisan mengakibatkan susahnya melakukan shearing informasi dalam bentuk tulisan yang dapat dimanfaatkan lebih baik daripada bentuk lisan. Format perkaderan dari masing-masing IMM PTN hendaknya ditawarkan dalam bentuk konsep abstrak maupun konkret baik itu strategi dan kerja riil yang sudah terlaksana sehingga kita bisa sama-sama belajar akan perkaderan yang ada di IMM PTN. Tawaran pola perkaderan baik itu formal (DAD) maupun non-formal (diskusi, pelatihan, perekrutan) merupakan bentuk kontribusi nyata yang bisa kita rembug bersama dalam mailist ataupun event-event tertentu, bisa pula dalam bentuk penafsiran dan gerakan kelima Bidang IMM tersebut. Kontribusi yang coba kita berikan, tidak hanya untuk IMM PTN, namun untuk IMM pada umumnya, dan lebih jauh lagi bagi Muhammadiyah.
Kelima, hubungan dengan Majelis Kader Muhammadiyah setempat juga perlu dibangun untuk menepis pandangan miring terhadap jaringan ini, sehingga memurnikan bahwa jaringan ini secara umum fokus pada perkaderan. Hubungan ini bisa berlanjut dalam mempermudah kinerja teknis baik secara organisasi maupun penyelenggaraan perkaderan formal itu sendiri.
Keenam, belum meratanya aktivis JIMM PTN di seluruh wilayah Indonesia, karena masih terpusat di Jawa dan Sumatera. Hal ini mendorong perlunya kerja keras dari kita untuk mencari informasi kader-kader IMM PTN yang belum teridentifikasi tersebut. Setidaknya hal ini juga mendorong pembenahan administrasi kader IMM agar proses pelacakan seperti ini dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Berkaca dari persoalan di atas, maka masih banyak hal yang perlu jadi Pekerjaan Rumah bagi aktivis JIMM PTN untuk lokalitasnya masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa tidak perlu terburu-buru untuk menyelenggarakan event berskala nasional, apalagi suasana politis yang cukup santer akhir-akhir ini menjelang berlangsungnya Muktamar IMM. Di samping itu, tidak serta merta IMM PTN Jogja memonopoli untuk menjadi tuan rumah karena itu masih terbuka peluang untuk IMM PTN wilayah lain. Namun kita pun tidak serta merta berdialektika akan event ini tanpa target waktu, karena hal itu akan kontra produktif terhadap perkembangan jaringan ini pada masa mendatang. Yang jelas bukan kami bermaksud untuk mengulur-ulur untuk sebuah kepentingan, namun sedikit meletupkan kesadaran bahwa masih ada hal yang perlu dipikirkan untuk kebaikan kita bersama. Perlu juga dipikirkan pasca event ini, karena akan ada tanggung jawab sosial, moral, dan intelektual yang tentunya tidak ringan.
Tulisan ini merupakan perspektif penulis terhadap hasil diskusi rutin Cabang BSKM Jum’at sore (tanggal 18 November 2005), adapun pemikiran dalam bentuk lain sebagai pembanding bisa dilontarkan oleh Immawan Taufiq UGM, Defi UGM, dan Asrofi UNY. Inipun tidak menutup kemungkinan bagi rekan-rekan aktivis JIMM PTN lainnya untuk bersama melakukan pengayaan atas apa yang telah kami bahas. Semoga tulisan ini bisa menjadi secercah pemikiran yang akan mencerahkan jalan kita ke depan dalam wadah JIMM PTN ini.

19 November 2005

BEDAH IDENTITAS IMM (Bagian 1)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah organisasi kader
yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan dan
kemahasiswaan dalam rangka mencapai tujuan
Muhammadiyah

Gambaran ideal tentang salah satu organisasi
pergerakan mahasiswa tergambar dalam definisi di atas.
Definisi yang tercatat dalam salah satu butir
Identitas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, menggambarkan
bentuk ideal yang diharapkan pada organisasi ini.
Bentuk ideal dengan final goal pencapaian tujuan
Muhammadiyah, yakni terwujudnya masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya, sebagaimana tercantum dalam Matan
Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah.
Organisasi Kader
Organisasi kader adalah tipikal organisasi yang diacu
oleh IMM, di mana kader merupakan aset ‘Sumber Daya
Manusia’ yang terpenting bagi organisasi ini, bahkan
menjadi elan vital-nya. Kader di sini bukanlah
dimaknai sebagai segerombolan massa, atau kumpulan
manusia yang bergabung dalam organisasi hanya sebatas
memenuhi tujuannya yang tidak bisa dipenuhi secara
pribadi. Kader adalah produk dari proses perkaderan,
baik secara formal melalui Darul Arqam, maupun melalui
perkaderan informal (penunjang) dengan variasi dan
kekhasan pada konteks lokal masing-masing. Dari sini
akan tampak bahwa kader berbeda dengan orang/ individu
pada umumnya, karena kader melalui proses transformasi
yang menjadikannya sebagai output dari proses
perkaderan formal. Kader menjalani proses
kaderisasinya secara formal maupun informal dalam
interaksinya dengan organisasi ini. Proses yang
menjadi bagian dalam perkaderan kader ini merupakan
aktivitas yang memberi nafas kehidupan bagi struktur
organisasi. Proses ini setidaknya meliputi beberapa
hal, yakni komunikasi, pengambilan keputusan, evaluasi
prestasi kerja, sosialisasi dan pengembangan karier.
Hal yang paling fundamental bagi kader dalam
interaksinya dengan Ikatan adalah komunikasi. Tentunya
sebagai makhluk yang hidup tidak sendiri di dunia ini,
maka komunikasi adalah salah satu syarat yang tidak
bisa ditinggalkan. Kemampuan kader untuk
mengungkapkan apa yang ada di pikiran, apa yang
dirasakan dalam bahasa lisan juga mengambil peran yang
tidak sedikit dalam proses perkaderan. Ketidak cocokan
dalam hal berkomunikasi, apalagi hanya karena beda
pola pikir dan cara pandang, merupakan bentuk
ketidakdewasaan dalam menghadapi perbedaan yang ada.
Betapa sering terhambatnya hubungan antar individu
maupun dalam konteks kinerja sebuah organisasi, hanya
pada masalah kurangnya komunikasi. Keahlian seorang
kader untuk berkomunikasi memang bukan sesuatu yang
‘turun dari langit’ namun terkait pula akan pengaruh
latar belakangnya dan bagaimana kader tersebut
berproses untuk mengatasi kekurangmampuannya dalam
berkomunikasi tersebut. Komunikasi (yang menjadi dasar
interaksi) hendaklah dijalankan secara terbuka dan
ekstensif, juga bersifat akurat dan tidak menimbulkan
distorsi (kesalahpahaman), bukannya dilakukan secara
tertutup dan terbatas, apalagi dipandang dengan penuh
rasa curiga.
Komunikasi ini penting dalam proses pengambilan
keputusan, dimana kader bebas mendiskusikan dan
meminta gagasan dan pendapat. Dengan begitu, hal ini
akan mendorong partisipasi kelompok dalam pengambilan
keputusan. Pengambilan keputusan ini juga hendaklah
berlangsung di semua tingkat organisasi melalui proses
kelompok yang terbentuk tadi. Realitas yang sering
terjadi, dalam kepemimpinan terdapat ketidak bebasan
untuk mendiskusikan, tidak adanya proses meminta
gagasan dan pendapat, yang mengakibatkan kepemimpinan
organisasi berjalan sendiri tanpa ada yang mengikuti.
Di lain hal, karena tidak adanya proses pelibatan ini
maka pengambilan keputusan hanya terjadi di tingkat
puncak. Hal ini menggambarkan proses pengambilan
keputusan yang tidak berjalan efektif dalam
organisasi.
Ketika keputusan yang telah diambil dilaksanakan
dalam bentuk kerja-kerja nyata (amal/ aksi), maka
perlu dilakukan evaluasi prestasi kerja yang telah
dicapai. Evaluasi ini penting untuk melakukan
pemberian motivasi dan kendali organisasi. Yang biasa
terjadi, kesalahan-kesalahan yang terjadi diperhalus
sebagai kekeliruan dan kealpaan manusia, lebih
beratnya lagi bila dilegalisasi oleh doktrin agama
(dalam hal ini kutipan ayat-ayat Kitab Suci). Maka
akan cocoklah ketidakprofesionalan yang terbungkus
rapi dalam jubah agama. Legalisasi ini didasarkan pada
perasaan takut secara individu dan sanksi (baik itu
abstrak maupun nyata) yang dicarikan jalan keluarnya
melalui ‘pencerahan agama’. Proses kendali ini
harusnya lebih menekankan pada pemecahan masalah
tersebut (jika belum terselesaikan dan cenderung
bertambah akut) dan pengendalian diri sendiri atas
kesalahan dan kekeliruan yang pernah dilakukan, karena
seorang muslim yang baik tidak akan terperosok dalam
lubang yang sama untuk kedua kalinya. Evaluasi ini pun
didukung oleh pemberian motivasi secara partisipasi
kelompok, dengan kesalingtergantungan (yang diawali
dulu dengan kemandirian) antar kader.
Ketika ada proses evaluasi ini, maka setidaknya ada
pula proses sosialisasi dan pengembangan karier kader.
Sosialisasi dan pengembangan karier di sini dalam
rangka mendukung keikhlasannya berjuang dalam
Persyarikatan (dalam ortom IMM pada khususnya), Umat
dan Bangsa. Sering terjadi, kader mengalami
kebingungan dan kegamangan dalam menjalani kehidupan
pasca kuliah, pasca-IMM, yang menjadikan tidak
sinergis dan efektifnya amanah yang diembannya di IMM
karena ketidakfokusan tersebut. Sosialisasi karier ini
bisa dimulai dengan Ideologisasi Muhammadiyah,
pemantapan Profil IMM, Profil Amal Usaha, pengenalan
dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah (baik secara historis,
formal, maupun secara informal), sehingga dengan
sendirinya akan menumbuhkan semangat kader untuk
mengembangkan kariernya baik itu di IMM maupun di
Persyarikatan. Karier di sini bukanlah dimaknai sempit
terbatas dalam dunia bisnis saja, namun bisa pula
diterapkan dalam organisasi non-profit seperti IMM
yang ditampakkan dalam keihklasan profesional dalam
berjuang menjaga amanah yang diberikan.

Tipologi Gerakan
Seperti halnya Muhammadiyah dan organisasi otonom
lainnya, secara hierarkis vertikal IMM memiliki
susunan organisasi mulai dari tingkat pusat sampai
tingkat komisariat, yakni adanya Dewan Pimpinan Pusat
(DPP), Dewan Pimpinan Daerah (DPD), Pimpinan Cabang
(PC), dan Pimpinan Komisariat (PK).
Komisariat merupakan kesatuan anggota dalam suatu
fakultas, akademi atau tempat tertentu. Cabang ialah
kesatuan komisariat-komisariat dalam suatu Daerah
Tingkat II atau daerah tertentu. Daerah ialah kesatuan
cabang-cabang dalam suatu Propinsi/ Daerah Tingkat I.
Pusat ialah kesatuan daerah-daerah dalam Negara
Republik Indonesia.
Secara umum IMM melakukan pergerakan untuk memantapkan
eksistensi organisasi dan demi mencapai tujuannya.
Ranah gerak IMM ini terwujud dalam tipologi geraknya,
yakni keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan.
Tiga wilayah garapan (amal sholeh) ini (katanya)
merupakan amanat Muktamar VII IMM Purwokerto pada
tanggal 25-31 Desember 1992.
Pendefinisian
Keagamaan merupakan wilayah garap kader IMM dimana
ada usaha kader untuk menformulasikan kehidupan
berjiwa tauhid menurut ajaran Islam (sesuai Al-Qur’an
dan Sunnah) baik secara individu maupun sosial.
Kehidupan berjiwa tauhid ini termanifestasikan dalam
aqidah yang diimplementasikan dalam sikap hidup,
tertib dalam ibadah, menggembirakan da’wah, dan
berakhlaqul karimah.
Wilayah kemahasiswaan ialah wahana aktualisasi diri
kader dalam berfikir mandiri, integral dengan
mengembangkan pemahaman serta amaliah profesional
sehingga akademisi terlibat secara kritis dengan nilai
kehidupan yang Islami, tujuan serta cita-cita yang
mengatasi praktis sesuai basis ilmu pengetahuan yang
diserap. Hal ini dapat diindikasikan oleh beberapa
hal, yakni: sikap kritis terhadap diri dan lingkungan,
tekun dalam studi dan pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi secara profesional, mengembangkan
kemampuan manajerial, terbuka dan selektif terhadap
pandangan baru secara ijtihadiyah, aktif dan kreatif,
dan memiliki tanggung jawab sosial dengan
mengembangkan dengan kesadaran pengamalan ilmu
pengetahuan dan tanggung jawab terhadap lingkungan
alam dan sosial.
Ranah garap kemasyarakatan akan menguji kemampuan
kader untuk mengimplementasikan nilai-nilai dan
ciri-ciri Muhammadiyah secara lahiriah, konsisten dan
konsekuen dalam suatu disposisi sikap, sehingga tampak
memiliki identitas khusus. Kader ini senantiasa setia
terhadap keyakinan dan cita-citanya, mempunyai rasa
solidaritas sosial dengan membantu para anggota
khususnya dan mahasiswa umumnya dalam menyelesaikan
kepentingannya, sikap konstruktif dalam menghadapi
problema dan perubahan-perubahan dalam bidang sosial
pemahaman keagamaan dan kemahasiswaan, dan kedewasaan
sikap yang tercermin dari kedalaman dan kejauhan
wawasan hukum, peraturan, undang-undang, dan falsafah
Negara RI
Pembagian peran
Dengan struktural organisasi dan wilayah garap
seperti di atas, perlu adanya pembagian peran agar
organisasi berlangsung secara efektif dan efisien.
Pembagian peran dalam bentuk prioritas yang coba
ditekankan di sini adalah DPP pada wilayah
kemasyarakatan, DPD pada keorganisasian, PC pada
perkaderan, dan PK pada kemahasiswaan. Tentunya
prioritas ini dalam arti tidak menafikan wilayah garap
lain, namun memberikan prioritas pada satu wilayah dan
proporsi yang cukup untuk wilayah garap lainnya.
Dalam kaitannya dengan pembagian peran tersebut, maka
dalam implementasinya akan terwujud dalam beberapa hal
berikut:

1.DPP
Merespon berbagai hal yang terkait degnan kebijakan
dan implementasi kebijakan pemerintah serta responsif
terhadap masalah-masalah Nasional
Merumuskan dan mensosialisasikan pedoman organisasi
dalam upaya tertib organisasi
Merumuskan konsep-konsep perkaderan dan
pelatihan-pelatihan lainnya dan melaksanakan pelatihan
tingkat nasional
Melakukan sinergitas kekuatan dengan lembaga-lembaga
kemahasiswaan nasional dan untuk dilaksanakan oleh
DPD-DPD
2.DPD
Membuat program kerja serta responsif terhadap
persoalan kemasyarakatan
Langkah-langkah taktis dan membuat konsep terhadap
pengembangan institusi
Melaksanakan Darul Arqam Madya dan merumuskan (konsep)
bentuk perkaderan nonformal
Melakukan kajian yang diprioritaskan pada
persoalan-persoalan kemasyarakatan
3.PC
Merespon berbagai persoalan kemasyarakatan di wilayah
kabupaten/ kota
Mengkoordinasikan berbagai aktifitas-aktifitas PK dan
implementasi hasil-hasil rumusan Ikatan
Melaksanakan Darul Arqam Dasar dan implementasi konsep
hasil rumusan DPD (pelatihan-pelatihan lain)
Melakukan kajian-kajian yang lebih mendalam pada
persoalan kemahasiswaan
4.PK
Merespon berbagai persoalan masyarakat (komunitas
mahasiswa dan kampus)
Tertib Organisasi serta memasyarakatkan berbagai
atribut ikatan (simbol-simbol ikatan)
Melaksanakan Masa Taaruf dan turut serta pada
pelatihan lainnya yang diselenggarakan PC
Melakukan diskusi-diskusi yang intensif mengenai hal
yan terkait dengan perkuliahan dan kampus

Monumen Jogja Kembali, 22 Oktober 2005

Sumber :
Bahtiar, Asep Purnama, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
________, Identitas IMM dan Postur Kader IMM, Buku
Petunjuk Pelaksanaan Perkaderan Darul Arqam Dasar
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
Nashir, Haedar. Ideologi Gerakan Muhammadiyah, Suara
Muhammadiyah, 2001.
Nurcahyo, Narwanto, Pengantar Diktat Workshop
Manajemen Organisasi Modern, BEM KMFT UGM, KPTU
Fakultas Teknik UGM, 18-19 Mei 2002.
Suherman, Tubagus Maman, Draft Pengayaan Lokakarya
Nasional Bidang Perkaderan, DPP IMM Th. 2002 – 2003.

MUHAMMADIYAH DALAM CENGKERAMAN GLOBALISASI

Persyarikatan yang kita cintai ini, mau tidak mau
telah tergerus pula oleh arus globalisasi.
Muhammadiyah yang dahulu didirikan sebagai sebuah
bentuk perlawanan terhadap kolonialisme dan
Kristenisasi, mengalami kemunduran dalam menyikapi
perkembangan dunia dalam konteks kekinian. Bentuk
perlawanan terhadap globalisasi yang berwujud
kolonialisme kala itu kini hanya tinggal kenangan.
Kini, Muhammadiyah tengah mengalami kegamangan dalam
penyikapannya terhadap globalisasi dikarenakan wajah
globalisasi begitu sarwa-jamak yang tidak mudah
diterjemahkan kawan atau didefinsikan untuk dilawan.
Amal usaha yang banyak dalam segi jumlah tidaklah bisa
menjadi alasan karena hal ini cuma merupakan replikasi
atau bisa disebut pengulangan dari apa yang dilakukan
oleh KH Ahmad Dahlan, bahkan bisa dikatakan menyimpang
dari tujuan semula. Penolong Kesengsaraan Oemoem,
sebagai semboyan Rumah Sakit Muhammadiyah tidak
menemukan makna filosofisnya di Persyarikatan ini.
Sekolahan yang dibangun pun tidak bisa menampung
golongan ekonomi lemah untuk menikmati pendidikan.
Seharusnya bisa dimunculkan rumah sakit maupun sekolah
alternatif yang dapat menampung ekonomi lemah
tersebut sehingga dapat menikmati fasilitas kesehatan
dan pendidikan yang sama. Adapun kelak yang menjadi
penyangga dari sistem alternatif ini adalah rumah
sakit dan sekolah yang telah ada yang memang mengejar
kualitas dan fasilitas yang lebih baik untuk golongan
ekonomi mampu agar tidak kalah bersaing dengan sekolah
negeri, Nasrani, bahkan internasional.
Sikap yang tidak jelas terhadap globalisasi malah
menempatkan kader-kader Muhammadiyah sebagai agen
proyek asing dengan maraknya proyek yang diterima
dengan funding (pembiayaan) dari luar negeri. Apologi
yang diungkapkan dari kader-kader ini adalah apabila
proyek ini tidak diambil maka Muhammadiyah hanya bisa
gigit jari karena tidak kebagian. Saya benar-benar
heran dengan pernyataan ini, bukankah Muhammadiyah itu
dihidupi/ dibiayai oleh warganya sendiri? KH Ahmad
Dahlan dahulu adalah seorang pedagang batik dalam
misinya menghidup-hidupi Muhammadiyah secara
finansial. Bahkan pernah seorang Pimpinan Pusat
Muhammadiyah hanya berprofesi sebagai penjual bensin
eceran, toh Muhammadiyah masih tetap eksis sampai
sekarang.
Memang tidak sedikit kader Muhammadiyah yang tidak
sabar terhadap perkembangan globalisasi, dan dengan
cepatnya perkembangan itu Muhammadiyah sudah diminta
untuk berlari padahal baru saja bisa berjalan. Ketidak
sabaran ini terjadi karena adanya kader-kader karbitan
yang tidak mengikuti alur perkaderan Muhammadiyah
mulai dari tingkatan paling bawah, atau proses yang
dijalani terlalu cepat bahkan tidak bernilai dalam
proses perkembangannya sebagai kader Muhammadiyah.
Kader-kader seperti ini mudah sekali tergoda oleh
cepatnya pertumbuhan yang seharusnya terjadi di
Muhammadiyah dan menekan bahkan memaksa menekan
kader-kader yang masih idealis bertahan pada
prinsip-prinsip dasar ber-Muhammadiyah.
Pertumbuhan cepat yang didanai oleh proyek asing
adalah perkembangan semu, yang tidak mengakar dan
memberdayakan warga Muhammadiyah. Pola pikir kader
Muhammadiyah yang menjadi agen proyek asing seperti
inilah yang menyebabkan adanya kesenjangan cukup tajam
antara pimpinan pusat dengan warga cabang bahkan
ranting. Visi dan misi idealis dan ideologis tereduksi
oleh kepentingan pragmatis dan sesaat akan pemenuhan
proyek-proyek yang mekanisme finansialnya bukan
merupakan ciri khas Persyarikatan Muhammadiyah dengan
kemampuan swadayanya didanai oleh warganya sendiri.
Betapa perubahan di tingkatan struktural Pusat
Muhammadiyah tidak begitu memberikan pengaruh yang
signifikan pada warga dan Pimpinan Muhammadiyah maupun
ortom di tingkatan Ranting menunjukkan bahwa
struktural pusat memang tidak mengakar dan
asyik-masyuk dengan kepentingan sendiri. Di sini
sering terjadi protes keras dari warga Muhammadiyah
yang berada di Ranting terhadap Pusat atas
inkonsistensi atas Putusan-putusan yang telah dibuat.
Hal ini dapat dimaknai wajar dalam sebuah organisasi
sebagai mekanisme otokritik, namun amatlah tidak wajar
apabila ini berlangsung karena tidak adanya kesamaan
visi dan misi yang ideal antara pusat dan ranting.
Sehingga bisa kita lihat program kerja yang cuma jadi
mimpi dari struktural pusat Muhammadiyah mampu
dilaksanakan dalam konteks lokal oleh
Pimpinan-pimpinan Muhammadiyah di daerah, cabang,
maupun ranting.
Amal usaha terpusat yang coba diterapkan pun tidak
mampu menyentuh struktural bawah Muhammadiyah.
Pendirian amal usaha ini lebih memanfaatkan jaringan
Muhammadiyah yang telah ada namun tidak memperhatikan
potensi dan kearifan lokal di masing-masing struktural
bawah Muhammadiyah. Sehingga bisa kita saksikan bahwa
amal usaha Muhammadiyah terutama di luar ketiga segmen
yakni: pendidikan, kesehatan, panti asuhan; tengah
dalam kondisi hidup segan, matipun tak mau.
Kondisi ini diperparah dengan adanya korupsi baik di
tingkatan struktural maupun amal usaha Muhammadiyah.
Muhammadiyah yang menggembar-gemborkan anti korupsi
dengan menggalang aliansi antar umat beragama ternyata
begitu keropos. Tidak adanya mekanisme audit
independen terhadap struktural maupun amal usaha
Muhammadiyah membuat tidak adanya pengawasan keuangan
yang ketat terhadap Muhammadiyah. Hal ini tak ayal
lagi meningkatkan budaya korupsi di Muhammadiyah
sembari turut menyemarakkan korupsi yang terjadi di
birokrasi Pemerintah. Hal ini amatlah bertentangan
dengan norma agama dan standart profesionalitas
organisasi, karena dalam era globalisasi, transparansi
dan akuntabilitas merupakan syarat sehatnya sebuah
organisasi.
Muhammadiyah memang beradaptasi dengan globalisasi
karena ketidakmampuannya untuk melawan hegemoni sistem
tersebut. Dalam proses adaptasi ini Muhammadiyah
cenderung memihak yang dominan dan banyak materi,
seperti yang saya gambarkan di atas. Dengan dalih
adaptasi kita akomodasi konsep-konsep yang merugikan
Persyarikatan. Kita harus pragmatis, realistis dan
perut harus diprioritaskan. Ini bukanlah adaptasi yang
kreatif dan autonom.
Apakah Muhammadiyah dapat tegak menghadapi
tantangan-tantangan itu dan setia pada prinsip-prinsip
pokoknya seperti diamanatkan para pendirinya? Jiwa
ksatria pasti menjawab sanggup

*Ketua Bidang IPTEK Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah Bulaksumur Karangmalang tahun 2005-2006

PROFESIONALISME DALAM BERORGANISASI1

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah sebuah
organisasi, begitu kata orang. Namun, entah kenapa,
pemaknaan organisasi yang masih belum tersambungkan
antara apa yang ada di pikiran kader IMM dan apa yang
dalam realitas. Organisasi IMM yang bernaung di
dalamnya banyak mahasiswa yang tentunya bisa dikatakan
“berbeda” dari komunitas umum mahasiswa lainnya.
Tentunya, ‘beda’ di sini bukan dimaknai keeksklusifan
terhadap orang-orang yang berada di dalamnya, karena
ternyata sama saja, manusia biasa juga. Namun, beda
di sini ialah pada hal pemikiran, pola hidup, dan
cara-cara berorganisasi.
Kurang lebih 3 tahun sudah penulis berkecimpung dalam
organisasi ini, dan banyak hal yang penulis temui,
dapat, atau acuhkan. Perjalanan berorganisasi ini
sarat dengan dinamika, mulai dari kegigihan,
keikhlasan, intelektualitas, namun juga putus asa,
intrik, ketidak profesionalan, dan juga ketergantungan
(finansial, intelektual, mental). Masalah yang selalu
dijadikan ‘tantangan’ ini tak kunjung reda untuk
diselesaikan agar kader sebagai bagian dari sistem
organisasi segera dapat melaksanakan kerja-kerja
praksis berorganisasi. Anda bisa jadi keliru bila
langsung menggolongkan penulis yang oportunis dan
pragmatis. Mari kita bicara wilayah abstraksi dan
wacana, tapi realitas ada pada amal (aksi) juga, dan
di sana dituntut keprofesionalan, bukan dengan
manajemen kampungan (atau manajemen tukang gorengan?).

Yup ... profesionalisme juga menjadi titik point
perkaderan pada kader kita. IMM adalah organisasi
kader, begitu image yang berusaha dibentuk. Image
tersebut memang benar, sebagai organisasi kader, namun
lebih sebagai individu. Kesuksesan individu yang
diklaim sebagai kesuksesan memimpin organisasi ini
(penulis tidak memandang bahwa pemimpin hanya Ketua
Umum saja dengan berlogika ‘punya menteri’, namun
doktrin yang ada di pikiran adalah ‘Triumphirat plus
Ketua dan Sekbid” adalah pemimpin) bukanlah menjadi
pemandang yang asing dalam tubuh organisasi ini. Hal
ini terus- menerus dipelihara sebagai budaya yang
melanggengkan ketidakefektifan berjalannya organisasi.
Tuntutan akan profesionalisme kader (dengan isu
profesional kompetensi) dimaknai sebagai tuntutan
individu. Sehingga tidak jarang kita menemui
kader-kader yang profesional di eksternal organisasi
(kampus, laboratorium, LSM, Unit Kegiatan Mahasiswa),
namun tidak beres menggerakkan internal organisasi
(logika ini terbalik bila dibandingkan dengan
perjalanan klub-klub bola Indonesia, yang identik
dengan jago kandang, selalu menang bila main di
kandang sendiri).
Penulis melihat persoalan di atas sebagai tantangan
bahwa perlu ada yang dibenahi dalam organisasi ini,
organisasi ini bukan organisasi (maaf) kampungan yang
cuma ‘rame in gawe’ (penuh peminat kalau ada kerja/
proyek, terutama yang ‘basah’; berduit) tetapi sepi
berangin sepoi-sepoi ketika ada panggilan/ permintaan
kerja ikhlas organisasi. Organisasi ini pun bukan
model orang kota yang hanya terdiri individu yang
sudah sibuk mencari maisyah (penghasilan) dan mengurus
aisyah (pasangan hidup) (maaf; penulis tidak menyindir
kader yang telah memiliki penghasilan dan pasangan
hidup, malah salut dengan mereka yang telah mandiri,
namun organisasi yang cuma jadi sambilan maka hasilnya
akan sambilan juga). Organisasi ini akan punya budaya
organisasi profesional ketika berisi orang-orang yang
punya komitmen dan integritas akan amanah yang
diterimanya. Tentu juga semangat saling memotivasi
antar kader untuk meneguhkan profesionalisme
berorganisasi.
Paradigma sempit dengan sendirinya akan meruntuhkan
dinamisnya perkembangan organisasi. Organisasi yang
hanya dimaknai dalam lingkup kecil, karena dengan
alasan kedekatan emosional dan pola pikir, hanya akan
membuat kader seperti itu terperangkap dalam zona yang
belum ada kesadaran pada dirinya sendiri. Dalam
konteks IMM, perjalanan kader (terutama di PTN) dalam
berorganisasi hanya sampai pada level Komisariat,
Koordinator Komisariat, dan Cabang. Hal ini salah
satunya dikarenakan masa studi kuliah yang dipadatkan
yakni selama 4 tahun untuk waktu normal sehingga
memaksa (?) kader hanya ber-track record sejauh itu.
Namun penulis tidak habis ketika pola pikir kader
tidak turut berubah seiring semakin beratnya amanah
yang dipikul. Kader Korkom maupun Cabang atau Daerah
(barangkali) masih sibuk saja mengutak-atik Komisariat
yang jelas berisi yunior-yunior kader yang tentu saja
selalu memilih untuk bergantung pada kader senior ini,
karena mumpung masih ada dan dipermudah, begitu
kira-kira. Ini tidaklah bermasalah ketika rekan-rekan
kerja selevel organisasi adalah orang-orang yang
berparadigma sama. Namun, hal ini akan berbenturan
ketika cara berpikir kader yang lain berbeda, semisal
berpikiran bahwa ada wilayah struktural (dimana
idealisme dan profesionalisme berorganisasi kita
tunjukkan) dan ada wilayah kultural (dimana kemampuan
bersosialisasi kita diuji). Jujur saja, penulis masih
mengakui salah satu pengalaman berorganisasi yang
terbaik adalah di Rohani Islam SMU, dengan pola
perkaderan yang tidak mendakik-dakik seperti Sistem
Perkaderan Ikatan, di samping itu profesional dalam
kerja-kerja organisasi baik itu dalam lingkup sekolah
maupun tingkat Kota, namun juga tidak melupakan
hubungan kultural yang masih terjalin hingga saat ini
tanpa adanya kiprah di organisasi itu lagi.
Kalau ada dari rekan-rekan ada yang mau menyanggah
bahwa ini adalah pola-pola organisasi nirlaba (jika
penulis mencoba menggolongkan organisasi ini sebagai
organisasi nirlaba), penulis dengan senang hati akan
merenungkannya. Keterlibatan yang cukup intens dalam
wacana-wacana organisasi modern dan interaksi
orang-orang di wilayah organisasi profit membuat
penulis secara pribadi jengah akan kondisi
ketidakprofesionalan dalam Ikatan yang dimaknai
sebagai kelumrahan. Inilah yang penulis tangkap
sebagai kelemahan organisasi yang dijalankan dengan
mekanisme kekeluargaan, bukan sistem reward and
punishment.
Dalam organisasi profit, salah satunya akan ada reward
and punishment untuk kegagalan (bahkan jika perlu
mundur dengan legawa) dan kesuksesan berorganisasi,
dan akan terdidik kedewasaan untuk mengakui kesalahan
dan terbuka menerima kritik. Dalam organisasi
nirlaba, karena hubungan interpersonal emosional yang
dibangun begitu dekat, sehingga kelemahan lainnya
tampak pada mekanisme Laporan Pertanggung Jawaban
kerja organisasi yang hanya berupa pemaparan
hasil-hasil yang ada, belum dan tidak dilaksanakan.
Karena sekali lagi, sebagai organisasi berbenderakan
agama, organisasi ini (mungkin) akan menyerahkan
pemberian reward and punishment ini dalam level
‘pengadilan’ yang lebih tinggi, yakni pahala dan dosa
di akhirat... Wah HEBAT SEKALI. Ketidak profesionalan
ini berusaha dibungkus rapi dengan dalih agama, yang
dalam hal ini cocok. Kita juga tidak hanya berbicara
akhir-akhir ini banyak ulama yang memanfaatkan agama
sebagai ‘komoditi bisnis’-nya, namun IMM sebagai
organisasi beragama juga memanfaatkan agama untuk
kepentingan internalnya.
Sistem alternatif di atas diharapkan akan mendidik
kader agar lebih giat berjuang dan memaknai ‘ikhlas
profesional’ (yang bisa jadi trade mark Muhammadiyah)
dalam pandangan dan aksi yang lebih progresif. Sistem
ini akan dibangun dalam kerangka rekayasa sistem
perkaderan dimana ada pula proyeksi pula jauh ke depan
akan posisi kader dan organisasi di Persyarikatan
maupun dalam kompetisi dunia.
Akhir kata, dunia modern memang menuntut kompetisi
dan profesionalisme dalam kemampuan individu maupun
organisasi untuk survive. Apapun alternatif dunia ke
depan, dimanapun kita berada kita tidak bisa lari dari
kompetisi (karena sudah menjadi fitrah kita sejak
masih dalam proses penciptaan) dan profesionalisme
(karena dunia ini diatur oleh Keteraturan, meskipun
Chaos namun tetap ada keteraturan di balik itu).
Meningkatkan profesionalitas berorganisasi, sebagai
bagian dari kehidupan kita, akan membuahkan wawasan
dan pengalaman yang tidak ternilai harganya. Semoga!

AKTIVIS MAHASISWA: DEMONSTRASI DAN MENCARI ILMU

Tokoh-tokoh besar yang kita kenal merupakan seorang
pencari ilmu. Kebesaran yang mereka raih dan masih
diingat hingga masa sekarang merupakan buah dari kerja
kerasnya mencari ilmu. Dengan hanya tidur beberapa jam
saja di malam hari, Harun Yahya menekuni ratusan buku
dalam eksplorasinya mencari ilmu untuk meraih
keridhaan-Nya. Ibnu Qoyyim Az-Jauziyah, bahkan sampai
mengasingkan diri di masa akhir hidupnya dalam
berkonsentrasi mencari ilmu dari sang guru, Ibnu
Taimmiyah. Pelajaran besar tentang kegigihan
orang-orang besar dalam menekuni ilmu baik itu ilmu
dunia maupun ilmu syar’i.
Kondisi ini tidak jauh beda (dalam hal menghabiskan
waktu malam hari) di kalangan masyarakat kita.
Tayangan televisi yang beberapa waktu lalu sempat 24
jam non-stop, menempatkan masyarakat pada budaya
nongkrong di depan TV. Hal ini pun tidak berubah
manakala ada kebijakan Pemerintah untuk mengurangi jam
tayang televisi yang dibatasi hingga jam 12 malam
dengan alasan penghematan energi listrik. Tidak
berubahnya kondisi ini karena kebijakan yang
diterapkan tidak solutif karena masyarakat tetap
mengalihkannya pada menonton VCD (Video Compact Disc)
player, sebuah barang pemutar piringan video
elektronik yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat
kita, bahkan di pedesaan.
Mahasiswa, sebagai bagian dari masyarakat, tak
sepenuhnya berbeda. Mereka juga turut menghabiskan
waktu di malam hari untuk kegiatan-kegiatan yang hanya
berujung manakala kantuk sudah menyerang. Bercanda
dengan rekan-rekan sepondokan, nonton film (bahkan,
maaf, film .... ), main game di komputer, entah itu di
game center on-line ataupun di komputer pribadi di
rumah, chatting dan ber-surfing ria di internet dengan
tarif murah karena terkena happy hours, ataupun
berasyik-masyuk dengan sang pujaan hati.
Ya, bangsa ini memang sedang sakit. Sakit parah.
Manakala realitas sosial menggambarkan keadaan yang
seperti itu dan pribadi yang menjadi tumpuan sebagai
agen perubahan (dalam hal ini mahasiswa) tidak
menunjukkan hal yang berbeda, maka saya tidak habis
pikir bangsa kita ini akan berjalan ke arah yang
kabur. Kalau mahasiswanya, dalam hal ini sebagai
orang-orang terpilih dari masyarakat (dalam angka
statistik hanya 1 % dari warga Indonesia yang bisa
mengenyam bangku pendidikan tinggi), tidak menunjukkan
pola-pola kehidupan yang radikal dan revolusioner.
Saya memandang bahwa seorang aktivis mahasiswa, yang
di-cap sebagai agent of change, juga mengalami hal
yang serupa, namun dalam paradigma, ruang dan waktu
yang berbeda. Betapa sekarang demonstrasi bisa
dijadikan sebagai ajang aktualisasi diri, mencari
duit, bahkan profesi. Dengan alasan sebuah keniscayaan
keprihatinan akan kondisi bangsa yang carut marut,
demonstrasi menjadi jalan bagi aktivis baik sebagai
pribadi maupun organisasi bahkan ideologi yang
diusungnya masih tetap eksis. Namun, hal ini tidaklah
bisa menjadi alasan ketika demonstrasi sudah menjadi
ikon budaya massa yang tidak jauh beda dengan dugem
(dunia gemerlap), nonton TV, panen raya, dalam hal
menghabiskan waktu yang ada. Memang dari segi tujuan
jelaslah berbeda, dan ada tujuan (yang sekiranya
mulia) yang coba diusung oleh rekan-rekan demonstran,
saya tidak memungkiri hal tersebut.
Saya mencoba melihat angkatan mahasiswa terdahulu
bisa jadi adalah para demonstran penentang rezim Orde
Lama juga. Namun yang terjadi sekarang ketika para
aktivis tersebut menerima tongkat estafet kepemimpinan
malah menghasilkan kebobrokan birokrasi pemerintahan.
Hal ini tidak jauh beda dengan kondisi yang dahulu
ditentangnya, bahkan kini jauh lebih parah. Yang saya
khawatirkan adalah kemunafikan yang terjadi di dalam
tubuh para aktivis mahasiswa manakala kelak calon
elit-elit ini menerapkan kebijakan-kebijakan yang juga
menindas rakyat dan menimbulkan perlawanan aktivis
mahasiswa yang (lebih) baru.
Aktivitas demonstrasi ini tentunya bukan aktivitas
kosong, karena di dalamnya ada pertarungan gagasan,
pengumpulan data (bahkan pencurian), konsolidasi bawah
tanah, dan manajemen aksi itu sendiri. Aktivitas yang
jelas membutuhkan pemikiran yang runtut dan
sistematis, bukan serampangan dalam mengerjakannya.
Aktivitas ini pun memerlukan ketekunan dalam mendalami
ilmu yang dijadikan dasar analisis bagi aktivis ini
untuk mengkritik realitas sosial maupun tema yang
diangkat. Di samping itu aktivis menghabiskan waktu
berhari-hari untuk sekadar teriak-teriak di kamar
mandi, di depan cermin bahkan di tengah laut untuk
latihan retorika di depan umum. Aktivitas yang
membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk membaca,
menganalisis, merenung, menulis, dan berdialektika
untuk menemukan pemahaman yang integral dan
komperensif.
Dari sini saya coba melihat bahwa aktivitas mencari
ilmu (tentunya tidak sekedar menghabiskan waktu) juga
mempunyai peran yang tidak main-main. Tentunya orang
mencari ilmu adalah aktivitasnya dalam mengetahui
sesuatu yang belum dia ketahui dan orang lain yang dia
asumsikan belum mengetahuinya (pula) .
“Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui
dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar:
9)
Jelas di sini ditegaskan perbedaan antara orang yang
mengetahui dan yang tidak mengetahui. Aktivis
mahasiswa yang turun berdemonstrasi (biasanya disebut
demonstran) bisa dikatakan pada taraf mengetahui
tentang sesuatu hal yang tidak diketahui oleh pihak
yang dikritiknya, misal pejabat struktural. Derajat
ketidaktahuan ini yang kadangkala menjadi
kesalahpahaman yang terjadi antara keduanya. Namun,
kondisi serupa bisa terjadi sebaliknya untuk hal-hal
tertentu terhadap sebuah permasalahan.
Karena dalam hal tersebut ada perbedaan paradigma
dalam melihat masalah. Bila masalah di sini kita
ibaratkan wilayah, maka paradigma adalah sebuah peta.
Peta yang merupakan penggambaran dari sebuah wilayah
akan tergantung tingkat pengetahuan penggambar peta
dan peta seperti apa yang ingin dihasilkan.
Kelengkapan data, informasi yang dimiliki, dan
ketelitian peta tersebut menjadi penting dalam hal
ini. Peta yang berbeda bisa saja terjadi untuk
sebuah wilayah yang sama. Derajat keilmuan yang
berbeda juga bisa menghasilkan paradigma yang berbeda.
Dengan begitu, aktivitas keilmuan memegang peranan
penting.
“Allah memberikan hikmah (ilmu) kepada siapa yang Dia
kehendaki dan barangsiapa dianugerahi hikmah (ilmu)
tersebut maka ia benar-benar telah dianugerahi karunia
yang banyak.” (Al-Baqarah: 269)
Ilmu merupakan karunia yang banyak dari Allah SWT,
ilmu di sini tentunya tidak sekedar menyerap dalam
arti mentah. Namun harus diikuti dengan amal yang
shalih karena pada dasarnya keduanya (ilmu dan amal
yang shalih) adalah satu kesatuan yang tidak lengkap
bila saling dipisahkan.
Seorang mahasiswa, baik aktivis maupun tidak,
tentunya hampir tiap hari bergelut dengan ilmu.
Mengikuti kuliah dengan agenda utama mendengarkan
celotehan dosen, dan tidak mampu untuk melakukan
kritik karena tidak ada proses dialektika di dalam
ruang kuliah tersebut. Hal ini dihasilkan oleh
pemahaman bahwa kuliah adalah proses “Sebaiknya Anda
Tahu” bukan “Sebaiknya Anda Paham dan Amalkan”,
sehingga kuliah hanya berjalan monoton dan kurang
interaktif. Dialektika yang coba dibangun oleh
mahasiswa kritis (biasanya mahasiswa aktivis) hanya
ditanggapi sebagai angin lalu saja karena kemungkinan
besar tidak akan keluar dalam ujian. Proses dialektika
ini dimaknai secara apatis oleh mahasiswa kebanyakan.
Pergulatan mahasiswa dalam mencari ilmu tidak lepas
dari amal yang dilakukan terkait dengan ilmu yang
telah dia dapatkan, Praktek (Praktikum sebagai
simulasinya) kalau dalam istilah perkuliahan. Kalangan
sosial harus mengaplikasikan teori bangku kuliahnya
sendiri dengan aktif berdiskusi, giat di LSM, ekstra
kampus, pemerintahan mahasiswa dengan menjadi
mahasiswa aktivis. Lain halnya, kalangan eksakta
mendapatkan praktikum sebagai ajang simulasi
mempraktekkan teori yang dipraktekkannya, tidak jarang
pula yang terjun ke dunia yang bereda seperti di
kalangan sosial namun tidak sedikit yang mengalami
split personality karena ketidakmampuan
mengaplikasikan teori kuliahnya dengan laboratotium
sosial yang dimilikinya. Tidak sedikit yang acuh
terhadap perkuliahan eksak yang serba pasti dan
dibatasi oleh dinding-dinding intelektualitas,
kemudian lari ke wilayah ilmu sosial.
Dunia intelektual mahasiswa, khususnya di wilayah
pergerakan kampus, berusaha mengakomodir dua hal vital
dalam eksistensinya yakni: demonstrasi dan pencarian
ilmu. Beberapa pergerakan mahasiswa mengalami
pergeseran orientasi kemahasiswaan pasca-reformasi
dengan merujuk pada ide-ide profesionalitas keilmuan
dikarenakan pemahaman bahwa demonstrasi yang diusung
angkatan 98 kurang relevan lagi untuk diangkat sebagai
aksi sentral. Bisa jadi tantangan generasi
pasca-reformasi ini berbeda dengan kalangan mahasiswa
angkatan reformasi terdahulu. Karena paradigma
terhadap serangan kapitalisme dan globalisasi yang
sudah sedemikian tinggi, maka profesionalitas keilmuan
menjadi salah satu solusi untuk mampu bersaing dalam
persaingan internasional kelak. Meski dalam pandangan
pesimis bahwa secepat apapun kita mengejar kita akan
tetap jauh tertinggal, tertinggal di landasan pacu
(bahasa slogan Orde Baru). Namun sebagai manusia
postivistik, saya setidaknya melihat secercah harapan
bahwa bangsa ini, melalui kebersamaan warganya dengan
dipelopori oleh mahasiswa (terutama aktivis), dapat
bangkit, baik itu melalui aktivitas pencarian ilmu
maupun dalam wilayah pengamalannya (salah satunya
melalui demonstrasi?).

Monumen Jogja Kembali, 30 Sep. 05

BELAJAR KEARIFAN DARI ORANG DESA

Judul di atas memang bernada sedikit aneh, karena jarang orang yang tahu bahkan mencari tahu apa sebenarnya yang bisa diambil pelajaran dari orang-orang desa. Orang desa identik dengan pemalas, puas dengan keadaan dan tercukupinya kebutuhan dari sekelilingnya, tetapi sebentar, itu adalah perspektif orang kota. Memang pada beberapa individu dari orang desa persepsi tersebut melekat dengan sendirinya, namun di sini kita coba ambil pelajaran dari perspektif yang sedikit berbeda.
Kalau mau membandingkan dengan orang kota, maka orang kota identik dengan kemajuan (modernitas), kerja keras, kesibukan tiada henti, akrab dengan kemacetan lalu lintas, dan sering dilanda stress. Tak heran maka kajian dan pelatihan yang berbau spritualis dan menenangkan nurani amat laris di kota. Mungkin, jika hal ini diterapkan di desa, tidak akan ada respon yang berarti. Bisa dikatakan beberapa orang desa telah mencapai kondisi spritual yang lebih matang karena jauh dari hiruk pikuk modernitas kota.
Modernitas yang diagung-agungkan orang kota memang telah banyak membius orang desa untuk hijrah ke kota. Di samping untuk pemenuhan kebutuhan hidup pokok, bius akan kemodernan ini membuat orang desa tak tahan untuk tiap hari hanya berputar-putar pada lingkup wilayah desa dan pola kehidupan yang tidak jauh berbeda. Adapun terkadang variasi pekerjaan yang bisa dilakukan di desa memang minim, sehingga menimbulkan pengangguran. Kekurang kreatifan dalam melakukan pekerjaan yang lebih variatif ini juga dipengaruhi oleh jenjang pendidikan orang desa yang rendah. Di desa, jenjang pendidikan yang rendah tidak terlalu berpengaruh kepada kemampuan bertahan hidup seseorang, karena keterjaminan hidupnya oleh alam dan tetangga sekitarnya, yang biasanya merupakan sanak saudaranya sendiri.
Orang kota memang bisa dikatakan lebih maju bila dibandingkan dengan orang desa, karena akses akan informasi, uang, dan kebutuhan lainnya yang tersistem dalam bungkus kemodernan. Namun hidup di kota bukanlah semudah membalik telapak tangan, apalagi berharap menjadi benalu untuk sanak saudara ataupun tetangga, itu hanyalah mimpi. Untuk bisa hidup di kota, dalam arti tidak sekadar dapat bertahan hidup, minimal orang desa harus mempunyai keterampilan yang bisa jadi nilai jualnya di tengah persaingan hidup di kota. Di kota, meski tak selalu benar, jenjang pendidikan yang dimiliki oleh seseorang akan menentukan status sosialnya di masyarakat, apalagi bila telah sampai pada jenjang pendidikan universitas. Hal ini tidak jauh berbeda dengan orang desa, namun di kota kebutuhan akan pendidikan ini benar-benar terasa karena persaingan dalam meraih pekerjaan lebih tajam.
Persaingan dalam hal apapun yang menjadi ciri masyarakat kota menjadikan orang kota harus bekerja keras, bahkan mungkin sampai tak kenal henti, tak kenal keluarga dan tetangga. Perilaku ini menghasilkan orang kota yang individualis dan haus mengejar prestasi individu. Tidak jarang perilaku ini menghasilkan orang kota yang mengalami split personality. Tingkat pemahaman keagamaannya (keimanan) yang tinggi (spritualis) belum bisa mencapai kesempurnaan karena keterisolasian hubungannya dengan sesama. Hal ini juga tidak bisa menumbuhkan kesadaran Tauhid Sosial orang kota, sehingga sering hanya berkutat pada tauhid individu.
Ketidak seimbangan hidup ini sering menimbulkan stress bagi orang kota. Orang kota mengalami stress karena persaingan hidup di kota begitu keras. Stress ini pada tingkatan yang lebih parah dapat menimbulkan depresi, migrain, dan sejumlah penyakit orang kota lainnya.
Begitu seriusnya orang kota memaknai kehidupan, sehingga perilaku dan dialog yang dilakukan tidak jauh dari hal yang berbau konkret materiil yang secara khusus bisa disimbolkan uang. Seakan-akan kebahagiaan seseorang dapat diukur oleh banyaknya uang (harta) yang dapat dikumpulkan. Padahal dalam konsep kesederhanaan, selama kita mampu bersyukur akan apa yang telah dikaruniakan Tuhan dalam hidup, maka kebahagiaan bukanlah hal yang musykil.
Jika orang kota lebih suka menilai pencapaian lewat hasil yang didapatkan, bisa berwujud prestasi, uang, dan lainnya, maka orang desa tidak. Orang desa lebih menghargai proses pencapaian yang dilakukan oleh seseorang, bahkan ketika orang itu telah meninggal dunia. Hal ini ditunjukkan dalam peringatan-peringatan yang sering diadakan oleh orang desa, yang masih mengakar pada kearifan lokal dan nilai-nilai yang dipelihara sejak dahulu. Hasil yang didapatkan akan dikembalikan kepada Tuhan, karena manusia berada dalam kapasitasnya berusaha. Keoptimalan berusaha memang akan tampak pada hasil usaha tersebut, namun orang desa lebih senang menghargai proses pencapaiannnya.
Di samping itu, orang desa masih memegang teguh budaya gotong royong. Di mana rasa saling tolong menolong sangat tinggi dalam masyarakat desa. Keinginan untuk saling membantu ini, disamping karena kedekatan hubungan kekerabatan, juga dalam rangka bersama-sama untuk mengatasi permasalahan hidup di desa yang dihadapi. Budaya gotong royong ini merupakan salah satu kekuatan kearifan lokal yang dimiliki oleh orang desa yang telah banyak tergerus oleh modernisasi dan globalisasi. Memang, orang kota yang cenderung individualis juga memiliki mentalitas gotong royong, semisal dalam bentuk team work. Namun, hal tersebut hanya terbatas pada pemecahan masalah pekerjaan maupun organisasi. Apabila kebutuhan akan team work berakhir karena telah tercapainya tujuan, orang kota akan kembali ke mentalitas semula.

KATAKAN ‘TIDAK’ UNTUK MENIKAH !

Seperti menjadi sebuah kultur, setiap kali penulis bertandang ke kandang-kandang aktivis Islam maka akan ada pembicaraaan yang tidak jauh berbeda mengenai sebuah topik. Topik ini memang banyak dibicarakan oleh beberapa orang aktivis Islam, namun sebatas pengetahuan penulis hanya pada kaum laki-laki, apalagi mereka yang telah mencapai usia matangnya untuk melangsungkan pernikahan. Entah berselimutkan label Islami ataukah bukan, tapi perbincangannya tidak jauh berbeda dengan perbincangan manusia pada umumnya, yakni menyangkut lawan jenis. Menariknya, perbincangan ini tidak menjurus pada cara untuk nembak si doi, nge-date, jadian, dan akhirnya menjalani masa pacaran. Ada sebuah perspektif yang berbeda, karena berada di lingkungan komunitas yang Islami. Cara pandang yang menyatakan bahwa tidak ada yang namanya istilah pacaran dalam Islam, apalagi melegalkan masa pacaran dengan masa taaruf (perkenalan). Kerangka pikir yang terbentuk adalah dalam rangka menyempurnakan keislaman seorang mukmin, karena belum sempurnanya keIslamannya bila belum menikah. Bahkan, kerangka berpikir ini didukung oleh jargon ‘membangun peradaban Islam’.
Namun, penulis di sini mencoba melihat keinginan untuk menikah dengan sudut pandang yang berbeda, sudut pandang ‘miring’ yang bisa terlupakan oleh mereka yang tengah terbuai oleh romantisme wacana pernikahan.

Penghambat Progresifitas Perjuangan

Bisa jadi, secara individu aktivis yang beralasan untuk menikah demi ‘membangun peradaban Islam’ telah menyerah dengan peliknya permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam, apalagi yang berdomisili di Indonesia. Solusi yang diambil adalah melangsungkan pernikahan dan berharap semoga generasi berikut bisa melanjutkan perjuangan pendahulunya dengan mendidiknya dalam keluarga sakinah.
Secara pribadi penulis tidak ada masalah dengan diskusi terkait dengan masalah di atas. Namun, yang saya sayangkan adalah topik ini sering hanya menjadi bahan pergunjingan/ lelucon untuk mencairkan suasana. Yang lebih parah lagi, apabila seseorang telah identik dengan keinginannya untuk menyempurnakan ke-Islam-annya itu, maka hal yang akan dibicarakan bila bertemu dengan orang tersebut tidak lebih dari hal-hal terkait persoalan pernikahan. Hal ini bisa jadi kontrapoduktif pada para aktivis muda Islam yang masih dalam masa-masa senangnya menikmati berdialektika tentang Islam, perlawanan, globalisasi, dan lainnya. Bisa jadi hal ini mengakibatkan pendangkalan intelektual dan wawasan aktivis muda secara terselubung dan tidak tersadarkan, karena wawasan pengetahuannya tidak jauh dari seputar permasalahan dirinya dan calon pasangan.
Amat disayangkan memang bila aktivis muda Islam, yang sering hanya berkutat pada masalah teknis organisasi, terjebak dalam wacana dan ‘mimpi’ untuk masa pernikahan kelak. Perbincangan mengenai masalah pernikahan ini memang harus diletakkan dalam posisi yang wajar, apalagi berkaitan dengan keinginan sesama aktivis Islam untuk menjadi generasi aktivis Islam yang intelek. Intelek dalam hal ini adalah kemampuannya memahami Islam secara mendalam, kompetensinya, teori-teori sosial, dan pemecahan masalah riil di masyarakat. Kerja psikis seperti ini tentunya tidak bisa dilakukan secara setengah-setengah, apalagi dengan pikiran yang terdominasi oleh pikiran hendak ‘membangun peradaban’.
Memang, pernikahan adalah ibadah. Sebuah proses perubahan yang bisa dikatakan cukup drastis bagi kemanusiaan seseorang. Ketika masih sendiri, maka seseorang hanya berpikir tentang dirinya sendiri, dan paling jauh tentang teman, keluarga, dan masyarakatnya. Namun ketika telah memiliki pasangan, otomatis dia akan berpikir pula tentang pasangannnya dan hal-hal terkait. Memang, secara logika beban pikiran akan bertambah, namun logika pula yang akan menjawab bahwa beban berkali lipat tersebut akan ditanggung lebih ringan, karena yang memikirkannya dua orang.

Melanggengkan Materialisme

Seseorang yang akan menuju jenjang pernikahan maka akan menyiapkan banyak hal, terutama materi. Memang, seorang laki-laki bila akan melangsungkan pernikahan, maka mau tidak mau telah memiliki terlebih dahulu maisyah (penghasilan) dan calon ‘aisyah’ (calon pendamping hidup).
Di kalangan masyarakat kita, materi memang masih jadi ukuran, seikhlas apapun orang tersebut (meskipun kategori ikhlas menjadi rancu pada pribadi seperti ini). Hal ini memang bisa jadi ironi, manakala hal-hal yang terkait dengan nilai-nilai (cinta, kejujuran, dan lainnya) direduksi oleh sejumlah nilai uang (dalam bentuk mas kawin). Namun, hal itu memang wajar karena jikalau tidak salah Rasulullah memberikan mas kawin pernikahannya berupa puluhan unta, yang berarti secara materi bukanlah jumlah yang sedikit. Materi, dalam wujud uang/ harta, memang menunjukkan kesiapan seorang laki-laki, sebagai calon pemimpin rumah tangga, kelak. Kesiapan ini ditunjukkan oleh telah mampunya dia memberikan nafkah yang riil, hal ini diwujudkan dalam mas kawin, sehingga bisa mengindikasikan bahwa secara materiil si laki-laki telah mempunyai sifat amanah dan tanggung jawab.
Yang lebih menarik, materi dalam wujud uang/ harta tersebut tidak jatuh dari langit layaknya hujan. Tentunya materi ini dihasilkan dari wujud usaha yang dalam bentuk apapun bisa dikategorikan sebagai kerja. Materi yang sering dinamakan pendapatan ini merupakan hasil kerja keras si laki-laki, bisa menjadi ‘modal’ untuk mendapatkan caoln pasangan hidupnya. Materi ini bukanlah hasil dari menempuh jalan yang haram atau mengemis (apalagi ‘mengemis’ kepada orang tua).
Namun, pernikahan bukanlah sesuatu jenjang kehidupan yang bisa dimateriilkan secara keseluruhan. Tidak jauh berbeda dengan hidup ini, ada banyak hal yang tidak bisa dimateriilkan. Ada banyak hal yang tidak bisa dinilai dengan uang (priceless). Hal yang terkait dengan nilai-nilai, ideologi (cita-cita), kebahagiaan, tentunya merupakan salah satu bagian dari pernikahan.

Dari kedua alasan paparan penulis diatas, sudilah kiranya kita mengkaji kembali keinginan kita untuk menikah. Jika pernikahan dimaknai sebagai aktivitas ibadah, maka sedapat mungkin ‘virus merah jambu’ yang ditebarkan tidak mewabah. Apalagi menjangkit ke pribadi-pribadi yang hanya mampu menjadikan wacana pernikahan itu sebagai khalayan kosong pengisi pikiran. Kasihan!


30 November 2005

KULIT PUTIH: SEBUAH KEHARUSAN?

Ketika melihat tayangan media elektronik (dalam hal ini televisi) akhir-akhir ini, maka ada sebuah fenomena. Fenomena ini tampak manakala individu yang tampil di layar kaca ini bisa dikatakan serupa atau identik. Dari mulai bintang iklan, sinetron, sampai tayangan infotainment, hampir seluruhnya menunjukkan tipikal manusia Indonesia yang identik. Di sana ditampakkan bahwa manusia Indonesia adalah cakep/ cantik, berkulit putih, dan bertampang bule (indo).
Saya jadi tidak habis pikir dengan tidak adanya peluang bagi (mungkin) mbok-mbok yang jualan di pasar untuk dapat ditampilkan di televisi. Atau remaja Indonesia yang hidup di pedesaan dengan kulit sawo matang dan kesederhanannya, bisa tampil di televisi pula.
Sepengetahuan saya, orang-orang bule itu bahkan menyempatkan waktu dan menghabiskan banyak biaya untuk membuat coklat pada kulit putihnya. Entah kenapa, kulit putih mereka akan tampak buruk ketika bila tersengat matahari tanpa pelembab. Hal ini tampak pada bercak-bercak merah pada kulitnya dan bisa jadi menimbulkan rasa gatal. Bahkan, seorang bintang bule yang tenar pun menghabiskan ribuan dolar hanya untuk membuat coklat kulit putihnya. Memang, di kalangan orang kulit putih (bule), kulit putih yang kecoklatan akan meningkatkan gengsi dan status mereka di lingkungan asalnya. Hal ini karena orang kulit putih yang berubah kulitnya menjadi putih kecoklatan menandakan ia mampu dalam hal finansial untuk berlibur ke pantai, atau bahkan ke daerah tropis, Bali misalnya.
Nah, dari sini saya malah tambah tidak mengerti, banyak orang Indonesia ingin kulitnya lebih putih. Bisa jadi ini karena pengaruh iklan yang begitu gencarnya mengiklankan produk pemutih kulit tubuh maupun wajah. Belum ditambah lagi pencitraan artis-artis dunia entertainment (iklan, sinetron, dan lain sebagainya) yang notabene memang berkulit putih. Hal ini pun dimaklumi oleh model agency dan rumah produksi, bahwa memang saat ini pasar (televisi dan iklan) memang membutuhkan model ataupun calon artis yang memiliki kulit putih. Klop, kan!
Memang, putih hampir bisa disamakan dengan bersih. Namun, kebersihan itu sendiri tidak harus putih. Hal ini menyebabkan penggiringan persepsi orang ke satu titik, bahwa hanya satu warna yang mendominasi bersih itu, yakni putih. Pengaruh pencitraan yang luar biasa lewat media televisi (sampai memilih presiden yang akan menang pun bisa ditentukan lewat banyaknya iklan kampanye yang muncul di televisi) akan menunjukkan kepada khalayak realita yang diakui secara umum. Padahal realita itu sendiri bukanlah kebenaran, namun pengaruh media televisi telah menyebabkannya menjadi kebenaran yang dianggap umum.
Masyarakat penonton televisi kita akan terdidik untuk menilai sesuatu bahkan seseorang dengan materi, dalam hal ini cakep/ cantik dan kulit putih bersih, di samping materi dalam wujud harta kekayaan. Betapa kasihan orang Indonesia yang memang natural asli produk Indonesia dengan kulit sawo matangnya, bisa jadi stress, karena tidak bisa memenuhi kriteria tersebut.
Hal ini bisa jadi menunjukkan mentalitas inlander bangsa kita yang sudah tidak bangga lagi, salah satunya dengan kulit sawo matangnya. Ternyata penjajahan terselubung yang kita terima tidak lagi menjadi masalah secara umum, bahkan dinikmati sebagai kemajuan, karena identik dengan orang Barat (yang dicirikan dengan masyarakat maju dan modern). Bangsa Indonesia akan tercerabut dari nilai-nilai kearifan lokalnya, karena secara penampakan fisik tidak bisa lagi dibedakan seorang warga negara Indonesia atau warga negara asing.
Suatu saat, kita tidak akan melihat lagi ciri bangsa Asia dalam lambang Olimpiade, yang identik dengan kuning. Hal ini karena kulit bangsa Asia tidak lagi kuning, kecoklatan, atau sawo matang, melainkan tidak jauh berbeda dengan orang Eropa yang berkulit Eropa.

28 November 2005

MENG-INTERNET-KAN KADER IMM


Ahad sore kemarin, 20 November 2005, kader IMM UGM dan UNY sejumlah 12 orang bersilaturahim dengan salah satu kader Muhammadiyah yang berada di luar negeri, yakni Bang Arief Nur Hakim. Kebetulan, beliau sedang bertandang ke Jogja dan kami pun mengajak untuk mengadakan pertemuan di Gedung PP Muhammadiyah Jl. Cik Di Tiro. Beliau adalah alumnus SMU Muhammadiyah 2 Surabaya yang saat ini tengah menyelesaikan studi S 3-nya di Jepang, dengan jurusan Aeronautika dan Antariksa konsentrasi motor bakar. Kuliah dan hidup di Jepang telah ditekuninya lebih dari sewindu merupakan hasil pembiayaan beasiswa dari Pemerintah Jepang. Sebenarnya, beliau sudah masuk ke Jurusan Teknik Informatika ITB pada saat lulus SMU namun dilepasnya karena mendapatkan beasiswa tersebut.
Bang Arief ini adalah moderator dari mailing list tetangga kita, muhammadiyah-society, yang mana telah menangani anggota lebih dari 600 orang. Cita-cita kuantitas komunitas yang cukup besar yang hendak dibangun oleh jimm_ptn ini, Amin. Diskusi waktu itu memang berkutat pada kehidupan di Jepang, umat Islam di Jepang, aktivitas mailing list, dan lainnya. Di sini ada gap yang terjadi (entah karena memang kurang berani berdialektika atau memang tidak paham) ketika membahas masalah terkait dengan internet. Bisa jadi lebih dari separuh peserta silaturahim tadi yang paham tentang internet, namun kurang begitu aktif.
Dari pembicaraan di atas, saya hendak menilik sedikit nasib kader kita. Memang teknologi informasi (dalam hal ini internet) adalah penunjang kemampuan kader, dan ada yang lebih utama yakni ilmu kader itu sendiri. Namun, coba kita lihat kelemahan dalam tataran pengungkapan ide dalam bentuk tulisan (yang menjadi kelemahan kader kita pula) dikarenakan terlalu banyak bergulat dengan kelisanan, tentunya tidaklah bijak jika dilengkapi dengan kegagapan dalam bidang teknologi informasi. Kegagapan ini memang bisa menjadi kendala bagi kader akibat masalah finansial (karena jika tidak memiliki akses fasilitas internet gratis, maka ada cost yang harus dikeluarkan) ataupun masalah ketidaktahuan itu sendiri yang berusaha dimaklumi tanpa ada usaha untuk mencari tahu.
Kader secara utama memang harus cerdas beragama, studi, wacana kontemporer karena selaku statusnya sebagai mahasiswa baik itu di lingkungan kampus maupun masyarakat maka kader akan menjadi salah satu rujukan pendapat maupun pemikiran. Namun kecerdasan ini perlu pula didukung oleh kemampuan teknis, dalam hal ini membaca dengan baik, menulis, berkarya dan akses internet.
Internet akan memudahkan perkembangan kader. Kemampuan intelektual kader akan tersalurkan melalui forum-forum diskusi lewat mailing list di dunia maya, yang cukup banyak pilihan variasinya. Sehingga, forum tidak harus dalam bentuk pertemuan rutin (formal). Dalam forum dunia maya, kader dapat menggunakan fasilitas surat elektronik (e-mail) dimana dengan e-mail ini dia dapat mengirimkan tulisan/gambar/data ke teman atau orang yang dituju, bahkan ke komunitas mailing list. Dalam komunitas mailing list, e-mail yang telah sampai ke forum maka dapat dibaca oleh anggota komunitas pada saat itu juga ataupun pada waktu dan tempat yang berbeda. Ketika telah dibaca oleh anggota lainnya, maka anggota lain ini dapat memberikan tanggapan dalam bentuk apapun, interaksi ini tidak jauh berbeda dengan diskusi yang terjadi di dunia nyata.
Namun, hal ini bukan berarti ketika telah ada forum diskusi dunia maya ini maka forum dunia nyata menjadi macet. Karena, dunia maya tetaplah belum bisa menunjukkan realitas sebenarnya. Pertemuan (interaksi) di dunia nyata akan lebih memperlihatkan aspek-aspek yang belum bisa diberikan oleh dunia maya. Aspek ini diantaranya akan dapat dipastikan penampakan fisik individu yang kita ajak diskusi, sikap dan perilakunya. Karena dalam dunia maya yang hanya menyuguhkan realitas semu, ketiga aspek ini bisa saja valid atau dapat pula dimanipulasi.
Yang menjadi ironi, meski sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan, bahwa tingkat akses kader IMM sendiri (apalagi dengan statusnya sebagai mahasiswa) terhadap internet amatlah minim. Minimnya akses ini mengakibatkan kader mengalami ‘rabun jauh’, kurang bisa melakukan pandangan jauh ke depan dan lintas batas. Kader seperti ini akan disibukkan dengan kehidupan pribadi, kuliah, dan aktivitas organisasinya dan terjebak dalam ritme kehidupan dan lingkup interaksi yang monoton. Hal ini akan menjadi masalah ketika kader di kemudian hari harus berinteraksi dengan kader PT lain. Maka dikarenakan sebelumnya tidak ada interaksi, komunikasi yang terjalin pun tidak bisa berjalan lancar.
Problematika penunjang namun juga cukup penting ini perlu dipikirkan secara matang oleh Pimpinan IMM di masing-masing wilayah, sesuai dengan wilayah tanggung jawabnya. Pimpinan, khususnya Bidang IPTEK, harus bisa menjawab dan mencarikan solusi atas permasalahan yang menimpa kader ini. Pimpinan setidaknya bisa memotivasi bahkan melatih (jika mampu) kader-kadernya untuk berinteraksi dengan internet. Tanggung jawab perkaderan non-formal tentunya tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke Bidang Kader saja, mengingat beban dan tanggung jawab Bidang ini juga berat.
Ketika kader telah banyak berinteraksi dengan internet, maka dengan sendirinya akses informasi kader (baik itu mengenai perkembangan IMM maupun lainnya) akan semakin luas. Di samping itu, kepercayaan diri kader akan bertambah karena dia menjalin silaturahim dengan rekan (termasuk di dalamnya sesama kader IMM) yang bisa jadi belum pernah bertegur sapa sebelumnya. Ketika akses informasi yang lebih baik dimiliki oleh kader maka kader akan memiliki kanalisasi pemikiran, pendapat maupun uneg-uneg (curhat) yang dengan sendirinya akan meningkatkan kapasitas intelektual dan emosional kader.
Kemanfaatan yang penting bagi kader IMM ini mendukung perlunya gerakan meng-internet-kader IMM. Dengan akrabnya kader IMM terhadap teknologi informasi (internet), diharapkan proses perkaderan secara non-formal ini bisa mendukung perkaderan lainnya.

21 November 2005

WHO AM I?

Siapakah aku? Sebuah pertanyaan yang terlalu mendasar yang amat jarang dipikirkan seseorang untuk mencari jawabannya. Hal ini dikarenakan manusia seringkali tidak menemukan jawaban yang sesuai. Pertanyaan ini dianggap terlalu menyita waktu seseorang yang telah dialokasikan untuk urusan memenuhi kebutuhan hidup, menjalani rutinitas sehari-hari, dan menjalankan ibadah. Sehingga pertanyaan yang dikategorikan filosofis seperti ini hanya sebentar terngiang di pikiran tanpa adanya refleksi yang mendalam. Namun, pengabaian terhadap pertanyaan ini sama saja merupakan pengabaian terhadap eksistensi diri orang tersebut. Kesadaran terhadap eksistensi diri merupakan hal penting yang kerap kali diabaikan oleh sebagian besar manusia. Siapakah aku? Dari mana aku berasal? Di mana aku sekarang? Akan kemanakah aku pergi?
Memang, pertanyaan ini lebih sering muncul ketika manusia berada dalam kejenuhan, keterpurukan, ataupun ketidakberdayaan. Namun, bukan berarti manusia yang tidak sedang mengalami kondisi yagn demikian tidak perlu memikirkannya. Pertanyaan seperti ini, sebelum sempat ditemukan jawabannya, sudah terlebih dahulu diacuhkan karena desakan tuntutan hidup. Namun, kehidupan ini senantiasa memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Dan, jawaban seseorang terhadap sebuah pertanyaan dan caranya memecahkan pertanyaan tersebut tergantung pada pola pikirnya.
Pola pikir ini tidak semata-mata berdiri sendiri, namun juga ditentukan oleh dorongan untuk menyembah. Segala sesuatu yang manusia pikirkan adalah sesuatu yang manusia sembah. Jikalau manusia hanya memikirkan untuk mengumpulkan harta kekayaan semata, maka harta kekayaan itulah yang manusia sembah. Begitu pula dengan jabatan, anak, bahkan pikiran itu sendiri. Apapun yang manusia lakukan di dunia ini adalah merupakan wujud dari keyakinan dan dorongan manusia untuk menyembah. Perbuatan manusia adalah hasil pikirannya, baik itu dipikirkan secara matang ataupun tidak.
Memang, seseorang dapat mengatakan bahwa jawaban dari eksistensi diri yakni aku adalah seorang manusia. Namun, tentu saja persoalan tidak cukup dijawab oleh hal tersebut. Manusia pun harus menyadari keberadaannya sebagai manusia, yang tentunya tidak serta merta muncul di muka bumi, di kehidupan dunia ini. Manusia memiliki kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri, dengan begitu ia dapat mengenali asal muasalnya. Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannnya. Namun, sebagian besar manusia terlena oleh kehidupan dunia. Manusia sangat mencintai kehidupan dunia, dan takut akan kematian. Manusia seperti ini tergolong terjangkit penyakit Wahn. Penyakit ini mendorong tumbuhnya kelemahan mental dan spritual bagi penderitanya. Untuk menangkal penyakit Wahn ini, manusia harus menyadari hakikat diri yakni akan adanya kematian. Kesadaran bahwa setiap manusia akan berhadapan dengan kematian, lalu menjalani Hari Akhir dengan terlebih dahulu mempertanggung jawabkan segala perbuatannya di dunia di hadapan-Nya. Pertanggung jawaban di Hari Akhir inilah yang akan menentukan keberhasilan atau kegagalannya sebagai manusia.
Sehingga, ketika telah memiliki kesadaran tersebut, manusia akan mempersiapkan segala sesuatu yang dilakukannya di dunia untuk kehidupan setelah kematiannya. Mengumpulkan harta yang banyak bukanlah jawaban untuk persiapan kehidupan setelah kematian karena harta hanya akan menemani kehidupan manusia di dunia, begitu pula dengan jabatan dan anak. Hal ini juga menyadarkan manusia bahwa keberhasilan duniawi itu hanya menyertai manusia semasa hidupnya. Sehingga, hanya ada dua cara untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk kehidupan setelah kematian yakni berakidah yang benar dengan mengenali Tuhan (marifatullah) dan menjalankan hukum-hukum Tuhan.
Di samping itu, dalam kehidupan dunia ini, manusia pasti memiliki tujuan hidup. Usaha pencapaian tujuan hidup ini juga didorong oleh hasratnya sebagai manusia. Namun, hasrat manusia ini tidak akan ada habisnya. Karena jikalau menuruti hasrat manusia, maka yang tampak hanyalah kebahagiaan ketika terwujudnya hasrat dan kedukaan ketika hasrat tersebut tidak terwujud. Hal ini banyak dicontohkan dalam kehidupan dunia ini, salah satunya dalam aktivitas di pusat perbelanjaan. Dalam aktivitas ini, betapa banyaknya manusia yang memuaskan hasrat-hasrat materialnya. Kebahagiaannya terukur dari terwujud atau tidaknya hasrat material. Dan ironinya lagi, manusia sibuk memuaskan hasrat materialnya sendiri. Untuk memperoleh kesenangan-kesenangan duniawi tersebut, manusia rela melakukan segala hal. Namun, hal ini akan berbeda dalam usaha manusia mempersiapkan untuk kehidupan setelah kematiannya. Pada umumnya, manusia berdalih bahwa belum waktunya untuk memikirkan hal tersebut, menganggapnya sebagai persoalan yang tidak penting, bahkan sampai tidak memikirkannya sama sekali.
Selain itu, ada juga manusia yang meragukan akan adanya kehidupan setelah kematian. Hal yang sering dipertanyakan adalah bahwa ketika seseorang meninggal, jasadnya kembali ke tanah dan seluruh anggota tubuhnya lenyap tak berbekas. Lalu, bagaimana mungkin dari jasad yang telah lenyap ini dapat dihidupkan kembali?
Yang juga sering dipertanyakan adalah manusia tidak dapat melihat secara nyata bahwa ada kehidupan setelah kematian. Kemudian, bagaimana manusia meyakini bahwa kehidupan setelah kematian itu ada?
Memang, Tuhan dengan kehendak-Nya tidak memberitahukan kepada manusia tentang rahasia setelah kematian manusia. Namun, Tuhan menunjukkannya melalui tanda-tanda-Nya yang ada di kehidupan dunia ini. Salah satu tanda-Nya adalah manusia itu sendiri. Manusia merupakan kumpulan atom-atom yang tak terhingga jumlahnya, yang tersebar di seluruh bumi dan langit. Atom-atom ini lalu berkumpul untuk menyusun sebuah pola yang memiliki makna dan manfaat. Pola inilah yang pada akhirnya berwujud manusia yang dapat berpikir, merasa, dan bertindak. Ketika manusia menghadapi kematian, maka yang terjadi adalah proses yang sama dengan urutan sebaliknya. Ketika manusia mati, maka seluruh kemampuan fisiknya tidak berfungsi lagi. Namun, hakekat manusia bukanlah semata-mata fisik jasad yang ada, namun lebih kepada jiwa yang bersemayam di dalam tubuh tersebut. Ketika manusia mati, dia tidak sedang menuju kelenyapan. Namun, manusia sedang beristirahat untuk menapaki dunia baru. Dunia baru yang mengajak manusia untuk mengarungi perjalanan panjang yang tiada akhir.
Manusia harus mengakui bahwa dirinya bukanlah apa-apa, tidak memiliki apa-apa, dan menyadari bahwa Tuhan adalah segalanya, dan memiliki segalanya. Sehingga manusia seperti ini menjadi manusia yang tercerahkan. Pikirannya dipenuhi oleh prinsip-prinsip Ke-Tuhan-an, sehingga tindakannya diarahkan hanya untuk mengharap keridhaan-Nya. Dengan menjadi manusia tercerahkan seperti itu, maka ia mendapatkan konsekuensi. Konsekuensi itu antara lain ialah ia akan memperlakukan saudara-saudaranya sebagai sesama hamba Tuhan yang beriman.
Dalam mengarungi kehidupan di dunia ini, manusia harus bisa memiliki prinsip seperti petani yang menggarap ladangnya. Sehingga di kehidupan dunia ini, manusia akan menanam dan mengelola ladang akhiratnya. Pilihan akan diserahkan sepenuhnya kepada manusia akan menanam dan mengelola ladang akhiratnya dengan bibit dan caranya tersendiri. Hari kematian merupakan masa panen bagi manusia. Kematian pula yang menjadi akhir dari masa usaha manusia. Manusia akan memanen hasil ladang yang telah ia tanam dan olah dalam kehidupan dunia.
Hai, Manusia! Kenalilah dirimu! Kenalilah apa yang sedang kamu kerjakan dan apa yang harus kamu kerjakan!

8 Desember 2005

PEREMPUAN MENGGUGAT PERNIKAHAN

Marak ditayangkan dalam jeda iklan di televisi akhir-akhir ini, yakni tentang kesetaraan peran akan mengurangi tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Dalam iklan tersebut digambarkan, bahwa adanya proses saling memahami antara suami dan istri tentang pentingnya berbagi peran dalam rumah tangga. Proses ini bertujuan agar tidak terjadi salah paham antara pasangan suami istri tersebut. Tidak adanya dikotomi peran dan posisi antara suami (laki-laki) dan istri (perempuan) dalam gambaran iklan tersebut sedikitnya menggambarkan idealisme kesetaraan gender dalam rumah tangga.
Namun dalam kenyataannya, sejauh ini belum ada perubahan yang cukup berarti dalam relasi antar gender yakni antara laki-laki dan perempuan. Pengkutuban yang cukup tajam antara dua jenis kelamin ini masih terjadi. Perempuan, lebih sering diposisikan sebagai the second sex atau being for others (ada untuk orang lain). Begitu pula terkait dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat, cenderung bersifat asimetris, yang berarti diposisikannya laki-laki lebih tinggi kedudukannya dibandingkan perempuan. Jikalau ada perubahan, maka hal tersebut relatif kecil dan eksklusif pada perempuan yang hidup di perkotaan. Namun, kekerasan terhadap perempuan pada sektor domestik masih banyak terjadi. Sehingga, relasi antara laki-laki dan perempuan masih dihegemoni oleh ideologi dan sistem patriarki. Memilih untuk menjadi perempuan di tengah masyarakat patriarki, sama saja dengan menanggung nasib untuk selalu mengalami kekerasan sepanjang hidupnya.
Sementara itu, kalangan konservatif menganggap bahwa ketidaksetaraan peran dan posisi dalam bidang sosial dan hukum merupakan takdir Tuhan. Tentunya nilai yang dijadikan dasar argumentasinya telah bias laki-laki. Dengan argumentasi ini, laki-laki memiliki otoritas tinggi untuk menguasai segala bidang kehidupan perempuan. Hal inilah yang menjadikan pembagian peran dan posisi yang diskriminatif antara laki-laki dan perempuan. Masalah ketimpangan dan ketidak adilan gender ini bukan persoalan perempuan semata-mata, namun juga menjadi permasalahan kemanusiaan secara keseluruhan.
Perempuan diidentikan dengan individu yang lemah, tidak bisa dipercaya, perlu dilindungi, dan tidak mandiri. Paradigma yang ditimbulkan oleh ajaran misoginis (membenci perempuan) yang umum di masyarakat ini dikarenakan karena paradigma sentimental yang mengatakan bahwa perempuan adalah yang saleh, ibu yang baik, dan gadis yang pemalu. Sementara di satu sisi, perempuan sensual dan kuat diidentikkan dengan perempuan penggoda, perusak rumah tangga, perusak nilai-nilai keutuhan, bahkan disamakan dengan iblis.
Lembaga keluarga, yang dibangun dari biduk pernikahan, hanya merupakan sebuah lembaga yang tidak bebas dari upaya hegemoni laki-laki atas perempuan. Perempuan yang telah dipersunting oleh laki-laki tidak lebih dari sekadar konco wingking. Urusan perempuan tidak lebih dari sektor privat-domestik, yakni sekitar sumur, dapur, dan kasur. Perempuan dikekang kebebasannya untuk turut berpartisipasi dalam sektor publik, seandainya boleh pun itu hanya sebatas arisan ibu-ibu yang saling bertetangga. Sedangkan laki-laki, yang menjadi ‘tulang punggung’ pencari nafkah dalam struktur lembaga keluarga, mendapat kebebasan untuk melakukan aktualisasi diri di ranah publik. Tidak hanya itu, otoritasnya juga sedemikian besar akan kebijakan keluarga dalam ranah domestik, walaupun itu hanya menyangkut masalah sederhana dalam kehidupan rumah tangga.
Parahnya lagi, hegemoni kekuasaan laki-laki ini mendapatkan legimitasi secara kultural maupun dogma agama. Sering terjadi tindakan pemukulan yang dilakukan oleh suami kepada istrinya mendapatkan ijin dari teks suci untuk melakukannya. Laki-laki yang memahami agama tidak bisa diharapkan untuk lepas dari tindak kekerasan dalam rumah tangga. Laki-laki seperti ini malah sering melakukan tindakan kekerasan terhadap istrinya. Hal ini didukung pula oleh doktrin bahwa istri yang bijak tidak layak untuk mengeluh tentang kelakuan suaminya itu, dan kewajibannya ialah kepatuhan yang sempurna kepada suaminya.
Dari analisis di atas, maka pernikahan merupakan penjara dan ladang perbudakan bagi perempuan. Perempuan yang mau diperistri oleh laki-laki adalah korban penipuan. Bila telah terikat dalam jenjang pernikahan, maka kaum laki-laki akan memaksakan penipuan kepada perempuan, lalu menghukum mereka karena telah tertipu, dan menindas kaum perempuan ke tingkat yang terbawah. Pengikatan terhadap perempuan dalam tali pernikahan merupakan awal dimulainya hukuman kerja kasar seumur hidup terhadap perempuan. Sehingga, pernikahan merupakan lembaga yang didirikan untuk melakukan penindasan terhadap perempuan.
Adanya kebolehan untuk berpoligami bagi kaum laki-laki makin menunjukkan superioritas seksual laki-laki atas kaum perempuan. Teks suci ditafsirkan dalam paradigma ideologi patriarki untuk mewadahi laki-laki menyalurkan libido seksualnya dengan banyak perempuan. Namun di lain pihak, kaum perempuan secara otomatis menerima nilai monogami ketika melakukan pernikahan. Dalam janji pernikahan, akan tersirat pengakuan secara sosial bahwa perempuan hanya diperbolehkan berhubungan seks dengan seorang lelaki saja, dan bereproduksi dari proses tersebut. Perempuan juga harus setia kepada seorang laki-laki, yakni suaminya. Yang menjadi kewajiban dari perempuan adalah memberikan jaminan bahwa anak yang dilahirkannya merupakan anak suaminya, bukan anak dari orang lain. Hal ini untuk menjaga kesucian garis keturunan pewaris kekayaan dan garis darah laki-laki.
Kaum perempuan tentunya tidak bisa melakukan pembalasan terhadap kaum laki-laki atas ketimpangan gender ini. Perempuan tidak dapat dengan mudahnya melakukan poliandri karena tindakan ini merupakan penyimpangan (deviants) dan hal tabu bagi perempuan. Di samping itu, adanya stigma terhadap perempuan yang berpoliandri yakni anggapan dari masyarakat sebagai seorang pelacur. Pelacuran termasuk kategori zina (fornication) yang tentunya dilarang keras oleh norma agama.
Dari persoalan pelik di atas, maka kaum perempuan harus melakukan langkah-langkah dalam rangka memperjuangkan kemenangannya akan perlunya kesetaraan gender. Langkah-langkah tersebut diantaranya dengan meruntuhkan sistem di masyarakat yang menghasilkan ketimpangan gender, menghapus dikotomi publik-privat, mengkritisi dan mengoreksi nilai konvensional tentang feminim dan maskulin, lalu membentuk masyarakat berbasis kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

12 Desember 2005

STRATEGI MENJARING KADER

Telah menjadi rahasia umum bahwa dari segi kuantitas jumlah kader yang dimiliki kita miliki, yakni kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, memang minim. Minimnya jumlah ini, di samping dikarenakan rendahnya animo mahasiswa untuk beraktivitas dalam lingkup pergerakan mahasiswa, juga disebabkan oleh strategi penjaringan kader yang dilakukan oleh organisasi tidak berlangsung secara efektif. Pemecahan untuk hal ini memang memerlukan kreativitas rekan-rekan internal IMM, terutama yang berada pada level Komisariat, dimana rekan-rekan di level ini yang melakukan interaksi paling sering dengan grass root.
IMM dengan basis keanggotaannya yakni mahasiswa, hendaklah dapat menjangkau kalangan mahasiswa dengan kegiatan dalam organisasi tersebut yang dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa. Memang terkesan agak oportunis dan pragmatis, sehingga dimensi keikhlasan berjuang dalam organisasinya menjadi patut dipertanyakan. Namun hal tersebut bukanlah menjadi masalah manakala kita memang berhadapan dengan calon kader baru, yang tentunya dapat merasakan manfaat dirinya bergabung dengan Ikatan. Manfaat tersebut bisa berupa pengetahuan, keterampilan, maupun suatu pengalaman berharga. Tentunya ini bukanlah pekerjaan mudah, karena memerlukan usaha yang kreatif dan sistematis. Kita harus merancang strategi untuk mendesain perkaderan dalam konteks kegiatan-kegiatan yang memberikan rasa senang dan nyaman bagi calon kader baru untuk berinteraksi dengan Ikatan. Di samping itu kegiatan yang dilakukan bukan asal-asalan dan semata-mata memenuhi tuntutan program kerja, namun didesain secara baik dan menarik agar dapat memberikan manfaat.
Seseorang tentunya diharapkan merasa senang bila melakukan kegiatan dalam Ikatan sehingga menjadi berminat untuk melakukannya. Kegiatan itu adalah sesuatu yang disukai, dianggap menantang dan memberikan kepuasan akan menumbuhkan minat mereka. Nah, dari keinginan untuk mencapai hal tersebut, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:
  1. Mengenali karakteristik calon kader
Hal ini merupakan proses awal yang penting, dimana kita mengenali karakteristik mereka. Masa menjadi mahasiswa merupakan fase transformasi dari fase remaja menuju dewasa. Di fase ini, eksistensi diri menunjukkan peran yang signifikan. Eksistensi diri ini bisa muncul, salah satunya dengan kebanggaan akan identitas yang dimilikinya. Maka, IMM harus bisa menunjukkan dirinya menjadi identitas yang bisa dibanggakan di kalangan mahasiswa pada umumnya.
  1. Mengenali mereka secara spesifik
Jikalau kita ingin membentuk Ikatan yang spesifik, maka kita harus mengenali karakter mereka secara spesifik pula. Kita harus bisa memahami karakteristik mereka, simbol-simbol apa yang mereka senangi, topik yang sedang hangat di antara mereka, kebiasaan mereka berkelompok, jenis aktivitas apa yang mereka sukai (hobi), dan sebagainya. Hal ini akan membantu kita dalam mendesain tampilan organisasi agar dapat diminati.
  1. Mencari tahu apa yang disukai oleh mereka
Melakukan apa yang disukai akan menjadi prioritas bagi seseorang. Sehingga kegiatan yang tidak disukai dan membosankan akan diacuhkan. Maka, dengan mencari tahu apa yang menjadi kesukaan mereka, lalu mengemas format kegiatan menjadi lebih disukai. Misalnya, bila mengetahui bahwa mereka menyukai kegiatan naik gunung, maka diskusi tentang kenaikan BBM bisa kita lakukan di alam terbuka dengan metode yang lebih interaktif.
  1. Memadukannya dengan visi dan misi Ikatan
Setiap organisasi pasti mempunyai visi dan misi. Visi dan misi inilah yang menjadi nafas bagi kegiatan organisasi, sedangkan metode yang lebih kreatif adalah masalah pendekatan kita pada mereka. Metode yang kreatif ini disesuaikan dengan karakteristik mereka. Sehingga, visi dan misi Ikatan akan menjadi isi dari kegiatan sedangkan metode yang kita gunakan merupakan medianya. Hal ini salah satunya ditunjukkan oleh aktivitas mereka di luar IMM, misalnya di teater, maka aktivitas berteater mereka tetap berjalan namun dengan injeksi wawasan tentang pembelaan kaum marjinal dari diskusi di IMM. Sehingga aktivitas terkait hobi masih terus berjalan, karena bisa memperkaya karakteristik kader Ikatan, namun dalam hal pemikiran juga tidak tehambat.
  1. Menjadikan mereka sebagai pusat kegiatan
Jikalau kita menginginkan mereka bertahan lama atau mendapatkan perhatian besar dalam kegiatan kita, maka sedari awal mereka harus dilibatkan. Pelibatan ini dimulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, sampai pada evaluasi. Misalnya, mengajak mereka untuk turut serta dalam kepanitiaan bersama. Dengan begitu, diharapkan kebutuhan/ keinginan mereka akan terwadahi dan tampilan kegiatan yang digagas serta dikerjakan bersama akan sesuai dengan selera mereka. Hal ini pula yang akan menjadikan kegiatan kita menjadi lebih diminati.
  1. Mengemas perkaderan secara kreatif dan menarik
Selama ini perkaderan di-setting secara top-down dan melalui beragam asumsi yang dimiliki oleh Instruktur. Paradigma lama seperti ini sudah seharusnya dirombak, karena sudah seharusnya kita memposisikan diri sebagai mereka. Dengan ini, kita dapat mengetahui hal-hal apa yang mereka pikirkan. Apa yang mereka inginkan saat ini? Perasaan bangga seperti apa yang mereka inginkan? Organisasi seperti apa yang mereka minati? Bentuk keterlibatan seperti apa yang mereka senangi? Kita akan mengumpulkan informasi ini. Lalu, kita harus mendiskusikannnya secara serius. Kemudian, kita akan mengemas perkaderan dan kegiatan yang dilakukan yang memberikan kesan yang sesuai dengan keinginan mereka.
Jika kita dapat melakukan hal ini secara serius dan berkesinambungan, maka mudah-mudahan Ikatan kita menjadi organisasi yang lebih menarik dan diminati. Sehingga dengan metode kreatif seperti di atas, kita dapat merekrut kader dalam kuantitas yang besar. Kemudian, kita akan mendidiknya dalam proses perkaderan yang baik, sistematis, dan menarik. Pada akhirnya, kita akan mendapatkan kader yang baik tidak hanya secara kuantitas, namun juga secara kualitas.

10 Desember 2005

MENGGUGAT SINETRON RELIGI

Budaya menonton televisi telah demikian mengakar pada bangsa Indonesia. Masuknya media elektronik berupa televisi dan maraknya stasiun pertelevisian swasta yang menawarkan beraneka macam hiburan, juga turut menopang lestarinya budaya tersebut. Memang, bangsa kita tengah mengalami lompatan budaya, dimana belum tercapainya reading society, maka telah didahului oleh watching society sebagai gambaran yang tidak asing lagi dalam masyarakat kita. Masyarakat kita berada dalam posisi kenyamanan dalam kebudayaan kelisanan (watching society termasuk di dalamnya), seakan tidak mengenal budaya tuisan (literer).
Ketika dalam masyarakat kita terbentuk watching society, maka content dari media pertelevisian menjadi teramat penting. Apapun yang disuguhkan oleh lebih dari 10 stasiun televisi berskala nasional, dan sejumlah besar stasiun televisi lokal sebagai media hiburan dan informasi, akan menimbulkan pengaruh pada pembentukan persepsi umum yang ada di masyarakat.
Maraknya infotainment tentang kehidupan selebritis menunjukkan besarnya pengaruh tersebut. Dari pagi hingga menjelang petang, kita sebagai penonton televisi disuguhkan beraneka rupa info tentang selebritis. Dari mulai gosip, kehidupan sehari-hari, rencana ke depan, pesta, dan banyak lagi seakan tiada pernah habisnya. Yang hampir pasti, meski dengan format dan nama acara yang berbeda-beda, bisa dipastikan content yang disuguhkan dalam satu hari penayangan tidak jauh berbeda. Hal ini tidaklah masalah bila dalam hal content saja, namun keserupaan ini juga ada pada pengambilan gambar dan kesimpulan yang dapat diambil, seakan masyarakat penonton diajak untuk melakukan replikasi terhadap informasi tersebut.
Rating penayangan sinetron religi yang cukup tinggi merupakan pengaruh dalam bentuk lain daripada pembentukan persepsi oleh media pertelevisian. Dapat kita lihat, akhir-akhir ini, sinetron religi dengan beragam variasinya, begitu marak di dunia pertelevisian. Sineron religi banyak mengungkap kisah-kisah kehidupan tentang sifat dan perilaku seseorang yang mendapat ganjarannya di kehidupan di dunia. Memang, sinetron bertema religi ini dominan bertemakan agama Islam, sebagai agama yang mayoritas dipeluk oleh masyarakat Indonesia. Namun, jangan berharap bahwa selalu tema Islam yang diangkat dalam sinetron berjenis ini, terkadang tidak ada muatan Islamnya sama sekali.
Ketika menyimak sinteron bertema religi, maka ada dua sudut pandang yang akan sama-sama kuat. Di satu sisi ada kepentingan pasar, penyadaran untuk berIslam dengan baik (meski baru sekadar simbolis). Namun di sisi lain adanya pendangkalan aqidah dan perusakan terhadap Islam itu sendiri.
Dari sudut kepentingan pasar, jelaslah media pertelevisian dan periklanan paling diuntungkan saat ini. Dengan maraknya permintaan akan sinetron bertemakan religi, bisa jadi masyarakat Indonesia memang membutuhkan ‘pencerahan’ secara agama, dan tayangan televisi menjadi solusinya. Media televisi, merupakan salah satu hiburan bagi masyarakat yang tengah dihimpit tekanan krisis ini. Hiburan maupun informasi melalui tayangan televisi dapat diperoleh secara murah dengan cukup memiliki pesawat televisi beserta antenanya, dengan tunai ataupun kredit, dan membayar rekening tagihan listrik setiap bulannya. Ironinya, masyarakat Indonesia lebih senang mempergunakan uangnya untuk mendapatkan hiburan melalui televisi daripada menggunakannya sebagai modal usaha.
Jikalau kita melihat dari citra yang ditampilkan sinetron religi ini, maka akan tampak simbol-simbol Islam di sana. Bagaimana istri yang sholehah dan kerap teraniaya itu mengenakan jilbabnya dengan anggun. Secara tidak sadar, hal ini bisa berpengaruh terhadap proses penyadaran kepada Kaum Hawa untuk mengenakan jilbab. Memang, hal ini tidaklah cukup karena penyadaran untuk mengenakan jilbab semacam itu hanya sebatas simbol dan bukan kesadaran secara internal yang konsisten. Penguatan lebih lanjut tentunya diperlukan dengan pendalaman pengetahuan agama dan giat dalam beribadah.
Nuansa Islam secara simbolis yang ditampilkan sinetron religi ini bisa menyadarkan umat Islam untuk meningkatkan kadar keberagamaannya. Semisal, yang mulanya tidak pernah sholat menjadi rajin sholat karena takut kepada Allah. Karena pencitraan orang yang mendapatkan ganjaran di sinetron tersebut memang tidak menunaikan sholat (atau memang terlewatkan), sedangkan pribadi yang teraniaya dan selamat dari peristiwa mistis tersebut adalah muslim yang taat beribadah. Hal ini juga dapat menumbuhkan semangat bagi masyarakat pada umumnya untuk mengenali dan mengkaji Islam lebih mendalam.
Yang menjadi dampak negatif dari sinetron religi ini ialah adanya mekanisme pendangkalan aqidah secara terselubung, bahwa ada siksa kubur yang bisa membuat umat Islam jera dan takut. Hal ini tentunya dapat berakibat syirik karena Islam pada prinsipnya tidak mengenal adanya hukum karma. Dalam arti, di dalam Islam tidak semua kesalahan manusia yang dilakukan semasa hidupnya akan dibalas di dunia (ditampakkan dalam peristiwa menjelang atau setelah kematian seseorang). Karena segala apa yang dilakukan manusia di dunia ini, kelak akan dipertanggung jawabkan di Hari Akhir. Peristiwa mistis yang terjadi tersebut merupakan peringatan dari Allah bagi manusia agar manusia dapat mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.
Di samping itu, sinetron religi ini bisa disinyalir sebagai tindakan perusakan terhadap Islam itu sendiri. Karena Islam, dengan ayat-ayat suci maupun simbolisasinya, menjadi komoditi barang dagangan oleh media hiburan. Kadang memang sulit untuk membedakan penggunaan Islam ini antara penggunaannya sebagai sarana dakwah dengan menjadikannya sebagai barang dagangan. Dangkalnya penggunaan Islam seperti ini, dapat merusak citra Islam itu sendiri. Apalagi dalam logika pasar, adalah karena dalam logika pasar maka pasarlah (hukum penawaran dan permintaan) yang menentukan. Memang, dalam teori ekonomi, ada yang dinamakan invisible hand, dimana proses penawaran dan permintaan ini berlangsung secara alami. Namun, di dalam pasar tetap saja ada yang mengatur dan orang-orang yang bermain di dalamnya, yang tentunya masing-masing punya kepentingan baik secara individu maupun kelompok. Semoga saja, Islam tidak menjadi layaknya komoditi yang diperjual belikan oleh media hiburan sehingga Islam tidak bergantung pada kepentingan pasar.
Memperhatikan dampak yang diberikan oleh sinetron religi tersebut, sebagai salah satu produk tayangan televisi kontemporer, maka hendaklah kita dapat secara bijak untuk selektif dalam memilih tayangan yang ditampilkan televisi. Alih-alih ingin mendapatkan hiburan dari tayangan televisi yang ada, kita malah terpengaruh dan terjebak oleh dampak negatif yang dihasilkan oleh tayangan televisi tersebut.

8 Desember 2005